KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 106


Tepat di jam besuk siang, Maya dan Bi Sari datang menjenguk Serena. Kehadiran mereka memberikan waktu pada Joni untuk sejenak melepaskan pandangan dari sang istri dan menggantikannya berjaga. Laki-laki itu mengisi perutnya yang sudah keroncongan dengan makanan yang memang sengaja di bawa dari rumah oleh Bi Sari.


Melihat wajah Serena yang tidak menampakkan kesedihan berlebih, membuat Maya dan Bi Sari merasa lebih tenang. Mereka pun sengaja tidak membahas hal yang berhubungan dengan peristiwa keguguran janin Serena, kemarin. Karena itu pasti malah akan merubah suasana hati Serena yang saat ini sudah membaik.


“Sekar dimana, Bu?” Serena menanyakan keberadaan sang putri begitu ibunya datang.


“Ada di parkiran, sama Adit.”


“Rena kangen….”


“Cepet sembuh, dan kamu bisa bebas meluk dia nanti di rumah….”


Serena tidak lagi mendengar ucapan Maya, dia langsung mengambil handphone dan melakukan panggilan vidio call. Nomor yang dia hubungi adalah nomor milik Adit.


“Mamaaaaaa…” suara Sekar menyapa Serena.


Terakhir kali Serena melihat dan berbicara dengan Sekar, adalah kemarin pagi. Sebelum anak kecil itu pergi jalan-jalan bersama Zahra dan Adit. Dan sekarang Serena begitu bahagia karena bisa kembali melihat wajah sang putri.


“Hallo sayang… kamu lagi ngapain?” tanya Serena.


“Sekar lagi main boneka sama Om Adit,” jawab cepat Sekar. “Mama! Mama udah sehatkan? Mama udah baikkan, kan? Mama kapan pulang? Sekar kangen….” sambung Sekar beruntun.


“Iya, mama juga kangen sama Sekar. Kangen banget malah. Ya udah ya, Sekar main lagi sama Om Adit, mama mau minum obat dulu.”


Sekar mengangguk dan tersenyum. Melambaikan tangan dan mengirimkan ciuman jarak jauh untuk Serena.


Begitu sambungan telepon terputus, Serena sudah tak kuasa lagi menahan air mata. Dia begitu kecewa karena tidak bisa bertemu langsung dengan anak sulungnya, meskipun jarak mereka begitu dekat. Serena berharap kalau saat ini dia bisa memeluk Sekar. Setidaknya dengan melakukan hal itu, dia bisa mengurangi kesedihan akibat kehilangan janin dalam kandungannya.


Semua orang yang ada di ruangan itu pun pura-pura tidak mendengar. Mereka membiarkan Serena melepaskan beban yang ada dalam hatinya dengan menangis. Berharap setelah itu, Serena akan kembali menjadi dirinya yang biasa mereka kenal.


Butuh waktu cukup lama bagi Serena untuk meluapkan perasaan, menumpahkan segala kesedihan dan juga penyesalannya dalam bentuk tangisan. Maya hanya bisa membantu dengan mengusap lembut punggung sang putri dengan sesekali mengelap air matanya sendiri.


“Mas…” panggil Serena pada sang suami. Matanya masih sembab dan berair.


Joni mendongakkan kepala begitu mendengar suara panggilan dari Serena. Dia segera berhenti mengunyah dan juga mengalihkan pandangan dari makanan yang sedang menyita perhatiannya.


“Hmm?” jawab Joni dengan mulut penuh makanan.


“Apa aku boleh ikut makan itu?” tanya Serena. Jari telunjuknya mengarah ke piring yang sedang dipegang oleh Joni. Sepertinya dia merasa lapar setelah puas menangis.


Bukannya langsung menjawab, Joni malah menatap sang adik ipar yang juga sedang duduk dan makan siang di depannya. Dia takut kalau Serena tidak diperbolehkan untuk memakan makanan dari luar, selain makanan yang disediakan oleh rumah sakit.


Walaupun makanan yang di masak oleh Bi Sari sudah pasti aman dan bersih, namun tetap saja, Joni khawatir itu akan mempengaruhi proses penyembuhan sang istri. Apalagi Serena baru saja mengalami keguguran dan mendapat penanganan darurat.


Tanpa mengeluarkan suara, Zahra menunjuk makanan yang boleh dan yang tidak boleh dimakan oleh Serena, dengan jarinya. Karena gadis itu adalah seorang dokter, jadi Joni hanya bisa menurut dan melakukan apa yang diperintahkan Zahra padanya, tanpa perlu drama bantah membantah.


Tok tok tok


Sreeeet


Pintu sliding kamar rawat Serena terbuka.


“Permisi…”


Muncul dua orang tamu dari balik pintu, datang menjenguk Serena. Sherly dan Farrel masuk dengan membawa bingkisan di tangan masing-masing. Maya dan Bi Sari segera beranjak pulang. Mereka memberikan waktu pada dua tamu yang ingin menemui Serena, agar bisa berbincang lebih leluasa. Keduanya juga mengkhawatirkan keadaan Sekar yang sudah ditinggal cukup lama bersama Adit di parkiran rumah sakit.


“Gimana kabar kamu, Say… Serena?” tanya Farrel yang mendekat ke brangkar. Ucapannya sempat tertahan karena salah menyebut nama Serena dengan panggilan yang biasa dia gunakan.


“Sudah baikkan, terima kasih sudah datang menjenguk. Tapi… darimana kalian tahu, kalau gue di rawat di sini?”


“Semalam gue ngga sengaja ketemu sama Adit, dan dia bilang kalau lo lagi di sini.”


Sherly mendekat dan memberikan satu keranjang buah pada Serena.“Nih buat lo,” katanya.


“Terima kasih,” ucap Serena.


“Itu bukan dari gue kok.”


“Terus dari siapa?” tanya Serena bingung.


“Tadi gue ketemu orang yang mengaku kenal sama lo, terus dia nitip ini ke gue. Mungkin dia salah satu dari fans lo. Dia juga bilang, kalau dia ikut bersedih buat lo.”


“Jangan dimakan!” Joni menyaut kasar keranjang buah yang ada di tangan Serena dan langsung menjauhkannya. Dia tahu siapa orang yang mengirim buah untuk istrinya.


“Kenapa?” tanya Sherly dan Farrel bersamaan.


Joni tidak menjawab. Dia malah berjalan mendekati jendela, membuka sedikit tirai dengan ujung jarinya dan mengintip. Farrel melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Joni. Pria itu ikut mengedarkan pandangannya ke luar tanpa tahu apa yang di cari oleh Joni.


“Apa yang lo cari?” tanya Farrel dengan suara rendah, bahkan hampir berbisik.


“Orang yang mengincar Serena.”


“Maksud lo?!”


“Orang yang mengirimkan keranjang buah itu, adalah orang yang membuat Serena celaka dan kehilangan janin yang ada di dalam perutnya.”


“APA?!! darimana lo tahu? Dan kenapa dia mengincar Serena? Kenapa dia ingin mencelakai Serena? Memang dia siapa? Ah tidak, biar gue yang nyari tahu sendiri.”


Mulut Farrel tidak henti-hentinya bertanya. Dia terlihat panik dan mencemaskan Serena. Tapi sedetik kemudian, dia sendiri yang menjawab pertanyaannya dan melarang Joni untuk berbicara.


Tok tok tok


Muncullah seorang tamu lagi yang menjenguk Serena siang ini. Wanita tinggi semampai dengan pakaian mahal yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Lipstrik berwarna merah menyala, kaca mata hitam dan topi cantik yang menutupi sebagian wajahnya. Semua yang menempel pada dirinya adalah barang-barang bermerk dengan harga yang menguras kantong.


Serena dan Sherly bisa menebak kalau tamu yang baru saja datang adalah seorang model seperti mereka. Sherly mengernyitkan kening, karena kalau dilihat dari postur tubuh dan cara berjalan, dia merasa pernah mengenalnya.


“Si-siapa…” tanya Serena terbata.


Bibir sang tamu mengembangkan senyum. Kepalanya lalu menoleh pada dua pria yang sedang berdiri di dekat jendela, tanpa mau menjawab pertanyaan Serena. Perlahan dia berjalan mendekat dan membuka kaca matanya, tepat setelah dia berdiri di depan Farrel.


“Apa kau merindukanku?” tanyanya santai. Kedua mata Farrel sontak membulat sempurna, ketika dia melihat dengan jelas lawan bicaranya.


“Sar-sarah?!” gumam Farrel.


Keterkejutan Farrel juga dirasakan oleh Sherly dan Serena yang duduk di atas brangkar. Mereka sudah lama tidak mendengar kabar sang mantan sahabat, dan tidak menyangka kalau hari ini mereka bisa bertemu lagi.


Joni bisa melihat tangan Farrel yang mengepal. Rahangnya yang mengeras menandakan kalau kehadiran wanita itu tidak membuatnya senang. Entah seperti hubungan mereka sebenarnya, Joni hanya tahu kalau dua orang yang ada di depannya saat ini masih sepasang suami istri.


“Untuk apa kau datang lagi?!” tanya Farrel.


“Ck ck ck ck ck…. Apa kau tidak bisa bersikap lebih manis padaku? Kita sudah cukup lama menikah dan juga sudah lama tidak bertemu, tapi kau masih saja begitu dingin.”


Sarah mendekatkan tubuhnya pada Farrel dan tersenyum menggoda. Baju yang dia pakai adalah baju yang memiliki belahan rendah pada bagian dada. Wanita itu menggelayut manja di lengan Farrel sambil menggesek-gesekkan miliknya disana.


“Aku kembali karena merindukanmu,” Sarah sedikit mendesah di dekat telinga Farrel.


Tapi sayangnya, Farrel tetap tidak tertarik. Sarah yang sudah bersusah payah memprovokasinya pun dibuat kecewa. Pria itu malah membuang muka dan bersikap tidak peduli. Sedari tadi kedua matanya terus tertuju pada Sherly yang juga sedang manatapnya.


Sarah yang kesal pun melepaskan lengan Farrel. Mengikuti arah pandangan Farrel yang sepertinya lebih menarik dari pada dirinya.


“Oh… jadi selama aku tidak ada, kau berselingkuh dengannya?” sinis Sarah.


“Heh! Aku berbeda denganmu,” sergah Farrel.


“Apa bedanya? Kau berselingkuh dengan wanita itu saat aku pergi, padahal kau tahu siapa dia untukku. Sama seperti, saat kau berselingkuh denganku di belakang Serena.”


“Bedanya? Kau bertanya apa bedanya? bedanya adalah aku tidak pernah menyukaimu,” jawab Farrel.


Mendengar penuturan Farrel, senyum Sarah hilang seketika. Giginya beradu hingga menimbulkan suara gemeretak. Wajahnya berubah warna menjadi merah dengan emosi yang sebentar lagi akan tumpah.


Sarah membuang nafas kasar. Dari ujung matanya, dia menyadari keberadaan sosok Joni yang berdiri tidak jauh dari Farrel. Perhatiannya teralihkan dan emosinya mereda seketika. Dia tahu kalau Joni adalah suami Serena. Dan hanya dengan alasan itu saja, sudah membuatnya ingin menggoda pria itu.


Tapi sebelum itu, dia lebih dulu mengeluarkan isi hatinya pada Farrel.


“Kalau kau ingin kita bercerai, maka aku akan meminta kompensasi yang sangat besar. Aku akan menguras semua kekayaanmu sebagai ganti rugi atas semua sakit hatiku selama kita menikah. Aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia dengan mudah. Kau harus mengganti seluruh waktu dan cinta yang telah kuberikan. Ingat itu, Farrel!”


“Cih! Jangan mimpi! Aku tidak akan memberikan apa yang kau inginkan. Dan akan kupastikan kalau kau tidak bisa mengganggu hidupku lagi di masa depan.” tolak Farrel tegas.


“Kita lihat saja, nanti.”


Sarah bergeser pada Joni. Dia juga melakukan apa yang dia lakukan sebelumnya. Tersenyum manis dengan sikap menggoda. Membusungkan dada dan berusaha menarik perhatian pria yang ada di depannya.


“Wah… aku tidak tahu, kalau kau bisa setampan ini saat dilihat dari dekat,” matanya menyapu wajah Joni.


“Pantas saja Serena mau menikahimu, walaupun kau hanya seorang supir. Tapi aku heran, kenapa kau mau menerima wanita seperti dia untuk dijadikan istri? Bukankah masih banyak wanita baik-baik yang mau denganmu diluar sana, termasuk aku. Lantas kenapa harus dengan Serena?”tanyanya dengan nada penuh penghinaan.


Joni menulikan pendengarannya. Dia melakukan kontak mata dengan Serena yang terlihat ingin turun dari ranjang. Sarah segera mencekal lengan Joni yang hendak pergi mendekati istrinya.


“Kalau wanita itu tidak bisa memberimu anak, kau bisa datang padaku. Aku akan sangat senang kalau bisa menampung benihmu di dalam tubuhku ini,” bisik Sarah.


Joni menampilkan senyum mengejek. Dia menatap Farrel yang sedang bergidik jijik melihat kelakuan Sarah. Lalu pergi begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun, menuju Serena yang sudah mengerucutkan bibir.


“Pergilah! Tidak seorang pun yang menginginkan kehadiranmu di sini!” usir Farrel.


Sarah pun berjalan pergi sambil menghentak-hantakkan kakinya. Dia begitu kesal karena tidak berhasil memprovokasi Joni maupun Farrel. Padahal dia sudah menghabiskan banyak waktu untuk berdandan cantik hanya untuk datang ke rumah sakit.


Setelah kepergian Sarah, Farrel mendekati Sherly yang terlihat menunduk. Ada kesedihan yang tertangkap oleh mata laki-laki itu.


“Bagaimana bisa kau menikah dengan wanita gila seperti dia?” tanya Joni.


“Aku juga tidak menyangka kalau dia bisa segila itu,” ucap Farrel lesu.


Serena dan Sherly masih tidak mengeluarkan suara. keduanya masih berusaha menguasai diri masing-masing. Joni mengerti kalau Serena sedang marah. Istrinya itu pasti cemburu melihat dirinya berdekatan dengan Sarah. Dan Joni perlu meredakan kemarahan Serena setelah dua tamu yang ada di depannya itu pergi.


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.