KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 111


“Terima kasih karena sudah menggantikan papa menjaga mama, hari ini. Dan tetaplah menjadi cahaya terang di kehidupan rumah tanggaku.”


Joni menidurkan Sekar di kamar Zahra. Menarik selimut dan mematikan lampu agar tidur anaknya lebih nyaman.


Semetara itu di kamar lain, Serena sedang memilih baju tidur untuk dipakainya malam ini. Tiba-tiba dia dikejutkan dengan adanya tangan kekar melingkari pinggang dan menariknya ke belakang.


“Apa yang kau cari?” bisik Joni. Pria itu menciumi tengkuk Serena dan meraba bagian kesukaan dari tubuh istrinya.


“Baju.”


“Baju apa?”


“Baju tidur,”


“Baju tidur untuk apa?”


“Ya dipakai tidurlah mas,” jawab Serena jengah.


“Aku lebih suka kalau kamu tidak memakai apapun saat tidur. Karena baju apapun yang kau pakai, hanya akan terbuang dilantai. Bukankah itu jadi percuma saja?”


“Mas, sekarang kita belum bisa melakukannya, kamu mendengar penjelasan dokter kemarin, kan?”


“Aku tahu, tapi aku tetap bisa menciummu sepuasnya, kan?”


“Iya sih. Tapi… bisakah itu kita tunda dulu? Ada yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Oh iya. Apa hal penting yang ingin kau bicarakan, tadi?”


“Ini soal Sekar,” ucap Serena.


“Kenapa dengan anak kita? Apa dia nakal? Atau dia melakukan sesuatu yang tidak kamu suka?”


“Bukan gitu mas,” Serena menghela nafas sebelum menjelaskan kejadian sebelum suaminya pulang, tadi.


“Sepertinya di lingkungan kita sebentar lagi akan ada orang yang kehilangan uang,” kata Serena.


“Maksudnya?” Joni melepas pelukan dan mengajak Serena duduk di pinggir ranjang.


“Tadi, Sekar ketemu sama anak yang dia sebut sebagai temennya. Dia bilang… ”


“Emang kenapa kalau Sekar punya temen? Terus, apa hubungannya sama orang kehilangan duit?” potong Joni.


“Ck! Dengerin dulu sampai selesai!”


“He.. hee iya iya, lanjutkan.”


“Tadi pas abis magrib, Sekar tiba-tiba lari ke jendela depan. Pas aku tanya, katanya dia liat temennya yang mau berangkat kerja. Tapi anehnya, aku ngga bisa liat anak kecil yang dimaksud sama Sekar itu, mas. Dan kata Sekar, anak kecil itu botak yang berangkat kerjanya malem. Terus pas nanti pulang, katanya dia bakalan bawa banyak duit. Kalau menurut dari ciri-ciri yang disebutkan sama Sekar, anak kecil itu pasti makhluk halus yang biasa orang sebut tuy… ehm,” mulut Serena dibekap oleh tangan Joni.


“Mas udah ngerti, tapi ngomongnya jangan keras-keras, ini udah malem. Kalau ada tetangga yang dengar, nanti kita dikira yang punya anak kecil itu.”


“Terus kita harus gimana, mas?”


“Kita cari solusinya besok, mungkin ibu punya saran yang lebih baik. Sekarang kita tidur dulu, mas ngantuk.”


Serena telah berganti baju tidur tanpa gangguan dari Joni. Sepertinya pria itu sangat kelelahan, sampai-sampai dia tertidur lebih cepat dari biasanya. Serena hanya bisa tersenyum menatap wajah tenang Joni yang sedang memeluknya.


Cup


“Selamat malam, dan mimpi indah. Terima kasih sudah bekerja keras untuk kami,” ucap Serena pelan setelah mengecup bibir suaminya.


-


“Mau kemana, Bi?” tanya Serena pada Bi Sari di pagi hari.


“Mau ke pasar. Mba Rena mau ikut?”


“Iya, Rena ikut. Ada yang mau Rena beli, disana.”


Serena segera berlari ke kamar untuk menemui Joni dan meminta izin pergi ke pasar bersama Bi Sari. Nyatanya, Sekar jadi tertarik dan malah memaksa ikut. Akhirnya Joni yang merasa khawatir pun memilih menjadi pengawal untuk anak istrinya di pagi sabtu yang cerah.


Begitu sampai di pasar, Bi Sari memisahkan diri untuk berbelanja kebutuhan dapur. Semetara Joni dan Serena, mengikuti langkah kecil Sekar yang sangat antusias melihat mainan dan jajanan yang ada di pasar.


“Ada apa, sayang?” tanya Joni. Dia menurunkan tubuh agar bisa mengimbangi tinggi anaknya.


Sekar menunjuk seorang bapak-bapak yang dikenal oleh Joni maupun Serena. Laki-laki yang mungkin seumuran dengan Yudi itu, sedang berdiri di depan toko mas sambil celingak celinguk.


“Oh… itu pak Andi, rumahnya deket sama rumah om Adit. Kamu kenal?” tanya Joni.


“Terus, Sekar mau apa? Ada yang mau kamu beli?” tanya Serena sambil mencari-cari sesuatu yang mungkin diinginkan oleh sang putri.


“Temen Sekar yang semalem, lagi digendong sama orang itu mah,” bisik Sekar, dan Joni mendengarnya dengan jelas.


Joni dan Serena sama-sama melebarkan mata. Keduanya sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Sekar, barusan.


“Temen Sekar yang anak kecil dan botak itu?” tanya Joni memastikan.


“He em,” anggukan Sekar menambah ketakutan Serena. Dia segera bersembunyi ke balik punggung Joni, ketika pak Andi yang sedang dilihat oleh mereka tiba-tiba membalikkan tubuh.


Serena meremas ujung kaus yang dipakai Joni. Dia begitu gugup, saat pak Andi berjalan ke arah mereka bertiga. Tersenyum kaku dan menegakkan badan.


“Eh... ada Mas Joni dan Mba Serena. Kalian ke pasar juga, pasti lagi mau borong ya?” sapa Pak Andi ramah.


“Pagi juga Pak Andi. Kita cuma lagi jalan-jalan pagi aja, nemenin Sekar main.”


Pak Andi pun berjongkok sebentar, persis di depan Sekar.


“Anak yang cantik. Tapi sayangnya terlalu cerewet,” penilaian Pak Andi terhadap Sekar bisa di dengar oleh kedua orang tuanya.


“Anaknya dijagain ya mas, takut hilang.”


“Iya Pak. Pasti saya jagain,” jawab Joni yang langsung menggenggam erat tangan Sekar dan Serena. Ucapan Pak Andi terdengar seperti sebuah peringatan dan juga ancaman.


Pak Andi segera berlalu dengan wajah yang tidak bersahabat. Serena menghembuskan nafas lega begitu Pak Andi sudah tak terlihat.


“Gimana ini, mas?” tanya Serena yang masih gemetar.


“Tenanglah Serena… ada mas,” Joni menenangkan.


“Dan aku,” bisik Braja.


Sekar kembali fokus ke mainan yang baru dia lihat. Mainan sederhana dengan bahan sederhana, yang biasanya hanya akan dijual di pasar-pasar, menjadi incarannya saat ini. Joni dengan senang hati membelikan apa yang diinginkan oleh anaknya tanpa menawar. Sedangkan untuk Serena, Joni membelikan jajanan tradisional yang terbuat dari singkong.


---------------------------------------------


“Apa kau mencari Farrel? Cih! Sangat tidak tahu malu.”


Sherly memundurkan langkah seiring langkah maju dari Sarah. Jantungnya berdebar sangat cepat dan tubuhnya ikut gemetar. Dia tahu kalau saat ini Sarah sudah berubah menjadi orang yang sangat berbahaya, lebih jahat daripada ketika mereka masih berteman, dulu.


“Jangan mengganggunya, Sarah!” bentak Farrel. Pria itu tiba-tiba sudah berdiri di belakang Sarah yang sedang mengintimidasi Sherly.


Baik Sarah maupun Sherly, terlonjak kaget seketika itu juga karena suara keras dari Farrel. Mereka langsung menoleh bersamaan dan mendapati sosok Farrel dengan wajah marah.


Farrel berjalan cepat dan berdiri menghadap pada Sarah. Tinggi badannya bisa sedikit menyembunyikan tubuh Sherly yang sengaja dia tarik ke belakang.


“Urusanmu adalah denganku, bukan dengan Sherly.”


Sarah tersenyum manis. Dengan penuh percaya diri, dia mendekat dan membelai dada Farrel.


“Kita ini masih berstatus suami istri, teganya kau menghianatiku dengan sahabatku sendiri. Aku sangat mencintaimu Farrel, tapi kenapa kau berbuat seperti ini padaku? Kenapa kau tidak pernah bisa memberikan cinta untukku? Apa aku wanita yang sangat buruk? Dulu aku harus berebut dengan Serena, dan sekarang pun kau membuatku harus berebut dengan Sherly. Sampai kapan aku harus menunggumu, sayang?”


“Aktingmu sangat buruk, Sarah. Aku bukan laki-laki bodoh yang bisa kau tipu. Aku tahu, kalau selama ini kau juga telah tidur dengan laki-laki lain saat aku tidak ada. Cintamu untukku sama sekali tidak tulus. Kau hanya tidak suka melihat orang lain bahagia. Kau salah, kalau menilai ambisimu yang ingin memilikiku itu sebagai cinta. Mari kita selesaikan semuanya sampai disini saja. Aku sudah lelah, Sarah.”


“Tidak! Itu tidak mungkin! Aku mencintaimu sepenuh hati, dan itu adalah fakta. Aku akan memperjuangkan hakku sebagai istri dan akan mempersulit jalanmu yang ingin berpisah dariku.”


Sarah berbalik dan pergi sambil menghentakkan kaki.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Farrel. Dia mencemaskan keadaan Sherly yang diam saja dari tadi.


Tidak ada sautan apapun yang keluar dari mulut Sherly. Gadis itu terlihat masih takut dengan tangan yang terus mencengkeram tali tas miliknya. Farrel segera membawa sang kekasih ke dalam mobil dan meninggalkan kantor agensi untuk kembali ke apartemen.


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.