
Adit berlari menuruni tangga dengan kekuatan yang dia bisa, tapi sayangnya itu tetap terlambat.
Tubuh Serena terlepas paksa dari dalam pelukan Joni. Gadis itu sudah berpindah tangan dengan sisa tangisan dan wajah pucat.
“Berhenti atau aku tembak kepala Serena!” bentak Yuli pada Joni dan Adit yang ingin mendekat.
Yuli mendekap Serena dari belakang, tangan kirinya mengunci leher Serena, sementara tangan kanannya menodongkan pistol, tepat di pelipis calon menantunya yang gemetar.
“Mah! Jangan lukai Serena mah,” mohon Adit pada mamanya.
“Diam kamu Adit! Kalau kamu ngga mau mama melukai Serena, cepet lakukan apa yang mama suruh!”
“Iya mah, iya…”
“Cepat duduk di kursi itu,” tunjuk Yuli ke kursi yang sudah disediakan untuk acara pernikahan. Disana sudah terdapat penghulu dan juga orang orang yang akan menjadi saksi.
“Tapi mah…”
“Sekarang Adit! Atau kamu mau melihat calon istrimu ini mati sebelum kamu nikahi?”
Mau tidak mau Adit harus menurut, dia mulai menyeret kakinya untuk mendekat ke tempat yang di sebut oleh Yuli. Demi keselamatan Serena, Adit terpaksa melakukan perintah Yuli, walau hatinya menolak tapi dia juga tidak bisa apa apa.
Joni berbalik badan, tiba tiba dia teringat satu syarat sah untuk menikah yang belum tersedia di meja itu.
“Mah… bagaimana Adit bisa menikahi Serena tanpa wali?”
Adit menemukan cara untuk menggagalkan keinginan Yuli yang memaksanya untuk menikahi Serena hari ini. Dia pernah membaca buku yang menuliskan daftar wali nikah dari pihak perempuan yang harus ada saat pernikahan terjadi.
Ujung bibir Adit tertarik ke atas, saat melihat mamanya terdiam. Dia merasa berhasil karena bisa menghentikan semuanya di waktu yang tepat.
“Bawa dia!” perintah Yuli pada satu satunya pengawal yang masih tersedia dan berdiri di samping tangga.
DORRRR….
“JONIIII….” teriak Serena.
Yuli menembak Joni. Seketika tubuh pria itu ambruk ke lantai dengan darah yang mengalir dari tubuhnya.
“JONI! Bangun Joni… bangun,” suara teriakan Serena diantara jepitan lengan Yuli.
Tanpa di sadari, ternyata Joni memanfaatkan kelengahan Yuli yang sedang beradu argumen dengan putranya. Joni perlahan mendekat dengan gerakan yang sangat hati hati. Namun sayangnya Yuli memiliki kewaspadaan yang tinggi. Belum sempat tangan Joni meraih Serena, Yuli telah lebih dulu sadar akan tindakannya dan langsung menembakkan peluru kearahnya.
Semua orang yang berada diruangan itu bergidig ngeri melihat Yuli yang bersikap impulsif. Mereka tidak menyangka akan menyaksikan kekejaman dari seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat keibuan.
“Duduk atau aku tembak!” Yuli mulai mengancam orang orang yang ada di sana.
Pengawal tadi telah kembali. Kali ini dia tidak sendiri, tapi bersama orang yang sangat Serena kenal. Mata gadis itu menatap pria yang berjalan beriringan dengan pengawal. Orang itu sedikit menipiskan bibirnya, setelah melihat kepanikan di wajah Serena.
“Ayah… “ gumam Serena yang terlihat geram dan juga jijik.
“Sekarang pernikahan sudah bisa dilaksanakan. Jadi cepatlah!” perintah Yuli pada semua orang yang berada di sekeliling meja.
“Ini wali yang kau inginkan Adit,” ucap Yuli sumringah karena bisa mengalahkan sang putra, lagi dan lagi.
Saat ini Serena sudah duduk di samping Adit, sementara Yuli berdiri di belakangnya, dengan pistol yang masih menempel di pelipis.
“Baiklah… karena semuanya sudah hadir dan juga persyaratannya juga sudah terpenuhi, maka ijab kabul akan segera dilaksanakan."
PRANNGGG….
Guci besar dan pasti mahal yang berada di sisi kanan dan kiri tangga sudah pecah berantakan, mengagetkan semua orang yang sedang serius mendengarkan ucapan dari penghulu.
“Dia istriku! Tidak ada yang bisa menikahinya selama dia masih menjadi milikku!”
Tubuh Joni yang tadi terkapar di lantai kini sudah berdiri tegap. Walau darah segar masih terus mengalir, tapi itu sama sekali tidak dihiraukannya.
Dengan langkah lebar, Joni mendekat dan langsung merebut pistol dari tangan Yuli. Perempuan itu bahkan tidak menyadari kalau pistol yang ada di genggamannya sudah kosong.
Joni meraup tubuh Serena dan memeluknya.
“Aku datang…”
“Aku tahu…” jawab Serena.
.
.
.
***
3