KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 104


Setelah menaruh baju-baju milik Sekar yang sudah disetrika ke kamar Serena, Bi Sari merasa tertarik dengan benda kecil yang teronggok di lantai dekat lemari.


“Inikan bangle milik Rena, kenapa ada disini?”


“Mungkin terlepas dan jatuh saat dia ganti baju,” gumam Bi Sari bermonolog.


Bi Sari meletakkan bangle tersebut di atas nakas, agar mudah ditemukan saat Serena mencarinya nanti.


“Mbak Rena, banglenya jatuh. Bibi taruh di atas nakas kamar,” kata Bi Sari sambil meletakkan jus dan cemilan kesukaan Serena. Ibu hamil itu sedang bersantai di teras bersama Maya, sambil menunggu Joni pulang.


“Apa! Banglenya jatuh! Jadi sekarang, kamu ngga pake bangle itu, Rena?” tanya Maya kesal.


“Nanti Rena pakai lagi, sekarang kan Rena ngga kemana-mana, bu.”


“Kamu tuh ya, selalu saja ceroboh. Kamu itu sedang hamil, jadi harus lebih hati-hati.”


“Iya bu, Rena akan hati-hati.”


“Ck! Ntar kalo udah kejadian, baru tau rasa kamu!”


“Hush! Doanya yang baik dong, bu.”


Bi Sari memberikan peringatan pada Maya, agar perempuan itu mengucapkan hal yang baik-baik saja.


--------------------------------------------


“Om, tante… ayo pulang!” ajak Sekar.


“Inikan masih siang sayang,” jawab Zahra.


“Ayo pulang sekarang. Sekar ngga mau terlambat!”


“Tunggu sebentar lagi ya, sayang. Tante pengen liat sunset,” pinta Zahra.


“Ngga mau! Sekar mau pulang, sekarang!” teriak Sekar.


Adit yang melihat kemaraha Sekar pun mengalah, dia menghampiri anak kecil itu dan meraih tangan mungilnya.


“Baiklah. Ayo kita pulang,” ucap Adit.


“Lain kali, aku akan mengajakmu kesini lagi, berdua.”


Adit tahu kalau Zahra masih ingin bermain di pantai, dia kemudian berusaha merayunya dan berjanji akan datang lagi. Mendengar ucapan dari sang kekasih, Zahra pun tersenyum dan akhirnya setuju untuk pulang. Lalu Zahra dan Adit mulai mengumpulkan semua mainan Serena yang masih berserakan di pasir.


Setelah semuanya beres, Adit menyalakan mesin dan membawa mobilnya untuk meninggalkan area pariwisata, tempat mereka bersenang-senang hari ini.


----------------------------------------------


Hingga sore hari, Ian masih belum melihat Joni keluar dari dalam kantor. Sebelum pergi, Bram sempat memberitahukan kalau Joni tertidur dan memberi peringatan agar tidak ada yang mengganggunya.


Selain Ian dan seorang pelayan senior, tidak ada lagi yang berani atau terbiasa masuk ke dalam ruang kantor. Joni memang jarang berada di sana, dan kalau pun datang dia lebih senang duduk di luar dari pada di dalam kantor.


“Pak Joni tidurnya lama juga ya.”


“Tapi ini sudah sore bahkan hampir magrib, apa aku harus membangunkannya?”


“Kalau dibangunkan, apa dia tidak akan marah?”


“Tapi tadi dia bilang kalau akan pulang secepatnya setelah semua urusan selesai.”


Ian bermonolog tepat di depan pintu ruang kantor. Dia berjalan mondar-mandir dengan tampang bingung dan juga cemas.


“Maaf Pak Manager, kapan saya harus masak makanan pesanan nyonya?” tanya Koki pada Ian.


“Saya juga kurang tahu Pak, Bos masih belum keluar dari tadi. Mungkin dia masih tidur,” jawab Ian.


“Kalau begitu, saya kembali ke dapur dulu ya, Pak. Nanti kalau Pak Bos sudah bangun, segera kabari saya,” pinta Koki.


“Iya, Pak.”


Tidak berselang lama setelah perginya koki dari hadapan Ian, tiba-tiba pintu kantor terbuka. Joni berdiri tegap di ambang pintu dengan tangan mengepal. Ian yang melihat itu, langsung mendekati bosnya dengan langkah takut.


“Maaf Pak Joni, tadi koki bertanya, kapan makanan pesanan ibu mau disiapkan?”


Joni tidak menjawab. Dia malah pergi meninggalkan Ian begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata pun. Laki-laki itu berjalan cepat menuju mobilnya dan langsung menancap gas.


Ian berlari mengejar dan memanggil-manggil nama bosnya tapi tidak mendapat jawaban.


“Si Bos kenapa ya? Kok dia kelihatan marah? Tapi kenapa?” gumam Ian bingung.


---------------------------------------------


Zahra terus berusaha menenangkan Sekar yang tiba-tiba menangis. Gadis kecil itu terus meminta Adit agar melajukan mobilnya lebih cepat. Tapi jangankan berjalan cepat, mobil Adit kini malah tidak bergerak. Kemacetan menghambat perjalanan pulang mereka. Dan Sekar semakin histeris.


“Ayo, Om. Cepetan! Hua aa… mama… mama…”


“Tenang sayang, ini lagi macet.”


Adit berkali-kali melirik ke kursi bagian tengah yang berisi Sekar dan Zahra. Kekasihnya sibuk membujuk Sekar yang terus saja menangis tanpa dia tahu sebabnya.


Kemacetan pun mulai terurai dengan bantuan polisi. Mobil-mobil yang tadi diam di tempat, sekarang mulai bergerak. Walaupun masih belum keluar dari kepadatan, setidaknya kendaraan yang tadi tersendat sudah mulai memiliki jarak.


“Sebentar lagi kita akan sampai rumah, nangisnya udahan ya.”


Zahra memangku Sekar yang sesenggukan. Dia terus memanggil-manggil Serena dan juga Joni.


Adit dan Zahra yang menyaksikan tangisan sedih Sekar mulai ikut merasakan cemas. Mereka berdua seolah mengerti dengan apa yang dirasakan oleh anak kecil itu. Berbagai hal aneh pernah mereka rasakan saat bersama dengan Sekar. Jadi mereka tidak perlu bertanya dengan keanehan Sekar kali ini.


Tanpa perlu menunggu perintah, mata Adit langsung sibuk mencari-cari celah jalan yang bisa dia lalui agar bisa sampai tujuan lebih cepat. Dia mulai menggunakan keahliannya menyalip dan mendahului mobil-mobil yang ada di depannya.


-------------------------------------------


“Kenapa tubuhmu wangi sekali? Ihii hii hiii….”


Serena tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Kakinya terasa sangat berat dan sulit untuk melangkah.


Kuku yang menempel di tali jemuran itu lama kelamaan makin terlihat memanjang. Lalu rambut panjang berwarna putih, mulai menjalar sedikit demi sedikit sampai akhirnya membungkus selimut sampai hilang tak terlihat.


Ternyata selimut Sekar yang dilihat oleh Serena bukanlah selimut yang sebenarnya. Itu hanyalah rambut milik iblis yang sengaja datang untuk menggodanya agar keluar rumah.


“Si-siapa kau?!” tanya Serena.


Ujung selimut yang tadi diremas oleh Serena, telah berubah menjadi rambut putih milik iblis wanita yang kini tersenyum padanya. Rambut itu membelit tangan Serena dnegan sangat kuat sampai tubuh Serena ikut tertarik semakin ke depan.


“Aku? Aku hanya seorang pelayan yang sedang menjalan perintah dari tuanku. Dia memerintahkanmu untuk membawamu padanya.”


sebagian rambut si iblis menjalari kaki Serena. Naik dan terus naik menuju perut Serena dan membelit di sana.


“Sebelum aku mengantarkanmu pada tuanku, aku akan mengambilnya dulu.”


“TIDAK! JANGAN!!!”


Serena berteriak keras, saat dia merasakan perutnya semakin terbelit sampai terasa sakit. Rambut itu terus menekan perut, walau Serena sudah berteriak karena rasa sakit yang luar biasa.


“Jangan sakiti anakku! Aku mohon, jangan! Hiks hiks”


Darah segar sedikit demi sedikit mengalir melewati paha Serena. Pandangan matanya mulai buram serta kesadaran yang ikut menghilang.


Tubuh Serena lunglai dan ambruk.


Joni meraih tubuh istrinya tepat sebelum menyentuh tanah. Bersamaan dengan itu, Bi Sari dan Maya keluar dari pintu belakang yang memang tidak di tutup oleh Serena saat akan mengambil selimut Sekar.


Sekar dan Zahra pun ikut muncul, dengan tangisan yang sudah pecah. Mereka langsung menghampiri Serena yang pingsan dengan darah yang membasahi tubuh bagian bawahnya.


“Bawa dia ke rumah sakit, sekarang!” bentak Joni pada semua orang.


“Lalu kau sendiri?” tanya Adit yang baru saja sampai.


“Aku akan menyusul, setelah menyelesaikan urusanku.”


“Hancurkan dia!” teriak Sekar pada Joni. Anak kecil itu bisa melihat dengan jelas, kalau saat ini tangan Joni sedang membelit rambut milik iblis wanita yang telah menyakiti Serena. Joni menarik dan membelit rambut panjang itu dengan tangannya.


Tidak ada yang mengerti dengan maksud ucapan Sekar, tapi mereka tidak peduli. Mereka langsung membawa tubuh Serena ke dalam mobil Adit dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat.


Nasi sudah menjadi bubur. Tangisan ataupun penyesalan sebesar apapun tidak akan mampu mengembalikan apa yang sudah terjadi. Kini hanya ada doa untuk keselamatan Serena, walaupun mungkin tidak dengan janinnya.


Setelah semua orang pergi, Joni menatap tajam pada si iblis yang terlihat takut.


“Beraninya kau melukai wanitaku!!” bentak Joni. Matanya yang memerah di penuhi kemarahan.


“Siapa kau?” tanya sang iblis.


“Aku? Aku adalah penjaga wanita tadi. Sekarang giliranku untuk melenyapkanmu!”


“Tidak! Jangan! Aku hanya suruhan.”


“Aku tidak peduli!!”


Joni menyabetkan rambut iblis wanita pada tubuh sang iblis itu sendiri.


“Sakiiiit…” rintih iblis.


“Nikmatilah! Kau layak menerima hukuman dariku, karena kau telah berani menyentuh wanita kesayanganku. Bahkan kau berani mengambil anaknya.”


“Aku hanya disuruh, sakit…”


“Apa majikanmu itu juga menyuruhmu untuk mengambil anaknya?”


Iblis wanita itu tidak menjawab, dan Joni mengerti apa arti dari diamnya.


Joni menarik keris yang ada di dalam dadanya dan menusuk iblis wanita itu berulang kali. Kemarahannya benar-benar tidak bisa dikendalikan lagi.


Setelah iblis wanita mati, Joni terduduk di tanah.


“Aku bisa kembali, tapi sayang datang terlambat. Maafkan aku Serena….”


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.