
Tidak ada waktu untuk bersantai. Ki Jarot terus memanfaatkan situasi dan kondisi yang mungkin akan memberinya kemenangan. Laki-laki tua itu terus saja menjentikkan jarinya mengincar Serena sambil terus mengirim serangan juga ke arah Ni Maryam.
Untuk beberapa waktu, pertempuran masih terus berlangsung. Juan berdiri di depan Serena untuk melindunginya dari serangan Ki Jarot. Sementara itu Ni Maryam juga dibuat sibuk oleh jin-jin peliharaan Ki Jarot yang menyerangnya dari segala arah.
Yudi membantu Adit memindahkan tubuh Yuli ke area yang lebih aman. Tubuh wanita itu pun mulai dingin dengan wajah yang sudah berubah pucat seperti mayat. Lalu Sekar datang mendekat. Meraih tangan Yuli dan menggenggamnya. Yudi dan Adit hanya saling bertukar pandang melihat apa yang dilakukan anak kecil itu pada tubuh Yuli.
“Dia terluka parah,” ucapnya pada Adit. “Mungkin akan butuh waktu cukup lama, tapi dia masih bisa disembuhkan.”
Serasa ada batu berat yang terangkat dari dalam dada Adit mendengar perkataan Sekar. Hatinya yang tadi sempat kosong, tiba-tiba terasa terisi kembali. Terisi dengan harapan untuk bisa melihat Yuli kembali sehat seperti sedia kala. Adit pun merasa jadi lebih tenang.
Sesaat dia menatap Serena diseberang sana. Tidak ada marah sedikit pun yang dia rasakan pada gadis itu. Dia hanya berpikir, kalau apa yang dialami oleh mamanya mungkin adalah sebuah teguran. Teguran atau malah sebuah karma yang harus diterima, karena selama ini Yuli telah sering menyakiti Serena.
-------------------------------------------
“Ayo bawa Serena pergi!” perintah Juan pada Joni yang sedang membantu Serena berjalan sambil melindungi jiwa Zahra. Gadis itu membawa jiwa adiknya dengan penuh kehati-hatian menggunakan kedua tangannya.
Hanya saja, situasi semakin tidak terkendali, ketika ada satu sosok makhluk astral yang baru saja datang sebagai bantuan untuk Ki Jarot. Makhluk itu membungkuk memberi hormat pada majikannya.
“Kenapa kau lama sekali, hah! Aku hampir saja kalah karenamu!!” bentak Ki Jarot. Dia mendengus kesal karena jin yang menjadi andalannya datang terlambat. Meskipun begitu, dia cukup senang karena ada yang datang untuk membantunya disaat-saat yang genting. Dia sudah mulai kehabisan tenaga untuk melawan Ni Maryam dan Jin Braja yang telah membuatnya kewalahan dan terdesak.
Tanpa banyak membuang waktu, makhluk itu langsung menyerang Juan dengan kekuatan penuh. Tentu Juan mampu mengimbangi. Tapi untuk bisa fokus melawan sang musuh, Juan menyerahkan sepenuhnya keamanan Serena pada Joni.
DUUAARRRR…
Lagi-lagi bunyi dentuman keras terdengar sangat keras di tengah malam yang harusnya sepi. Juan menangkis juga membalas serangan jin sakti yang terlihat sangat ingin melenyapkannya.
“Habisi saja dia! Dan aku harus mendapatkan gadis itu!”
Ki Jarot berteriak. Memberi perintahnya pada jin yang sedang beradu kesaktian dengan Juan. Ni Maryam tidak bisa membantu Juan, karena dia sendiri tidak memiliki waktu luang untuk itu. Dua kubu terus saling adu kekuatan dan kehebatan. Tapi hanya Ki Jarot yang ingin membuktikan kalau dia adalah pihak yang paling kuat diantara mereka.
Aakhhh…
Secara licik, Ki Jarot menyerang Ni Maryam dari arah belakang dengan mengumpankan salah satu jin terbaiknya. Memanfaatkan kelengahan dan kesibukan yang memecah konsentrasi nenek tua mantan teman seperguruannya dulu. Jin yang menjadi umpan itu pun telah hancur bagai debu hanya dengan gerakan ringan dari Ni Maryam.
“Kau curang Jarot!” teriak Ni Maryam.
“Di dalam pertempuran tidak ada yang namanya curang Maryam. Semua hal bisa saja terjadi. Bukankah sudah ku bilang, kalau aku akan memaksamu untuk menyerahkan semua ilmu guru yang ada padamu? Dan aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya. Termasuk gadis itu!”
Ni Maryam mengikuti arah jari telunjuk Ki Jarot yang sedang mengarah pada Serena.
“Uhuk uhuk… untuk apa kau mengincarnya?” tanya Ni Maryam heran.
“Aku akan menjadikannya sebagai pendampingku,” jawabnya penuh seringai.
“Kau menjijikkan Jarot. Apa kau tidak punya malu? Sampai-sampai kau menginginkan gadis yang usianya lebih cocok untuk menjadi anak atau malah cucumu?”
Ni Maryam bergidik ngeri mendengar keinginan Ki Jarot yang lebih nampak seperti pedofil. Dia tidak menyangka kalau laki-laki tua yang dulu pernah menjadi teman terdekatnya itu ternyata menderita kelainan jiwa.
“Apa kau tidak bisa merasakan aura gadis itu? Aura yang hanya dimiliki oleh sedikit manusia di dunia ini. Aura yang akan membawa kejayaan untuk siapapun yang bisa memilikinya. Dan aku akan menjadikan diriku sendiri, sebagai satu-satunya orang yang bisa berdiri di sampingnya untuk mendapatkan kejayaan. Namun sebelum itu, aku akan lebih dulu menyerap kekuatanmu sampai habis tak tersisa. Dan kau hanya akan menjadi nenek tua tak berguna haa ha…”
“Tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Perlu kau tahu, kalau gadis itu sudah disegel oleh pemiliknya. Sebagai orang yang sudah lama malang melintang di dunia ilmu hitam, tentu kau tahu apa yang akan terjadi pada orang yang sudah disegel, kan?”
“Disegel?”
“Apa kau tidak bisa melihat segelnya?” tanya Ni Maryam dengan tatapan penuh hinaan.
Ki Jarot memalingkan wajah, matanya mencari-cari sosok Serena. Dia perlu membuktikan kalau ucapan Ni Maryam benar adanya. Bukan sekedar omong kosong untuk menunda pertempuran.
Untuk beberapa saat Ki Jarot masih memindai sekeliling, tapi matanya tetap belum menemukan yang dia cari.
“Cih! Dasar perempuan bodoh!” gumamnya. Dia menggeram, ketika matanya malah tanpa sengaja melihat Adit yang sedang memeluk tubuh Yuli, dan ada Yudi juga di sana. “Kumpulan manusia tidak berguna,” tambahnya.
Lalu Ki Jarot melihat satu-satunya pria yang berdiam diri sedang menatapnya. Dan dia adalah Joni.
Ki Jarot mengernyitkan dahi, ketika menatap aneh pada Joni yang seolah sedang menyembunyikan sesuatu di belakangnya. Tadi Ki Jarot sempat melihat Joni bersama Juan melindungi Serena. Dan sekarang Ki Jarot mulai menduga-duga dengan apa yang ada di belakang tubuh pria itu. Apakah gadis yang dicarinya bersembunyi di sana?
“Disana kau rupanya,” gumam Ki Jarot.
Ada sesuatu yang membuat Ki Jarot sedikit kecewa. Dia melihat segel yang dikatakan oleh Ni Maryam pada tangan Serena. Segel yang hanya akan muncul jika ada sebuah perjanjian pernikahan.
“Tidak masalah, aku pasti bisa menghancurkan segel itu dengan kekuatanku.”
Ki Jarot kembali bersiap untuk melancarkan serangan pada tangan Serena. Dia menarik nafas panjang dan menggerakan sebelah tangannya untuk mengumpulkan kekuatan di depan dada. Sementara satu tangannnya dia gunakan untuk menyerang Ni Maryam, sengaja membuat wanita tua itu sibuk agar tidak bisa menolong Serena.
Secara bersamaan, Ki Jarot meluncurkan dua serangan sekaligus. Satu pada Serena dan satu lagi pada Ni Maryam.
Serangan yang mengarah pada Ni Maryam bisa ditangkis, tapi tidak untuk serangan yang mengarah pada Serena. Tapi rupanya Ki Jarot lupa akan sosok Juan. Dan ya! Juanlah yang mengorbankan diri untuk melindungi Serena.
“JUAAAANN….”
Tubuh Juan ambruk seketika. Bahkan sosok Jin Braja yang berada di dalamnya ikut hilang. Dan segel yang ada di tangan Serena pun pudar.
Serena berteriak histeris melihat apa yang terjadi pada Juan. Tangisnya pecah di tengah tempat yang jauh dari penduduk desa lainnya.
Menyaksikan jin kesayangannya menghilang, membuat Ni Maryam geram dan langsung mengumpulkan sisa tenaganya untuk membalas perbuatan Ki Jarot.
“Sekarang giliranku Jarot!!”
Ni Maryam memperlihatkan kemarahannya. Tangannya menjulur ke udara, jari-jarinya membentuk, layaknya akan mencakar sesuatu. Sinar biru keluar dari telapak tangannya yang terangkat ke atas.
“Jarot!” panggil Ni Maryam. “Ku berikan apa yang kau inginkan dariku, jadi terimalah!”
Ni Maryam mendorong tangannya ke depan. Mengirim kedahsyatan ilmu peninggalan gurunya ke arah Ki Jarot. Walaupun jin peliharaan Ki Jarot sempat menghalangi, tapi sinar itu tetap mampu menembus tubuh Ki Jarot dengan mudah.
Mulut Ki Jarot memuncratkan darah. Kemudian muncul retakan-retakan pada wajahnya yang akhirnya menimbulkan lubang-lubang kecil yang semakin membesar. Sinar biru membakar tubuh Ki Jarot dari dalam.
“TIDAK! TIDAK MUNGKIN! TIDAAAAAK!!!”
Hanya itu yang mampu Ki Jarot ucapkan sebelum tubuhnya hangus dan berubah menjadi serpihan-serpihan kecil, lalu hancur remuk layaknya debu.
Ki Jarot mati bersama semua jin dan makhluk astral lain yang menjadi peliharaannya.
Semua orang yang menyaksikan kematian Ki Jarot memilih menutup mata. Tragedi yang terjadi akibat keserakahan seorang dukun bernama Ki Jarot, telah usai. Ki Jarot kini hanya tinggal nama. Nama yang mungkin akan membuat orang-orang malas untuk menyebutkannya suatu hari nanti.
Hembusan nafas lega terdengar dari manusia yang ada di sana. Pertarungan antara dua dukun hebat berakhir sudah. Menorehkan kisah yang mengerikan untuk diingat.
Tapi…
Sebuah teriakan kembali terdengar, seolah malam ini masihlah sangat panjang untuk bisa dilewati.
“SERENA! SERENA! SERENAAAA!”
Joni memanggil-manggil nama Serena dengan begitu keras. Dia panik karena Serena tiba-tiba tak sadarkan diri.
.
.
.
***
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.