
Serena mulai mengerjapkan mata, bersusah payah menggerakkan anggota tubuhnya yang terasa sangat pegal dan sakit, terlebih bagian sensitifnya. Jejak berwarna merah keunguan yang memenuhi tubuh, semakin membuatnya merasa tak berdaya dengan keadaan.
“Aku ingin hidup normal” rintihnya dangan tetesan air mata yang turun tanpa permisi
Entah darimana datangnya penyesalan yang tiba tiba memenuhi relung hatinya, menyentak dan akhirnya membuatnya terasa begitu merana serta kesakitan, melebihi sakit di sekujur tubuhnya dengan kelelahan yang melebihi batas.
“Aaakh…..hiks hiks….ibuuuuuu Rena sakit”
Serena berteriak. Memenuhi kamar apartemannya dengan suara tangisan yang begitu memilukan. Jika saja ada seseorang yang bisa mendengar suara Serena saat ini, mungkin orang itu akan langsung ikut larut dalam kesedihan mendalam.
“Ada apa denganku? Kenapa begini…ibu”
Tubuh nakednya hanya berbalut selimut tebal yang diberikan laki laki itu. Tunggu! Laki laki?
Sejenak tangisan itu mereda, alisnya mengerut, menandakan sang pemiliknya sedang berpikir atau mencoba mengingat sesuatu yang mungkin terlupakan.
“Bang Jon” gumamnya lirih
Menurut ingatan yang dimiliki Serena, laki laki itu selalu ada saat dia mengalami hal yang memalukan setelah malam panasnya bersama sang suami astral. Bagaimana bisa dia selalu ada saat Serena berada di titik paling rendahnya. Laki laki yang menemaninya kemanapun dengan setia tanpa banyak bertanya, ataupun mencoba ikut campur urusan pribadinya.
Ini hanya sebuah kebetulan, atau sebuah kesengajaan yang tidak disadari oleh seorang Serena. Mungkinkah dia terlalu percaya pada laki laki itu, sampai tidak pernah memiliki kecurigaan seujung kukupun.
Sejak mengenal Joni, Serena memang tidak begitu banyak tahu tentang kepribadian pria yang menjalankan semua perintahnya dengan baik.
Dengan langkah tertatih, Serena memaksakan kakinya untuk terus berjalan menuju kamar mandi, membersihkan diri dari sisa sisa sentuhan makhluk halus yang sudah mengambil kenikmatan tubuhnya dengan tanpa perasaan.
---------------------------------------------
Zahra masih terus memperhatikan Bang Joni dengan pandangan penuh telisik. Walaupun saat ini ada ibu dan juga Bi Sari yang sedang berkunjung untuk melihat sendiri keadaan orang yang sudah dianggap sebagai anggota keluarga.
“Gimana keadaanmu Joni?” Tanya ibu Zahra
“Baik bu. Kenapa harus repot repot datang kesini bu, bukankah ibu juga sedang tidak enak badan. Ibu sama bibi naik apa kesini?”
Joni merasa tidak enak hati dengan ibu Zahra yang memberikan perhatian tulus padanya.
Dan Zahra malah melebarkan matanya, melihat dan mendengar secara langsung dengan mata dan kepalanya sendiri. Ini adalah pertama kalinya dia melihat seorang Joni mengucapkan banyak sekali kata, dan juga menunjukkan wajah cemas untuk ibunya.
Biasanya pria itu hanya akan menjawab singkat dan seadanya. Singkat dan padat, tapi malah tidak begitu jelas, karena terkadang jawaban yang keluar dari mulut Joni malah semakin membuat rasa penasan semakin menjadi jadi. Sama seperti kejadian tadi pagi.
“Terima kasih ya Jon. Kalau tidak ada kamu, Serena dan juga Zahra pasti sudah…..” ucapan ibu Zahra terhenti, berganti dengan dua tetes embun yang keluar dari kedua mata tuanya.
“Ibu…” suara Zahra berbarengan dengan Joni
Bi Sari masih sibuk menyiapkan berbagai makanan yang sudah dia siapkan dan di bawa dari rumah, khusus untuk Joni dan juga Zahra.
“Sudah sudah, jangan diteruskan. Mendingan sekarang kita makan dulu, nanti keburu makanannya dingin.” ucap Bi Sari
Mereka sama sekali tidak terlihat seperti majikan dan bawahan, mereka seperti sebuah keluarga yang saling menyayangi dan saling mengkhawatirkan keadaan anggota keluarganya.
“Iya bi. Yang lukakan perut, bukan tangan Joni” Balas Joni dengan mantap
“Ya sudah kalau gitu, bibi ngga harus nyuapin kamu dong ya?” kali ini Joni hanya menjawabnya dengan sebuah gelengan dan senyuman
Zahra sudah duduk bersama ibunya di kursi yang tersedia di kamar perawatan Joni. Kamar itu memang bukan kelas VIP tapi juga bukan kelas tiga, tersedia kursi yang cukup nyaman untuk duduk dan juga tidur bagi penunggu pasien yang menginap.
Mereka berempat makan dengan tenang, hanya sesekali terdengar keluhan dari Joni yang tidak bisa menikmati sambel buatan Bi sari. Jelas Bi Sari tidak akan memberikan makanan itu, yang mungkin saja akan membuat Joni bolak balik ke kamar mandi, apalagi dengan keadaannya yang baru dua hari lalu melakukan oprasi.
“Puasa makan sambel dulu Jon. Kamu harus inget, perut kamu baru dioprasi dan lukanya juga sama sekali belum kering!” Bi Sari memberikan peringatan kerasnya, melihat Joni yang terus saja menggerutu
Sungguh pemandangan langka, bisa menyaksikan Joni bersikap sedikit manja pada ibu dan juga Bi Sari.
Diantara Zahra dan ibunya juga Bi Sari tidak ada yang menyadari, kalau sikap yang ditunjukkan oleh Joni adalah sebuah tipuan. Dia sengaja bersikap rewel, agar tidak ada satu pun yang mulai membicarakan ketidak hadiran Serena saat ini.
“Bu” Panggil Joni pada ibu Zahra yang sudah selesai dengan makannya, dan kembali duduk di kursi samping brangkar.
“Ada apa nak” jawabnya lembut
“Apa ibu tidak pengen punya cucu?” Tanya Joni pelan, tapi Bi Sari dan Zahra tetap bisa mendengarnya.
“Maksud Bang Joni apa?” Zahra langsung bertanya penuh curiga
Ruangan yang tidak yang tidak terlalu besar dan juga hanya ada empat orang di dalamnya, membuat suara Zahra malah terdengar seperti sebuah bentakan. Tapi jangan tanya, Joni sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan dari Zahra yang jelas jelas ditujukan padanya.
“Apa ibu tidak ingin melihat Serena menikah dan memberikan cucu buat ibu?”
“Serena? Kenapa dengan Mbak Serena?” gumam Zahra yang memilih untuk mendengarkan ucapan Joni sampai selesai.
Ibu Zahra tersenyum. Mendengar pertanyaan dari Joni membuat hatinya hangat. Ini adalah pertanyaan yang sangat ingin di dengar dari mulut anak anak gadisnya. Pertanyaan yang akan diajukan setelah kedua putrinya menggandeng pasangan yang akan di kenalkan padanya, tentu saja untuk mendapatkan restu darinya.Tapi sayangnya, pertanyaan itu malah keluar dari mulut Joni, supir setia anak sulungnya.
“Tentu saja ibu mau Joni. Ibu sudah tua, dan mungkin tidak punya banyak waktu lagi untuk mendampingi Serena dan Zahra. Ibu ingin melihat mereka berkeluarga dan bahagia.” Jawab ibu Zahra yang kini sudah di peluk erat oleh anak bungsunya
Zahra mengerti dengan kekhawatiran yang dirasakan oleh ibunya. Kehidupan ibunya memang selalu penuh dengan air mata. Mungkin kalau bukan karena adanya Serena dan Zahra, ibunya tidak akan bertahan hingga saat ini.
Zahra menatap marah pada Joni karena sudah mengajukan pertanyaan yang dianggapnya hanya akan membuat ibunya sedih.
“Apa Serena sudah punya pacar Jon?” Tanya ibu Zahra
Ibu Zahra tahu dengan jelas, bagaimana Serena begitu terpuruk setelah kandasnya hubungan percintaanya dengan Farrel. Setelah itu, Serena belum pernah terlihat memiliki hubungan spesial dengan laki laki manapun.
“Joni kurang tahu bu”
Joni malah merasa bersalah pada ibu Zahra. Kini wanita tua yang begitu disayanginya, terlihat sangat antusias bertanya tentang Serena. Padahal dia hanya ingin melakukan sesuatu untuk gadis itu, setelah dia melihat pemandangan menyakitkan pagi ini.
***
Up Kamis 090120 23:00