KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 99


Yuli menyambut kedatangan Adit, putra semata wayangnya. Wanita paruh baya itu begitu gembira dan langsung memeluk tubuh anak kesayangannya dengan penuh kerinduan. Sudah lebih dari sebulan mereka tidak bertemu, karena Yuli harus tinggal bersama dengan Ni Maryam untuk proses penyembuhan.


“Apa kabar mah?”


“Mama baik sayang, kamu sendiri bagaimana?”


“Adit? Tentu Adit baik-baik saja mah. Tapi kemarin Adit merasa sedikit sakit,” ucap Adit sambil memegang dadanya sendiri dan berpura-pura kesakitan.


“Bagian mana yang sakit? Jangan buat mama khawatir!”


“Adit sakit rindu,” senyuman terbit di bibir Adit karena telah berhasil membuat Yuli panik.


“Rindu?”


“Iya. Adit kangen sama mama. Pake banget.”


Adit kembali memeluk erat tubuh wanita yang telah melahirkannya. Ada rasa lega yang menjalari relung hatinya, ketika bisa melihat mamanya masih hidup dan bisa berdiri dengan baik, apalagi sekarang dia tampak dalam keadaan sehat.


“Ada apa mah?”


Adit mengernyitkan dahinya saat Yuli terus menatapnya penuh telisik. Untuk beberapa saat mereka hanya saling pandang, saling menunggu untuk mengetahui siapa pemenang dari adu tatap yang sedang terjadi.


Belum ada yang mau mengalah. Baik Adit ataupun Yuli terus tidak bersedia mengedipkan mata dan menyerah untuk mengakui kemenangan lawan.


Adit tahu kalau saat ini Yuli sedang mencari jawaban dari pertanyaan yang sepertinya muncul dibenaknya. Wanita itu tidak melakukan introgasi layaknya ibu-ibu pada umumnya, tapi dia lebih memilih menggunakan caranya sendiri, yaitu mencari jawaban dari mata Adit.


Adit bergerak perlahan agar tidak membuat mamanya semakin curiga. Berharap kalau kejutan yang dia siapkan tidak terbaca dan menggagalkan rencana yang sudah dia susun rapi.


“Apa kau sudah punya pacar?” tanya Yuli.


DEG


“Yaaaah… kenapa mama selalu bisa membaca isi hati Adit? Gagal deh kejutannya,” keluh Adit.


“Pffft… ha… haa…” tawa Yuli pecah.


Adit mengerucutkan bibir. Dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan apapun dari Yuli. Wanita tua itu seolah memiliki mata lain untuk mengetahui semua hal yang disimpan olehnya. Bahkan tanpa Adit membuka mulut pun, Yuli akan tahu apa yang menjadi beban hati putranya.


“Siapa?”


“Huh?”


“Siapa gadis yang berhasil mencuri hati anak mama ini, hem?” ucap Yuli sambil mengelus kepala Adit.


“Emm… itu… anu mah,” Adit menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Siapa?” tanya Yuli sekali lagi. Dia bisa melihat keragu-raguan di wajah Adit.


“Tapi mama janji yah, kalau mama ngga akan marah?”


“Ck siapa, Adit?”


“Zahra, mah.”


“Zahra?!”


“I iya mah,” Adit menangkap keterkejutan Yuli.


“Mak maksudmu… Zahra adiknya Serena? Anaknya Maya?”


Adit mengangguk, dia merasa sedikit takut dengan reaksi yang ditunjukkan oleh Yuli. Pemuda itu tahu, kalau kejutan yang dia siapkan untuk Yuli mungkin akan mendapat respon yang tidak menyenangkan. Tapi bagaimana pun juga, dia perlu memberitahukan hubungannya dengan Zahra. Hubungan yang membuat hidupnya semakin berwarna akhir-akhir ini.


“Mama marah ya?” tanya Adit dengan suara sehalus mungkin.


Yuli mengangkat tangan, dengan telapak yang menghadap ke wajah sang putra. Mengisyaratkan pada Adit, agar pemuda itu diam dan memberinya waktu untuk mencari jawaban.


Adit menurut. Dia duduk diam dan menunggu seperti perintah Yuli. Pikiran dan hatinya juga ikut sibuk mencari alasan-alasan yang mungkin akan dia gunakan untuk membela hubungannya dengan Zahra, itupun jika Yuli menolak.


“Sejak kapan?”


“Huh?”


“Sejak kapan kalian berhubungan?”


“Eee… sejak sejak Serena menikah dengan Joni mah,” jawab Adit.


“Apa?! Serena menikah dengan Joni?! Kapan? Kapan mereka menikah?”


“Tiga hari setelah kejadian malam itu mah, malam dimana mama pingsan dan laki-laki tua penyiksa mama itu juga mati.”


“Mama tidak peduli pada laki-laki tua itu! Mama cuma pengen tahu, bagaimana bisa Serena menikah dengan Joni? Kenapa bukan denganmu atau dengan pria lainnya?”


“Karena itu adalah perintah dariku!” suara lantang Ni Maryam menginterupsi keingintahuan Yuli.


Ni Maryam yang sejak tadi tidak terlihat, kini menunjukkan batang hidungnya pada Adit dan Yuli. Di usianya yang sudah terbilang renta, tapi suaranya tetap nyaring dan mampu membuat bulu kuduk meremang.


“Jin Braja sangat menyukai Serena. Dia rela mengorbankan dirinya sendiri untuk melindungi gadis itu. Walaupun dia tahu kalau dia bisa saja musnah saat bertarung dengan Ki Jarot, tapi dia tetap melakukan semuanya demi Serena. Begitu juga dengan orang yang bernama Joni. Dia adalah laki-laki yang rela melakukan apapun untuk gadis itu. Dia tidak perduli dengan nyawanya sendiri untuk memberi perlindungan pada Serena. Cih! aku heran, kenapa mereka harus memiliki kemiripan.”


“Apa maksud Nini?” tanya Yuli yang semakin tidak mengerti dengan penjelasan Ni Maryam.


“Jin Braja dan Joni sama-sama ingin melindungi Serena. Mereka bukan hanya memiliki perasaan untuk gadis itu, tapi juga punya keinginan yang sama. Keinginan untuk membahagaiakan Serena. Karena itulah aku memerintahkan Joni untuk menggantikan posisi Jin Braja dan menjadi suami Serena.”


“Kenapa bukan anakku saja Ni?” ucap Yuli tidak suka.


“Walaupun anakmu memiliki cinta dan perasaan ingin melindungi yang sama besar, tapi sayangnya Serena tidak punya sedikitpun perasaan yang sama pada putramu ini. Benarkan tebakanku?” tanya Ni Maryam pada Adit yang sedang menatapnya.


Kepala Adit mengangguk. Dia membenarkan ucapan Ni Maryam meski tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


“Apa itu berpengaruh Ni?” Yuli kembali bertanya.


“Tentu saja. Saling mencintai dan saling menyayangi akan membentuk kekuatan yang tak terlihat. Itu bisa membantu melindungi Serena dari kejahatan yang sedang mengintainya.”


“Kejahatan apalagi Ni? Siapa? Siapa orang yang masih ingin mencelakakan Serena?” tanya Adit khawatir.


Ni Maryam memejamkan mata. Membuang nafas perlahan dan menatap ke luar rumah tuanya.


“Orang yang pernah menjalin kerja sama dengan makhluk halus dengan cara apapun, pasti akan merasakan dampaknya dikemudian hari. Meskipun dia sudah melepas atau membuangnya, dampak itu akan tetap ada. Dan semakin lama makhluk halus itu menguasai tubuh manusia, maka akan semakin sulit untuk dipisahkan.”


“Tapi nyatanya, Serena sudah terlepas dari Jin Braja kan? Mereka sudah terpisah kan?” Adit bersuara.


“Justru karena itulah… karena Jin Braja sudah pergi dari tubuh Serena, sekarang dia malah menjadi incaran maklhuk-maklhuk lain. Ada jejak tak kasat mata yang ditinggalkan oleh Jin Braja dan menarik perhatian untuk kalangan jin. Jejak yang selalu ada pada setiap manusia yang pernah memiliki hubungan dengan makhluk halus. Walaupun kebersamaan mereka hanya sebentar, tapi tidak membuatnya hilang begitu saja.”


“Apakah Serena harus punya Jin lain untuk mengisi kekosongan Jin Braja?” Yuli ikut penasaran.


“Jangan! Itu malah akan berakibat lebih buruk. Jika hubungan yang sebentar saja akan membuat hidupnya dalam bahaya, apalagi kalau hubungan yang tidak seharusnya itu terjalin lebih lama. Dampaknya akan semakin tidak baik. Saat jin berada dalam tubuh manusia untuk waktu yang lama, dia akan semakin merasa berkuasa atas tubuh yang dia rasuki. Dia akan menolak untuk di keluarkan, dan dia akan marah besar saat merasa terusir.”


“Apa yang harus saya lakukan untuk melindunginya Ni?” tanya Adit dengan penuh harap.


“Bicarakan ini dengan suami dan keluarganya. Katakan untuk tidak terlalu lama membiarkan dia sendirian. Terus awasi dan menjaganya secara bergantian, apalagi saat nanti dia hamil. Tapi tunggu!”


“Kenapa Ni?” Adit dan Yuli bertanya bersamaan.


“Hamil?!” Adit dan Yuli lebih terkejut dengan ucapan Ni Maryam yang baru saja mereka dengar.


“Ck cepat sekali. Hebat juga tuh bocah,” gumam Yuli.


“Ini tidak baik. Sekarang janin dalam kandungannya ikut berada dalam bahaya.”


“Sebenarnya bahaya apa, Ni? Tolong jelaskan semuanya, biar saya bisa membantu untuk melindunginya!” desak Adit tidak sabaran.


“Selain menjadi incaran makhluk halus, ada manusia dengan hati jahat dan kekuatan hitam yang menginginkan Serena Dia ingin memiliki wanita itu sebagai pendamping. Dan kalau orang itu sampai tahu tentang kehamilan ini, maka janinnya juga berada dalam bahaya yang besar.”


“Janin itu masih ada dalam kandungan, memang bahaya apa yang bisa mengancam kehamilan Serena?”


“Orang itu akan mengorbankan janin yang masih berada dalam kandungan itu pada jin-jin peliharaannya, agar dia bisa menjadi semakin kuat.”jelas Ni Maryam.


“APA?!!!” Adit dan Yuli kaget mendengar penjelasan yang mengerikan tentang Serena.


“Cepat pulang Dit! Selamatkan Serena dan juga janinnya!” perintah Yuli pada anaknya. Walaupun dia tidak suka mengetahui kebenaran kalau Serena menikah dengan Joni, tapi dia tidak bisa membiarkan gadis yang sangat dia idam-idamkan menjadi menantunya itu berada dalam bahaya.


“Tapi Adit datang kesini untuk menjemput mama, jadi ayo kita pulang bersama!”


“Tidak Dit. Mama masih belum sembuh. Mama masih butuh banyak waktu untuk benar-benar pulih seperti dulu. Mama tidak bisa pergi sekarang,” tolak Yuli.


“Tapi mah…”


“Aku akan menjaga mamamu ini. Kau tidak perlu khawatir.” Ni Maryam mencoba membantu Yuli memberi pengertian pada putranya.


Berat rasanya Adit harus berpisah kembali dengan Yuli. Terkadang dia sangat membenci keadaan yang membuat kebahagiaannya tidak bertahan lama. Tapi dia masih tetap bersyukur karena jarak yang memisahkannya dengan Yuli masih bisa dia tempuh. Mereka masih hidup di dunia yang sama dan bernaung di bawah langit yang sama.


“Baiklah. Adit akan pulang.”


Pelukan erat kembali Adit berikan pada Yuli. Punggung wanita tua dalam pelukannya itu bergetar. Dia bisa mendengar suara isakan tertahan dari Yuli. Dia juga merasa sedih, tapi ada hal penting yang sekarang harus dia utamakan.


”Mah… apa mama tidak menyetujui hubunganku dengan Zahra?”tanya Adit setelah melepas pelukan.


“Siapapun gadis yang kau pilih untuk menjadi pendamping hidup, mama akan menerimanya dengan senang hati. Zahra gadis yang baik, tentu mama tidak akan menolak. Tapi…” Yuli menggantung ucapnnya.


“Tapi apa mah?”


“Apa Maya dan Yudi tahu hal ini?”


“Mereka sudah tahu semuanya mah,” Adit menjawab dengan iringan senyum.


“Apa mereka setuju? Mereka tidak marah?”


“Mereka setuju. Mereka tidak marah. Bahkan paman Yudi memintaku untuk segera menikahi Zahra, hanya saja Adit dan Zahra sama-sama perlu waktu untuk bisa saling mengenal lebih dalam. Mungkin pernikahan kami akan diadakan setahun lagi. Adit harap…. saat itu terjadi, mama sudah sembuh total. Adit pengen mama bisa hadir dan memberikan restu buat Adit dan Zahra.”


“Baguslah kalau begitu. Mama jadi lebih tenang mendengarnya. Tentu mama harus menghadiri pernikahan kamu dan Zahra. Mama ikut bahagia untukmu sayang. Ck kenapa Maya tidak menolak hubunganmu dengan Zahra? Padahal mama sudah banyak berbuat jahat padanya! Oh iya, mama hampir lupa. Adit, apa kau sudah memberikan botol kecil yang mama suruh untuk diberikan pada Maya?”


“Sudah mah. Semua perintah mama, sudah Adit lakukan. Sekarang Adit mau pulang dulu. Adit harus ikut menjaga calon keponakan yang ada di dalam perut Serena.”


“Iya cepatlah pulang.”


“Adit titip mama ya Ni,” ucap Adit berpamitan pada Ni Maryam.


---------------------------------------------


“Selamat ya Pak, Bu.” ucapan dokter mengukuhkan kebenaran tentang kehamilan Serena. Senyuman tak henti-hentinya terukir di wajah suami istri yang sedang mendengar penjelasan dokter sambil terus bersyukur.


Joni menjadi laki-laki yang paling berbahagia saat ini. Bisa memiliki wanita yang sangat dia cintai sebagai teman hidup, dan sekarang dia punya calon bayi yang sedang berkembang dalam kandungan Serena.


“Kandungannya dalam keadaan sehat, tapi karena usia janinnya masih sangat muda, ibunya harus sangat berhati-hati. Saya juga akan tuliskan vitamin yang harus diminum oleh sang calon ibu. Sekali lagi selamat ya,” dokter menjabat tangan Joni dan Serena.


“Terima kasih dok.”


Joni dan Serena keluar dari dalam ruang dokter spesialis obgyn dengan wajah sumringah. Sepasang suami istri itu tidak menyangka kalau buah hati mereka akan hadir secepat ini, dan membuat Joni bersikap lebih protektif dari sebelumnya.


“Apa kamu bahagia?” tanya Serena pada Joni.


“Sangat! Aku sangat bahagia. Aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu bisa hamil secepat ini,” ucap Joni sambil perlahan mengelus perut Serena.


“Gimana ngga cepet hamil, kalau setiap malam kamu mengajakku olah raga.”


“He… hee tapi kamu juga menikmatinya kan?”


Joni dan Serena saling bergandengan tangan. Keduanya sama sekali tidak terganggu dengan tatapan ibu-ibu yang juga sedang memeriksakan kandungan, bahkan ada diantara mereka yang mengenali sosok Serena sebagai model iklan dan memotretnya diam-diam.


-


“Mas…” panggil Serena sesaat setelah mobil yang dikemudikan oleh Joni meninggalkan area parkir rumah sakit.


“Iya, ada yang ingin kau makan?”tanya Joni. Dia tahu kalau seorang wanita yang sedang hamil biasanya akan mengalami yang namanya ngidam. Mungkin saja, sekarang Serena sedang menginginkan makanan yang tiba-tiba terlintas dibenaknya.


“Sebelum pulang, bisakah kita mampir ke kafe kamu sebentar? Aku pengen makan di sana.”


Joni tidak menjalankan bisnis club yang telah dipindah tangankan padanya oleh Juan. Dan menyerahkan sepenuhnya tugas untuk mengurus club pada Yudi, ayah mertuanya. Joni memilih mengelola kafe sederhana yang telah dia rintis sejak lama. Dan Serena baru mengetahuinya seminggu setelah mereka resmi menjadi suami istri.


“Tentu saja bisa. Kau adalah nyonya dari pemilik kafe, tentu saja kau bebas untuk datang kesana.”


Serena tersenyum mendengar ucapan Joni.


“Mau menghubungi siapa?” tanya Joni yang melihat Serena mengambil handphone miliknya.


“Sekar.”


“Kenapa?”


“Mungkin dia ingin makan sesuatu, jadi kita bisa sekalian membelinya sebelum pulang.”


"Iya benar. Sekarang, mas tidak bisa membayangkan wajah kecilnya yang pasti terlihat manis saat tersenyum bahagia karena sebentar lagi dia akan memiliki adik."


"Dibandingkan dengan kita, dia bahkan lebih dulu tahu tentang kehamilanku. " ucap Serena.


"Anak gadis kita memang hebat," kata Joni bangga.


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.