KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 134 EXTRA PART


Bram berjalan dengan langkah lebar. Kamar yang biasanya hanya akan dia datangi setiap lima minggu sekali, kini menjadi tujuan utama. Dibelakangnya, ada Tyo yang membopong tubuh Sarah. Sedikit berkeringat, karena harus mengikuti langkah sang majikan dengan tangan membawa beban.


Pintu kamar yang terbuat dari kayu jati, berhias ukiran aneh, memberikan kesan seram bagi siapa saja yang melihat. Bahkan Tyo yang sudah biasa pun, masih sering merinding setiap kali mengantar sesaji ke dalamnya.


Saat daun pintu mulai bergerak, bau busuk bercampur amis langsung menyapa indra penciuman. Pencahayaan yang minim, menambah suasana jadi lebih mencekam. Dan sudah pasti pengap, karena ruangan itu hampir tidak memiliki fentilasi.


“Letakkan dia di sana!” perintah Bram.


Tyo membaringkan raga Sarah ke sebuah ranjang yang juga terbuat dari kayu. Jangan mengharap akan ada kasur yang empuk di sana, karena yang ada, hanya selembar tikar sebagai alas.


“Keluarlah!” Bram kembali memerintah.


Tyo menunduk sejenak, sebagai tanda pamit. Dan bergegas keluar kamar untuk menghindari bau menyengat yang menusuk hidungnya sedari tadi.


-


“Tidak biasanya kau datang di waktu seperti ini. Ada perlu apa kau menemuiku?”


“Aku membawa persembahan untukmu,” jawab Bram. Laki-kaki itu duduk bersila di depan sebuah tungku kecil yang sedang menguarkan asap dari pembakaran kemenyan.


“Persembahan? Bukankah dia juga sisa darimu, apa kau gila?!” suara geraman yang pasti akan sukses menegangkan bulu kuduk.


“Apa itu masalah?” Tanya Bram.


Tidak ada suara yang menjawab. Hening.


“Kau tidak pernah menyebut kriteria yang harus aku berikan untukmu, jadi aku membawa wanita itu.”


“Lalu apa maumu, sekarang?”


“Bantu aku mendirikan jembatan yang ada di seberang sekolah!” pinta Bram.


“Baiklah. Aku menerima wanita itu. Tapi tidak akan aku anggap sebagai persembahan darimu.”


“Lalu apa yang kau minta sebagai bayaran?”


“Bawakan aku tiga kepala kerbau untuk pondasi. Dan untuk selanjutnya, aku akan mencari korbanku sendiri.”


Bram mengangguk mengerti. Peliharaannya akan menjadi penunggu jembatan, yang baru akan dia bangun. Dan mencari korbannya sendiri, berarti dengan menganggu penglihatan para pengendara yang melewati jembatan, sampai mengakibatkan kecelakaan. Lalu sang korban otomatis menjadi persembahan.


“Terus bagaimana dengan dia?” Bram menunjuk Sarah yang tidak sadarkan diri di atas ranjang.


“Akan aku jadikan mainan. Jangan biarkan dia mati, aku rasa tubuhnya lumayan menarik.”


“Baiklah. Aku akan mengurusnya dengan baik,” ucap Bram sembari bangkit dari duduk silanya. Sekilas kembali melirik ke arah ranjang, lalu berbalik dan berjalan pergi.


Ketika berhasil keluar, Tyo masih setia berdiri di depan kamar. Menunggu Bram, yang mungkin akan memberikan perintah sebelum dia mengistirahatkan tubuhnya sendiri. Sejak menginjakkan kaki turun dari pesawat, dia sama sekali tidak punya waktu untuk sekedar tidur beberapa menit.


“Istirahalah! Besok temui aku jam 10 pagi,” titah Bram sembari memijit pelipis. Dia juga merasakan lelah yang luar biasa. Dan merasa harus segera menemui kasur empuk yang telah dia tinggalkan, selama hampir seminggu.


“Baik, Bos. Saya permisi,” Tyo undur diri dari hadapan Bram.


-...-…-…-…-…-…-…-…-…-…-...-...-...-...-...-...-


Serena dan Joni telah kembali ke negaranya, sejak dua minggu yang lalu. Hari ini, keduanya sedang dalam perjalanan menuju sebuah gedung besar, tempat Farrel dan Sherly melangsungkan pesta pernikahan.


Iya. Semenjak dokter menyatakan Sherly sembuh total, Farrel langsung bergerak cepat. Dia tidak mau lagi menunda untuk meresmikan hubungannya dengan sang kekasih.


“Sekar mau adik laki-laki atau perempuan?” Tanya Joni. Karena sedang menyetir, jadi dia melirik ke arah anak dan istrinya melalui kaca spion tengah mobil. Kursi yang ada disampingnya, dibiarkan kosong. Serena harus mengalah duduk di belakang, karena Sekar tidak mau lepas darinya.


Saat Serena masih dirawat di rumah sakit yang ada di Korea, dokter sudah memberitahukan perihal kehamilan keduanya itu. Kabar gembira sesuai perkataan Sekar, membuat seluruh keluarga semakin berbahagia.


Sekar yang sedang perut rata Serena pun, menoleh. Terdiam sejenak, dan terlihat sedang berpikir sebelum akhirnya menjawab pertanyaan.


“Emm… Sekar mau semuanya!” jawabnya riang.


“Semuanya?” ulang Serena dengan alis berkerut.


“Apa kita tidak akan terlambat, mas?” Tanya Serena.


Joni melihat antrian kendaraan yang mulai bergerak di depannya. “Semoga saja tidak.”


“Kalau kita sampai terlambat, pasti mulut Farrel akan terus mengoceh. Sherly bahkan sudah mengirim pesan terus menerus. Katanya kalau sampai kita tidak datang, dia akan memusuhiku selamanya!” decak Serena.


“Itu tidak akan terjadi,” ucap Joni, menenangkan. Pandangannya kembali fokus ke jalanan, setelah melempar senyum pada sang istri.


Beberapa menit kemudian, mobil yang membawa mereka akhirnya sampai ke tujuan. Joni memasuki lobby sebuah gedung. Berjalan dengan menggendong Sekar di sebelah kiri, dan menggandengan Serena di sebelah kanan. Terlihat sempurna.


Farrel menyambut kedatangan Joni dan Serena dengan mulut penuh gerutu. Memberi perintah pada seseorang, untuk secepatnya mengantar Serena ke kamar tempat Sherly berada.


“Biasa aja dong mukanya!” sindir Serena.


“Ini kan hari pernikahan aku, kenapa kalian datang terlambat?! Aku jadi pusing dengerin Sherly uring-uringan sejak tadi!” ketus Farrel, tidak mau kalah.


“Ya itu urusan lo lah! Kenapa jadi gue yang disalahin?”


“Jangan galak-galak sayang… nanti anak kita mirip Farrel lagi,” bisik Joni.


“Idih! Amit-amit jabang bayi!” pekik Serena, seraya mengusap perut.


“Apaan yang amit-amit jabang bayi? Kalian gosipin aku ya?” tuduh Farrel. Dia tidak tahu apa yang membuat Serena memalingkan muka darinya, dan terlihat jijik.


Bukannya menjawab, Serena malah berbalik dan mengikuti langkah seorang yang membantunya menemukan kamar Sherly.


“Istri lo kenapa?” Tanya Farrel pada Joni.


“Kalo ngomong sama Rena, pake aku-kamu. giliran sama gue aja, bahasanya soak banget!” keluh Joni.


“Ya jelas beda lah! Dan jangan ngarep berlebih, kalo gue bakal ngomong sopan sama lo!” kini Farrel yang berdecak.


“Cih! Dasar,” gumam Joni, samar. Dia mengalihkan perhatian pada Sekar yang tengah berjalan ke sana kemari. Terlihat begitu antusias pada seluruh isi aula besar yang mewah karena didekorasi dengan indah.


“Ayo papah!” Joni mengikuti langkah kecil Sekar yang menarik tangannya.


“Pelan-pelan sayang….”


.


.


.


***


Kok udah tamat? Kok akhirnya malah ga jelas? Kok ngegantung? Kok Bramnya belum mati? Kok ini, kok itu dan lain sebaginya.


Setelah membaca semua komentar dari para reader, Si_Ro menyimpulkan kalau ternyata banyak yang ngga baca note disetiap akhir bab.


Si_Ro udah bilang, kalau akan ada extra part. Dan untuk pembaca yang menanyakan keberadaan Bram? Si_ro akan kasih bocoran.


Di novel ini, karakter Bram memang sengaja tidak hapus/ tidak mati dan tentunya belum dapat karma. Dia juga akan kembali muncul di sekuel cerita Kutumbalkan tubuhku.


Cerita yang sedang Si_Ro tulis berjudul ‘SEKAR’, yang mungkin… ini baru mungkin ya. Mungkin baru bisa di up awal buan depan.


Semoga authornya tetap sehat, moodnya baik terus, biar cerita SEKAR cepat rilis hehehee…


Yang ini juga bukan extra part terakhir, karena masih ada lagi. Jadi ditunggu ya....


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.