
Pak Andi sedang mondar mandir di depan rumahnya sendiri tanpa lelah. Dia terlihat begitu gelisah menunggu kepulangan bocah peliharaannya yang dia tinggalkan di depan rumah Maya, semalam. Sekarang dia merasa sangat cemas, karena memang tidak pernah terjadi sebelumnya. Jam dinding yang hampir menunjukkan waktu subuh, menambah kepanikan di wajah Pak Andi.
“Kemana tuh bocah, kenapa jam segini belum pulang?” geramnya.
Sejak tadi, istri Pak Andi memperhatikan tingkah suaminya dari balik tirai dengan kebisuan. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat kalau sang suami nampak sedang menahan marah.
Tanpa perlu bertanya, istri Pak Andi bisa menebak apa alasan dibalik kemarahan suaminya di pagi buta ini. Ujung bibirnya sedikit terangkat, karena sudah lama menantikan hal seperti ini terjadi.
Selama menikah, dia tidak pernah bisa melawan keinginan sang suami yang begitu keras kepala. Semua kemauan suaminya tidak pernah bisa dibantah. Bahkan dia juga tidak bisa menolak, saat suaminya memberi perintah untuk mengurusi makhluk kecil botak yang dia bawa pulang ke rumah. Pak Andi menawarkan banyak uang dan juga emas yang biasanya menjadi kelemahan seorang istri.
Awalnya semua berjalan baik dan lancar. Hingga saat istri Pak Andi merasa kalau dirinya menjadi orang yang penyakitan, dia pun mulai banyak mengeluh. Sebagai timbal balik dari kekayaan yang mereka akan dapat, istri Pak Andi harus merawat makhluk itu layaknya anak bayi. Saat ingin makan pun, istri Pak Andi harus memakan sisa makanan dari bocah kecil itu, bahkan dia juga harus menyusuinya setiap hari.
Ternyata, dengan memiliki banyak uang dan perhiasan, tidak serta merta membuat istri Pak Andi bahagia. Mungkin pada awalnya iya, tapi lama kelamaan dia menjadi sadar kalau dia hanya dimanfaatkan oleh suaminya sendiri. Tubuhnya kian bertambah kurus dan tak terurus. Dia pun sering menangis diam-diam. Dia juga menjadi sering berdoa untuk kesadaran sang suami yang tidak pernah mau mendengarkan kata-katanya.
Dengan langkah takut, akhirnya istri Pak Andi pun membuka pintu.
“Sedang apa di luar, Pak?” tanyanya.
“Bukan urusanmu! Cepat masuk!” perintah Pak Andi, dengan nada tinggi.
Istri Pak Andi langsung menurut, “semoga dia benar-benar tidak kembali lagi,” batinnya.
Tak butuh waktu lama untuk berpikir , Pak Andi memutuskan kalau dia perlu memeriksa keadaan. Lalu dengan langkah lebar, Pak Andi mengarahkan kakinya menuju rumah Maya. Saat hampir mendekati pintu gerbang, Pak Andi berhenti dengan kepala yang menengok ke kanan dan ke kiri, sambil mengawasi. Dia tidak mau, kalau aksinya di pagi buta menimbulkan kecurigaan dari orang-orang yang mungkin melihatnya.
“Kemana perginya bocah itu?”
Rumah Maya nampak masih gelap dan sepi, belum terlihat adanya aktifitas apapun yang biasa ada di pagi hari. Dan Pak Andi semakin bingung untuk mencari keberadaan bocah peliharaaannya.
“Apa kau mencari sesuatu, Pak Andi?”
Joni tiba-tiba sudah berdiri di balik pagar, sambil memberi tatapan tajam. Dengan wajah dingin, Joni membuka kunci gerbang dan membiarkan Pak Andi untuk lebih leluasa memeriksa rumah Maya dari jarak dekat.
“Carilah!” titah Joni.
“Apa?!” jawab Pak Andi dengan wajah tidak suka.
“Tidak perlu berpura-pura. Dari pada cuma bisa clingak clinguk di luar pagar kayak orang mau maling, mending langsung masuk. Kau datang kesini pagi-pagi, pasti karena kau ingin mencari peliharaanmu yang hilang, kan?”
“Dari mana kau tahu?”
“Tidak perlu bertanya, darimana aku tahu. Silahkan cari apa yang kau inginkan, sebelum penghuni rumah yang lain bangun. Kau tidak mau, kan? Dianggap tidak sopan karena bertamu terlalu pagi.”
“Apa kau menangkapnya? Karena kalau iya, maka aku akan membuatmu menyesal karena telah berurusan denganku.”
Pak Andi mengancam Joni. Laki-laki itu tidak menyangka kalau Joni telah mengetahui rahasianya.
Joni hanya tersenyum sinis mendengar ancaman yang keluar dari mulut Pak Andi. Dia bahkan bisa mendengar suara tawa Braja yang berdiri di sampingnya, tanpa bisa di dengar dan dilihat oleh Pak Andi.
“Mas….” panggilan dari Serena membuat Joni dan Pak Andi sama-sama menoleh.
“Ada apa?” tanya Serena yang berdiri diambang pintu.
“Ngga ada apa-apa sayang. Mas cuma mau jogging sebentar, bareng Pak Andi. Bolehkan?” tanya Joni.
“Oh, ya sudah.”
“Ngga usah sok akrab denganku!” geram Pak Andi.
“Cih! Jangan berpikir berlebihan. Aku tidak pernah berniat untuk menjadi akrab denganmu. Aku hanya tidak mau membuat istriku khawatir,” ucap Joni.
Dengan terpaksa, Pak Andi mengikuti Joni yang berjalan menjauhi rumah Maya. Mereka berdua menuju taman komplek yang berjarak tidak jauh dari rumah Pak Andi.
“Cepat kembalikan milikku!” bentak Pak Andi.
Joni mengangkat bahu. “Aku tidak menyembunyikannya,” jawabnya santai.
“Tidak mungkin! Semalam aku meninggalkannya di depan rumah mertuamu, dan sampai sekarang dia belum pulang!”
“Ha… haaa….” tawa Joni terdengar mengejek.
“Apa yang lucu?!”
“Apa kau tidak sadar, kalau secara tidak langsung, kau telah mengakui perbuatan jahatmu pada keluargaku?” cibir Joni.
Tangan Pak Andi langsung mengepal disertai alis yang berkerut. Dia tersadar dengan ucapan yang baru saja meluncur dari mulutnya sendiri. Sudah kepalang tanggung, dan tidak mungkin mampu memutar waktu.
“Aku akan memberimu waktu untuk segera mengembalikan milikku, sebelum….”
“Sebelum apa?” tanya Joni meremehkan.
“Sebelum aku membeberkan pada seluruh warga yang ada disini, kalau keluargamu telah memelihara makhluk pencuri di rumah. Dan semua kasus kehilangan uang yang terjadi di lingkungan ini adalah ulah peliharaanmu!” ancam Pak Andi sebelum meninggalkan Joni sendiri.
“Apa yang akan kita lakukan Braja,” tanya Joni.
“Ck! Memang apa yang perlu kita lakukan, hah? Kita hanya perlu cepat pulang, karena Serena sudah menunggu. Kalau nanti istrimu bertanya soal kejadian semalam, carilah alasan lain, tapi harus yang masuk akal. Dia tidak perlu tahu, karena itu hanya akan membuatnya takut.”
“Aku tahu,” jawab Joni.
-
Setelah kepergian Joni tadi, Serena segera berbalik dan menutup pintu. Sebenarnya dia ingin bertanya tentang kejadian semalam pada Joni, tapi terpaksa harus diurungkan karena suaminya malah pergi bersama dengan Pak Andi.
“Mama!” terdengar teriakan Sekar dari dalam kamar. Tadi saat Serena keluar kamar, dia turun secara perlahan dari ranjang karena anak kecil itu masih tertidur lelap. Namun sekarang, Serena bisa merasakan kalau putrinya sedang katakutan.
Serena buru-buru berlari menaiki tangga menuju lantai atas, dia langsung membuka pintu dan mendapati Sekar yang sedang menangis.
“Ada apa sayang?” tanya Serena lembut.
“Mama jangan pergi hiks hiks,” ucap Sekar.
“Mama ngga pergi. Tadi mama cuma nyariin papa,” jawab Serena.
“Papa kemana?”
“Papa lagi jogging sama Pak Andi.”
Kepala Sekar mengangguk.
“Mah…”
“Hem?”
“Sekar boleh minta kue pelangi, ngga?” pinta Sekar dengan wajah sembab.
“Yah… kue pelanginya kan sudah habis. Bukankah Sekar yang memakannya, kemarin?”
Sekar tertunduk lesu mendengar apa yang diucapkan Serena. Memang benar, kalau dia sendiri yang telah menghabiskan potongan rainbow cake terakhir, kemarin. Serena yang tidak mau lagi melihat wajah muram sang putri pun memberi usul.
“Mama bisa membuatkannya lagi,” ucap Serena.
Sekar mendongak dan tersenyum, begitu mendengar kalau Serena akan membuat cake kesukaanya.
“Tapi…”
“Tapi apa mah?”
“Sekar harus membantu mama,” Serena memberikan syarat.
Tanpa berkata, Sekar menganggat tangan yang jarinya membentuk huruf O, walaupun tidak benar-benar bulat.
“Darimana kau belajar seperti itu?” tanya Serena menunjuk tangan Sekar.
“Baiklah. Sekarang ayo turun dari kasur! Kita mandi dulu, lalu Sekar bantu mama bikin sarapan sebelum papa pulang jogging.”
-
Terdengar suara canda dan tawa dari dalam kamar mandi yang membuat Joni tersenyum bahagia. Dia duduk di tepian ranjang sambil menunggu giliran membersihkan diri.
“Sudah pulang, mas?” tanya Serena begitu membuka pintu kamar mandi bersama Sekar.
“Iya. Ayo sini Sekar, biar papa yang pakaikan baju!” pinta Joni.
“Tidak mau!” Sekar menolak.
“Kenapa?” Joni kecewa.
“Kata tante Zahra, Sekar harus belajar pakai baju sendiri. Nanti kalau Sekar udah punya adek, Sekar jadi bisa bantu mama, urus adek.”
Joni dan Serena saling bertukar pandang dan tersenyum.
“Oh begitu, ya sudah. Sekarang papa mau mandi aja deh,” ucap Joni.
“Cepetan ya, papa!”
“Kenapa?”
“Sekar sama mama, mau bikin kue pelangi. Nanti papa yang cobain bikinan Sekar!”
Joni menirukan gaya Sekar yang mengangkat tangan dengan jari yang membentuk huruf O, sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
--------------------------------------------
Pak Andi melampiaskan kemarahan pada istrinya. Dia memukul dan juga menampar pipi wanita yang selama ini telah mendampinginya dengan sabar. Dia sudah tidak peduli lagi, kalau suaranya akan didengar oleh para tetangga.
“Kau pasti senang karena bocah itu belum pulang, kan?!!” bentaknya.
BRAKK… PLAK
“Ya, aku senang Pak, bahkan sangat senang. Akhirnya aku bisa terbebas dari bocah itu!” jawab istri Pak Andi sambil berteriak.
“Kurang ajar! Kau harusnya bahagia, karena aku memberimu banyak uang dan juga perhiasan!”
“Tidak! Aku tidak bahagia. Lebih baik aku hidup pas pasan, dari pada harus mengurus setan itu lagi!”
PLAK
Lagi-lagi tamparan keras menyambar pipi istri Pak Andi. Perempuan itu hanya bisa menangis dan menjerit kesakitan, saat menerima perlakuan kasar dari laki-laki yang sedang dikuasai oleh amarah.
“Perlu kau tahu, perempuan bodoh! Walau sekarang aku kehilangan peliharaanku itu, tapi aku bisa membelinya lagi. Ha… haa… dan kaulah yang akan mengurusnya,” ucap Pak Andi dengan seringai yang tampak mengerikan.
“Aku tidak mau lagi, pak! Aku udah cape hidup seperti ini, aku lebih baik mati!”
“Mau atau tidak, aku tidak peduli. Aku tidak meminta pendapatmu! Aku tidak akan mengizinkamu untuk mati sebelum aku menjadi orang paling kaya di lingkungan ini. Dan setelah aku punya banyak uang, maka semua orang akan menghormatiku. Mereka semua akan ada dibawah kakiku. Ha… haa…”
Setelah puas menyiksa istrinya, Pak Andi pun masuk ke dalam kamar rahasianya. Kamar yang ia gunakan untuk menimbun uang dan juga perhiasan. Tepat di sudut kamar, terdapat brangkas besar yang berdiri kokoh. Entah berapa banyak uang yang ada di dalam sana, tapi kalau dilihat dari bentuknya, setidaknya sudah milyaran atau bahkan trilyunan.
Setiap pagi, Pak Andi akan membuka pintu brangkas untuk mengisinya dengan uang yang berhasil di bawa pulang oleh peliharaanya. Dia akan tertawa penuh kemenangan, saat melihat tumpukan uang dan emas di dalam lemarinya.
Walau pagi ini bocah pencuri belum pulang, Pak Andi tetap tergiur untuk membuka pintu brangkas. Setidaknya dengan melakukan itu, dia bisa mengurasi rasa marah yang membuat kepalanya menjadi sakit.
Jari Pak Andi mulai menekan angka-angka yang menjadi kode kunci brangkas. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat, seolah akan ada hal buruk yang terjadi. Karena terlalu terburu-buru, Pak Andi malah salah menekan angka pada tombol yang akhirnya membuat pintu tidak mau terbuka.
“SIAL!!”
Pak Andi mencoba meredam detakan jantungnya yang semakin cepat dengan mengatur nafas. Berulang kali mengibas-ngibaskan tangan agar jari-jarinya tidak gemetar.
“Huft… ok, sekali lagi.”
Dan betapa terkejutnya Pak Andi, saat matanya melihat dengan jelas isi dari brangkas yang dia jaga setiap hari. Semua tumpukan uang yang dia simpan berubah menjadi daun kering. Semua emas yang dia elus sebelum tidur pun berubah menjadi tumpukan arang hitam.
“Apa ini!”
“Apa ini!”
“Siapa yang berani mencuri di rumahku!”
“Siapa?!”
Pak Andi mengobrak-abrik semua isi yang ada di dalam brangkas. Dia berharap masih bisa menemukan uang dan emasnya, diantara tumpukan daun kering dan arang hitam.
“Brengsek! Siapa yang melakukan ini padaku!”
“Kemana semua uang dan emas milikku?!”
Pak Andi menendang brangkas berulang kali. Dia begitu frustasi karena telah kehilangan bocah pencuri. Dan sekarang, harus ditambah dengan kehilangan semua harta yang dia klaim sebagai miliknya.
“AAKKH!!!” Teriak Pak Andi penuh kesakitan.
Brangkas besar yang pasti berat itu tiba-tiba miring, dan menjatuhi kaki Pak Andi yang tidak sempat menghindar. Lemari itu bergerak seolah ada yang mendorongnya dari belakang. Sedangkan tidak ada orang lain yang ada di ruangan itu, selain Pak Andi.
Kamar itu sengaja dibuat kedap suara, jadi saat pak Andi berteriak keras untuk meminta pertolongan pun, istrinya tidak akan bisa mendengar.
-
“Mama, coba lihat! Papa ketawa sendiri,” bisik Sekar pada Serena. Saat ini mereka sedang sarapan bersama di meja makan dengan anggota keluarga yang lengkap, ditambah dengan Adit.
Serena segera menatap ke arah suaminya. Matanya memicing curiga, karena apa yang diucapkan oleh Sekar, benar adanya.
“Kenapa kamu senyum-senyum sendiri, mas?”
“Hah? Ah ngga apa-apa, cuma lagi membayangkan sesuatu yang menyenangkan.”
“Apa?” tanya Serena tidak senang.
“Senyum kamu,” jawab Joni disertai cengiran.
“Cie… cuit cuit,” goda Zahra dan Adit bersamaan. Sontak semua orang yang ada di ruang makan pun ikut tersenyum.
“Ih... mas bisa aja deh.” Serena tersenyum malu-malu.
Tanpa diketahui oleh siapapun, Joni dan Sekar saling mengirim kode huruf O yang menjadi kebiasaaan mereka.
.
.
.
***
Info perubahan jadwal up.
Selama ramadhan, Si_Ro akan up 2 hari sekali.
Mohon dimengerti, karena Si_Ro juga pengen punya tabungan akherat.
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.