
“Brengs*k! Bagaimana bisa dia lolos begitu saja!”
“Padahal tadi aku hampir saja mendapatkan anak itu!”
“Aku tidak bisa membiarkan ini terus terjadi. Selama dia masih hidup, maka hidupku tidak akan pernah tenang. kehadirannya akan terus menjadi sebuah ancaman.”
“Aku harus segera menyingkirkan. Makin cepat, akan semakin baik.”
------------------------------------------
“Apa sekolahnya bagus sayang?” tanya Maya pada Sekar yang baru turun dari mobil.
“Sekolahnya jahat! Sekar ngga mau sekolah di sana nek!” jawab Sekar seraya naik kepangkuan dan memeluk leher neneknya.
Maya meminta penjelasan pada Serena dan Joni dengan menatap keduanya secara bergantian. Serena hanya menggidigkan bahu dan Joni menggelengkan kepala, untuk mengisyaratkan kalau mereka tidak memiliki jawabannya.
Setelah Sekar melepas pelukannya, Maya pun bertanya dengan penuh kehati-hatian.
“Memang kenapa dengan sekolahnya, hem?”
“Di depan gerbang sekolahnya ada binatang yang gedeee banget nek,” celoteh Sekar sambil memakan biskuit yang tersedia di meja dengan segelas jus buah naga.
“Binatang apa sayang?”tanya Maya penasaran. Bahkan Serena dan Joni yang tadinya akan masuk ke dalam rumah, malah ikut duduk dan menunggu cerita Sekar.
“Binatangnya jahat nek, mereka tinggal di rumah yang ada di depan pintu gerbang sekolah. Terus tadi Sekar lihat ada anak kecil yang lagi main di rumahnya itu, nek.”
“Mereka? Maksud Sekar, binatangnya bukan cuma satu, begitu?” tanya Serena.
Sekar mengangguk. Karena mulutnya penuh dengan makanan, akhirnya anak kecil itu hanya mengangkat tangan. Setelah yakin dengan jumlah yang ia maksud, Sekar mengacungkan dua jarinya.
Selesai dengan wawancara ringan yang dikemas dalam sebuah obrolan sore, Sekar diantar Bi sari untuk mandi dan berganti baju. Sementara Serena dan Joni tetap duduk karena Maya masih menahan mereka.
“Apa semua yang diceritakan oleh Sekar itu benar, Rena?”
“Sepertinya begitu bu. Sejak awal ketemu dengan Sekar, Rena tahu kalau dia punya kemampuan lebih untuk melihat apa yang tidak bisa kita lihat sebagai manusia biasa. Makanya, tadi kita tidak memaksanya untuk mendaftar sekolah di sana.”
“Baguslah kalo begitu. Oh iya, Ibu sama Bi Sari tadi pergi melayat ke rumah Bu Mira yang anaknya meninggal karena kecelakaan pas jam pulang anak sekolah . Ibu juga denger gosip kalau kecelakaan itu memang terjadi setiap tahun. Ditempat yang sama, dan di bulan yang sama. Apa menurut kalian ini tidak aneh?”
--------------------------------------------
“Apa yang sedang kau pikirkan?” Joni memeluk Serena dari belakang. Menikmati aroma wangi yang menguar dari tubuh istrinya. Rambut yang masih sedikit basah, dan kulit yang masih lembab membuat Joni semakin betah mengendus leher Serena yang tak tertutupi baju.
Walaupun mereka menggunakan sampo dan sabun yang sama, tapi Joni tidak mencium wangi yang sama dari dirinya sendiri. Itulah sebabnya dia paling suka menggoda istrinya setelah mandi. Siapa tahu dengan begitu, dia bisa melanjutkannya permainan yang saling menguntungkan. Bermain dengan sang istri di atas ranjang, adalah rutinitas baru yang paling menyenangkan sebelum mengakhiri hari dengan saling berpelukan hingga pagi menjelang.
“Tidak ada.” jawab Serena membalikkan badan di dalam kungkungan tangan kekear Joni.
“Kalau tidak ada, lalu kenapa kau melamun. Kau bahkan tidak menjawab panggilanku. Dan tidak ada baju yang kau sediakan untukku. Kau lihat kan? Aku hanya pakai handuk sekarang. Apa kau mau aku sakit karena kedinginan?”
Serena terkejut bukan main. Dia baru menyadari kalau saat ini suaminya tidak memakai pakaian apapun selain handuk yang melilit dipinggangnya.
“Ya ampun! Tunggu sebentar, aku akan mengambil baju untukmu.”
Ternyata kesadaran Serena datang terlambat. Joni tidak mau melepaskan pelukannya begitu saja. Dan Serena bisa melihat senyum licik di bibir suaminya.
“Sekarang aku tidak membutuhkan baju sama sekali.”
“Tapi nanti kau bisa masuk angin!”
“Kalau kau takut aku masuk angin, maka berikan pelukan yang hangat pada suamimu ini. Tapi akan lebih baik, kalau kita segera naik ke atas ranjang dan berbagi selimut. Dan biarkan aku berolah raga sebentar sebelum tidur.”
“Olah raga?”
“Ehem. Olah raga yang sangat menyenangkan. Bahkan suamimu ini bisa menjamin kalau kau bisa melihat surga dunia, setelah kita selesai berolah raga.”
“Kau tidak sedang mengajakku untuk…” Serena memicingkan mata pada suaminya.
Tangan Joni mulai membelai kulit punggung Serena, dan bergerak perlahan ke depan menuju ke tempat favoritnya.
“Hei! Hentikan tanganmu!” protes Serena yang sudah tentu tidak dipedulikan oleh Joni.
“Tidak mau.”
Tidak ada lagi percakapan. Joni tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk berbasa basi yang tidak penting. Dia lebih suka menghabiskan waktu berharganya bersama sang istri dan berbagi kebahagaiaan.
“Berarti di tempat lain, bolehkan? Kalau begitu aku akan berusaha.”
“Berusaha untuk apa?”
“Berusaha untuk tidak kebablasan he… hee”
---------------------------------------------
Satu bulan berlalu
Pagi-pagi sekali, Sekar sudah menerobos masuk ke dalam kamar Serena. Gadis kecil itu akan langsung naik ke ranjang dan menempatkan dirinya diantara mama dan papanya. Kegiatan ini sudah dilakukan oleh Sekar selama satu minggu terakhir. Dan Joni maupun Serena tidak melarangnya sama sekali.
Tiap hari, anak kecil itu akan meminta dimandikan oleh Serena dan disuapi oleh Joni setiap kali makan. Semua anggota keluarga tidak mengerti apa alasan dibalik prilaku manja Sekar, Zahra bahkan sudah berkali-kali memprotes atas perubahan sikap keponakannya. Dia merasa kalau Sekar itu sudah tidak lagi menyayanginya.
“Sekar… sebenarnya kemana kamu menghilang setiap pagi?”
Sekar yang sedang asik menikmati sarapan dengan disuapi oleh Joni, tidak menjawab. Gadis kecil yang semakin cantik itu memilih terus menatap wajah orang yang sedang mengacungkan tangan berisi makanan padanya.
“Sekar! Kamu tidak mendengar panggilan tante ya?” Zahra mulai merasa kesal karena akan kecil itu mengabaikan pertanyaannya.
“Sekar ada di kamar mbak, Zahra.” Serena menjawab. Dia tidak suka karena Zahra mulai meninggikan suara pada anaknya.
“Ngapain mbak?” sinis Zahra.
“Ya, tidurlah. ” jawab Serena enteng.
“Kalau cuma tidur kan bisa dikamar Zahra, ngapain harus di kamar mbak?”
“Kok jadi kamu yang ribet sih! Memangnya kenapa kalau Sekar tidur di kamar mbak?!”
Zahra bersungut marah, dia sudah bersiap untuk menyanggah ucapan Sekar yang juga tersulut emosi. Dia benar-benar kesal karena Sekar tidak mau lagi tidur dengannya lagi. Sampai ada suara isakan dari Sekar yang akhirnya mengalihkan perhatian semua orang yang duduk di ruang makan. Maya menepuk lengan Zahra yang telah menyebabkan Sekar menangis.
Joni mengangkat tubuh Sekar dan memindahkannya ke pangkuan. Memeluk dan mengelus lembut punggung sang putri yang bergerak naik turun.
“Kenapa menangis sayang, hem? Mama sama papa ngga marah sama Sekar kok.” Serena mencoba menenangkan putrinya.
“Hiks hiks”
“Udah ya?” rayu Joni pada Sekar yang masih membisu.
“Sekar mau tidur sama mama. Hiks hiks… Sekar harus… harus jagain adek.”
-
Adek?
Siapa?
.
.
.
***
Hari ini, Si_Ro punya keperluan mendadak, jadi ngga bisa up banyak.
Gara-gara sekolah libur, Si_Ro juga harus berubah jadi guru buat anak sendiri.
Waktu buat nulis pun ikut berkurang.
Harap maklum ya.
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.