
Sarah dan Sherly berada tepat di depan Aki, duduk bersila dengan tenang sesuai dengan perintah, kini Aki sedang membaca mantra mantra yang pastinya tidak dimengerti oleh sarah dan Sherly.
“Aki akan memeriksa rumah mereka dulu”
Sarah menyunggingkan senyuman licik “Sebentar lagi lo bakal jadi mayat Serena” batin Sarah tertawa
Sherly menjadi tidak fokus dengan apa yang ada di depannya, dia mulai mengkhawatirkan nasih Joni yang sudah bisa dipastikan akan selalu ada di samping Serena. Dia tidak ingin terjadi apapun pada laki laki itu, laki laki yang mencuri hatinya, walau hanya seorang sopir.
“Sebutkan nama orang yang ingin kau habisi?” Ucap Aki
“Serena Rhys!” jawab Sarah lantang. Dia begitu semangat menyebutkan nama musuh yang sedang dia tunggu akhir hidupnya.
“Dia tidak sedang berada dirumah, akan ku cari makhluk pelindungnya”
Lengang sejenak, Aki berkali kali mengerutkan dahinya yang sudah keriput, serbuk kemenyan yang dilemparkan Aki di tungku pembakaran kecil di depannya, terus mengeluarkan asap aneh.
“Ketemu” ucap Aki
Asap itu kemudian berkumpul, berputar putar dan membentuk sebuah bola terbakar. Gerakan kecil dari Aki membuat bola api itu melesat jauh keluar rumah tua itu melalui atap.
Satu serangan telah dikirim, serangan kedua , sampai serangan ketiga , Aki terus membentuk bola bola api dan langsung mengirimkannya.
“Ternyata dia sangat kuat” Aki mengepalkan tangannya
“Siapa ki?” Tanya Sarah penasaran “Serena?”
“Bukan, tapi iblis yang melindungi wanita itu. Makhluk ini tidak bisa dikalahkan dengan mudah, dia termasuk yang terhebat diantara sesamanya. Sangat sulit untuk bisa mendapatkan pelindung yang memiliki kekuatan seperti ini. Sekarang Aki butuh bantuan”
“Apa Aki tidak bisa mengalahkannya?” Sarah sangat tidak sabaran
“Aki akan menggunakan benda pusaka yang dititipkan pada Aki” Aki mengeluarkan benda yang dia simpan di belakang tubuhnya dan tergantung di tembok.
“Aki akan menyerangnya dari dua arah dan membuatnya sibuk dari arah lain, mungkin dengan ini Aki mampu mengalihkan perhatiannya”
Sarah terus merem*s rem*s jemarinya yang mulai bergetar, dia ikut tegang menghadapi situasi yang belum jelas akhirnya.
“Kena!” Seru Aki
“Kena? Siapa Ki? Serena kan?” mata Sarah berbinar
Aki menghembuskan nafas, dia mulai letih “Bukan. Tapi seorang laki laki”
“Laki laki!” Sarah dan Sherly mendelik dan kaget
Sarah kecewa mendengar jawaban Aki, dia masih harus bersabar untuk menunggu lagi. Sedangkan Sherly langsung beranjak dari duduknya, berniat meninggalkan Sarah yang masih antusias menatap gerakan Aki.
“Lo mau kemana?” Tanya Sarah
“Gue mau ke tempat Serena, gue mau lihat keadaan sopirnya” tanpa sadar Sherly menitikkan embun dari matanya
“Lo mau ninggalin gue disini? Kita sama sama pengen menghancurkan Serena kan? Kenapa lo malah jadi lembek gini sih!” Sarah mencengkram tangan Sherly yang sudah melangkah menjauhi Aki
Pertengkaran antara Sarah dan Sherly terjadi di depan pintu ruangan yang tadi mereka duduki, keduanya terus beradu mulut tanpa henti.
“Kena!” Seru Aki yang masih bisa di dengar oleh Sarah maupun Sherly
“Puas kan lo! Lo udah bisa mencapai keinginan lo yang pengen Serena mati, sekarang gue mau pergi! Gue harus liat keadaan laki laki itu”
Tanpa memberikan jawaban, Sarah malah menarik tangan Sherly dengan kasar, kukunya menancap di kulit Sherly, meninggalkan jejak merah dan goresan, mengeluarkan sedikit darah.
“Kita kesini datang berdua, dan kita juga harus pulang berdua. Gue ngga peduli lo mengkhawatirkan sopir itu, yang gue tahu kalau lo juga pengen mendengar kabar kematian Serena” Sarah memaksa Sherly untuk duduk kembali ke tempatnya
“Gue ngga pernah pengen Serena mati, gue cuma berniat menghancurkan karirnya.”
“Apa bedanya gobl*ok! Bukankah akan lebih baik kalau si jal*ng itu mati sekalian, jadi ngga ada lagi penghalang buat kita” Sarah terus memarahi Sherly yang menangis tanpa dia tahu sebabnya.
---------------------------------------------
PRANG….
DUMM….
Kali ini Joni memasang badannya untuk menghalangi serangan yang kembali mengarah pada Serena. Pemuda itu tidak lagi memperdulikan dirinya dan tanpa perlu berpikir panjang langsung menggunakan tubuhnya sendiri untuk melindungi gadis itu.
Tapi Joni hanya manusia biasa, serangan itu otomatis membuatnya langsung ambruk dan kemudian menyemburkan darah segar dari mulutnya.
“Bang Jon!!” teriak Serena dan Zahra
Belum sempat Serena mendekati tubuh Joni yang tergeletak di lantai, serangan itu kembali datang. Juan yang juga dibuat sibuk menghadapi serangan yang berasal dari depan , tidak sempat mengawasi arah belakangnya.
DUMM….
“TIDAAAAAAK!!!”
Zahra terpental dari tempatnya tadi berdiri, melayang di udara sebentar dan akhirnya jatuh bersimbah darah, kini tubuhnya juga tergeletak tepat disamping tubuh Joni yang masih kehilangan kesadaran.
Serena yang melihat adiknya terkulai tak berdaya, berangsut mendekati tubuh Zahra dengan lelehan air mata dengan rasa bersalah dan penyesalan. Dengan lembut, Serena mengusapkan jarinya pada pipi Zahra yang ternodai darah.
Mengangkat kepala Zahra dan meletakkannya di pangkuan, Serena terus berusaha membangunkan adiknya dengan terus menggoyang goyangkan tubuhnya,
“Zahra! Zahra! Tidak Zahra tidak hiks hiks…. jangan tinggalin mbak Rena dek hiks hiks hwa…..”
Juan menghalau semua serangan dengan kekuatan yang dimilikinya, dari depan maupun dari belakang. Walau tugasnya hanya untuk melindungi Serena, tapi kini mau tidak mau dia melindungi tiga orang sekaligus, Serena Joni dan juga Zahra.
Seorang diri melawan musuh, membalikkan semua serangan yang begitu kuat dan datang bertubi tubi, lalu mengirimkannya kembali pada si penyerang. Setelah memakan dua orang korban, serangan itu sedikit demi sedikit berkurang sampai akhirnya berhenti total.
Juan segera memeluk tubuh Serena yang bergetar hebat dengan tangisan yang maraung raung “Kau baik baik saja? Tenanglah ini sudah selesai.”
“Adikku…hiks hiks Bang Jon…hiks hiks mereka…mereka…” Serena tidak mampu lagi berkata apapun. Dia terus saja menangis tanpa rasa lelah, hatinya hancur melihat dua tubuh orang kesayangannya tidak bergerak dan tidak merespon semua panggilannya.
“Aku pergi dulu” Juan melepaskan pelukan eratnya pada Serena, sejenak mereka saling menatap tanpa kata, Juan menggenggam tangan Serena dan menganggukkan kepalanya sebagai izin kepergiannya saat ini.
“Kau…hiks...kau mau kemana?” diantara sesegukannya Serena bertanya
“Aku akan melakukan pembalasan” ucapnya dengan sedikit geraman
“Tunggu disini, jangan kemana mana” perintah Juan pada istrinya
“Tapi bagaimana dengan Zahra dan Bang Jon? Apa yang harus aku lakukan? Mereka butuh pertolongan”
“Mereka belum mati, karena itulah aku harus pergi secepatnya, sebelum terlambat. Izinkan aku pergi” Juan masih menunggu persetujuan dari Serena
Serena sangat senang mendengar penjelasan Juan yang mengatakan kalau adik dan juga sopirnya belum meninggal, sejenak dia berpikir, dia harus membiarkan Juan pergi “Balaskan dendamku, buat mereka merasakan apa yang sudah mereka lakukan pada Zahra dan Joni”
Juan mengangguk “Akan aku laksanakan istriku. Aku pergi dulu”
Walau Juan adalah makhluk halus yang punya kekuatan dahsyat, tapi tidak menutup kemungkinan kalau ada makhluk yang lebih kuat darinya. Serena tidak mau lagi kehilangan untuk yang kesekian kalinya.
“Iya. Kau juga harus hati hati”
.
.
.
***
Tegang ya?
Gregetan ya?
Pasti lebih gregetan sama authornya.
Besok lagi ya, dan jangan lupa tap jempolnya dan bintang buat yang belom