
Sherly membuka pintu untuk Sarah yang datang ke rumahnya, dia meringis melihat penampilan wanita itu, Sarah sangat kacau, tidak seperti biasanya yang selalu wah dan sempurna.
“Lo kenapa?”
“Gue udah ngga tahan lagi Sher” jawabnya lirih
“Ngga tahan? Maksud lo apa sih?” Sherly mengernyitkan dahi
“Gue pengen bunuh Serena secepatnya. Farrel udah ngga pernah pulang ke rumah, gara gara si jal*ang itu” dada Serena naik turun, menahan geram yang melanda
“Kenapa gara gara Serena? Ceritain yang jelas deh, biar gue ngerti”
Sarah menceritakan semua kejadian seminggu yang lalu pada Sherly secara detail, tidak tertinggal sedikitpun. Lalu dua butir air matanya turun, saat mengingat suaminya tidak melakukan apa apa ketika melihatnya di tampar oleh Serena.
Selama seminggu ini dia berdiam diri di rumah, berharap bisa melihat Farrel pulang dan menemuinya untuk kemudian minta maaf. Tapi harapan hanya tinggal harapan, Farrel benar benar tidak lagi memperdulikannya.
Sarah sudah meminta bantuan pada orang tuanya untuk membawa Farrel kembali padanya, namun kenyataanya malah semakin membuat Sarah semakin kesal. Orang tuanya sudah tidak bisa lagi menekan Farrel dengan kekuasaan mereka.
“Terus lo mau gimana sekarang?” Tanya Sherly sambil menyodorkan minuman dingin untuk Sarah
“Temenin gue ke rumah Aki”
“Sekarang?”
“Iyalah, masa nunggu tahun depan. Bisa mati berdiri gue, kalau harus liat Serena terus”
Sherly meninggalkan Sarah di ruang tamu, kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan bersiap. Sebelum itu, dia tertawa terbahak begitu memasuki kamar mandi, merasa puas karena bisa melihat Sarah begitu tersakiti.
“Gue harus berterima kasih sama lo Serena, lo udah membalaskan sakit hati gue ke Sarah. Sekarang gue hanya harus menunggu sebentar untuk melihat kehancuran hubungan Sarah dan juga Farrel” Sherly berbicara pada cermin besar yang ada di samping bathtub
Awalnya tidak ada perbincangan berarti di dalam mobil menuju rumah Aki, keduanya malah sibuk dengan handphone canggih dan mahalnya masing masing. Jika Sarah sedang mencoba menelpon Farrel berulang kali, Sherly malah hanya memandangi telepon genggamnya terus menerus.
“Lo nunggu siapa sih? Kenapa tuh hp lo liatin terus?” Tanya Sarah yang jengah melihat kelakuan wanita yang duduk di sampingnya.
Sherly menghela nafas “Gue nunggu pesan dari asisten gue” jawabnya malas
“Kenapa sama asisten lo?”
“Ngga kenapa napa, cuma disuruh nyari nomer telpon satu cowok aja lama banget” Sherly memperlihatkan kekecewaan
“Nomer telepon cowok? Siapa? Supirnya si Serena itu ya?”
Sherly menoleh, menatap tidak suka pada pada Sarah.
“Benerkan tebakan gue? Ngga usah malu” Sarah menyeringai, dan Sherly sangat tahu kalau itu adalah sebuah ejekan lagi. Lagi dan lagi
“Gue cewek normal Sarah, gue tetap memimpikan laki laki baik untuk dijadikan pendamping” ucapnya mulai emosi
“Pendamping? Wah! Seorang Sherly Bastian sedang memikirkan calon pendamping? Ck ck ck…” Sarah mengaitkan elengannya di depan dada “Tapi masalahnya bukan di elonya Sher, masalahnya adalah dia mau ngga sama lo?”
Sherly mengepalkan tangannya, nafasnya memburu dan dadanya naik turun.
“Memang salah kalau gue mengharapkan laki laki baik? Gue sama dia sama sama belum menikah, berusaha kan ngga dosa.”
“Yang dosa itu, jadi pelakor! Merebut punya orang lain, itu namanya ngga tahu malu. Udah ngga laku maksa lagi” sambungnya
“Sherly!!”
Mobil itu perlahan mengerem sampai akhirnya berhenti sempurna, membuat Sarah dan Sherly menghentikan perdebatan. Mereka telah sampai di rumah Aki.
---------------------------------------------
Zahra memasuki kamar aparteman Serena, berjalan perlahan seolah sedang menyeret kaki, tubuhnya terasa remuk di dera rasa lelah. Ternyata pekerjaanya begitu menguras tenaga, apalagi dia hanyalah seorang dokter magang yang masih perlu banyak belajar. Tapi membayangkan kembali wajah bahagia sang ibu, saat melihat dia mengenakan jubah dokter, sedikit membantu sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecil.
“Semangat Zahra” gumamnya dengan mengepalkan tangan “Harus bisa bikin ibu dan Mbak Rena bangga”
Seminggu ini Zahra memang sudah tinggal bersama dengan Serena, karena pertimbangan jarak rumah sakit yang lumayan jauh dari rumah, akhirnya Serena memberikan kunci cadangan apartemennya untuk memudahkan Zahra pulang tanpa menekan bel pintu atau harus menunggu Serena pulang kerja terlebih dahulu.
Zahra langsung menuju kulkas yang berada di dapur untuk mengambil segelas air minum, kemudian masuk ke kamar mandi untuk berendam air hangat, sejenak melepaskan penat akibat kesibukannya.
“Ternyata begini ya rasanya capek kerja. Berangkat pagi pulang sore, berangkat siang pulang malam, berangkat malam pulang pagi. Fyuh….ini belom apa apanya dibanding capeknya Mbak Rena.” Zahra bermonolog
Waktu telah berjalan selama satu jam sejak Zahra masuk ke kamar mandi, kenyamanan dari air hangat yang di padukan dengan aroma terapy membuatnya betah berlama lama di ruangan itu.
Mengambil dan memakai baju tidur yang dipilih dari dalam lemari. Baju dengan pola polkadot kecil berwarna pink itu menjadi pilihannya untuknya malam ini.
Makan malamnya sudah tersaji di atas meja, aroma yang begitu menggiurkan menarik Zahra untuk segera menghabiskannya setelah memisahkan bagian untuk sang kakak.
Tanpa sengaja, mata Zahra mengarah ke kamar khusus Serena, dia sudah mendapat peringatan untuk tidak mendekati apalagi masuk ke dalam kamar itu. Walau rasa penasaran begitu mengusik hatinya, dia tetap akan menuruti perintah Serena.
“Ngga boleh Zahra! Ngga boleh” kepala Zahra berkali kali menggeleng, membuang keinginan untuk tahu alasan apa yang membuat kakaknya tidak mengijinkan kamar itu tidak di tempati.
Zahra menyalakan tv berlayar lebar yang terpasang di ruang tamu, sengaja membesarkan volumenya, karena dia tiba tiba merasa bulu kuduknya meremang. Hawa dingin terasa begitu menusuk kulitnya, padahal ac sama sekali tidak menyala.
“Kapan Mbak Zahra pulang yah, kenapa gue jadi merinding sih?” gumamnya
Jemarinya bergerak cepat untuk menelpon seseorang, kakinya bergetar ketika nomor yang dihubungi tidak langsung memberi respon.
“Hallo….hallo Bang Jon! Bang Jon dimana? Bisa ke aparteman mbak Rena sekarang ngga? Zahra sendirian nih, Zahra takut Bang Jon” nada bicara Zahra terdengar memelas penuh permintaan pertolongan.
“Tunggu sebentar” balasan yang di dengarnya tetap tidak bisa memberikan rasa lega
“Cepetan ya”
Zahra menggigit ujung jari jarinya, keringat dingin mengalir dan membasahi keningnya, dia sangat takut saat ini.
“Cepetan Bang Jon, mbak Rena…hiks hiks”
Tiba tiba…..dip
“Aakhh…….” Zahra berteriak sangat kencang
Lampu aparteman Serena mati, membuat Zahra secara spontan berjenggit, menyembunyikan wajahnya dengan bantal sofa yang bisa diraihnya.
Tok tok tok
“Zahra! Zahra! Ini Bang Jon, buka pintunya”
Sejenak Zahra terdiam, memastikan kalau dia tidak sedang bermimpi dengan suara yang baru saja didengarnya.
Tok tok tok
“Zahra! Ini Bang Jon”
Serena berjalan perlahan menuju pintu, dia mengandalkan cahaya yang berasal dari tv sebagai penerangan langkahnya.
“Aaww….sakit” kakinya tanpa sengaja tersandung dan terbentur meja yang dilewati
Tok tok tok
“Zahra…kamu kenapa? Cepat buka pintunya” Joni terus berteriak dari balik pintu
Begitu pintu itu terbuka, Zahra langsung menghambur ke pelukan Joni, tubuhnya bergetar hebat dengan baju yang basah akibat keringat.
Joni mengusap punggung Zahra yang masih setia memeluknya, dia tahu kalau gadis itu begitu ketakutan, tapi dia belum tahu apa penyebabnya.
“Sudah…ngga papa, ada Bang Jon disini.” Zahra melepaskan mengendurkan pelukan dan sedikit memundurkan tubuhnya
“Lampunya mati…hiks hiks…terus tadi ada suara suara aneh, serem banget Bang Jon hiks hiks”
“Suara suara aneh apa?” Joni jadi penasaran “Dari mana arah suaranya? Apa dari kamar khusus mbak Rena?”
Zahra menggeleng “Bukan hiks…hiks… suaranya justru dari pintu ini Bang Jon” Zahra menunjuk pintu utama aparteman “terus dari jendela juga” kali ini jendela dekat ruang tamu yang ditunjuk oleh Zahra
Setelah Zahra menjauhkan diri dari tubuhnya, Joni memeriksa stop kontak semua lampu yang ada di kamar apartemen Serena. Menggiring Zahra yang masih ketakutan untuk masuk dan mengobati luka di lutut gadis itu
***
Please jangan bilang nanggung ya
Ini emang sudah mulai menuju puncak konflik
Jadi harus di bagi beberapa bab, kepanjangan
Kalau ngga ada konflik, ntar dibilang membosankan
Komennya yang enak ya, biar idenya lancar