KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 131


“Lalu si-a… Serena?!” mata Sarah hampir melompat dari tempatnya berada. Dia tidak menyangka akan mendapat berita langka seperti saat ini.


-...-…-…-…-…-…-…-…-…-…-…-…-…-…-…-


Sarah tidak pernah tahu, kalau sosok Serena bisa menarik perhatian kaum adam dengan mudah. Perhatian, perlindungan dan juga kasih sayang tulus dari seorang pria, seolah mengelilingi Serena.


Pertama adalah Farrel. Seorang pebisnis muda nan tampan, yang akhirnya membuat Sarah menghalalkan segala cara untuk merebutnya dari tangan Serena. Bahkan memilih memutus persahabatannya, hanya demi untuk mendapatkan Farrel.


Lalu sekarang, ada Bram. Pemilik sekolah ternama, dan juga sebuah hotel mewah, dengan kekayaan yang pastinya melimpah. Kehidupan pribadinya sedikit tertutup, tapi untuk mendapatkan wanita yang rela dijadikan simpanan, adalah sesuatu yang mudah baginya.


Meskipun Sarah tidak punya perasaan khusus pada Bram, tapi mengetahui kalau laki-laki itu juga menginginkan Serena, mau tidak mau, harga diri Sarah kembali tersakiti. ‘Sebenarnya apa yang menarik dari wanita itu?’ Pertanyaan itulah yang kadang membuat Sarah tidak habis pikir.


Apa yang membedakan dirinya dengan Serena?


Tangan Sarah mengepal. Rasa iri dan dengki yang mengakar dalam hatinya, membakar nalar dan berakhir menjadi obsesi liar.


Serena harus mati!


-


Bram tidak peduli atas keterkejutan Sarah. Dia menurunkan salah satu kaki yang disilangkan, agar bisa bangkit dari duduk. Meninggalkan sandaran ranjang yang empuk, lalu menekan puntung berasap pada asbak yang ada di nakas.


“Se-sejak kapan?” Tanya Sarah. Suaranya bergetar, karena menahan emosi. Tubuhnya masih sekaku papan. Berdiri tegak dengan nafas memburu, tanpa ingin meninggalkan tempatnya semula.


Bram mengangkat bahu dan menggeleng. Terlihat jelas, kalau dia tidak tahu jawabannya.


Karena Bram juga mempertanyakan hal yang sama, berulang kali. Dan jawabannya, tidak ada yang tahu.


Entah sejak kapan Serena mencuri hatinya? Mencuri dengan cara yang paling apik. Membuat Bram tidak menyadari lagi, kalau dalam dirinya ada kekosongan. Dan kekosongan itu hanya bisa diisi oleh senyuman Serena, di setiap mimpinya.


“Awalnya.. aku ingin mempersembahkan dia pada peliharaanku,” ucapan Bram menggantung.


Alis Sarah bertaut. “Pe-persembahan? Pe-peliharaan? Apaan sih?” batin Sarah mulai menerka-nerka.


“Seharusnya.. Serena bisa menjadi tumbal terbaikku, jika saja aku bisa memiliki hatinya. Aku mengincarnya dalam diam, penuh kehati-hatian dan juga cara yang tidak biasa.”


Bram mendekati Sarah. Mengulurkan tangan, untuk mengaitkan rambut panjang ke belakang telinga, milik wanita itu.


“Langkahku salah besar. Mendekatinya, tidak semudah mendekatimu. Berharap perhatian darinya, adalah sesuatu yang sulit. Belum lagi, penjaganya yang tidak pernah tidur.” Bram berkata lirih. Seolah sedang mengeluh dengan kegagalan yang dia alami.


Sarah tersenyum sinis. Hatinya bersorak gembira. Senang bukan main, karena seorang seperti Bram pun nyatanya bisa mengalami kesulitan. Apalagi ini adalah kesulitan mendapatkan wanita. Dengan kekayaan berlebih, tidak menjamin jalan selalu mulus.


“Kau kalah dengan seorang mantan sopir?” Sarah mengejek terang-terangan.


“Cih! Bukan pria itu yang kumaksud,” balas Bram. Geramannya dengan jelas terdengar di telinga Sarah. Karena keduanya berdiri berhimpitan, seolah kehabisan tempat di dalam kamar luas yang mereka sewa.


“Tadi kau bilang, Serena akan kau jadikan sebagai persembahan. Persembahan apa? Dan peliharaan siapa?” Mata Sarah menatap lurus pada Bram. Dia tidak akan mengerti semua ucapan Bram, kalau pertanyaan pentingnya belum terjawab.


“Ah! Kalau soal itu.. ra ha sia.”


“Ck!” Sarah berdecak, kesal. Laki-laki yang sedang berdiri di depannya ini, memang penuh rahasia dan teka-teki. Sarah tidak tahu apa-apa tentang Bram. Tidak luarnya, apalagi dalamnya. Mereka hanya melakukan kerja sama yang saling menguntungkan, tanpa mau memberi celah untuk hal pribadi.


“Lalu siapa penjaga Serena yang kau maksud? Bukankah itu hanya, hanya Joni?”


Bram tergelak. Tawanya yang menggelegar, mengisi seluruh sudut kamar. Bahunya terus berguncang, serta tangan yang menempel pada perut.


“Sarah punya penjaga yang sangat hebat. Bukan cuma satu, tapi dua. Kau mau tahu?”


“R!”


“R?” beo Sarah.


“Ra ha sia hahahaa..,” Bram kembali terbahak. “Aku tidak tahu, kalau kau sebodoh ini ck ck ck.”


Selagi Bram berjalan menjauh, Sarah mendapatkan ingatan masa lalunya.


“Apa Serena punya penjaga tak kasat mata?”


Langkah Bram terhenti, seketika. Berbalik, dan melempar tatapan penuh pertanyaan. Dan dari situ saja, Sarah sudah bisa menebak jawaban dari pertanyaanya, barusan.


Sarah bersedekap, sejenak. Lalu membebaskan satu tangan, untuk mengetuk-ngetuk dagunya. “Dugaanku selama ini, ternyata benar. Pantas banyak laki-laki yang suka padanya. Rupanya dia memakai jalan hitam.”


“Serena tidak melakukan itu! Dia tidak menggunakan ilmu hitam, untuk menjerat laki-laki! Dia hanya menggunakannya untuk perlindungan. Perlindungan dari teman licik seperti dirimu!” Ucapan sarat tuduhan dari Sarah, ditolak mentah-mentah oleh Bram.


Kini giliran Sarahlah yang terbahak, keras. Di matanya, Bram terlihat sangat lucu. Lucu karena membela Serena mati-matian, wanita yang bahkan tidak melirik sedikitpun padanya.


“Kalau begitu, sekarang aku juga akan menggunakan cara yang sama untuk menghabisinya!” tekad Sarah lantang.


“Aku yang akan lebih dulu menghabisimu, sebelum tanganmu menyentuh wanitaku!” bentak Bram, marah.


“Wanitamu? Wanita yang mana? Sarah bukan wanitamu, dia istrinya Joni!” suara Sarah tidak kalah keras.


Setengah berlari, Bram mendekat pada Sarah. Menggunakan sebagian tenaganya untuk mencengkram bahu wanita itu sampai meringis, sebagai peringatan dini.


“Kau tidak akan berani melakukan itu, Sarah!”


“Kata siapa?”


Sarah jelas-jelas menunjukkan sikap menantang. Dan Bram tidak akan mundur, walau Sarah adalah seorang wanita. Persetan dengan yang namanya emansipasi! Selama ada yang mengamcam keselamatan pujaan hatinya, maka dia akan maju dengan senang hati.


“Kalau begitu, ayo kita buktikan. Satu saja luka, kau tinggalkan di kulit wanitaku, maka aku akan membalas luka itu ratusan kali.”


“Dia bukan wanitamu! Dia hanya salah satu diantara semua tumbal-tumbal yang kau persembahkan untuk peliharaanmu!” teriak Sarah. Melihat kemarahan Bram yang menakutkan, membuat pikirannya buntu.


“Aku tidak keberatan, kalau kau ingin menggantikan Serena sebagai tumbalku tahun ini. Ini pasti menarik,” desis Bram dengan seringai licik.


“Aku masih ingin hidup! Hidup bersama Farrel!” tanpa sengaja, Sarah mengibarkan bendera putih tanda menyerah.


“Kalau begitu, lepaskan wanitaku. Fokus saja pada priamu itu,” Bram melepaskan cengkeraman tangannya.


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.