KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 34.



“Kalau aku harus tinggal dipenjara karena kejadian ini, untuk apa aku memiliki suami sepertimu!”


“Untuk apa aku harus hidup dipenjara untuk menanggung kesalahanmu. Bukahkah itu berarti, kau tidak berguna. Kalau kau sudah tidak berguna untukku, untuk apa aku memilikimu disampingku”


“Cukup!”


Serena mendongakkan kepalanya.


Dilihatnya tubuh laki laki sangar itu sudah berdiri tegak, walau masih dengan luka luka yang terlihat jelas di lehernya. Wajah pucat tanpa nyawa itu kini berjalan menghampiri Serena yang masih terduduk di lantai dengan tangisan.


“Kau tidak akan pernah bisa meninggalkanku. Kita memiliki perjanjian. Kau adalah milikku selamanya. Sampai kau mati” ucap makhluk astral itu penuh dengan penekanan


Serena masih ingat dengan jelas, apa isi dari perjanjian yang dilakukannya dengan Ni Maryam saat dia meminta bantuannya.


Dia harus menikahi makhluk halus dan menyediakan tubuhnya setiap malam jum’at kliwon. Dan Serena akan mendapat perlindungan dari semua yang akan menghalangi jalan karirnya.


Tapi Serena lupa…


Sekali dia melangkah, maka dia tidak akan pernah bisa kembali. Perjanjian itu berlaku seumur hidup. Dengan kata lain, dia akan terus menjadi pengabdi makhluk astral sampai nyawanya berpisah dari tubuh.


“Kau benar. Kita memiliki perjanjian. Kau dan aku sudah terikat. Aku akan melaksanakan bagianku dan kau harus melakukan bagianmu.Tapi kalau kau yang lebih dulu mengingkari perjanjian itu, aku akan mengembalikanmu pada Ni Maryam.”


Entah mendapat keberanian darimana, Serena berani mendebat bahkan mengancam suaminya yang berupa makhluk astral. Makhluk yang tidak akan mungkin menjadi tandingannya.


“Apa kau akan terus ada di dalam tubuh itu?” Tanya Serena


“Sementara”


“Terserah” Serena melangkah pergi, meninggalkan ruangan yang lebih tepat disebut dengan penjara.


Sejenak menghentikan langkah dan berbalik.


“Aku mau pulang. Bantu aku keluar dari sini tanpa menimbulkan kecurigaan dari orang orang diluar sana”


--------------------------------------------


Saat akan memasuki ruang perawatan. Serena menyempatkan diri untuk memberi kabar terlebih dahulu pada orang rumah.


“Assalamualaikum…hallo bu, ini Rena”


“Anak ibuuuu…hiks hiks, apa kau baik baik saja Rena? Ibu sangat khawatir nak” ucap ibu Serena saat menerima telpon dari Serena


“Rena ngga papa bu. Rena baik baik saja. Sekarang Rena sudah di rumah sakit, untuk menjenguk Bang Jon.”


“Baiklah. Ibu titip salam untuk Zahra dan Joni ya. Ibu akan menyusul besok.”


“Iya bu. Rena tutup dulu ya. Wassalamualaikum “


Serena miris mendengar suara lemah sang ibu. Dia tahu, kalau ibunya itu pasti sangat merasa khawatir. Kejadian yang menimpanya pasti menjadi pukulan paling berat di dalam hidup ibunya.


Rasa sakit hati ibu yang sudah lama tersimpan dan terkubur, harus kembali terbuka. Laki laki yang sudah meninggalkannya dengan lumuran kesedihan, kini muncul menambah kepedihan mendalam. Bahkan dengan bejatnya menjual anak anak, hanya untuk memenuhi hobi busuknya.


Ceklek


Zahra menghamburkan diri ke arah Serena dan memeluknya erat.”Mbaaaaak….hiks..hiks”


“Gimana keadaan Bang Jon?” Tanya Serena


“Bang Jon sudah melewati masa kritis, tapi masih belum sadar dari tadi” jelas Zahra


Kedua kakak beradik itu masih saling berpelukan. Rasa takut Zahra hilang seketika, melihat Serena pulang dalam keadaan baik baik saja. Tidak ada sedikitpun luka yang bisa ditangkap Zahra dengan penglihatannya.


Tanpa mereka sadari, jari jari tangan Joni bergerak. Matanya mulai membuka perlahan, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang terasa begitu terang di ruangan itu.


“Se re na” senyum Bang Jon mengembang


***


Semoga cepat lolos review