
Pesawat yang ditumpangi oleh Sarah dan Bram sudah mendarat mulus di Bandara Incheon Internasional, Korea Selatan. Mobil hitam dengan logo huruf H yang tercetak miring, buatan asli negara tersebut menyambut kedatangan mereka di pintu keluar bandara.
“Selamat datang, Tuan dan Nyonya. Saya adalah orang yang akan menjadi pemandu sekaligus sopir, selama Tuan dan Nyonya berada di negara ini. Panggil saja saya dengan nama Kim.”
Seseorang yang turun dari kursi pengemudi mobil, membungkuk lalu menyapa. Membukakan pintu dan mempersilahkan Bram dan Sarah untuk masuk. Cara pengucapan laki-laki paruh baya itu sangat fasih, walau masih dengan logat yang khas.
“Antarkan kami ke hotel yang sudah saya pesan!” perintah Bram segera diangguki oleh Kim.
“Baik Tuan,” menjawab dengan patuh. Mulai menjalankan mobil dan meninggalkan area bandara, menuju tempat yang telah disebutkan oleh orang yang menjadi bosnya, untuk seminggu ke depan.
Bram melirik Sarah yang sedari tadi mencuri pandang padanya. Dia tahu, kalau wanita itu sedang memendam pertanyaan.
“Tidak sulit mencari orang yang bisa berbahasa Indonesia di sini. Uang selalu berkuasa, kau pasti tahu itu dengan baik.”
“Ck! Aku tidak bertanya,” sangkalnya sembari membuang muka.
“Aku bisa mendengar suara pertanyaan dari matamu.”
“Terserah! Aku hanya tidak menyangka, kalau orang sepertimu bisa pintar juga. Bangunkan aku kalau sudah sampai hotel,” ucap Sarah. Dia mulai mencari posisi nyaman dan mulai memejamkan mata. Bukan karena mengantuk, tapi dia menghindari obrolan yang menurutnya tidak menarik.
“Kau yakin mau tidur? Banyak pemandangan indah di sini. Jauh-jauh kau datang ke negara ini, tapi kau malah mau tidur?”
“Aku bisa melakukan itu nanti. Dan tentunya tidak saat bersamamu!”
“Kau tidak ingin langsung mencari mereka?” Tanya Bram.
Sarah tahu siapa yang di maksud dengan ‘mereka’ oleh Bram. Dia berfikir sejenak, lalu menjawab. “Biarkan mereka bersenang-senang dulu. Aku akan menemui mereka, saat aku sudah siap dengan rencanaku.”
“Baiklah,” Bram menahan diri untuk bertanya, kembali. Dia mengkhawatirkan Serena, yang mungkin akan ikut terkena imbas dari rencana licik yang sedang dirangkai oleh otak jahat Sarah.
-
“Farrel… apa kau punya waktu untuk menemaniku jalan-jalan? Aku bosan.”
Bukan menjawab, Farrel malah memeluk Sherly dan mencium puncak kepalanya. “Aku selalu punya waktu untukmu, jadi kenapa kau harus bertanya,hem?”
“Dari tadi kau sibuk, aku takut mengganggumu.”
“Aku hanya mengecek keadaan kantor.”
Farrel meletakkan laptop yang sedari tadi berada di pangkuannya. Bergeser dan mendekat pada sang kekasih yang sedikit mengerucutkan bibirnya. “Ada tempat yang ingin kau kunjungi?”
Sherly mengangguk.
“Kalau begitu bersiaplah, tapi jangan dandan terlalu cantik. Aku tidak mau ada laki-laki yang menatap lapar padamu, selain aku tentunya. Kau mengerti?” Ucap Farrel sembari mendaratkan bibirnya ke bibir Sherly.
“Ck posesif banget sih!”
“Itu harus. Menjaga seorang wanita secantik dirimu, aku harus extra posesif. Sudah sana… jangan banyak membantah,” Farrel menyempatkan diri untuk mengecup pipi Sherly, dan membiarkannya berlalu.
-
Serena masih betah bersender di dada suaminya, hanya dengan mengenakan pakaian dalam saja. Sejak pagi keduanya tidak pernah meninggalkan kamar, kecuali saat harus ke kamar mandi. Bahkan untuk makan, mereka lakukan juga di kasur. Memesan layanan kamar untuk mengantar makanan yang mereka inginkan.
“Mau kemana mas?” Tanya Serena. Karena Joni tiba-tiba menggeser kepalanya dan bangkit dari kasur.
“Ke kamar mandi. Kamu mau ikut?” Joni bertanya dengan nada menggoda. Tidak lupa, kedua alis yang dia naik turunkan.
“Genit! Ngga ah. Aku mau nunggu kamu disini aja.”
Joni segera masuk ke dalam kamar mandi, tidak lupa mengunci pintunya.
“Ada apa?” Tanya Joni. Cermin di depannya menampilkan Jin Braja dengan wajah serius.
“Ada bahaya.”
“Apa maksudmu? Apa ini berhubungan dengan Rena?”
“Laki-laki itu ada di negara ini. Dia datang bersama seorang wanita. Walaupun bukan Serena yang mereka incar, tapi tidak ada salahnya untuk berhati-hati.”
“Bagaimana bisa? Darimana mereka tahu kalau kita ada di negara ini?”
“Dia punya anak buah yang terus mengikuti kita, dari sejak berangkat dari Indonesia.”
“Baiklah. Aku akan lebih berhati-hati.”
“Satu lagi!” Braja mencegah langkah Joni yang hampir menyentuh pegangan pintu kamar mandi.
“Apalagi?”
“Jangan meninggalkanku di cermin ini lagi. Mulai sekarang, aku harus ikut kemanapun kau dan Serena pergi. Aku tidak mau mengambil resiko.”
“Baiklah. Aku tahu,”Joni menyanggupi. Sebelum berangkat bulan madu, Joni dan Braja sudah membuat kesepakatan. Braja diperbolehkan ikut, tapi dia harus mau ditinggal di cermin sewaktu Serena dan Joni pergi. Dan Braja bersedia jadi penunggu kamar mandi, untuk sementara.
Tok tok tok
“Mas! Lama banget, ngapain sih?”
Ceklek
“Cie… kangen ya? Baru juga ditinggal sebentar, udah uring-uringan.”
“Abisnya lama! Kayak cewek aja kalau lagi di kamar mandi.”
“Ih kata siapa, cuma cewek doang yang lama kalau lagi di kamar mandi? Cowok juga banyak yang lama. Apalagi kalau dia lagi main solo,” ucap Joni sambil berjalan melewati Serena.
“Main solo?” Tanya Serena bingung.
“Iya.”
“Main solo apa di kamar mandi? Main itu yang enaknya ya sambil rebahan di kasur atau duduk di sofa yang empuk. Main kok di kamar mandi, emang ngga takut handphonenya kesiram air.”
Joni tersenyum dan menggelengkan kepala. Istrinya salah pengertian. “Karena kalau main di kamar mandi, ada sensasi tersendiri sayang. Kita juga pernah, bahkan sering. Tapi bedanya, aku ngga main solo. Kalau kamu masih ngga ngerti, aku dengan senang hati mempraktekkannya.”
Serena yang sudah mengerti ikut tersenyum. “Ayo!”
“Kamu ngga capek? Aku udah nindih kamu dari semalem loh sayang,” ucap Joni khawatir.
“Memang itu tujuan dari bulan madu kita, kan? Dan sekarang biar aku yang nindih kamu. Atau… pake cara lain yang tidak saling menindih. Gimana, masih sanggup?” Serena benar-benar meruntuhkan pertahanan Joni.
“Ok! Siapa takut,” Joni mengangkat tubuh istrinya tanpa mau membuang-buang waktu. Keinginan Serena adalah perintah untuknya.
.
.
.
***
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.