KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 84


“Joni! Bawa Serena keluar dari kamar ini, sekarang!” perintah Juan lantang.


Mengerti dengan situasi, Joni melepas pelukan dan menarik tangan Serena ke arah pintu keluar. Tapi sayang itu tidak berjalan mulus.


Dari arah pintu tiba-tiba muncul Zahra yang mengagetkan semua orang yang berada di sana, termasuk iblis mata merah. Zahra membawa tas berisi baju Serena sesuai permintaan sang kakak. Tersenyum lebar karena melihat Joni dalam keadaan baik-baik saja tanpa selang infus yang menancap di punggung tangannya.


“Mbak Rena… Bang Jon… mau kemana?” tanya polos Zahra. Pandangannya hanya terfokus pada orang yang ada di depan matanya saja, sampai dia sama sekali tidak melihat kalau ada Juan dan iblis di belakang Serena juga Joni.


“Zahra…” ucap Joni dan Serena bersamaan.


Iblis mata merah tidak menyia-nyiakan waktu sedikit pun. Dia langsung melayang mengarah pada Serena yang membelakanginya untuk keluar dari kamar.


Juan langsung bergerak penuh kesigapan, menghalangi jalan iblis mata merah yang mengincar istrinya. Dari samping kanan, samping kiri, bahkan juga dari arah atas. Gerakan cepat yang tidak bisa diikuti juga tidak terlihat oleh manusia biasa.


Zahra hanya bingung melihat Joni yang memeluk tubuh Serena dari belakang. Tangan laki-laki itu menutupi kepala Serena, seolah takut akan ada sesuatu yang menjatuhinya dari atas.


Lalu mata Zahra tidak sengaja menangkap pergerakan Juan dari belakang Joni. Tidak jauh dari tingkah aneh Joni, Juan juga bergerak ke sana kemari sampai membuat kamar perawatan Joni menjadi berantakan.


“Mereka lagi ngapain sih?” batin Zahra.


Juan dan Joni terlalu sibuk melindungi Serena, sampai keduanya dibuat lupa akan keberadaan Zahra di sana. Dan saat itulah, iblis mata merah memanfaatkan keadaan. Zahra tidak dapat menghindar dari serangan iblis mata merah yang meluncur cepat padanya.


“Kalau aku tidak bisa mendapatkan wanitamu, maka aku akan mengambil yang ini. Ha haaa…..” tawa iblis mata merah sesaat sebelum menembus tubuh Zahra yang terdiam tepat di samping pintu tanpa perlindungan.


Secepat kilat, Juan melempar sebuah jaring tak kasat mata pada Zahra sebagai tameng, tapi sudah terlambat.


Tubuh Zahra ambruk ke lantai rumah sakit yang terasa lebih dingin di malam hari. Kepalanya sempat terbentur tembok kamar, hingga terluka dan mengeluarkan darah.


“ZAHRAAAA!!!!” teriak Serena dan Joni.


Serena melepaskan pelukan Joni dengan kasar. Menghambur ke arah tubuh Zahra yang telah luruh bagai tak bernyawa. Serena merengkuh tubuh Zahra dan menopang kepala adiknya di pangkuan.


Mata Zahra terbuka, tapi tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Berkali-kali Serena menepu-nepuk pipi Zahra, mencoba untuk membangunkan, tapi sia-sia saja.Tubuh Zahra tetap tidak bereaksi, meskipun Serena terus mengguncang-guncangkan bahunya.


“Bangun Zahra… bangun dek hiks hiks,” Serena meratapi keadaan. Menangis dan memanggil-mangil nama adiknya tanpa henti.


Melihat Serena yang begitu hancur membuat Juan dan Joni begitu marah.


“Kembalikan Jiwanya!!” teriak Juan pada iblis mata merah yang sedang menyeringai puas.


“Tidak akan! Kecuali kau mau menukarnya dengan wanitamu itu,” jawab iblis mata merah memberi penawaran.


“Aku tidak mau berkompromi denganmu!”


Juan menarik iblis mata merah dengan kekuatannya. Makhluk kiriman Ki Jarot itu tidak bisa bergerak untuk melawan dan hanya bisa pasrah. Dia sudah terlalu lelah akibat pertarungannya dengan Juan sedari tadi.


“Serahkan jiwa gadis itu!” bentak Juan pada iblis mata merah yang sedang di cengkram olehnya.


“Kenapa kau melindungi mereka hah? Mereka itu hanya makhluk lemah. Kenapa kau mau menjadi budak mereka? Padahal seharusnya kau yang memperbudak meraka!” ucap iblis mata merah pada Juan. Jelas sekali kalau iblis itu sedang mencoba mempengaruhi Juan untuk berpihak padanya.


“Aku tidak pernah di perbudak oleh wanitaku, dan aku juga tidak mau memperbudak gadis-gadis itu!”


“Ck ck ck itu sangat tidak mungkin Braja. Kau melindunginya karena dia adalah istrimu, dan aku tahu kalau ada perjanjian antara kalian berdua.”


“Kalau kau tahu dia adalah istriku, lalu kenapa kau mau mengambilnya hah?!” tanya Juan marah.


“Karena… Ki Jarot menginginkan gadis itu,” jawab iblis mata merah yang kesulitan bergerak karena sebelah matanya berada di genggaman Juan.


Juan sejenak terdiam. Dia pernah mendengar nama dukun yang baru saja di sebutkan oleh iblis mata merah. Ni Maryam pernah memberinya peringatan untuk menghindari manusia yang bernama Jarot, mungkinkah itu dia?


“Untuk apa dia menginginkan istriku?” tanyanya lagi.


“Untuk dijadikan tumbal hidup.”


“Jangan harap! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!” kini giliran Juan yang menyeringai.


“Aakh… lepaskan aku!” berontak iblis mata merah.


“Tidak akan. Kalau kau tidak mau melepaskan jiwa gadis itu, maka aku akan mengurungmu!”


Juan menghentikan percakapannya dengan iblis mata merah, dia sudah cukup tahu kenapa istrinya sering berada dalam bahaya. Kedua bola berbentuk mata yang terbakar itu telah masuk ke dalam kurungan ilmu Juan. Sangat kuat dan tanpa celah.


“Diamlah di situ! Karena kau tidak akan bisa kemana-mana. Nikmati saja waktumu, sebelum aku menghabisimu tanpa bekas. Inilah akibat karena berurusan denganku.”


Rombongan dokter dan seorang perawat yang masuk kamar perawatan Joni untuk kunjungan malam terkejut melihat Zahra. Tanpa banyak bertanya, mereka dengan sigap langsung membawa tubuh Zahra ke Unit gawat darurat untuk mendapat penanganan.


“Juan… bagaimana dengan adikku?” tanya Serena sambil sesenggukan.


“Jiwanya telah dikunci. Dia hanya bisa diselamatkan dengan cara menghancurkan ilmu orang yang memiliki kunci itu sendiri.”


“Kalau begitu, cepat hancurkan iblis yang ada di tanganmu itu!” perintah Serena.


“Itu tidak ada gunanya Serena.”


“Kenapa?”


“Karena bukan iblis ini yang memiliki kuncinya. Mungkin dia yang telah mengambil jiwa Zahra, tapi bukan dia yang menyimpannya,” jelas Juan pada Serena yang masih terduduk di lantai, seolah sedang memohon pembebasan untuk Zahra padanya.


“Lalu siapa yang sudah mengunci jiwa adikku?”


“Seseorang yang sepertinya lebih kuat dariku,” jawab Juan.


“Yang mengirim iblis wanita tadi adalah mamanya Adit, mungkinkah iblis ini juga kiriman dari wanita tua itu?” kali ini Joni ikut bertanya pada Juan.


“Bukan. Yuli tidak sehebat itu untuk bisa memiliki kedua iblis jahat ini,” ucap Juan sambil menunjukkan tangannya yang menggenggam dua bola mata merah. “Ada dukun sakti yang berada di belakang wanita brengs*k itu. Sebenarnya… yang dia incar adalah Serena, tapi malah Zahra yang mampu dia ambil. Dan dia menginginkan pertukaran.”


“Hik hiks berapa uang yang dia minta ?” tanya Serena yang terus menangis tanpa henti, membuat Juan dan Joni merasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan Zahra.


“Bukan uang yang dia inginkan Serena,” ucap Juan.


“Lalu apa?”


“Dirimu,” jawab Joni sambil tertunduk.


“Diriku? Kalau begitu ayo temui mereka! Aku mau menukar diriku untuk Zahra. Aku rela melakuakan apapun asal Zahra bisa kembali. Ibu pasti akan sangat khawatir kalau Zahra tidak ada,” ucap Serena menggebu-gebu.


“Kau mau menukar jiwamu dengan Zahra? Apa kau sudah gila Rena!! Apa kau tahu apa yang kau lakukan?!” bentak Joni.


“Ibumu bukan hanya akan mengkhawatirkan Zahra, tapi juga dirimu! Kau tidak bisa sembarangan mengambil keputusan berdasarkan pemikiranmu sendiri Rena, kau hanya akan membuat Zahra merasa bersalah jika tidak bisa melihatmu saat dia kembali nanti. Kau paling tahu bagaimana sifat Zahra padamu kan?” lanjutnya.


“Terus apa yang harus aku lakukan hiks hiks? Apa tidak ada jalan lain untuk bisa menolong Zahra?” tanya Serena putus asa.


“Pergilah ke rumah Ni Maryam,” perintah Juan.


“Apa dia bisa membantu?” tanya Joni penuh harapan.


“Entahlah… aku tidak yakin. Tapi dari pada hanya berdiam diri di sini, lebih baik kita berusaha sebisanya. Mungkin Ni Maryam bisa membantu kita mengembalikan jiwa Zahra sebelum terlambat.”


“Sebelum terlambat?” Serena terkejut mendengar penuturan Juan.


“Waktu kita hanya satu hari, sebelum Zahra benar-benar tidak bisa diselamatkan. Tubuhnya akan segera kaku dan dingin, jika jiwanya terlalu lama berada di luar. Kita harus bergerak cepat.”


“Ayo!” Serena bangkit dari duduk. Harapan untuk bisa menyelamatkan sang adik, seolah memberinya kekuatan besar untuk segera meninggalkan rumah sakit menuju rumah Ni Maryam.


“Biar gue yang nyetir,” ucap Juan yang merebut kunci mobil dari tangan Joni.


Serena, Juan dan Joni langsung menuju parkiran setelah memastikan Zahra mendapat perawatan. Semua dokter tidak ada yang bisa memberikan penjelasan tentang kondisi Zahra saat ini. Mereka bingung dengan status Zahra yang tetap tidak sadar, padahal tidak terdapat luka serius di tubuhnya. Serena juga tidak banyak bertanya. Dia hanya menitipkan sementara keberadaan sang adik yang merupakan salah satu dokter dokter dari rumah sakit itu.


Tidak ada satu pun orang dari pihak keamanan yang mengetahui kalau Joni telah keluar dari rumah sakit, padahal Joni melintas tepat di depan mata mereka.Tidak ada yang menyadari kalau salah satu pasien akibat luka tembak itu menghilang. Yang ada hanya kamar perawatan yang kosong dan berantakan.


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.