KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 77


Juan menghentikan mobil Serena di pinggir jalan, menggenggam tangan Serena dengan tangan yang mulai dingin milik Joni.


“Aku akan meninggalkanmu di sini. Apa kau bisa melanjutkannya sendiri?” tanyanya pada sang istri.


Serena mengangguk. Dia bisa melihat kekhawatiran di mata Juan yang di tampilkan oleh Joni.


“Cepatlah pergi, aku harus segera membawa Joni ke rumah sakit, sebelum terlambat.”


“Kenapa kau sangat ingin aku pergi sayang? Apa kau tidak merindukanku?”


“Sekarang bukan waktunya untuk berdebat, cepat pergi dan tinggalkan tubuh Joni.”


“Iya iya” mulut Juan menggerutu.


Juan mendaratkan sebuah kecupan di dahi Serena. “Aku akan segera kembali.”


Mengelus pipi sang istri sebentar, lalu keluar dari mobil untuk menuju kursi bagian tengah. Merebahkan tubuh yang sudah berlumur darah dan menutup mata.


Serena sudah berpindah tempat. Dia mulai melajukan mobilnya menuju UGD sebuah rumah sakit, dimana Zahra menjadi salah satu karyawan di sana sebagai dokter baru.


Zahra sudah menunggu kedatangan Serena dengan dua orang perawat yang berdiri di belakangnya. Sebuah brangkar juga sudah di sediakan pihak rumah sakit untuk membawa tubuh Joni.


Sebelumnya, Zahra memang sudah memberitahukan pada para perawat, kalau yang datang adalah pasien akibat terkena luka tembak. Jadi, saat mobil milik Serena berhenti tepat di depan UGD, para perawat langsung sigap untuk membawa Joni yang tergeletak di kursi penumpang tengah.


Zahra menatap Serena dengan berjuta pertanyaan. Tapi dia menahan diri untuk tidak mengintrogasi sang kakak, ketika melihat betapa banyak darah yang berceceran dan raut wajah pucat milik Joni.


“Aku punya banyak pertanyaan untukmu mbak, tapi sekarang Zahra masih bisa menyimpannya. Tunggu saja,” kata-kata itu seperti sebuah peringatan untuk Serena.


Sebagai seorang kakak, Serena tahu bagaimana sifat sang adik. Zahra akan banyak sekali bertanya sampai rasa penasarannya itu hilang. Penjelasan secara terperinci adalah hal yang harus Zahra dapatkan jika dia belum mendapat jawaban yang memuaskan.


Zahra segera mengikuti para perawat, mereka sudah mulai menjauh sambil mendorong brangkar yang membawa tubuh Joni. Dan tidak ada lagi yang bisa di lakukan oleh Serena saat ini, selain berdoa untuk keselamatan sopirnya yang setia.


Serena berlari masuk ke dalam rumah sakit setelah memarkirkan mobil. Sempat bertanya pada seorang perawat dimana letak ruang oprasi, lalu segera melangkahkan kaki ke sana.


-


Ketika lampu yang terletak tepat di tengah bagian atas pintu ruang oprasi itu mati, Serena langsung bangkit dari duduk. Butuh waktu menunggu beberapa jam, dan Serena harus mengerahkan semua kesabarannya untuk melihat hasil proses penanganan para dokter pada tubuh Joni.


Serena tidak bisa memejamkan mata sama sekali, meskipun jiwa dan juga tubuhnya sudah terasa sangat lelah. Keadaan Joni yang belum bisa di pastikan keselamatannya itu, ternyata mampu mengambil segala konsentrasinya.


Begitu sang adik keluar dari ruang oprasi bersama dokter senior dan para perawat, Serena segera menghampiri dan bertanya “bagaimana keadaannya?”


“Bang Jon sudah melewati masa kritis, tinggal menunggu efek obat anastesinya hilang. Beruntung pelurunya tidak mengenai organ vital yang berbahaya. Walaupun tadi Bang Jon sempat kehilangan banyak darah, tapi tim dokter bisa mengatasinya dengan baik.”


“Jadi maksud lo, dia baik-baik saja? Dia benar-benar selamat?” Serena merasa perlu memastikan kalau pendengarannya tidak salah.


“Iya.”


Zahra menarik nafas dalam menatap keadaan sang kakak. Wajah lelah dengan baju yang banyak terdapat bercak darah, membuat Serena tampak seperti bukan kakaknya.


“Mbak, kau terlihat lebih menyedihkan di banding Bang Jon. Bersihkan dirimu dan ganti dulu bajumu. Bang Jon akan merasa bersalah kalau sampai dia melihatmu dalam keadaan seperti ini.”


“Hah?” Serena memasang wajah bingung. Kalau saja dia tidak menatap pintu kaca yang memantulkan penampilan dirinya yang sangat berantakan, Serena tidak akan tahu apa maksud perkataan Zahra.


“Gue mau ganti baju dulu, titip Bang Jon ya.”


“Tunggu mbak! Mbak belum ngejelasin ke Zahra, gimana Bang Jon bisa kena luka tembak?” ucap Zahra pada Serena yang sudah mulai berlari kecil menjauhinya.


“Nanti! Setelah gue ganti baju.”


---------------------------------------------


Yuli berjalan keluar dari ruang pribadinya, turun ke bawah untuk menemui Yudi dan Adit.


“Ada perlu apa kau mencariku?”


Yudi bisa melihat kesinisan pada pertanyaan Yuli.


“Cih! Kau tidak punya hak apa pun untuk melarangku mengambil apa yang sudah seharusnya menjadi milikku!”


“Aku sudah meninggalkan istri dan anak anakku. Apa itu masih tidak cukup untuk membuatmu melepaskan mereka?”


“Tidak cukup! Sama sekali tidak cukup! Aku tidak akan pernah melepaskan istri dan anak anakmu, apalagi Serena. Kau paling tahu kenapa aku melakukan itu. Perlu diingat, kau adalah orang yang pantas di salahkan dalam hal ini Yudi!”


Yuli dan Yudi tidak menyadari keberadaan Adit yang masih duduk tidak jauh dari keduanya. Laki laki itu mendengarkan semua perdebatan yang terjadi di depan matanya dengan dahi berkerut.


“Sepertinya kita tidak akan pernah mencapai kesepakatan, jadi lebih baik aku pergi dulu.”


Yudi hampir bangkit dari sofa, saat anak buah Yuli memegang pundak dan menahan tubuhnya untuk kembali duduk di tempatnya.


“Apa aku mengizinkanmu untuk pergi?” sinis Yuli.


“Apa maksudmu? Apa kau mau mencoba mengurungku seperti apa yang kau lakukan pada Serena?” Yudi mencoba memberontak dari pegangan bodyguard Yuli.


“Untuk apa aku mengurungmu hah? Kau sama sekali tidak berguna untukku. Walaupun aku menahanmu dan menjadikanmu sebagai sandera, istri atau pun anak anakmu itu tidak akan datang untuk membebaskanmu. Kau tahu kenapa?”


Yuli berhenti sejenak untuk melihat reaksi yang di tampilkan Yudi.


“Karena mereka sudah tidak peduli lagi padamu, pria tua.”


“Kalau begitu, kenapa kau malah menahanku dan tidak melepaskan mereka?”


“Aku hanya ingin memberimu peringatan sebelum kau pergi dari sini.”


“Apa lagi?” tanya Yudi.


“Kau adalah orang yang paling tahu apa tujuan hidupku Yudi. Kau juga orang yang mengerti kenapa aku mengincar istri dan anak anakmu, terutama Serena, anak sulungmu. Semua yang aku lakukan sekarang adalah hasil dari kesepakatan kita dulu, sebelum kau mengkhianatiku.”


“Hentikan Yuli.” Yudi bangkit dari duduknya tanpa dicegah oleh para penjaga.


“Apa kau ingat? Demi untuk membantumu, aku terpaksa harus menikah dengan dukun tua renta yang cabul itu! Hanya karena seorang pria brengsek seperti dirimu, aku harus menjalani kehidupan yang lebih buruk dari pada di neraka! Apa kau ingat itu Yudi!!”


Yuli sudah menangis histeris. Hatinya terasa perih ketika ingatan masa lalu kembali datang dan berputar secara beruntun.


“Kau mengorbankanku demi kepentinganmu! Dengan begitu bodohnya, aku mau saja di jadikan tumbal olehmu! Tapi dengan kejamnya kau meninggalkanku, setelah berhasil mendapatkan semua yang kau inginkan. Dan sekarang kau menyuruhku untuk berhenti?! tidak Yudi! Tidak!!!!” tangis Yuli terdengar membahana di lantai bawah.


Sementara Yudi hanya bisa berdiri kaku dengan penyesalan yang tergambar jelas di wajahnya, tubuh Yuli sudah luruh ke lantai dengan derai air mata yang tidak bisa di bendung.


Adit tidak mengeluarkan suara, pria yang lebih muda dari Yudi itu memilih untuk tidak menganggu dua orang yang sedang berdebat di depan matanya. Adit bisa dengan jelas mendengar semua pembicaraan yang terjadi antara mamanya dan juga Yudi, tapi dia tidak mengerti apa maksud dari semuanya.


“Aku belum pernah melihat mama menangis sampai seperti itu, sebenarnya sepahit apa masa lalu yang sudah di lalui oleh mama? Dan ada hubungan apa antara mereka berdua?” batin Adit.


“Maafkan aku Yuli…” ucap Yudi yang kini ikut duduk di lantai bersama dengan wanita itu. Ditariknya tubuh tua yang bergetar karena tangis, dan membawanya ke dalam pelukan.


“Maafkan aku. Ayo hentikan semuanya sampai di sini saja. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi Yuli, aku sudah kembali pada diriku yang dulu. Sekarang aku sudah menjadi laki laki tua dan miskin tanpa jabatan apapun. Bisakah kau melakukannya?” ucap Yudi tanpa melepaskan pelukan eratnya pada Yuli.


“Sudah terlambat Yudi,” cicit Yuli.


Adit menyaksikan dengan kedua mata dan kepalanya sendiri, bagaimana Yudi memeluk mamanya. Bahkan mamanya itu terlihat sangat menikmati pelukan dari laki laki tua dia kenal sebagai ayah dari wanita yang dia cintai tanpa terlihat ingin menolak.


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf kalau ada kata-kata yang menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.