
Drrt drrt drrrt
“Hallo… ada apa Farrel?” Tanya Serena.
“Dimana suamimu?”
“Ada perlu apa, lo nyariin suami gue?”
“Barusan Sherly menelponku, dia bilang kalau sekarang ada orang yang sedang mengetuk pintu kamar kami. Dan itu jelas bukan aku, karena aku masih ada di jalan untuk kembali ke hotel. Jadi bisakah, aku meminta tolong pada Joni untuk memeriksa keadaan Sherly di kamar?”
“Baiklah. Tunggu sebentar,” jawab Serena, cepat.
Serena segera turun dari ranjang. Dia melewati Joni yang sedang menerima kiriman sarapan dari seorang pria, pelayan kamar.
“Ada apa?” Tanya Joni. Dia melihat ketakutan di mata istrinya.
“Sherly.”
“Kenapa dengan Sherly?”
“Ayo kita lihat kamarnya!”
Serena langsung menarik lengan suaminya, tanpa menjawab pertanyaan. Jarak kamar mereka memang tidak jauh, hanya harus melewati satu kali belokan dan dua pintu kamar hotel lainnya.
Tok tok tok
“Sherly! Apa lo di dalam?” teriak Serena.
Tok tok tok
“Sherly! Buka pintunya! Ini gue, Serena!”
“Bagaimana?” Tanya Farrel tiba-tiba sudah berdiri di belakang Joni dengan nafasnya yang tersengal. Terlihat sekali kalau pria itu habis berlari, untuk bisa segera sampai di depan kamarnya.
“Gue ngga lihat siapapun di depan kamar lo,” jawab Serena.
“Huft… bagaimana dengan Sherly?”
“Gue belum tahu, dari tadi dia ngga jawab panggilan gue,” Serena kembali bersuara.
Tok tok tok
“Sayang… ini aku, Farrel! Bisa kamu buka pintunya?” kali ini, Farrel yang mengetuk dan memanggil-manggil Sherly.
“Coba lo telpon,” Joni memberi saran.
“Oh iya, pinter.”
Tapi belum sempat Farrel menekan tombol sambungan, pintu kamar terbuka perlahan. Kepala Sherly muncul sedikit, seolah sedang memastikan siapa tamunya sebelum benar-benar memberi jalan masuk.
“Kamu ngga apa-apa, sayang?” Tanya Farrel, cepat.
“Iya aku tidak apa-apa,” jawab Sherly. Dan sumpah demi apapun, kelegaan serta merta mengaliri tubuh Farrel yang dilanda kecemasan.
-
Sherly dan Serena memilih duduk di tepian, sambil melihat Farrel dan Joni yang sedang berlomba untuk mencapai ujung kolam renang. Keduanya tampak sangat santai setelah drama kecil, pagi tadi.
“Besok pagi kami akan pulang,” ucap Serena.
“Kenapa cepat sekali? Bukankah seharusnya kalian ada di sini selama sepuluh hari?” Tanya Sherly.
“Iya. Rencananya memang seperti itu. Tapi tadi pagi, Sekar tib-tiba meminta kami pulang lebih cepat.”
“Kenapa? Apa ada masalah?”
Serena menggeleng. Dia tidak akan menceritakan apapun tentang Sekar, ataupun tentang dugaan kehamilannya. “Aku rasa, dia hanya kangen pada kami berdua.”
Sherly hanya ber’oh’ ria. Matanya kembali menatap Farrel yang masih berdebat kecil dengan Joni. Keduanya sama-sama tidak ada yang mau mengaku kalah, padahal sudah berulang kali bertanding dengan hasil seri.
“Hais... kenapa mereka bersikap seperti anak kecil?” keluh Serena.
Serena bangkit dari kursi santainya. “Aku mau ke kamar mandi, kau mau ikut?” Tawar Serena.
“Iya, aku ikut. Ayo…”
Serena dan Sherly berjalan beriringan. Membiarkan dua pria yang masih berada di kolam sana terus berdebat, tanpa menyadari kepergian para kekasih mereka.
Serena masuk lebih dulu, ke salah satu bilik toilet yang kosong dan bersih. Melepaskan diri dari tekanan kandung kemih, yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.
-
Serena buru-buru menyelesaikan urusannya, saat menyadari ada sesuatu yang janggal, sedang terjadi. Toilet yang dia datangi mendadak menjadi sepi. Dia sempat memanggil nama Sherly, tapi sahabatnya itu tidak menjawab.
Ceklek
Mata Serena membulat sempurna. Dia tidak siap disuguhi pemandangan yang langsung membuatnya gemetar. Pikirannya mendadak buntu. Bingung harus melakukan apa untuk membantu Sherly yang sedang di todong pistol oleh Sarah.
Sarah? Bagaimana bisa wanita itu ada disini? Pantas saja toilet menjadi sepi, tentu karena tidak ada orang yang mau mendekati maut, bukan?
Serena berusaha bersikap tenang, walau harus menyembunyikan tangannya yang sudah berkeringat dingin.
Sarah tersenyum sinis. Tangan kirinya berada di leher Sherly, sedangkan tangan satu lagi memegang pistol kecil untuk mengancam.
“Kenapa kalian berdua tidak mengajakku berlibur, juga?” Tanya Sarah. Dia hanya berencana untuk menemui Sherly, dan memberinya sedikit peringatan untuk menjauhi Farrel. Tapi ternyata, dia juga harus berjumpa dengan Serena yang terlihat ingin melindungi Sherly.
“Apa yang lo inginkan, Sarah?” alih-alih menjawab, Serena malah melempar pertanyaan.
“Gue cuma punya urusan sama perempuan ini,” ujar Sarah. Tubuhnya menempel rapat pada tubuh Sherly yang kaku. Pistol kecil yang menempel di pelipis Sherly, benar-benar berguna untuk membuat musuhnya ketakutan.
“Urusan apa?” Tanya Serena, lagi.
“Apapun itu, yang jelas ngga ada hubungannya sama lo!”
Sarah mendorong tubuh Sherly untuk berjalan, keluar dari area toilet. Pistol kecilnya tidak lagi membidik pelipis, tapi pindah ke pinggang bagian belakang. Masih dengan posisi yang menempel, agar benda terlarang itu tidak terlihat oleh orang lain.
“Mau lo bawa kemana dia?” seru Serena.
“Diam! Kalau lo ngga mau dia mati, sebaiknya lo tutup mulut. Lo pasti tahu, kalau gue bukan tipe orang yang mudah berbaik hati, kan?”
Serena mengikuti langkah Sarah yang membawa Sherly. Sesekali pandangannya mengedar, mencari keberadaan salah satu atau kedua pria yang tadi bersamanya dan Sherly.
-
Joni serentak naik dan menarik tangan Farrel. Dia melihat Jin Braja memberi isyarat dan berteriak padanya.
“Ada apa?” Tanya Farrel bingung.
“Ngga usah banyak tanya, ikut aja!” Joni yang sedang gusar, menjawab dengan suara keras. Tapi lebih terdengar seperti bentakan.
Farrel hampir terseret dengan tarikan tangan Joni yang tiba-tiba mengajaknya berlari tanpa berkata. Dia baru menyadari, kalau kekasihnya sudah tidak berada di tepian kolam, seperti terakhir kali dia melihatnya.
“Sherly dan Serena, kemana?” Tanyanya.
“Mereka hilang!” jawab Joni dengan nafas yang memburu.
Wajah Farrel memucat. Tadi pagi, dia sudah mengalami satu hal yang mencurigakan. Dan kata ‘hilang’ yang baru saja Joni katakan, membuatnya berpikir lebih keras. Farrel mulai merangkai kejadian-kejadian sebelumnya, dan akhirnya menemukan beberapa dugaan.
.
.
.
***
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.