KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 33.



Tindakan selanjutnya adalah tindakan yang paling bodoh, yang tidak seharusnya dia lakukan. Dia mengembil pistol dibalik bajunya dan menembaki asap itu dengan membabi buta. Peluru itu terus melesat meninggalkan tempatnya sampai habis tak tersisa.


“Dasar manusia tidak tahu diuntung!!!”


Bentakan itu berasal dari mulut Serena. Tapi suaranya bukan lagi suara Serena.


Tubuh Serena yang terbalut asap berwarna merah berkobar bagai api, seolah sedang menunjukkan kemarahan. Kuku Serena memanjang dalam hitungan detik, bersiap untuk digunakan sebagai senjata untuk menghancurkan semua musuh musuhnya.


Dengan kecepatan yang tiada tandingannya, asap itu melesat ke arah laki laki sangar yang masih terdiam tanpa bisa melakukan perlawanan. Dan dalam sekejap mata, leher itu sudah berada dalam genggaman Serena yang mencengkram kuat sampai menusukkan kuku kukunya ke dalam kulit tipis yang membalut urat nadi.


“Kau harus mati!!”


Suara yang keluar dari mulut Serena membuat tubuh laki laki sangar bergetar hebat. Tidak ada waktu untuk melawan bahkan tidak mendapat kesempatan untuk berkata. Cekikan itu mengambil seluruh kekuatan yang dimiliki, mengambil semua nafas dan jiwa yang mengisi seisi sendi tubuh.


Bangkai itu luruh ke lantai.


Seonggok daging bertulang tapi tanpa nyawa. Darah menetes dari bekas kuku yang menusuk ke kulit, menembus urat nadi yang rapuh.


Ruangan itu sudah pasti kedap suara. Sengaja di desain untuk kenyamanan sang pemilik yang tidak mau terganggu dengan suara suara yang memekikkan telinga, yang berasal dari lantai diskotik disampingnya.


Sebanyak apapun anak buah yang tersebar di tempat itu, tapi tidak ada satupun yang mengetahui bagaimana keadaan pemilik dan penguasa tertinggi tempat mereka bersenang senang.


“Ada apa ini? Aku kenapa?” Serena asli telah kembali. Kesadarannya juga sudah penuh.


Tubuhnya tiba tiba menegang, ketika matanya melihat tubuh laki laki yang ingin menikmati tubuhnya itu malah terkulai di lantai.


“Dia kenapa?” Tanyanya pada makhluk yang masih belum kehilangan amarahnya


“Mati!” Jawabnya singkat.


Sungguh jawaban yang tidak ingin didengar oleh Serena. Jawaban yang dia harap kalau itu hanya sebuah candaan. Tapi dia tahu, kalau suaminya itu bukanlah makhluk yang bisa bercanda.


“Siapa yang membunuhnya? Apa…apa itu kau?” Tanyanya dengan suara gemetar


“Ya”


“Kenapa? Kenapa kau membunuhnya? Bagaimana caramu membunuhnya?”


Sungguh Serena tidak pernah melihat hal seperti ini. Tubuh tak bernyawa tergolek dihadapannya.


Serena mengangkat kedua tangannya. Memeriksa dan menelisik sesuatu yang mengganjal hati. Sisa cairan berwarna merah yang tertinggal di kuku kukunya adalah sebuah bukti. Bukti yang mungkin akan berakibat buruk padanya.


“Apa kau membunuhnya menggunakan tanganku?”


“Jawab!!” Serena membentak makhluk yang masih tidak mau memberinya kepuasan, dengan jawaban yang diharapkan olehnya


“Jawab!” Bentaknya sekali lagi


“Apa kau harus membunuh orang? Apa kau tidak bisa memberinya hukuman dengan cara yang lebih manusiawi?” Nafas Serena tersengal


“Gara gara perbuatanmu, sekarang akulah yang harus menerima akibatnya. Sebentar lagi polisi pasti akan datang dan menangkapku dengan tuduhan pembunuhan berencana!” Serena terus membentak dengan linangan air mata


Nasib ibu dan adiknyalah yang memberatkan pikirannya. Apa yang akan terjadi dengan ibu dan adiknya jika dia sampai dipenjara karena kasus pembunuhan. Pasti mereka akan mendapat cibiran bahkan makian karena memiliki anggota keluarga seorang pembunuh.


Hiks….hiks…


Serena terkulai lemas dan terduduk dilantai. Pikirannya hanya seputar ibu juga adiknya. Dan…Bang Jon


Serena teringat Bang Jon, yang belum diketahui seperti apa nasibnya kini. Selamatkah? Atau malah…


Berulang kali Serena menggelengkan kepalanya untuk menghalau dugaan dugaan nasib buruk tentangnya, tentang keluarganya, tentang Bang Jon supir setianya.


“Aku tidak mau tahu, hidupkan dia kembali” ucapnya lirih pada sang suami


Keinginan Serena adalah perintah yang harus di laksanakan. Perintah yang mutlak harus dipenuhi dan didapatkan. karena itu adalah hak dari Serena yang sudah mau menikahi makhluk astral seperti dia.


Sudah pasti tidak bisa.


Sehebat apapun mahkluk astral, tidak ada satupun yang bisa menghidupkan kembali manusai yang sudah mati. Kecuali atas kehendak Sang Pencipta


Tapi kelicikan makhluk astral juga tidak bisa ditandingi oleh manusia manapun kecuali Sang Pencipta sendiri yang mengizinkannya. Karena semua yang terjadi dan semua yang tercipta di dunia ini, sudah memiliki jalannya sendiri.


“Kenapa aku harus menghidupkan manusia yang hanya akan membahayakanmu!”


“Hdupkan dia kembali!! aku tidak mau kau menggunakan tubuhku untuk membunuh!”


Serena dan suaminya saling membentak.


“Kalau aku harus tinggal dipenjara karena kejadian ini, untuk apa aku memiliki suami sepertimu!”


***


Tenang…..biar gantung tapi upnya ngga cuma 1 bab kok