KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 57.



Juan memasuki ruangan kedap suara yang dulu pernah digunakan untuk mengurung Serena disana, merebahkan dirinya dan mencari posisi ternyaman untuk kemudian memejamkan mata dan keluar dari tubuh itu.


Sebelum itu, dia sudah memberikan perintah pada semua anak buahnya untuk menghandle semua urusan yang berhubungan dengan club malam paling terkenal miliknya dan melarang siapapun untuk tidak mengganggunya selama dia belum keluar dari ruangannya.


Dia akan pergi ke tempat Ni Maryam untuk mendapat pertolongan, dia hampir kehilangan semua kekuatannya untuk menahan serangan dan juga membantu menyembuhkan luka dalam Zahra yang merupakan adik dari istrinya.


Juan sengaja tidak menceritakan apapun pada Serena, dia tidak mau membuat Serena khawatir dan merasa takut dengan musuh musuhnya sekarang. Juan juga tidak menceritakan kejadian yang telah menimpanya saat di rumah Aki pada Serena, dia jelas tahu apa tujuan musuh yang telah mendapat balasannya semalam, walau belum semuanya.


Musuh misterius yang telah menyelamatkan nyawa Sarah malam itu, belum sempat dia kenali, dan itu membuatnya ingin buru buru pergi meninggalkan Serena untuk kemudian segera kembali dan berada disisi istri tersayangnya.


Kini Juan hanya bisa pasrah dan mengandalkan bantuan Joni untuk menjaga sang istri saat ini. Berharap tidak terjadi hal hal berbahya pada Serena, selama dia tinggalkan. Dia benar benar memerlukan waktu untuk bisa pulih seperti sedia kala dan kembali untuk melindungi gadisnya sesuai kontrak yang ada di antara keduanya.


---------------------------------------------


Serena sedang duduk di kursi selasar karena menunggu perawat yang akan memindahkan Zahra ke kamar rawat inap, sampai dia mendengar suara panggilan yang menyebut namanya. Serena membalikkan badan, mencari seseorang yang baru saja memanggilnya.


“Serena….kamu Serena kan? Kamu anaknya mas Yudi kan?”


Serena mengernyitkan dahi, mencoba mengingat ingat wanita paruh baya yang sedang berdiri di depannya.


“Kamu lupa sama mama?” wanita itu memaksa Serena untuk mengenalinya


“Mama?” gumam Serena bingung


“Iya, mama. Kamu lupa kalau dulu waktu masih kecil kamu suka panggil saya mama?”


Serena masih diam. Dia tetap tidak menemukan memori tentang wanita yang menyebut dirinya mama, bukan sebuah kesengajaan tapi Serena memang benar benar tidak mengenalinya


“Ya ampun Serena…mama kecewa deh, kamu lupa sama mama.” wanita itu menunjukkan wajah sedih, dan itu membuat Serena sedikit merasa tidak enak.


“Maaf…tapi saya bener bener tidak ingat siapa anda” ucap Serena terbata


“Kamu inget Adit ngga?” Tanya wanita itu pada Serena


“Adit?” gumam Serena. Tiba tiba dia teringat obrolan paginya bersama sang ibu, yang menyebutkan nama Adit teman semasa sma nya dulu. “Jangan jangan dia mamanya Adit? Tapi kayaknya dulu mukanya ngga gini deh” batin Serena


“Ya ampun…kamu juga lupa sama Adit?” Serena hanya bisa tersenyum kikuk


“Mungkin kamu lupa wajah Adit, tapi kamu harusnya ngga lupa sama mama sayang. Saya mamanya Adit, Serena” Terang wanita itu.


Benar dugaan Serena, wanita di hadapannya ini adalah ibu dari adit. Seingat Serena, keluarga adit adalah salah satu keluarga yang lumayan dekat dengannya. Dia juga sering main ke rumah Adit untuk mengerjakan tugas kelompok bersama dengan teman teman yang lain.


“Pasti kamu kaget ya, liat penampilan mama sekarang yang jadi lebih cantik? Mama bukan lagi orang miskin kayak dulu, sekarang mama bisa belanja baju baju bagus dan juga bisa pergi ke salon mahal sama seperti ibu kamu dulu. Oh iya…gimana kabar ibu kamu, masih sakit sakitan ya, atau jangan jangan kamu kesini habis nganterin ibu kamu berobat?”


Awalnya dia ingin memuji penampilan mamanya Adit itu, tapi setelah wanita itu mulai menyinggung nyinggung sang ibu, Serena mengurungkan niatnya. Sepertinya mamanya adit mulai menyombongkan diri dengan kemapanan hidupnya kini.


Terdengar suara hentakan kaki dari belakang Serena, seorang laki laki lumayan tampan berlari dan mendekat ke arah mamanya Adit “Mama dari mana aja sih? Adit nyariin dari tadi juga” pria itu belum menyadari kehadiran Serena di sana.


“Mama cuma ngobrol sama Serena kok Dit, kan mama udah lama ngga ketemu sama calon menantu mama”


Pria itu membalikkan badan dan menghadap sepenuhnya pada Serena, kedua matanya menatap Serena dengan penuh kekaguman, memancarkan kebahagiaan yang sama sekali tidak ingin dia tutupi.


Pria itu tersenyum untuk kemudian mengulurkan tangannya pada Serena “Apa kabar Serena? Akhirnya kita ketemu juga.”


Serena ikut menjulurkan tangannya untuk menyambut jabatan tangan yang ditawarkan oleh Adit padanya, Adit langsung menggenggam tangan Serena dengan erat sampai terasa sedikit menyakitkan.


Serena merasa ada yang aneh dengan jabatan tangan Adit padanya, tangan pria itu seperti menyengat dan menghisap disertai seringaian yang tergambar jelas di wajah Adit. Entah apa arti senyuman itu, tapi Serena mencium bau bahaya yang sedang mengincarnya.


“Iya Dit, aku baik. Kamu sendiri gimana?” Serena mulai basa basi


“Seperti yang kamu lihat, aku baik sehat dan juga bahagia, apalagi bisa ketemu sama kamu”


Cukup lama keduanya terus berjabat tangan yang disaksikan oleh mamanya Adit, sampai akhirnya Serena menarik paksa tangannya yang mulai memerah , karena laki laki itu seolah tidak mau melepaskannya.


Serena memalingkan wajahnya pada mamanya Adit dan bertanya “Tante kenapa bisa ada disini? Apa tante sakit?”


“Mama Serena,mama.” wanita itu menolak dipanggilan tante oleh Serena “Mama ngga pernah sakit, mama akan sehat selamanya Serena sayang, kamu ngga usah khawatir. Kalau kamu jadi menantu mama, kamu ngga akan repot mengurusi wanita tua yang tidak berguna. Mama kesini mau nengokin temennya Adit yang katanya habis dianiaya orang semalem. Harusnya kamu kenal juga, dia temen kamu sama Adit pas sma, sering main ke rumah kamu kok” cerocos Yuli, ibu Adit.


“Siapa ya tante? Eh maksud Serena, mama”


Adit berusaha memotong ucapan mamanya, dia terlihat sangat gelisah saat sang mama menceritakan pada Serena perihal temennya yang sedang sakit. Tapi Adit kalah cepat, mamanya itu lebih dulu memotong Adit yang hendak mencegahnya menjelaskan.


“Itu loh, sahabat kamu yang akrab banget, nempel terus kayak prangko. Emm…namanya kalau ngga salah Sa sa siapa yah” mamanya Adit mengetuk ngetukkan telunjuknya pada keningnya sendiri dan berseru “Sarah! Iya namanya Sarah”


“Sarah!” Serena bergumam dan begitu terkejut mendengar nama yang di sebutkan, pasalnya untuk sekarang ini Serena sudah tidak lagi bersahabat dengan orang yang bernama Sarah.


Serena meminta penjelasan dari Adit dengan tatapannya, sedangkan Adit malah terus menghindari kontak mata dengan Serena yang sedang menunggunya bersuara.


.


.


.


***


Si_Ro berusaha secepat mungkin untuk bisa up


Tapi semuanya tergantung dari antrian yang ada di meja editor mangatoon sendiri, pasti banyak novel lain yang sedang menumpuk untuk segera dapat perhatian juga


Si_Ro udah pakai timer, biar up nya bisa sesuai jadwal yang Si_Rio inginkan


Tapi lagi lagi itu juga di luar kuasa Si_Ro


Mohon bersabar dan juga maaf, untuk para reader yang sudah menunggu