KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 129


Bram menggeram marah. Anak buah yang dia utus untuk mengawasi semua gerakan Sarah, barus saja memberikan laporan terbaru. Laporan yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan, dari seorang wanita seperti Sarah.


“Kurang ajar! Berani sekali wanita itu! Aku bersumpah akan membuatnya menyesal, kalau berani menyentuh wanitaku!”


Sopir Kim cukup mengerti dengan situasi yang sedang dia hadapi. Dia harus menjaga mulutnya dengan benar, kalau tidak mau menjadi sasaran kemarahan Bram. Memberikan sejenak waktu, sampai sang majikan lebih tenang sebelum dia mulai bertanya.


“Emm… apa kita kembali ke hotel, Tuan?” Tanya sopir Kim.


“Tidak!” jawab Bram, cepat. “Kita ke rumah yang kusewa kemarin!”


Sopir Kim mengangguk. Gerak tubuhnya yang cekatan, memang patut diacungi jempol. Dia menuruti perintah dari Bram tanpa membuang waktu, untuk menunggu perintah kedua. Mencari jalan tercepat dan terefisien, agar bisa sampai tempat yang dituju dengan waktu yang singkat.


-


Bram menerjang pintu kamar yang memang tidak di kunci oleh sang penghuni. Dia langsung mencengkram leher Sarah yang sedang mengganti baju, bahkan kancingnya belum ada yang terpasang dengan benar. Buah dada yang biasanya mampu membangkitkan birahinya dengan mudah, kini seolah tak menarik.


“Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan, Sarah?!”


“A-apa maksudmu?” Sarah kesulitan menjawab pertanyaan dari Bram. Nafasnya mulai sesak, karena cengkraman yang terlalu kencang.


“Kau bilang hanya akan berbicara dengan Sherly? Lalu kenapa, kau malah membawa dia ke sini?! Dan itu… kenapa kau juga membawa Serena, hah?!”


“Le-lepaskan du-dulu… akan kujelaskan,” Sarah mengatur nafasnya yang terengah. Tidak menyangka akan mendapat perlakuan kasar secara tiba-tiba.


“Aku memang bersedia membantumu, tapi aku tidak menyangka, kalau akan sejauh ini. Kau benar-benar tidak tahu diri! Kau memanfaatkan anak buahku seenaknya. Dasar licik!” Bram menyemburkan kata-kata penuh makian.


“Memangnya kenapa kalau aku membawa wanita itu ke sini? Kau seharusnya tutup mata saja, dengan semua yang aku lakukan. Kau pasti punya kesibukan lain, kan?” jawab Sarah, enteng. Dia tahu benar, kalau otak Bram tidak jauh-jauh dari selangk*ngan.


“Untuk apa kau menyekap mereka?” Bram menolak untuk menjawab. Dia balik melontarkan pertanyaan dengan sikap menuntut.


“Hanya untuk mengancam,” Sarah berjalan santai menuju sofa. Menuang anggur merah ke dalam gelas kaca berbentuk ramping, dan menenggaknya perlahan.


“Maksudmu?”


“Aku hanya ingin sedikit bermain, lalu memaksa Farrel membatalkan perceraian kami. Tidak akan ada jalan mundur, apalagi menolak, kalau tidak mau wanita itu terluka. Atau bahkan….”


“Atau apa? Apa kau juga berencana untuk membunuhnya?” Tebak Bram. Laki-laki itu mulai memprediksi hal terburuk yang mungkin saja akan terjadi. Menilik dari sifat Sarah yang licik dan tidak bisa diatur.


“Tergantung situasi. Kalau semua lancar, tentu aku tidak perlu mengotori tanganku dengan darah.


“Kau benar-benar sudah gila, Sarah.”


Bram menggeleng sambil memijat pangkal hidungnya. Dia baru menyadari sebuah kesalahan fatal. Dan tidak menyangka, kalau dia telah menjerumuskan diri bersama dengan wanita yang tergolong sadis.


“Aku harus melakukan sesuatu,” batin Bram. Dia bergegas keluar kamar karena ingin memastikan keadaan Serena. “Kau harus baik-baik saja,” gumamnya.


-


Wajah Farrel memucat. Tadi pagi, dia sudah mengalami satu hal yang mencurigakan. Dan kata ‘hilang’ yang baru saja Joni katakan, membuatnya berpikir lebih keras. Farrel mulai merangkai kejadian-kejadian sebelumnya, dan akhirnya menemukan beberapa dugaan.


“Apa Sherly dalam bahaya?” Tanya Farrel pada Joni.


“Bukan hanya kekasihmu, tapi juga istriku!”


Farrel berlari cepat, mengikuti ketergesaan Joni. Dia sigap masuk ke dalam mobil yang akan dikendarai oleh Joni. “Kita mau kemana?”


“Tentu saja mencari Serenaku, bodoh! Apa kau tidak mau mencari calon istrimu, juga?!”


“Tentu saja aku mau! Tapi di mana mereka berada sekarang. Apa kau sudah tahu?”


“Iya.”


“Darimana kau tahu?” mata Farrel memicing curiga.


“Aku punya informan terpercaya. Apa sekarang itu penting!” lagi-lagi Joni membentak Farrel.


“Apa yang bisa aku bantu?” Tanya Farrel. Merasa kalau Joni menambah kecepatan, tangan Farrel segera berpegang erat pada hand grip dan memeriksa seat belt terpasang dengan benar.


“Kalau kau punya orang, suruh mereka untuk mengikuti mobil ini! Sepertinya kita akan butuh bantuan,” ucap Joni tanpa menoleh.


“Aku mengerti,” Farrel menghubungi perusahaan yang menyewakan jasa keamanan, dan juga dua orang kepercayaannya. “Dan sekarang kita mau kemana?” Tanya Farrel kemudian.


“Ck! Kampungan,” cibir Farrel. “Sebaiknya di depan sana kita berhenti dulu, aku sudah memanggil sopir yang paham daerah sini. Aku tidak mau kita kena tilang, atau malah masuk penjara gara-gara kau menyetir tanpa sim di negara orang.”


-


Bulu mata Sherly mulai bergerak. Perlahan kelopak matanya terbuka dan berkedip berulang, untuk menyesuaikan cahaya yang menyilaukan. Karena pandangannya masih saja samar, akhirnya Sherly memaksa matanya untuk terpejam kembali.


Sherly mencoba menggerakkan anggota tubuhnya, tapi sulit. Mulutnya hanya bisa merintih akibat rasa perih yang berasal dari sudut bibirnya. Sepertinya Sarah terus menyiksanya, meski dia telah jatuh pingsan.


“Kau sudah bangun?”


Sherly mengenali pemilik suara itu.


“Serena?” tebak Sherly dengan suara lemah.


“Iya.”


“Kita ada dimana?”Sherly bertanya dengan mata yang masih tertutup.


“Aku tidak tahu.”


Kini Sherly mampu mengingat semua kejadian yang membawanya ke tempatnya berada saa ini.


“Sarah…” gumam Sherly.


“Iya, kau benar. Wanita itulah yang telah melakukan ini semua pada kita.” Serena menanggapi gumaman Sherly yang terdengar jelas. Keduanya duduk berdekatan, walau saling memunggungi.


“Ke-kenapa tangan dan kakiku tidak bisa digerakkan, Serena?” Tanya Sherly panik.


“Itu karena kita terikat. Sadarkan dirimu Sherly, buka matamu lebar-lebar! Kita harus bekerja sama untuk bisa keluar dari tempat ini,” ujar Serena.


Saat Serena dan Sherly sibuk dengan usaha mereka melarikan diri, tiba-tiba…


BRAKKK


Pintu didobrak keras dari arah luar. Seorang laki-laki berpakaian serba hitam, masuk dengan mengacungkan sebilah pisau tajam ke arah Serena dan juga Sherly.


“Si-siapa kau?!” Tanya Serena terbata. Tangannya tanpa sadar meremas jemari Sherly yang terdiam kaku, karena takut.


SREETT


Tali yang mengikat Serena dan Sherly terputus. Kemudian laki-laki itu meninggalkan keduanya tanpa kata.


“Lari Serena!”


Walau tidak bisa melihat wujudnya, tapi Serena bisa mendengar suara perintah dari Jin Braja.


Tidak mau menyia-nyiakan waktu, Serena bangkit dan melempar potongan tali panjang yang ada dipangkuannya ke sembarang arah.


“Ayo!” Serena langsung menarik lengan Sherly. Kondisinya yang tidak terlalu parah, membuatnya bisa bergerak lebih leluasa. Tangannya sigap memapah tubuh Sherly yang masih lemah, akibat siksaan kejam dari Sarah.


“Kau bisa berjalan?” Tanya Serena.


Sherly mengangguk. Langkah yang terseok tidak menghalangi tekadnya untuk kabur dan lepas dari tempat itu.


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.