KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 94


Yudi memasuki kamar Adit, setelah pemuda itu memberinya izin. Hanya saja dia dibuat terkejut karena melihat Adit yang masih belum terlihat siap untuk acara hari ini. Laki-laki itu malah masih duduk santai di pinggiran ranjang, dengan mengenakan baju batik.


“Kenapa kau tidak memakai baju yang sudah disiapkan dari semalam?”


“Tidak paman!”


“Sepertinya kau sudah mengambil keputusan?”


“Iya. Dan keputusan Adit sudah bulat.”


“Apa paman boleh tahu, apa alasannya?”


Adit menghela nafas berat. “Yang Adit tahu… Serena tidak membutuhkan Adit, paman. Adit sadar, kalau Adit cuma orang lain bagi Serena. Dan itu berarti, bukan Adit yang bisa memberi kebahagiaan untuk Serena.”


Sejenak Adit menatap kemeja putih dan jas berwarna hitam yang ada di atas ranjangnya. Pakaian yang dia siapkan dari kemarin, teronggok tanpa ada yang mau memakainya hari ini.


“Walaupun Adit sangat tulus menyayangi Serena, tapi Adit tidak mau memaksakan diri untuk menikahinya. Seperti kata paman, kalau tidak ada yang melarang untuk mencintai, asal jangan sampai merebut milik orang lain. Dia sama sekali tidak punya cinta buat Adit, jadi Adit akan berpuas diri untuk menjaga dia dari jauh saja.”


“Hmm… kalau alasanmu seperti itu, paman tidak bisa ngomong apa-apa lagi. Paman hanya akan mendoakan, semoga kamu bisa secepatnya menemukan wanita yang akan mendampingimu selamanya.”


“Aamiin.”


Yudi merentangkan tangan memeluk tubuh Adit, memberi dukungan dan doa terbaik untuk laki-laki yang sudah mengikhlaskan putrinya. Adit sudah menunjukkan kalau dirinya adalah pria sejati, pria yang akan melakukan hal terbaik untuk seseorang yang dicintainya.


“Ya sudah, ayo kita ke rumah Serena! Sebentar lagi waktunya akan tiba. Tanpa paman, pernikahan itu tidak akan terjadi. Dan paman tidak mau dapat omelan dari ibunya Serena karena telat datang.”


“Iya. Ayo paman!”


---------------------------------------------


Tok tok tok tok


“Ada apa?”


“Maaf bos!”


“Apa?!"


“Saya dapat informasi kalau…”


“Kalau apa? Bicara yang jelas! Jangan bertele-tele!”


“Saya dapat informasi kalau hari ini Nona Serena akan menikah bos!”


“APAAA?!?! Bagaimana bisa?!”


“Maaf bos! Saya juga baru mendengar beritanya. Salah satu anak buah saya menginfokan kalau hari ini, rumah ibunya Nona Serena terlihat ramai, dan banyak orang yang datang. Setelah bertanya pada tetangga dekatnya, katanya rumah itu sedang mengadakan acara pernikahan, dan pengantin wanitanya adalah Nona Serena bos.”


“APA?!?! Hari ini?! Bod*h!! Bagaimana bisa kalian telat memberi saya informasi?! Buat apa saya memberi gaji besar buat kalian? Kalau kerja kalian saja tidak becus!! Siapkan mobil!! Kau harus membawaku ke sana secepatnya!!”


“Baik bos!”


Farrel menyapu bersih isi mejanya. Dia melampiaskan kemarahan dengan mengobrak- abrik semua barang yang bisa dilihat oleh matanya. Membuat ruangan yang tadinya terlihat rapi berubah menjadi sangat berantakan.


“BRENGS*K!!! Siapa yang berani menikahi wanitaku saat aku masih hidup?!”


--------------------------------------------


“Apa kau lihat, Sekar? Mama kau sangat cantik.”


“Iya tante. Mama sangat cantik.”


Zahra telah selesai merias wajah Serena yang belum terbangun, ditemani Sekar yang setia membantu untuk mengambil barang-barang yang Zahra sebutkan. Bi Sari sesekali mengintip untuk memastikan kesiapan pengantin wanita, sesuai perintah ibunya Serena.


“Kenapa tante menangis?”


“Tante bahagia, tapi juga sedih. Tante senang karena mama kamu sebentar lagi akan segera menikah dan memiliki suami. Bisa menjalani kehidupan keluarga biasa seperti yang menjadi mimpinya selama ini. Tapi tante juga jadi sedih karena harus melihat mama kamu menikah dalam keadaan seperti ini hiks hiks”


“Sebentar lagi mama akan bangun kok tante, tunggu aja.”


“Iya sayang. Semoga mama kamu cepet bangun ya. Nanti kita bisa buat foto keluarga, Sekar mau?”


Senyuman dan anggukan Sekar menjadi jawaban. Anak kecil itu terlihat begitu bahagia setelah menatap wajah Serena. Zahra sudah lebih dulu memakaikan baju seragam keluarga pada Sekar dan juga mendandaninya.


Gadis kecil yang belum lama menjadi anggota keluarga Serena itu, hari ini terlihat sangat cantik. Kebaya lucu dan make up tipis yang menghias wajahnya, pasti akan mencuri perhatian orang-orang yang datang ke rumah ini nantinya. Zahra bahkan sudah berkali-kali mencubit pipi Sekar karena tidak tahan dengan keimutan anak itu.


“Zahra… Sekar… ayo ke bawah! Bantu Bi Sari menyiapkan makanan untuk para tamu.”


“Iya, bi.”


“Iya, nek.”


Zahra menggandeng tangan mungil Sekar keluar kamar dan turun ke bawah. Di sana sudah ada para tamu undangan dan juga Yudi. Laki-laki yang berstatus sebagai ayahnya itu melempar senyum, tapi Zahra hanya membalasnya dengan anggukan ringan.


Zahra masih merasa canggung untuk bertemu dengan ayahnya, dan Yudi bisa mengerti hal itu, tapi dia tidak akan mempermasalahkan hal sepele. Toh dia memang punya banyak salah pada kedua putri dan juga istrinya. Kehadirannya ke rumah itu adalah untuk menikahkan Serena, tentunya setelah mendapat izin dari ibunya Serena. Itu saja sudah sangat dia syukurinya.


Adit menatap Zahra yang sedang berjalan menuruni tangga bersama dengan Sekar. Entah kenapa, jantung Adit berdegup cepat saat melihat Zahra yang mengumbar senyum pada ibunya dan Bi Sari.


“Cantik,” gumam Adit.


Untuk sesaat pandangan Zahra dan Adit bertemu. Keduanya pun saling melempar senyum. Dan itu menambah detakan jantung Adit menjadi lebih cepat.


“Kalau kau mau, paman bisa menikahkanmu sekarang juga. Biar sekalian saja, mumpung momennya tepat.”


“Apan sih paman ini,” Adit tersipu.


Yudi bisa melihat betapa terpesonanya Adit pada putri keduanya. Ujung bibirnya menyunggingkan senyum saat menemukan semburat warna merah di pipi Adit.


“Tidak bisa mendapat kakaknya, lalu kau mengincar adiknya. Hah dasar! Begitu cepatnya kau berpaling ya! Kalau kata anak muda jaman sekarang, apa ya?” Yudi nampak berpikir.


“Move on, paman.”


“Iya benar, move on. Tapi tidak apa-apa, paman akan menyetujuinya selama orangnya itu adalah kamu ha… haaa…” bisik Yudi.


-


Pak Penghulu pun akhirnya datang, dan langsung memeriksa kelengkapan surat-surat yang diperlukan. Yudi menyambut dan menyalami semua tamu undangan yang hadir, layaknya tuan rumah untuk menggantikan ibunya Serena.


“Apa semuanya sudah siap?” tanya Pak penghulu.


“Siap Pak Penghulu,” jawab ibunya Serena.


Yudi mengambil tempat tepat di samping kiri Pak Penghulu. Sedangkan pengantin pria akan duduk berhadapan langsung dengan Yudi, karena pria itu yang akan menikahkan putrinya sendiri tanpa ingin diwakilkan.


Semua anggota keluarga dan juga para tamu sudah menempati tempat duduk masing-masing. Waktu yang sudah ditentukan pun datang.


“Silahkan pengantin pria untuk duduk di tempatnya!” kata Pak Penghulu.


Namun, sebelum itu, tiba-tiba datang sebuah mobil mewah yang diikuti oleh mobil minibus di belakangnya. Terdengar suara keributan di luar rumah, dan pada akhirnya menghentikan acara untuk sementara.


“TUNGGUU!!” itu adalah suara Farrel. Dia segera berlari cepat dan memaksa masuk ke dalam rumah.


“Saya! Saya adalah calon pengantin prianya.”


Wajah terkejut ditunjukkan semua orang yang hadir di sana. Mereka tidak menyangka akan melihat pemandangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di sebuah acara pernikahan.


Semua tetangga dan tamu undangan langsung berpikir buruk pada Joni. Mereka mengira kalau Joni telah merebut Serena dari laki-laki tampan yang baru saja datang. Bisik-bisik pun tak terhindarkan, membuat Adit yang tadinya berdiam diri bangkit dan merangsek maju lalu menarik kerah baju Farrel.


“Apa-apaan lo!!” bentak Adit pada Farrel.


“Kenapa? Gue memang pacarnya Serena, kan?” jawab Farrel serius.


“Itu dulu! Sekarang lo bukan siapa-siapa buat Serena!”


“Tapi gue mencintai dia!”


“Gue juga! Tapi gue ngga mau egois yang nantinya hanya akan menyakiti dia!”


Para tamu undangan mengeluarkan suara-suara yang menambah suasana menjadi semakin tak terkendali. Mereka tidak tahan untuk bergosip tentang dua pemuda yang sama-sama sedang memperebutkan sang pengantin wanita.


Joni hampir bangkit dari duduknya dengan tangan mengepal. Dia sudah tidak bisa menahan diri untuk segera meninju wajah Farrel yang membuat onar di acara pernikahannya dengan Serena.


Beruntung ibunya Serena segera memegang lengannya. Wanita itu melarangnya bergerak dan berbicara dengan meletakkan jari telunjuknya di tengah bibir.


“Biar ibu yang urus. Kamu ngga perlu melakukan apapun untuk menghadapi laki-laki yang tidak tahu malu itu. Tetap di tempatmu! Dan jangan bergerak!”


“Tapi bu…”


“Belum resmi menjadi menantu, tapi kamu sudah berani membantah perkataan ibu, hmm?”


“Bukan begitu bu…”


“Tetap di tempatmu! Atau ibu akan mencari penggantimu sekarang! Di sana ada dua pemuda yang siap untuk menggantikanmu kapan saja. Apa kau mau?” ancam ibunya Serena.


Joni terdiam. Dia tidak berani mengeluarkan suara apapun lagi. Bi Sari dan Zahra memberinya anggukan ringan, agar Joni menuruti perkataan ibunya Serena.


“Baiklah…”


“Bagus! Jangan mengotori tanganmu dengan perkelahian, karena sebentar lagi kau akan menggunakannya untuk membuat Serena sah jadi istrimu.”


Ibunya Serena pun berdiri dan berjalan mendekati Farrel yang tubuhnya sedang ditahan oleh Adit. Sementara Yudi sibuk meminta pengertian pada Pak Penghulu dan para tamu, untuk menunggu dan memberi tambahan waktu.


“Kalian! Ayo keluar!”


Farrel dan Adit mengikuti perintah ibunya Serena.


“Apa maksudnya ini?” tanya ibunya Serena dengan wajah tidak bersahabat.


“Maaf tante, saya tidak bermaksud membuat keributan.”


“Tapi nyatanya seperti itu,” sergah Adit.


“Kedatangan saya kesini, karena saya mau menikahi anak tante, Serena. Saya sangat mencintainya tante. Tolong tante terima Farrel untuk menjadi suami Serena,” suara Farrel memohon.


“Apa Serena masih mencintai kamu?” tanya ibunya Serena.


“Sepertinya begitu tante.”


“Sepertinya?” Yuli balik bertanya. “Kalau jawabanmu seperti Itu, berarti kamu sendiri tidak yakin dengan perasaan anakku. Terus bagaimana bisa saya mengizinkan kamu untuk menikahinya?”


“Saya akan berusaha membahagiakan Serena, tante. Saya….”


“Apa kamu sudah bercerai?” belum selesai Farrel meneruskan kata-katanya, ibunya Serena sudah memotongnya.


Jleb


Farrel lupa untuk mencari jawaban jika pertanyaan ini diajukan padanya.


“Kenapa diam?”


Farrel menunduk. Dia merasa kalah bahkan sebelum berperang. Adit yang berdiri di sampingnya, sedikit menyunggingkan senyum menghina.


“Rasain lo! Emang enak!” batin Adit.


“Ee.. itu.. saya…”


“Farrel, tante masih sangat kecewa sama kamu. Gara-gara kamu, tante harus melihat kehancuran Serena. Putri yang sangat tante sayangi itu, menangisi kamu berhari-hari. Kamu sudah memberikan kesan yang buruk buat tante. Jadi maaf, tante tidak bisa menerimamu untuk menjadi menantu tante. Tante tidak mau membiarkan Serena merasakan sakit hati untuk kedua kalinya dengan orang yang sama. Tante harap kamu bisa memberikan restu pada Serena. Do’akan dia bahagia dengan pilihan tante.”


Farrel tertunduk lemah. Semua ucapan ibunya Serena benar-benar menusuk hatinya dengan kebenaran. Dia sudah tidak bisa melakukan apapun, jika ibunya Serena sendiri sudah memberi keputusan untuk menolaknya. Tapi, setidaknya wanita itu tidak berbicara kasar atau mengusirnya. Itu adalah nilai tambah untuk membuat Farrel semakin menghormati keputusan ibunya Serena.


“Ayo kita masuk! Semua orang pasti sudah menunggu.”


Adit langsung mengikuti ibunya Serena, sementara Farrel tetap berdiri di tempatnya semula. Dia tidak sanggup jika harus melihat Serena bersanding dengan pria lain, tapi dia juga penasaran dengan semua proses yang akan mengubah status wanita yang masih dicintainya itu. Farrel memilih duduk dekat dengan pintu, karena memang hanya itu tempat yang tersisa.


-


“Kau sudah siap Joni?”


“Siap!”


Yudi menjabat tangan Joni yang terasa dingin. Pemuda itu terlihat sangat gugup dan berkeringat.


“Jawab ucapan saya setelah saya selesai mengucapkan ijab. Mengerti?”


“Mengerti!”


"SAUDARA JONI ABDUL RAHMAN BIN ABDUL RAHMAN, SAYA NIKAHKAN DAN SAYA KAWINKAN ENGKAU DENGAN ANAK PEREMPUAN SAYA YANG BERNAMA SERENA ADNAN MALIK BINTI YUDI ADNAN MALIK DENGAN MAS KAWIN SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DAN PERHIASAN EMAS SEBERAT 50 GRAM, TUNAI!”


“SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA SERENA ADNAN MALIK BINTI YUDI ADNAN MALIK DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT, TUNAI!”


“Bagaimana saksi? Sah?”Pak penghulu menanyakan keabsahan ijab kobul tadi pada saksi. Lalu saksi pun menjawab.


“Saaaaaah!!” tamu undangan ikut bersuara.


Semua yang hadir ikut menengadahkan kedua tangan saat Pak Ustad membacakan do’a.


Tepat setelah kalimat ijab kobul selesai diucapkan oleh Yudi dan Joni, Serena terbangun sendirian di dalam kamarnya. Gadis itu, ah tidak. Sekarang dia sudah berganti status.


Wanita itu bangun dalam keadaan bingung, karena mendapati dirinya memakai pakaian pengantin beserta pernak perniknya. Mendengar suara-suara yang berasal dari luar kamarnya, membuat Serena segera bergerak turun dari ranjang.


Dibimbing oleh rasa penasaran, Serena keluar dari kamar dengan mengangkat sedikit ujung kain yang menyulitkannya bergerak.


Di bawah sana, Serena bisa melihat banyak orang. Ibunya dan semua keluarganya memakai pakaian yang sama. Dia bisa melihat Adit dan Farrel, tapi dia tidak melihat Joni yang saat itu tertutupi tubuh Yudi.


“Ada apa ini?” tanyanya dari ujung tangga. Serena terlihat tidak suka dengan pemandangan di depannya.


Zahra yang melihat kakaknya sudah terbangun langsung berlari ke atas dan memeluknya. Disusul dengan Sekar yang mendekat sambil memanggilnya dengan sebutan mama.


“Mama?” gumamnya.


“Syukurlah Mbak Rena sudah bangun. Ayo mbak kita ke bawah! Mbak harus segera bertemu dengan pengantin pria dan menandatangani buku nikahnya.”


Tapi, sayangnya ajakan Zahra tidak didengar oleh Serena. Dia memilih bertanya terlebih dahulu pada Sekar perihal siapa yang menjadi suaminya.


“Sekar… kalau aku adalah mamamu, lalu papa yang mana?” tanyanya lembut.


Gadis kecil itu menjawab dengan membalikkan badan. Lalu menunjuk salah seorang pria yang berdiri di bawah, yang juga sedang menatapnya.


“Papa yang itu!”


Serena mengikuti arah jari telunjuk Sekar. Dan betapa kagetnya dia, saat mengetahui siapa yang ditunjuk oleh putrinya.


Serena melihat Yudi tersenyum padanya. Lalu perlahan ayahnya itu bergeser untuk memberi jalan agar Serena bisa melihat suaminya.


Mata Serena membulat. Tangannya secara spontan menutup mulutnya yang sedikit menganga. Dua tetes embun bening sukses dia teteskan. Dan Joni yang melihat itu langsung tertunduk.


“Joni!” lirih Serena.


“Iya mbak. Sekarang Bang Joni sudah resmi menjadi suami Mbak Rena. Ibu yang memilihnya dari ketiga cowok yang ada di bawah sana itu,” jelas Zahra.


Saat Serena masih terlihat tidak percaya, Joni malah sedang menggigit bibirnya. Dia begitu takut menunggu reaksi dari Serena selanjutnya. Joni takut kalau Serena akan menolak menta-mentah pernikahan yang baru saja selesai dilaksanakan. Dia berkali-kali harus menarik nafas untuk menenangkan diri. Pikirannya sudah sibuk menduga-duga kalau dia akan segera menjadi duda, saat dia baru resmi menjadi seorang suami.


Zahra dan Sekar membimbing Serena untuk segera menuruni tangga. Mereka baru berhenti saat mereka sudah berdiri tepat di hadapan Joni.


Serena tersenyum sebelum meraih tangan Joni dan mencium punggung laki-laki yang baru menjabat sebagai suaminya. Dengan gerakan kaku, Joni membalasnya dengan mendaratkan ciuman di kening Serena.


“Jadi sekarang kau adalah suamiku?” bisik Serena pada Joni.


“I.. iya mbak,” jawab Joni gugup dan membuang muka. Dia belum berani menatap Serena yang sudah resmi menjadi istrinya.


“Mbak? Kau tidak ingin merubah panggilanmu?”


EKHEMM


Suara deheman keras dari Yudi menghentikan kejahilan Serena yang sedang menggoda Joni.


“Sebaiknya kalian tanda tangani dulu buku nikahnya!” tegur Pak Penghulu menahan senyum. “Biar urusannya selesai dan saya bisa cepet pulang. Setelah ini, terserah kalian akan melakukan apa,” ledek Pak Penghulu diiringi kekehan kecil dari semua yang hadir di tempat itu.


Joni dan Serena duduk bersimpuh di depan Yudi dan juga ibunya Serena. Tangis bahagia mengiringi acara sungkeman. Kedua pengantin berdiri tepat di tengah anggota keluarga untuk melakukan sesi foto bersama. Sementara anak kecil yang bernama Sekar, mendapat tempat di depan kaki kedua pengantin dengan menggandengan tangan Joni dan Serena.


Sebelum pulang, para tamu menyempatkan diri untuk ikut menyalami dan mengucapkan selamat pada pengantin baru. Doa kelanggengan mengalir dari semua orang, tidak terkecuali Adit dan Farrel. Dua pria itu sepertinya memilih menjadi orang terakhir yang memberi selamat. Menunggu suasana sedikit sepi agar bisa sejenak berbincang dengan pengantin tanpa diganggu oleh antrian.


“Selamat ya bro,” ucap tulus Adit saat menyalami tangan Joni.


“Iya terima kasih.”


“Selamat ya Rena,” Adit menggenggam lembut tangan Serena.


“Terima kasih ya Dit, semoga lo bisa cepet nyusul.”


“Sama siapa?” Adit bingung.


“Tuh!” Serena menunjuk Zahra dari jauh.”Gercep dong Dit, nanti keburu diambil orang, baru tahu rasa lo!” ucap Serena.


“Emang dia mau sama gue?”


“Lo udah usaha belom? Yang gue tahu sih dia kayaknya suka sama lo. Tapi ngga tahu deh kalau nanti ada yang bergerak cepat buat ngelamar dia duluan.”


Ucapan Serena sepertinya berhasil mempengaruhi mood Adit. Pria itu tiba-tiba berjalan cepat ke arah Zahra. Dia terlihat berusaha mendekati gadis itu untuk mengajaknya ngobrol berdua.


Dari jauh, Serena hanya bisa tersenyum melihat Adit dengan wajah bingung untuk mencuri waktu Zahra yang sedang sibuk menjamu para tamu. Dari dalam hati dia ikut berbahagia jika Adit bisa mendapatkan Zahra.


“Selamat ya…”


Ucapan terakhir datang dari Farrel. Raut wajah sedih ditampilkan oleh pria itu. Walaupun dia sudah berusaha memasakan diri untuk tersenyum, tapi nyatanya itu tidak banyak membantu.


“Terima kasih,” jawab Joni.


Lalu, Farrel bergeser pada Serena. Tatapan dua orang yang pernah menjalin hubungan di masa lalu itu pun beradu. Joni memilih mengajak Sekar bercanda dengannya, memberi waktu sebentar untuk Serena menyelesaikan urusannya.


“Serena… selamat ya,” suara Farrel terdengar bergetar.


“Terima kasih sudah mau datang Farrel.”


“Serena… aku… “ Farrel tidak mampu meneruskan ucapannya dan tertunduk.


“Aku harap kita masih bisa berteman, karena hanya itu yang bisa aku tawarkan.”


“Kamu masih mau berteman denganku?” tanya Farrel mendongakkan kepala tidak percaya.


“Iya. Tidak ada alasan untuk menolak pertemanan denganmu.”


“Kamu tidak membenciku, Serena?”


“Tidak. Aku sudah bisa menerima masa lalu, dan sebaiknya kamu juga begitu.”


“Aku benar-benar menyesal karena telah melewatkanmu, Serena. Aku pikir, kamu akan membenciku dengan semua dosa-dosaku.”


“Lupakan itu Farrel.” Serena mengacungkan jari kelingking pada Farrel. ”Apa sekarang kita bisa berteman?” tanyanya.


Farrel menyambut pertanyaan Serena dengan ikut mengacungkan jari kelingking dan mengaitkannya pada jari wanita itu.


“Iya. Kita berteman.”


Keduanya tersenyum.


“Papa! Itu siapa yang lagi ngomong sama mama?” tanya Sekar yang terlihat tidak suka.


Joni menolehkan kepala. Di sana dia melihat Serena dan Farrel yang sedang mengaitkan kedua tangan mereka. Menarik sedikit ujung bibirnya, Joni kembali menatap Sekar.


“Dia temen mama.”


“Kenapa tangannya begitu?”


“Karena mereka berteman.”


“Oooh…”


“Ayo kita makan dulu, biar nanti mama menyusul.”


“Iya. Sekar juga mau makan kue coklat yang ada di kulkas.”


Joni menggandeng tangan Sekar ke dapur setelah memberi kode pada Serena. Joni sudah melepas jas hitam yang tadi dia pakai, menyisakan kemeja putih dan celana panjang saja. Di meja makan sudah ada Adit yang sedang makan bersama Zahra.


-


Tidak jauh dari rumah Serena, seorang gadis duduk lesu di dalam mobil. Menghapus air mata yang terus membasahi pipinya tanpa henti.


"Selamat Bang Joni hiks hiks," ucapnya disela sesenggukan.


"Sepertinya aku tidak cukup baik untuk menjadi pendampingmu, sampai Tuhan pun tidak mau mengabulkan do'aku."


"Kuharap dia bisa membahagiakanmu lebih dari keinginanku. Aku akan tetap mencintaimu, walau tanpa balas hiks."


Mobil pun bergerak menjauh, membawa rasa perih di hati pengemudinya.


.


.


.


***


MP-nya kita tunda dulu.


Buat yang kemarin marah-marah, yakin nih ga mau baca chapter ini?


Semoga ini bisa menjawab kegundahan hati para reader ya…


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.