KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 95


Muncul seringai tipis dibibir Joni, saat dia melihat Adit yang sedang makan bersama dengan Zahra. Pria yang hari ini baru resmi menyandang status sebagai seorang suami itu pun, merasa tidak tahan untuk menggoda. Mendudukkan Sekar di kursi yang tepat berada disampingnya dan mengajaknya berbicara, tanpa memperdulikan keberadaan Adit atau Zahra. Seolah mereka adalah makhluk tak kasat mata dan tak terlihat.


“Sekar…” panggil Joni sambil berjalan menuju kulkas untuk mengambil cake sesuai keinginan gadis kecilnya.


“Iya papa.” Sekar menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung, tak sabar menunggu Joni untuk memberinya makanan.


“Sepertinya sebentar lagi anak papa akan memiliki seorang paman atau om”


Ukhuk ukhuk ukhuk


Adit tersedak. Dia bahkan memuncratkan sedikit makanan yang sedang dikunyahnya karena mendengar kata-kata Joni. Adit merasa kalau kata-kata yang diucapkan oleh Joni sengaja ditujukan padanya.


“Paman atau om itu apa, papa?” tanya polos Sekar yang sedang memakan cake pemberian Joni.


Joni semakin melebarkan senyum dengan pertanyaan yang diajukan putrinya. Dengan ujung matanya, Joni bisa melihat gerak gugup dari Adit. Sementara Zahra tertunduk malu-malu.


Sedikit melirik ke arah Adit, Joni menjawab. “Paman atau om itu adalah suami dari tante Zahra, kalau nanti dia sudah menikah.”


“Benarkah?” tatapan Sekar beralih pada Zahra.


“Sekar mau punya om, tante Zahra kapan menikah?” tanya Sekar dengan bibir berlumur krim.


Keterkejutan Adit terpampang nyata. Matanya melebar sempurna dengan dahi berkeringat. Yang mendapat pertanyaan dari Sekar adalah Zahra, tapi dia yang yang menjadi gugup. Semua makanan yang masuk ke dalam mulutnya tiba-tiba terasa hambar.


“Nanti sayang… kalau ada laki-laki yang berani datang ke rumah ini untuk melamar, itu berarti tante Zahra akan segera menikah.”


Joni mewakili Zahra untuk menjawab pertanyaan Sekar.


“Apa belum ada laki-laki yang mau melamar tante?” tanya Sekar.


“Mungkin ada, tapi dia tidak berani.”


“Siapa yang tidak berani?” Serena ikut nimbrung. Dia memangku dan menarik tangan mungil Sekar yang sedang memegang sendok berisi cake ke arah mulutnya. “Hemm, enak. Apalagi disuapi sama anak mama yang cantik ini.”


“Siapa yang tidak berani?” ulang Serena.


“Kata papa, Sekar akan punya om kalau tante Zahra menikah.” Serena mengangguk setuju dengan ucapan Sekar. “Tapi belum ada yang berani melamar tante Zahra,” tambah gadis kecil itu.


Serena dan Joni saling bertukar pandang dan tersenyum.


“Sebenarnya kapan kalian mau menyusul?”tanya Serena pada Adit dan Zahra.


“Menyusul apa Mbak Rena?” tanya Zahra bingung. Sementara Adit masih terdiam, menegakkan punggungnya dengan kaku.


Mengalihkan pertanyaan Zahra, Serena berucap pada Adit. “Apa lo harus nunggu adik gue yang gerak lebih dulu?”


“Emm… gue cuma takut dia akan nolak…” ucap Adit pelan namun masih terdengar oleh telinga Zahra, dan gadis itu langsung bereaksi.


“Zahra ngga nolak kok!” sergah Zahra cepat tanpa tahu malu.


“Cieeee…” goda Serena dan Joni bersamaan.


Adit menganga melihat wajah Zahra yang menatapnya serius. Dia tidak menyangka kalau akan mendengar jawaban seperti itu.


“Lo udah dengar kan, apa jawaban adik gue? Bahkan sebelum lo ngomong dia udah menerima lo duluan.” Serena memperjelas pendengaran Adit.


“Benarkah?” tanya Adit masih tidak percaya, dan Zahra mengangguk penuh semangat.


“Kalau begitu kita udah resmi jadian?”


Zahra lagi-lagi mengangguk senang. Senyumnya bertambah lebar ketika dia merasakan Adit menggenggam tangannya di bawah meja. Mereka tidak lagi meneruskan makan, karena perut mereka langsung terasa kenyang. Kenyang dengan cinta yang baru saja bermekaran.


Tapi sayangnya, senyuman Zahra tidak bertahan lama.


“Kayaknya rame banget, lagi pada ngomongin apa?” tanya Maya, ibunya Serena yang baru saja ikut duduk di salah satu kursi meja makan. Adit segera melepaskan genggaman tangannya, dan itu membuat Zahra merasakan kehilangan.


“Sepertinya… menantu ibu akan bertambah satu lagi,” ucap Serena mendahului Joni.


Satu-satunya orang yang menjadi tersangka dengan ucapan Serena adalah Zahra, dan mata Maya langsung mengarah padanya.


“Benarkah itu Zahra?” tanyanya antusias. Tapi Zahra hanya menunduk, dia takut ibunya akan marah.


“Heh… dulu waktu ibu minta salah satu dari kalian untuk menikah, kalian kompakan buat nolak keinginan ibu. Sekarang, tanpa ibu minta, kalian malah…” Maya menggantung ucapannya, dan itu sukses membuat Adit maupun Zahra sama-sama merasakan kecewa. Mereka berpikir kalau Maya akan menolak hubungan keduanya yang baru saja terjalin.


Serena beradu pandang dengan ibunya, menggerak-gerakkan bola matanya ke arah Zahra dan Adit secara bergantian. Dan betapa terkejutnya wanita tua itu, saat dia mengerti apa arti dari kode yang diberikan oleh Serena.


“Zahra! Kamu pacaran sama Adit?!” ucapnya dengan nada yang sedikit meninggi.


Zahra yang mendengar pertanyaan ibunya, berjingkat dari kursi. Namun Adit segera menenangkannya dengan kembali menyentuh tangannya di bawah meja.


“Jawab Ibu!” perintah Maya tidak sabar. Bi Sari yang masih membereskan rumah setelah pernikahan tadi siang pun langsung berlari karena mendengar suara keras dari majikannya.


“Ehm… iya bu.”


Adit menjawab pertanyaan yang ditujukan pada Zahra. Pemuda itu merasa tidak perlu menyembunyikan apapun, apalagi tentang hubungannya dengan Zahra. Kalau pun nantinya Maya menolak, setidaknya dia sudah mengutarakan sebuah kebenaran.


Joni dan Serena ikut tegang menunggu apa yang akan dikatakan oleh ibunya. Sedangkan Sekar sudah turun dari pangkuan Serena dan berlari ke arah Bi Sari yang memanggilnya dengan lambaian tangan.


“Kenapa tidak bilang dari tadi!” kata Maya.


“Apanya bu?” tanya Serena.


“Ya itu, kenapa adik kamu ngga bilang ke ibu kalau dia pacaran sama Adit. Kalau tahu gitu kan tadi sekalian saja diresmikan. Walaupun kata orang jawa, ibu tidak bisa menikahkan dua anak sekaligus dalam waktu satu tahun, setidaknya kalian kan bisa bertunangan dulu.”jelas Maya.


“Jadi ibu tidak marah?” tanya Zahra pelan.


“Jelas ibu marah! Kenapa tadi kalian diam saja, kenapa kalian tidak jujur saja sama ibu, kalau kalian itu menjalin hubungan, hah!”


“Ee.. soal itu… kita baru saja jadian bu,” Adit bersuara untuk membela Zahra.


“Ck kalian ini! Pokoknya ngga usah lama-lama pacaran. Mau tunangan dulu atau tidak, yang penting tahun depan ibu mau kalian udah siap untuk menikah! Apa kalian mengerti?”


“Iya bu,” jawab kompak Adit dan Zahra sambil tersenyum.


-


Sebesar apapun kebahagiaan yang dirasakan oleh Zahra hari ini, dia tetap membutuhkan waktu untuk memantapkan hati. Ia perlu merasa yakin kalau Adit juga menginginkannya. Waktu setahun yang diberikan oleh ibunya, sepertinya sudah cukup.


Zahra tahu sebesar apa cinta Adit untuk Serena, kakaknya. Tapi melihat keseriusan pria itu, Zahra pun membuka lebar kesempatan. Sejak jaman Serena dan Adit masih sekolah SMA, Zahra sudah sering mencuri-curi pandang saat pria itu main kerumahnya.


Zahra berharap, cinta pertamanya ini akan berjalan baik. Tidak seperti perasaan Adit pada Serena dulu.


-


“Sekar… malam ini tidur sama tante ya?” rayu Zahra pada Sekar yang sedang asik nonton tv bersama Maya dan Joni. Gadis kecil itu sudah berganti baju tidur, dan terlihat menunggu Serena yang sedang mandi.


“Sekar mau tidur sama mama,” jawabnya tanpa menoleh.


“Tapi tante takut sendirian, Sekar mau ya nemenin tante?”


“Nanti mama tidur sama siapa?” kali ini Sekar memasang wajah polos ke arah Zahra.


“Mama biar tidur ditemenin sama papa aja. Ok? Mau ya mau ya?” Zahra masih terus berusaha dengan mengatupkan kedua tangan.


“Kalau Sekar nemenin tante Zahra tidur, papa ngga marah kan?” tanya Sekar pada Joni.


“Cih mana mungkin marah! Papamu itu malah akan senang setengah mati, karena tidak ada yang akan mengganggunya mengerjakan pr.” batin Zahra.


“Iya sayang, papa ngga marah.” Joni mengusap lembut pucuk kepala Sekar, dan memberinya ciuman selamat malam.


“Ayo tante! Sekar udah ngantuk. Selamat malam nek, selamat malam papa…” pamit Sekar sambil lalu.


Zahra menepuk ringan dadanya sendiri, menunjukkan kesombongan pada Joni karena berhasil membujuk Sekar untuk ikut dengannya. Dan Joni hanya membalasnya dengan sebuah gelengan.


“Ibu juga mau istirahat Jon, udah ngantuk banget nih.” Maya meninggalkan ruang keluarga.


Karena tidak tahu harus melakukan apa, Joni yang ditinggal sendirian pun ikut bangkit menuju kamarnya. Tepat saat Joni melewati depan kamar Serena, pintu itu terbuka. Menampilkan wajah segar Serena yang baru saja selesai mandi.


“Sekar ada dimana?” tanya Serena yang masih mengeringkan rambut dengan handuk kecil.


“Zahra mengajak Sekar tidur di kamarnya.”


“Ooh... Bang Jon sendiri mau kemana?” tanya Serena yang melihat Joni berjalan melewatinya.


“Ke kamarku, di belakang.”


“Hah!”


“Kenapa?”


“Hah?!”


Wajah tercengang yang ditampilkan oleh suaminya, membuat Serena menjadi gemas dan juga kesal. Ada rasa kecewa terselip, karena merasa laki-laki itu tidak benar-benar menginginkan pernikahan ini terjadi. Tapi dia merasa kalau Joni perlu diingatkan dengan statusnya saat ini.


“Hari ini kita sudah resmi menikah, dan Bang Jon malah bilang mau tidur di kamar belakang?”


“Ehm… itu… Bang Jon bukan…”


“Ck!” Serena berbalik dan meninggalkan Joni tanpa menutup pintu. Membiarkan suaminya memilih untuk masuk ke kamarnya atau pergi meninggalkannya di malam pertama mereka.


Dengan langkah kaku, Joni memaksa kakinya berjalan dan masuk ke dalam kamar Serena. Dia takut Serena akan salah paham dengan sikapnya tadi. Pria itu duduk tepat di samping Serena yang terlihat sedang marah karena memalingkan mukanya dari Joni.


“Maaf mbak,” ucapnya lirih.


“Rena tahu kalau Rena bukan wanita yang baik hiks. Rena juga tahu kalau Bang Jon terpaksa menikahi Rena karena syarat dari Ni Maryam hiks hiks. Rena ngga akan maksa Bang Jon buat mencintai Rena seperti Rena mencintai Bang Jon. Rena cuma minta Bang Jon bersikap biasa kalau sedang di depan keluarga…”


Ucapan Serena terhenti kala dia merasakan mulutnya dibungkam. Matanya yang tadi mengalirkan kristal bening, mengerjap berulang kali. Seolah masih tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.


Joni melepas pertautan bibirnya dengan Serena. Memberikan senyuman sambil mengusap lembut bibir Serena yang baru saja dia cicipi.


“Kenapa kau jadi brisik sekali? Apa kau akan menghabiskan waktu malam pertama kita dengan terus mengoceh tidak jelas?” tanya penuh dengan tatapan menggoda.


Pipi Serena bersemu merah. Dia yang tadinya begitu menggebu-gebu untuk mengutarakan isi hati, sekarang hanya bisa terdiam. Joni mampu menundukkannya hanya dengan kecupan ringan.


“Tadinya akulah yang merasa sangat takut. Takut karena berani menikahi Mbak Rena yang masih dalam keadaan belum sadar. Bahkan saya udah berpikir kalau akan menjadi duda dihari pertama menjadi suami. Cinta saya buat Mbak Rena tidak perlu diragukan, jadi jangan pernah berpikir kalau saya menikahi Mbak Rena karena terpaksa.”


“Benarkah?”


“Mbak Rena pernah bertanya, apa arti Mbak Rena buat saya? Dengan jelas saya katakan bahwa, Mbak Rena adalah wanita yang paling ingin saya jadikan sebagai teman hidup. Baik dalam keadaan susah ataupun senang. Saya mau menjadi tempat Mbak Rena pulang, memberikan perlindungan dan kenyamanan.”


Mendengar ucapan Joni, air mata Serena kembali mengalir. Selama ini dia merasa tidak percaya diri untuk mengharap cinta Joni karena sadar dirinya yang penuh dengan dosa. Bahkan laki-laki yang sedang menatapnya itu pun tahu semua keburukan yang pernah dia lakukan.Tapi nyatanya hari ini, pria yang sangat dia harapkan itu malah memberinya begitu banyak kebahagiaan.”


“Apa sudah jelas?” tanya Joni sambil menghapus jejak air mata di pipi istrinya.


“Ada yang kurang.”


“Apa?”


“Bisakah kau mengubah panggilanmu? Telingaku jadi sakit mendengar kau memanggilku dengan sebutan Mbak Rena Mbak Rena. Kau harus merubahnya sekarang juga!” tangan Serena memukul lengan Joni.


“Kau mau dipanggil apa, hem?” tanya Joni dengan memeluk tubuh Serena.


“Sama dengan Sekar.”


“Apa?” tanya Joni bingung, namun tetap tidak melepaskan tubuh Serena dari dalam pelukannya.


“S A Y A N G. Sa yang. Sayang! Aku mau dipanggil begitu.”


Joni tersenyum mendengar permintaan Serena, istrinya. Tidak menyangka kalau wanita itu akan meminta panggilannya sama dengan Sekar. Itu bukan hal susah, dan Joni akan dengan mudah memberikan apa yang diminta oleh istrinya.


“Baiklah, itu mudah. Lalu, kau akan memanggilku apa?”


“Emm… Mas! Mas Joni! Gimana? Kau setuju?”


“Sepertinya itu bagus.”


“Dan mulai sekarang, kita harus menggunakan kata aku kamu. Walaupun suatu hari nanti kita bertengkar, kita sama-sama tidak boleh mengubah panggilan jadi lo gue. Mas ngerti?”


Joni melepas pelukannya. Menatap mata istrinya dengan dalam.


“Kenapa?” tanya Serena yang bingung dengan sikap suaminya tiba-tiba.


”Ulangi!”


“Apa?”


“Ulangi kata-kata yang terakhir!”


“Yang… mas mengerti? Begitu?”


“Iya. Ulangi!”


Serena tidak menurut. Dia malah bergerak cepat mengecup pipi Joni. Lalu menunduk malu.


“Wah.. ternyata istriku ini pandai memancing ya.”


“Memancing apa?”


“Memancingku untuk segera mengerjakan pr.”


“Pr? Pr apa?” Serena tidak mengerti dengan maksud suaminya.


“Aakhh!” Joni mengangkat tubuh Serena dan membawanya ke atas ranjang. Lalu pelan-pelan dia meletakkan istrinya di atas kasur.


“Bolehkan?” tanyanya sambil memegang salah satu tali gaun tidur Serena.


“Iya.” Anggukan Serena yang memberinya izin, membuat Joni tidak lagi ingin menahan diri untuk menikmati waktu berdua bersama istrinya.


Malam pertama Joni dan Serena berlangsung layaknya malam pertama pasangan normal lainnya. Penyatuan dua tubuh manusia yang dilakukan atas dasar suka sama suka dan telah diresmikan secara hukum agama dan negara. Malam ini, hanya ada kebahagiaan yang menjadi milik keduanya.


-


“Apa semalam di kamar mama banyak nyamuk?” tanya Sekar pada Serena yang baru duduk di samping Sekar.


“Memang kenapa sayang?” tanya Zahra yang penasaran dengan maksud keponakannya.


“Leher mama merah-merah. Pasti nyamuknya besar-besar ya mah?”


Mendengar pertanyaan polos Sekar, semua yang ada di meja makan pagi ini untuk sarapan pun tertawa lepas.


Serena dan Joni saling melempar senyum malu. Semalam mereka terlalu bersemangat sampai lupa diri. Lupa kalau apa yang mereka lakukan semalam, pasti akan menimbulkan kehebohan pada esok hari.


“Iya Sekar. Nyamuk di kamar mama kamu itu, gedee banget. Jadi jangan tidur di kamar mama lagi ya mulai sekarang!” Zahra mempengaruhi pikiran Sekar.


“Iya tante.”


Sarapan berakhir dengan penuh canda tawa.


“Kapan kalian akan mulai menyekolahkan Sekar?” tanya Maya.


.


.


.


***


Si_Ro tidak bisa menjabarkan tentang MP Joni dan Serena secara mendetail. Si_Ro harus mematuhi larangan yang tertulis di dalam kontrak. Karena kalau tidak, cerita ini ngga akan berlanjut bahkan akan dihapus oleh pihak mangatoon.


Jadi buat yang berharap lebih, maaf harus mengecewakan.


Buat yang tanya apakah cerita ini akan segera tamat, Si_Ro jawab belum.


Serena dan Joni masih harus menghadapi rintangan sekali lagi sebelum anak mereka lahir, dan hidup bahagia.


Wah… jadi spoiler kan authornya.


Buat yang belum bosen, semoga masih mau nunggu kelanjutannya. Karena Si_Ro akan usahakan untuk bisa up setiap hari.


Tapi untuk yang udah bosen dan menganggap cerita ini kepanjangan kayak sinetron tukang bubur naik haji yang panjangnya melebihi gerbong kereta dan bertele-tele, Si_Ro tidak bisa melakukan apa-apa.


Selera milik semua orang. Tidak ada paksaan untuk menyamakan diri dengan apa yang disukai oleh orang lain.


Semoga semuanya tetap menjaga toleransi.


Dengan banyaknya kasus covid 19 yang lagi merebak, author setulus hati berdoa semoga semua pembaca terhindar dari virus itu.


Jaga kesehatan, rajin berjemur dan makan makanan yang sehat.


Walaupaun ada peringatan social distancing, tapi kita tetap bisa menghabiskan waktu dengan hati gembira. Salah satunya dengan membaca ceritaku ini. 😊😊


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.