KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 132


“Kalau begitu, lepaskan wanitaku. Fokus saja pada priamu itu,” Bram melepaskan cengkraman tangannya.


-...-…-…-…-…-…-…-…-…-…-…-…-…-...-


Sarah duduk di tepian ranjang. Ancaman dari Bram, tidak bisa dia anggap remeh. Sejauh yang dia tahu, Bram bukanlah tipe laki-laki yang akan menolerir sebuah kesalahan. Meskipun pelakunya adalah seorang wanita.


“Apa yang harus gue lakukan, sekarang?” gumamnya.


Pikirannya kembali pada Farrel. Dia rela mengikuti kemana pun laki-laki itu pergi. Dengan maksud untuk terus terikat padanya, walau harus dengan paksaan. Dia bahkan menjual tubuhnya pada Bram, demi bisa sampai ke negara ini dan juga bantuan anak buahnya.


Tapi setelah menyekapan yang dilakukannya gagal, Sarah tidak mungkin bisa mendekati Sherly, lagi. Farrel pasti telah meningkatkan penjagaan yang super ketat untuk melindungi wanita itu.


“Brengs*k! Kenapa semua rencanaku tidak ada yang berjalan dengan baik? Dan sekarang, tidak ada lagi yang akan membantuku untuk mendapatkan Farrel.”


Sarah bangkit dan berjalan mondar mandir. Menggigit ujung kuku-kukunya yang sudah menjadi kebiasaan buruk, saat dia merasa cemas. Dia juga tidak tahu kalau semua gerak geriknya sedang diawasi oleh Bram, melalui kamera pengawas yang terpasang tersembunyi di antara wallpaper.


“Apa yang akan kita lakukan Bos?” Tanya Tyo, orang kepercayaan Bram.


“Cukup awasi saja?”


Bram duduk dan menyilangkan kaki. Memijit pangkal hidung, lalu menghela nafas dalam. Nama Serena tiba-tiba melintas di pikirannya. Lagi, dan lagi.


“Apa anak buahmu sudah melakukan pekerjaan mereka?” Tanyanya, kemudian.


“Sudah Bos. Tapi mereka bukan ke rumah sakit.”


“Lalu?” Bram menatap tajam.


“Mereka mengantarkannya ke rumah sakit terdekat. Sepertinya karena wanita yang satu lagi sedang terluka parah, jadi nyonya Serena menolak diantar ke kantor polisi.”


Bibir Bram menyunggingkan senyum. “Sudah kuduga hahahaa.. tidak salah kalau aku begitu mengaguminya. Dia benar-benar wanita baik. Mirip seperti…,” ucapan Bram terhenti. Raut wajahnya seketika berubah. Ada kesedihan yang terpancar, dan itu dipahami jelas oleh Tyo.


“Khem! Bos...,” Tyo hanya berdehem pelan, tapi mampu membuyarkan lamunan Bram.


“Apa?”


“Lihat itu Bos!” Tyo memutar layar cctv, dan menunjukkannya pada Bram.


Ada keterkejutan di mata Bram, tapi itu tidak berlangsung lama. Senyuman licik tersungging di ujung bibir pria itu,”sepertinya untuk tahun ini, kau tidak perlu repot-repot mencari korban, Tyo. Dia akan jadi persembahan yang lumayan memuaskan,” Tyo ikut tersenyum dan mengangguk.


Tyo dan Bram sama-sama mengawasi Sarah yang sedang tersenyum, sambil memegang sesuatu di tangannya. Keduanya juga bisa mendengar dengan jelas, apa yang direncanakan oleh wanita itu.


-


“Serena ada di rumah sakit,” bisik Jin Braja.


“Apa dia baik-baik saja?” Joni berbisik balik.


“Iya. Hanya sedikit terluka. Tapi..”


Joni hampir saja menyemburkan amarah, begitu mendengar berita kalau Serena terluka. Sedikit ataupun banyak, tetap saja itu membuat hatinya khawatir bukan main. Dan rasa penasaran Joni semakin tinggi, karena Jin Braja yang menggantung penjelasannya.


“Tapi apa?” Tanya Joni, tidak sabaran.


“Tapi tidak dengan wanita yang satu lagi.”


Jin Braja menjelaskan keadaan Serena dan Sherly saat ini pada Joni.


“Kau tidak bohong, kan? Maksudku.. Serena baik-baik saja?” Joni ingin memastikan.


“Cih! Begitu sampai di sana, kau bisa langsung melihatnya sendiri. Apa mobil yang kau tumpangi, bisa lebih cepat?! Serena sedang ketakutan, sekarang!”


Joni menurunkan gawai yang dia tempelkan di samping telinga. Dia tidak mau mengundang kecurigaan yang tidak perlu dari Farrel, jadi Joni berpura-pura sedang menelpon seseorang.


Farrel tidak begitu memperhatikan apa yang dilakukan Joni, karena laki-laki itu juga sibuk dengan handphonenya sendiri. Menelpon orang kepercayaannya dan selalu menanyakan kabar terbaru. Berharap ada titik terang, untuk bisa mengurangi kegelisahan yang dia rasakan.


Joni menunjuk sebuah rumah sakit pada sopir sewaan Farrel. Mobil yang sedang melaju itu pun langsung berputar arah sesuai arahan dari Joni.


“Ke rumah sakit,” jawab Joni singkat.


“Kenapa ke sana? Siapa yang sakit?”


“Serena dan Sherly ada di sana. Bersiaplah untuk sesuatu yang tidak kau inginkan,” ujar Joni tanpa menoleh.


“Apa? Apa maksud perkataanmu? Dan darimana kau tahu, kalau Sherly ada di rumah sakit?”


“Simpan dulu semua pertanyanmu, karena aku juga belum terlalu terlalu yakin.”


-


Sarah mematut diri di depan kaca rias. Mengatur nafas dan debaran jantung yang membuatnya sedikit merasa takut. Dress sexy berwarna merah maroon, sengaja dia kenakan khusus untuk makan malamnya bersama Bram.


“Semoga yang ini berhasil,” gumamnya.


Tok tok tok


Kepalanya Sarah menoleh ke arah pintu. Menyamarkan rasa kaget, dengan memaksakan senyum. Bram sudah bersandar santai di daun pintu.


“Sejak kapan kau berdiri di sana?” Tanya Sarah. Dia hampir tidak bisa mempertahankan getaran pada suaranya.


Bram menggedikkan bahu, dan mendekati Sarah. Ekspresinya sama sekali tidak terbaca, dan itu sukses membuat Sarah semakin ragu.


“Baru saja. Apa kau sudah siap?”


“Hem? Ah iya, aku sudah siap. Ayo!”


Sarah mencoba bersikap manja dan bergelayut di lengan kiri Bram. Dia membuang rasa jijiknya pada laki-laki itu.


“Kau akan mengajakku makan dimana?” Tanya Sarah.


“Di tempat yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya. Dan setelah itu, aku akan meminta bayaran yang setimpal.”


Sarah menghentikan langkah. Dia tahu, kalau semua yang dilakukan oleh Bram, tidaklah gratis. Sarah harus kembali menyerahkan tubuhnya, untuk dinikmati oleh maniak gila seperti Bram.


“Ada apa? Kau tidak setuju dengan syaratku?” Tanya Bram, sembari menaikkan satu alis.


“Apa aku juga bisa mengajukan permintaan, setelah aku memberikan apa yang kau mau?” Sarah balik bertanya.


Bram menggaruk tengkuk, dan menahan tawa.


“Hmm.. bisa kita bicarakan hal itu di ranjang saja? Perutku sudah lapar, begitu juga dengan peliharaanku.”


“Peliharaanmu?” ulang Sarah. Alisnya berkerut dalam, serta tatapan yang penuh kecurigaan pada Bram.


“Ah maksudku, adik kesayanganku. Dia merindukanmu,” Bram berhasil memusnahkan prasangka buruk Sarah.


“Kenapa ucapanmu selalu mengarah ke sana, sih? Apa tidak ada yang bisa kamu pikirkan, selain hal-hal mesum?”


“Hehehee itu akan sulit, karena sudah jadi kebiasaan.”


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.