
Si_Ro beserta keluarga mengucapkan ‘Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1441 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin.’
Semoga para reader sehat semua, penuh sukacita merayakan hari kemenangan.
-------------------------------------------
Esok pagi.
Beruntung Serena sudah mengenakan pakaian normal, saat Sekar bangun dari tidur dan langsung mencarinya seperti biasa. Sementara Joni terpaksa harus kembali masuk ke dalam kamar mandi, karena dia mengenakan handuk kecil yang hanya mampu untuk menutupi bagian keramat dari tubuhnya.
“Sayang… tolong ambilkan baju dong!” teriak Joni dari dalam kamar mandi.
Serena menahan senyum dan berjalan ke lemari untuk mengambil baju untuk suaminya. “Iya sebentar,” sautnya.
Serena menyerahkan baju yang akan di pakai oleh suaminya melalui celah dari pintu yang sedikit terbuka. Dan bukan Joni namanya kalau tidak menggoda istrinya yang sedang tersenyum mengejek.
“Lepas mas…” rengek Serena. Joni mengenggam pergelangan tangan Serena dan menariknya untuk kembali ke kamar mandi.
“Sekali lagi, yuk?” goda Joni dengan bibir yang sengaja dimanyun-manyunkan seperti orang yang akan mencium.
“Ada Sekar mas!” teriak Serena tertahan.
“Kalau gitu, nanti malam ya?”
“Iya iya,” jawab Serena pasrah.
Joni langsung melepaskan Serena begitu mendapatkan jawaban yang begitu memuaskan.
-
Siang ini, Yudi sedang memeriksa laporan pembukuan yang dia terima dari salah satu karyawan khusus. Laki-laki itu terlihat senang karena club yang dipercayakan padanya, telah kembali berjalan sebagaimana mestinya.
Yudi membaca sekali lagi, dan memastikan kalau laporan itu sudah tercatat dengan benar, sesuai keuangan club. Sebentar lagi, Joni sang menantu sebagai pemilik club akan datang bersama calon menantunya, Adit.
Tok tok tok
“Masuk!”
Adit dan Joni melenggang masuk ke dalam ruangan khusus pimpinan yang berada di bagian atas club.
Jelas tidak sembarang orang bisa dengan mudah masuk ke dalam sana, kecuali saudara pemimpin yang sudah dikenal oleh anak buah Yudi. Bahkan untuk kolega dan rekan bisnis saja akan sulit, dan Yudi malah akan melakukan pertemuan di ruangan lain. Tentunya ruangan yang memiliki fasilitas lengkap dan juga mewah.
Club yang dikelola oleh Yudi adalah club yang sering didatangi oleh kalangan tertentu, dan semua orang pasti akan mendapat pemeriksaan dari para bodyguard yang berjaga siang dan malam, tanpa terkecuali. Belum lagi CCTV yang terpasang di berbagai sudut untuk mempermudah pemantauan situasi di dalam club.
Layaknya club yang lain, keributan kecil pun sering terjadi. Biasanya diakibatkan oleh pengunjung yang mabuk, dan itu akan segera diselesaikan oleh para anak buahnya yang berjaga. Yudi hampir tidak pernah turun tangan untuk masalah-masalah sepele seperti itu. Dia hanya akan memantau dari ruangan pribadinya melalui kamera pengawas dan mendengar laporannya saja.
“Bagaimana paman?” tanya Adit.
“Semuanya sudah berjalan seperti semula.”
Yudi menyerahkan buku besar pada Joni. Dia kemudian memerintahkan pelayan untuk menyediakan minuman tanpa alkohol pada dua pria yang memiliki kemampuan bisnis dan kedudukan yang lebih tinggi darinya.
“Apa orang itu masih sering datang?” Tanya Joni sambil memeriksa laporan.
“Untuk sementara ini tidak. Dia seolah hilang tanpa jejak,” terang Yudi.
“Tetaplah berhati-hati, karena kita tidak tahu apalagi yang dia rencanakan. Bisa saja dia hanya mundur sesaat, lalu datang kembali dengan rencana licik.”
“Sebenarnya apa yang dia inginkan?” Tanya Yudi. Dia sudah menahan diri untuk tidak bertanya dari awal Joni menjelaskan tentang laki-laki misterius yang belum lama ini menganggu ketentraman club.
Joni menghembuskan nafas berat seolah enggan memberikan jawaban.
“Serena,” ucapnya Joni pelan.
“Apa? Kenapa Serena? Ada hubungan apa dia dengan putriku?” Tanya Yudi beruntun.
Joni lagi-lagi terdiam.
“Katakanlah yang sebenarnya. Jangan membuat pria tua ini mati karena penasaran. Meskipun Serena sudah menjadi istrimu, tapi dia masihlah anakku. Aku tidak bisa hidup tenang, kalau ada bahaya yang mengintainya, sementara aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk melindunginya.”
Yudi mengungkapkan rasa khawatir yang menyelimuti hatinya. Dia merasa harus tahu apa yang sedang coba disembunyikan oleh menantu pertamanya itu. Yudi tidak mau lagi menjadi orang tua gagal seperti dulu. Walaupun Maya masih belum mau menerima kehadirannya kembali, tapi setidaknya hubungan mereka sudah lebih baik.
Joni masih menimbang-nimbang permintaan Yudi, Sedangkan Adit memilih diam lalu meraih laporan yang baru saja diletakkan oleh Joni.
-
“Apa kau yakin untuk memilihku?”
“Untuk apa dipertanyakan lagi. Apa kau masih meragukanku?”
Tengkuk Sherly menjadi sasaran bibir Farrel. Dia senang melihat bulu halus yang berada di leher bagian belakang kepala Sherly meremang akibat ulahnya.
“Kau tahu siapa aku, kan?” Lirih Sherly.
“Kau juga tahu siapa aku,” potong Farrel.
“Kau tahu seperti apa kehidupanku dulu?”
“Kau juga tahu bagaimana kisah cintaku dan kelamnya perjalanan hidupku. Aku mengenalmu, dan kau juga mengenalku. Bukankah itu bisa menjadi alasan untuk bisa saling menerima? Atau… kau sedang menunggu kedatangan pria lain?” Tanya Farrel. Sepertinya dia tidak akan bisa menerima kenyataan, kalau ternyata Sherly memiliki pria idaman lain yang sedang dia tunggu.
“Tidak. Aku tidak menunggu siapapun.”
Wajah Farrel kembali sumringah mendengar jawaban sang kekasih.
“Aku hanya sedang menyakinkan diri dan menatapkan hati. Aku tidak mau pernikahan yang kita inginkan itu berakhir menyakitkan,” lanjut Sherly.
Sherly membalikkan badan. Menatap ke dalam mata Farrel yang berjarak satu jengkal dari hidungnya.
“Rasa sakit akan membuat kita menjadi lebih kuat, sayang. Tapi meskipun begitu, aku tetap tidak berniat untuk menjadikan pernikahan kita berakhir. Aku sudah yakin untuk memilihmu, menjadi pendampingku. Baik buruknya dirimu, aku sudah tahu semuanya. Tidak ada alasan bagiku, untuk meminta lebih. Karena setiap manusia pasti pernah melakukan kebodohan, kan?”
“Baiklah. Lakukanlah seperti yang sudah kau rencanakan,” ucap Sherly sembari mendaratkan kecupan ringan di bibir Farrel.
“YES!!”
-
Malam ini, Maya meminta Sekar untuk tidur dengannya. Sudah beberapa hari, bocah kecil itu selalu tidak pernah lepas dari sisi Serena ataupun Joni.
Sebelum mengantar Sekar ke kamar Maya, seperti biasa anak itu harus mengganti baju dan bersih-bersih. Serena bertugas mengambil baju ganti untuk Sekar, sementara Joni membantu mencuci tangan dan kaki putrinya setelah menyodorkan sikap gigi.
“Papa…” panggil Sekar pada Joni yang sedang menggendongnya.
“Apa sayang?”
“Sekar mau punya adik, boleh?”
Serena dan Joni beradu pandang. Senyum mereka langsung terbit begitu mendengar permintaan sang anak sulung.
“Tentu saja sayang. Papa akan bekerja keras siang dan malam untuk membuat adik yang lucu, seperti keinginan Sekar.”
Joni menahan sakit di pinggangnya yang terkena cubitan dari Serena. Dia tahu, kalau sang istri sedang protes dengan jawaban ‘siang dan malam’ yang meluncur dari mulutnya.
“Sekar mau punya adik cowo, atau cewe?” tanya Joni.
“Emm…” Sekar terlihat sedang berpikir. “Kalau dua-duanya, boleh tidak?” tanyanya polos.
“Oh jelas boleh dong. Papa malah seneng kalau Sekar minta yang banyak.”
Joni lagi-lagi harus menerima siksaan dari Serena, dan perutnyalah yang akan menjadi korban tangan jahil sang istri.
“Kau dengar sendiri, kan? Sekar meminta adik. Dan itu berarti, kita harus sering membuatnya dan pergi bulan madu. Bukankah itu juga keinginanmu?” bisik Joni.
.
.
.
***
2 Bab dulu ya, buat pemanasan. Kalau Si_Ro udah bener-bener fit, pasti rajin up kok.
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.