KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 102


Setelah pergulatan panas di atas ranjang, laki-laki itu segera melepaskan diri dan berguling ke samping. Dia seolah jijik dengan tubuhnya sendiri yang basah bersimbah peluh sisa percintaan. Lalu dengan sigap dia menepis tangan berkuku panjang yang mulai mengelus dadanya dengan gerakan menggoda.


“Kau harus membantuku menemukan wanita itu!” perintahnya pada sesosok wanita seksi yang terus saja menempel padanya. Wanita itu menggeliat manja, tubuhnya mulus dengan tanpa sehelai benang pun yang melekat pada dirinya. Dia terlihat masih kurang puas dengan layanan yang baru saja dia terima.


“Itu tergantung perlakuanmu padaku,” sepasanag gigi taring menyembul dari mulut sang wanita saat dia menampilkan seringai mengerikan.


“Ck! Aku akan mencarikan seorang perjaka untukmu. Tapi sebelum itu, kau harus kerjakan dulu apa yang aku minta.”


“Hem… itu mudah, saaangat mudah hii hiii hii…”


Tampilan wanita berambut panjang dengan wajah cantik, serta lekukan tubuh yang pas di tempatnya, pasti akan dengan mudah membuat para pria bertekuk lutut padanya. Untuk yang tidak tahu siapa identitasnya tentu tidak akan bisa menolak pesonanya.


“Bisakah kita melakukannya sekali lagi?”


“Minggir! Aku punya banyak pekerjaan lain, selain harus tidur denganmu!” bentak sang pria marah.


“Besok aku pasti akan membawa wanita yang kau inginkan itu. Tapi perlu kau tahu, saat ini aku tidak butuh perjaka, aku hanya menginginkan tubuhmu saja hi hii hiii…”


“Dasar iblis! Kalau bukan karena takut kehilangan semua harta yang kumiliki, aku sudah membuangmu ke neraka!” batinnya kesal.


---------------------------------------------


Pagi-pagi sekali, Zahra sudah sibuk di dapur bersama dengan Bi Sari. Dia membuat bekal makanan dan juga buah-buahan segar yang kemudian untuk dimasukkan ke dalam wadah. Adit sudah berjanji kalau hari ini, dia akan mengajak Sekar untuk piknik ke tempat hiburan yang banyak terdapat permainan untuk anak-anak.


Sambil menyelam minum air, mungkin itu adalah istilah yang cocok untuk acara hari ini. Adit ingin menghabiskan waktu bersama dengan Zahra di luar rumah dengan alasana membawa Sekar jalan-jalan.


Semua anggota keluarga di rumah pun sepertinya paham akan hal itu. Serena bahkan menolak mentah-mentah ajakan Zahra karena tidak mau menjadi pengganggu. Walaupun ada Sekar diantara Zahra dan Adit, tapi setidaknya mereka tetap bisa menikmati waktu libur dengan menghabiskan waktu bersama.


“Mbak beneran ngga mau ikut?” tanya Zahra pada Serena yang baru bangun tidur.


“Ngga! mbak lagi males. Mbak nitip Sekar aja ya! Jagain yang bener.”


“Iya mbak, beres.”


“Cepetan beres-beresnya, Adit udah nungguin di depan tuh!” perintah Serena.


“Sekar dimana?”tanya Zahra.


“Tadi sih lagi ganti baju sama papanya di atas, sebentar lagi juga turun.”


“Jangan lupa bawain baju renang dan baju ganti ya mbak, soalnya nanti kita mau main pasir juga, kata Adit.”


“Iya, udah disiapin dari semalem kok.”


Serena mencomot beberapa kentang goreng baru matang yang tersisa di meja. Karena sebagian banyak sudah Zahra ambil sebagai bekal Sekar di tempat wisata nanti. Baik Sekar maupun Serena, keduanya sama-sama menyukai makanan garing dan gurih satu itu.


Setelah semua bekal tertata rapi, Zahra langsung berlari ke dalam kamarnya untuk berganti baju dan sedikit berdandan. Ini adalah jalan-jalan pertamanya dengan Adit. Biasanya mereka hanya akan berangkat atau pulang kerja bareng, sebagai ganti acara kencan layaknya pasangan lainnya.


-


Sementara itu di kamar Serena, Joni sibuk membantu mengganti baju dan mempersiapkan tas berisi keperluan Sekar yang nanti akan dibawa. Sejak hadirnya Sekar ditengah keluarganya, laki-laki itu terbiasa untuk ikut mengurusi kebutuhan sang putri. Bahkan tangannya sudah bisa mengepang rambut Sekar dengan rapi. Awalnya tentu dia kesulitan, tapi seiring berjalannya waktu dan seringnya latihan, Joni pun menjadi ahli untuk urusan menguncir ataupun mengepang rambut Sekar.


“Papa…” panggil Sekar.


“Hem?” Joni mengalihkan pandangannya dari tas gendong milik Sekar. “Ada apa?” tanyanya.


“Hari ini papa jangan pergi kerja ya! Papa jangan pergi kemana-mana, papa harus temenin mama di rumah.”


“Iya sayang, hari ini papa akan di rumah. Papa yang akan menjaga mama dan adek.”


“Janji ya pah!” ucap Sekar sambil mengacungkan jari kelingkingnya pada Joni.


“Ada apa denganmu hari ini, hem?” tanya Joni seraya mengangkat tubuh Sekar dan menempatkannya di pangkuan. “Kenapa kamu terlihat sangat khawatir? Seharusnya anak papa ini senang karena mau jalan-jalan,” Joni mencolek ujung hidung Sekar.


“Sekar takut papa…”


-


Adit mengendarai mobilnya dengan kecepatan rata-rata, menuju salah satu tempat wisata yang memiliki pemandangan laut dan pasir bersih. Saat tengah bercanda dengan Sekar, anak itu pernah mengutarakan mimpinya untuk bisa bermain di pinggir pantai dan membuat sebuah istana dari pasir. Mendengar hal itu, Adit langsung mengajukan diri untuk mengajaknya berlibur.


Zahra duduk di kursi penumpang depan dengan sesekali melirik pada Adit dan melempar senyuman. Sekar duduk di bagian tengah mobil bersama boneka kesayangannya.


“Om…” panggil Sekar pada Adit.


Adit menatap Sekar melalui kaca spion tengah,”kenapa Sekar?”


“Nanti di sana mainnya jangan lama-lama ya, Om!” pinta Sekar.


“Sekar mau jagain mama,” jawab anak kecil itu.


“Kan di rumah udah ada papa sayang… terus dua nenek kamu juga ada. Kenapa Sekar harus jagain mama?” Zahra mencoba mengurangi kegelisahan Sekar.


“Tapi Sekar juga mau jagain mama,” ucapnya sambil menunduk.


“Baiklah-baiklah. Om janji, kita di sana ngga akan lama-lama, ok!”


---------------------------------------------


Sinar terang mulai meredup seiring kembalinya matahari ke belahan dunia bagian barat, lalu berganti dengan gelap yang merayap perlahan. Senja datang lebih dulu sebelum gelap malam menguasai bumi. Dua sisi saling berlawanan yang memang diciptakan untuk datang bergantian.


Serena pun mulai beranjak dari kursi malasnya yang berada di teras. Disaat- saat seperti ini, biasanya sang suami sudah pulang dengan membawa makanan yang dia pesan sebelumnya. Tapi sepertinya, hari ini Joni akan pulang terlambat.


Kehamilan pertama Serena ini, ternyata membawa banyak perubahan pada kebiasannya sehari-hari. Dia yang biasanya sangat suka berada di dalam kamar untuk tidur atau bersantai, sekarang dia malah lebih suka berada di luar rumah. Serena tidak akan betah berlama-lama berada di dalam kamar, dia akan mudah merasa bosan sejak berhenti sementara dari pekerjaanya dan tidak punya kegiatan apa-apa.


Setiap sore, Maya atau Bi Sari akan menemani Serena untuk duduk bersantai di dekat taman kecil yang dirawat oleh Joni. Berbagai jenis cemilan sehat akan berjejer di atas meja, agar sang ibu hamil mudah mengambilnya. Serena tidak membatasi diri dengan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Buatnya yang terpenting sekarang adalah, janin yang ada dalam kandungannya bisa mendapat nutrisi yang lengkap.


“Rena… ayo masuk! Udah magrib. Mungkin jalanan macet, jadi Joni pulang terlambat. Nunggunya di dalam saja, ya?”


“Iya bu,” jawab Serena.


“Tadi bilangnya udah mau sampe, kenapa sekarang belom nongol juga?!” gerutu Serena dengan wajah kecewa.


Maya membimbing Serena masuk ke dalam rumah, lalu menutup dan mengunci pintu depan.


“Biar Rena yang nutup jendela bu!” kata Serena pada Maya.


“Kalau begitu, ibu tinggal sholat dulu ya?”


Serena mengangguk. Dia kemudian berjalan menuju jendela yang berada di depan lebih dulu. Dia menutup dan mengunci pengait jendela dan segera menutup gorden sebagai langkah terakhir.


Selesai dengan jendela depan, jendela samping rumahlah yang menjadi tujuan selanjutnya. Dia memastikan terlebih dahulu kalau pengait yang mengunci kaca jendela sudah terpasang dengan benar. Matanya meneliti satu persatu handle yang menempel di setiap jendela.


Tapi sedetik kemudian, ada hal yang tiba-tiba menghentikan kegiatan Serena saat ini. Dari ujung matanya, Serena melihat selimut kesayangan Sekar masih tergantung di jemuran yang berada di belakang rumah. Dia sempat mengerjapkan matanya untuk memastikan kalau apa yang dilihatnya itu benar adanya.


“Tumben banget Bi Sari belum ambil jemuran,” gumamnya.


Serena pun membuka kembali pintu belakang yang sudah terkunci. Dia ingin mengambil selimut Sekar yang ada di luar rumah. Tanpa perasaan takut sedikit pun, dia meraih ujung selimut dan mulai menariknya. Tapi anehnya, selimut itu sangat susah terlepas dari tali jemuran. Seolah ada yang sedang menahannya untuk tetap berada di tempatnya semula.


“Kok susah banget sih? Padahal jepitannya juga udah dicopot.”


Serena masih terus menarik-narik kain selimut yang selalu digunakan oleh putrinya. Dia khawatir kalau nanti Sekar akan mencari selimut miliknya sebelum tidur, jadi dia tetap berusaha mengambil selimut itu.


Ihii hii hiii… hii hii hiii…


Bulu kuduk Serena langsung meremang, tatkala telinganya bisa dengan jelas mendengar suara tawa seorang wanita. Suara yang terdengar nyaring itu seolah sedang menertawakan dirinya. Entah dari mana asal suara itu, tapi yang jelas saat ini Serena merasakan takut luar biasa. Tangannya yang gemetar mulai meremas ujung kain selimut yang dia pegang.


“Kenapa tubuhmu wangi sekali? Ihii hii hiii….”


Serena tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali. Kakinya terasa sangat berat dan sulit untuk melangkah.


Kuku yang menempel di tali jemuran itu lama kelamaan makin terlihat memanjang. Lalu rambut panjang berwarna putih, mulai menjalar sedikit demi sedikit sampai akhirnya membungkus selimut hingga hilang tak terlihat.


Ternyata selimut Sekar yang dilihat oleh Serena bukanlah selimut yang sebenarnya. Itu hanyalah rambut milik iblis yang sengaja datang untuk menggodanya agar keluar rumah.


.


.


.


***


Maaf ya harus di cut.


Authornya tiba-tiba merinding, jadi dilanjuti besok aja ya. Karena kalau ini dilanjutin, bisa-bisa Si_Ro besok ngga bisa nulis buat up.


Kapoklah nulis malem, besok-besok nulisnya mau siang aja.


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.