
Serena membersihkan dirinya di toilet rumah sakit. Tapi sebelum itu, dia terlebih dahulu mengambil baju yang biasanya tersedia di dalam mobil. Pekerjaan yang dia tekuni kadang menuntut untuk sering mengganti baju. Memang tidak banyak, tapi cukup untuk kebutuhan mendesak.
Serena memang sering harus bertemu dengan orang-orang terkenal di jam-jam yang tak terduga, jadi dia sengaja menyimpan baju dan beberapa aksesoris di dalam mobil untuk persediaan, jika sewaktu waktu memang di perlukan. Sehingga dia tidak perlu membuang banyak waktu untuk bolak-balik ke rumah atau apartemen hanya untuk ganti baju.
Walaupun bisa saja, Serena pergi ke butik langganan untuk membeli yang baru, tapi dia terlalu malas untuk menarik perhatian banyak orang, apalagi para reporter. Belum lagi jika tanpa sengaja bertemu dengan sesama model yang bisa di bilang bersaing dengannya. Bisa jadi itu akan di jadikan bahan gosip buruk dengan di bumbui kesyirikan, dan akan menyebar luas tak terkendali.
Ddrrtt ddrrtt…
“Ada apa? Gue lagi ganti baju.” ucap Serena pada orang yang berada di ujung telepon.
“Serius lo?!”
“Ok! Sekarang gue langsung ke sana.”
Serena buru-buru menyelesaikan urusannya di dalam toilet. Dia sudah membersihkan diri, mengganti baju rumahan yang nyaman dan sedikit memoleskan pelembab pada wajahnya serta lipbalm, agar bibirnya tidak kering.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Serena membawa dirinya untuk berjalan cepat bahkan sedikit berlari menuju kamar perawatan Joni. Zahra baru saja mengabarkan kalau Joni sudah sadar dan pria itu mencari-cari dirinya.
BRAKK…
Serena berdiri di ambang pintu sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah, tangan kanannya mengelus dada yang terasa sedikit sesak. Gadis itu benar-benar memaksakan diri untuk bisa secepatnya sampai di hadapan Joni.
Zahra dan Joni sama-sama terkejut dengan kedatangan Serena.
“Apaan sih mbak, bikin orang kaget saja! Ngga elegan banget. Katanya model, tapi kelakuannya bar-bar.” Zahra langsung menyemburkan kritikan pada sang kakak.
“Bodo!” Serena menjawab singkat tanpa mengalihkan pandangannya yang mengarah pada Joni.
“Bang Jon baik-baik aja?” tanyanya penuh perhatian.
Joni mengangguk ringan dengan iringan senyum.
Tidak ada satu pun yang di inginkan oleh Serena lagi saat ini. Bisa melihat Joni masih hidup dan baik-baik saja beserta senyuman miliknya, mampu membuat dirinya serasa telah mendapatkan segalanya.
Langkah demi langkah Serena mendekat ke ranjang brangkar rumah sakit yang terdapat Joni di atasnya. Di dalam setiap langkahnya mendekati Joni, Serena menemukan jawaban dari pertanyaan yang selama ini mengusik hatinya.
“Aku membutuhkan pria ini…”
“Aku tidak mau kehilangan dia”
“Aku… aku… menyayanginya. Aku… aku…me…”
BRUGK…
Serena kehilangan kesadarannya tepat di sisi ranjang, dan dengan sigap Joni merengkuh tubuh gadis itu menggunakan tangan kokohnya tanpa peduli rasa sakitnya sendiri.
“Mbak Rena…”
Zahra membantu Joni mengangkat tubuh Serena untuk di rebahkan di ranjang tempat perawatan Joni.
“Ck ck ck… sebenarnya yang sakit itu siapa sih? Kenapa jadi Mbak Rena yang ada di ranjang.”
Zahra tidak henti-hentinya menggerutu sambil terus memeriksa tubuh sang kakak.
“Zahra…” Joni menginterupsi omelan demi omelan yang meluncur mulus dari mulut Zahra tanpa jeda.
“Serena pasti sangat lelah. Dibanding Bang Jon, dia adalah orang yang paling membutuhkan istirahat.”
“Sebenarnya kalian itu kenapa lagi sih? Kenapa Bang Jon bisa tiba-tiba datang dengan luka tembak? Lalu kenapa Mbak Rena sampai pingsan? Apa kalian tidak bisa hidup normal dan tidak membuat Zahra terus merasa khawatir? Bagaimana kalau ibu dan Bi Sari tahu? Zahra harus jawab apa?”
Jika tadi mulut Zahra tiada henti menggerutu, kini malah pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulut Zahra secara beruntun. Adik dari Serena itu hanya bisa menahan isakan, sedih melihat dua orang yang di sayanginya sama-sama harus mendapat perawatan di rumah sakit dengan alasan yang tidak dia tahu sampai dengan detik ini.
Joni terus menggenggam erat tangan Serena yang masih setia dengan mata tertutup. Pria itu hanya duduk diam tanpa ada rasa ingin menganggu tidur sang gadis yang sempat menghilang selama dua hari.
Setelah memastikan keadaan Serena stabil, Zahra akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ruang perawatan, membiarkan Joni menjaga sang kakak. Zahra menarik handle pintu dengan sangat pelan, dia tidak mau mengusik tidur Serena yang terlihat sangat nyenyak.
“Astaga!”
Zahra membekap mulutnya sendiri dengan tangan, ketika melihat wajah Juan yang ternyata sedang berdiri di balik pintu yang dia buka. Tubuhnya berjingkat karena kaget. Hampir saja hidung mereka bersentuhan, tapi untungnya Zahra segera menarik diri.
“Ngapain kamu kesini?” tanya Zahra pada Juan setelah sempat membuang nafas dengan kasar terlebih dahulu.
“Di mana Serena?”
“Ngapain kamu nyariin Mbak Rena?” sinis Zahra sambil bersedekap.
“Di mana Serena?” tanya Juan sekali lagi. Meskipun Zahra adalah adik istrinya, tapi Juan menolak untuk menjawab. Karena bagi Juan, menjawab satu pertanyaan berarti membuka diri untuk di introgasi dengan pertanyaan-pertanyaan susulan. Dan itu sudah pasti banyak. Dia sudah pasti tidak mau mengalaminya.
“Mau ngapain…?”
“Di mana Serena?”
“Apa-apan sih tuh orang?! menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Maksa!” hentakan kaki Zahra terdengar nyaring di lantai keramik yang bersih.
--------------------------------------------
Juan masuk ke kamar perawatan tanpa izin. Bertepatan dengan itu, ternyata Joni sedang mendekatkan bibirnya ke dahi Serena yang masih tertidur. Juan langsung menampilkan wajah tak ramahnya, begitu melihat apa yang di lakukan oleh Joni.
“Ngapain lo!” Juan menarik tubuh Joni agar menjauh dari Serena.
Tubuh Joni sedikit terhuyung, beruntung jarum infusnya tidak sampai terlepas.
“Ck ngapain lo di sini?” tanya Joni yang kembali duduk dengan tenang, mengabaikan keberadaan Juan di sana.
“Mau lihat Serenalah, masa mau lihat lo,” sinis Juan.
“Serena lagi tidur.”
“Ngga usah lo kasih tahu juga, gue bisa lihat kali.”
“Maksud gue, dia baru tidur. Jangan di ganggu,” jelas Joni.
“Gue cuma mau lihat Serena, dan gue ngga pernah berniat ganggu dia tidur!” Juan menjawab keras.
“Eegghh… brisiiiiiiik,” keluh Serena dengan mata terpejam.
Joni dan Juan sama-sama terdiam. Pertengkaran yang secara alami akan terjadi jika keduanya bertemu, ternyata sangat menganggu kenyamanan tidur Serena. Tubuh gadis itu menggeliat, menyuarakan protes akan suara-suara bising yang ada di sekitarnya.
“Gara-gara lo tuh!” Juan menyalahkan Joni dengan suara berbisik.
“Lo bilang mau lihat Serena kan? Sekarang lo udah lihat, jadi silahkan pergi,” usir Joni dengan suara serendah mungkin.
“Kok lo jadi ngusir gue?!” mata Juan melebar dengan alis berkerut, memperlihatkan sebuah penolakan.
“Lo brisik. Dan itu menganggu tidur Serena.”
“Lo juga brisik.”
“Lo!”
“Lo!”
Pertengkaran sepertinya akan terus berlanjut. Ruangan itu tidak begitu besar, jadi meski pun keduanya menggunakan nada terendah untuk bersuara, tetap saja Serena bisa mendengarnya.
Karena masih mengantuk, Serena tetap menutup matanya ketika memaksa tubuhnya untuk duduk. Tangannya menunjuk Juan dan Joni bergantian.
“Kamu! Dan kamu! Keluar!” usir Serena tanpa mau membuka mata.
“Tapi ini ruang rawat inapku Rena,” jawab Joni.
“Kalau begitu diam!” bentak Serena.
“Puft… he hee bener kan, lo yang brisik.” Juan mengejek Joni yang terdiam karena bentakan Serena.
“Kamu juga! DIAM!!” ternyata Juan juga mendapat bentakan yang sama dengan Joni. Bahkan lebih keras.
Lengang.
Juan dan Joni sama-sama tidak lagi bersuara. Menatap Serena yang sudah menurunkan tangan, yang tadi dia gunakan untuk menunjuk dua pria dewasa tapi berjiwa anak-anak itu.
Setelah tidak lagi mendengar suara perdebatan, Serena tersenyum “nah, kalau tenang gini kan Rena jadi bisa tidur.” Serena mulai merebahkan tubuhnya kembali, masih dengan mata yang tetap terpejam.
“Awas ya kalau brisik lagi!”
Kali ini, Serena hanya mengacungkan jari telunjuknya ke atas di sertai dengan ancaman.
.
.
.
***
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf kalau ada kata-kata yang menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.