KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 30.



Sudah dua jam Bang Jon berada di dalam ruang oprasi. Dokter harus mengeluarkan peluru yang bersarang di perutnya, setelah itu baru mengobati luka luka lain yang sudah membiru. Zahra menunggu dengan tidak sabar. Pikirannya kini bercabang. Memikirkan Serena yang sedang menjadi tawanan, dan juga memikirkan keselamatan Bang Jon yang masih berjuang antara hidup dan mati.


Seorang perawat keluar dan lari tergesa gesa. Zahra tahu benar apa arti dari semua ini. Ada hal buruk yang sedang terjadi. Bang Jon pasti tidak dalam keadaan baik. Kondisinya pasti membutuhkan penanganan lebih.


Perawat yang tadi telah kembali. Zahra sejenak menghalangi langkah dari perawat itu.


“Ada apa dengan pasien?” Tanyanya penuh rasa khawatir


“Pasien kritis. Dia butuh tranfusi karena sudah mengeluarkan darah terlalu banyak” jawab perawat yang telah meninggalkan Zahra tanpa dia sadari


Tubuh Zahra gemetar. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menolong Bang Jon. Dia memang seorang dokter, tapi dia baru akan magang minggu depan. Tentu pengalamannya masih sedikit. Laki laki itu sudah menjadi supir Serena cukup lama. Bang Jon mampu membuat keluarganya sedikit terasa sempurna.


Pertama kali Zahra bertemu dengan Joni adalah saat dia masih sekolah menengah atas, menjelang kelulusan. Lelaki pendiam itu sangat suka menyendiri. Dia tidak akan membuka obrolan terlebih dahulu pada lawan bicaranya, kecuali ditanya.


Zahra juga bisa merasakan kasih sayang seorang kakak laki laki dari sosok Bang Jon. Teman sekolahnya pernah merasakan bogem mentah pria itu, saat mencoba berbuat kurang ajar pada Zahra yang sedang ikut merayakan kelulusan disekolahnya.


“Bertahanlah Bang Jon. Please….” do’anya terus tanpa putus


------------------------------------------


PLAK


Yudi menampar pipi Serena dengan keras.


“Jaga ucapanmu! Ibumu yang sakit sakitan itu benar benar membuat hidupku susah. Dia tidak bisa melahirkan anak laki laki untukku. Dia malah melahirkan anak anak yang tidak berguna seperti kalian”


Serena menatap nanar laki laki yang berstatus sebagai ayahnya, sambil memegang pipinya yang terasa panas. Laki laki yang harusnya menjadi penjaga dan pelindung keluarga itu, kini terlihat seperti setan dimatanya.


Yudi masih menatap Serena dengan tatapan yang penuh dengan kemarahan, jiwanya merasa sangat terhina dengan ucapan sang putri. Yudi tidak pernah memberikan kasih sayangnya pada Serena maupun Zahra sejak kelahirannya.


Begitu besarnya keinginan untuk memiliki anak laki laki sudah membutakan mata dan hatinya. Ditambah lagi dengan kebiasaan dan hobinya yang senang berada di meja judi dengan dikelilingi wanita, telah merubahnya menjadi seorang ayah terlaknat.


“Ha….haa…….” kali ini Serena malah tertawa. Menertawakan pria dihadapannnya yang masih terlihat marah.


“Dasar bodoh! Bukan ibu yang pantas kau salahkan, karena tidak bisa melahirkan anak laki laki. Bukan seorang ibu yang bisa menentukan anak yang ada dalam rahimnya itu laki laki atau perempuan. Semua itu tergantung dari laki lakinya.” Serena menarik nafas kasar


”Dosamu sudah terlalu banyak, makanya kau tidak ditakdirkan untuk memiliki anak laki laki. Bahkan Tuhan juga pasti membencimu. Jadi….jangan pernah menyalahkan ibu karena ketidakmampuanmu!”


Serena menyunggingkan senyum menghina. Tatapan matanya memancarkan kebencian yang tidak bisa lagi disembunyikan. Dia tidak terima sang ibu yang sangat dicintainya disalahkan dan disepelekan. Walaupun laki laki yang sedang berdiri dihadapannya itu berstatus ayah kandungnya, Serena tidak membuat pengecualian.


Pintu terbuka lebar. Masuklah seseorang yang diketahui sebagai salah satu anak buah laki laki sangar.


“Bos menunggumu untuk makan siang dibawah” katanya


Ingin rasanya Serena menolak, tapi perutnya memaksa untuk menerima. Dia sudah merasakan lapar, tenaganya juga telah terkuras untuk berdebat dengan Yudi.


“Katakan padanya untuk menunggu sebentar, aku harus mandi. Dan….” sejenak menghentikan ucapannya “Aku tidak mau makan semeja dengan laki laki ini” Serena menunjukkan jarinya pada Yudi yang seolah tengah menunggu untuk diajak makan bersama.


“Kau tenang saja, laki laki ini tidak akan menganggu makan siangmu bersama bos. Dia bahkan tidak pantas untuk makan semeja dengan para pelayan sekalipun” jawabnya enteng, yang langsung membuat senyum Serena merekah


“Kau pasti tahu tentang kebiasaanya yang sering meniduri para jalang kan?” Tanya pria itu pada Serena


“Iya. Tentu aku tahu”


“Kau tidak akan keberatan kan, kalau bos akan menjadikannya gig*lo dan juga pelayan di tempat ini?”


“Ha….haaa….bosmu ternyata orang yang sangat pintar” Puji Serena


Serena tersenyum melihat pria itu menyeret Yudi yang terus memberontak. Dalam hatinya merasa puas, karena bisa melakukan balas dendam tanpa harus mengotori tangannya sendiri.


“Ibu….kubalaskan sakit hatimu” batinnya


***


Mungkin akan ada yang ngga setuju dengan kekejaman Si_Ro di bab ini tentang Yudi


Sorry…


Terkadang sebuah pembalasan memang akan terasa lebih kejam


Selamat natal untuk yang merayakan


Semoga semua hal baik menjadi kenyataan


Aamiin