KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 124


Farrel menciumi leher Sherly yang sedang sibuk memindai lemari baju. Mencocokkan gaun dan memilih make up, untuk acara makan malam bersama Serena dan Joni.


“Aaahh….”


Akhirnya lolos sudah desahan dari bibir Sherly. Membuat Farrel semakin bersemangat dengan kegiatan yang sedang dia lakukan.


“He-hentikan Farrel! Kalau kamu seperti ini terus, kita akan terlambat,” erangan penuh gairah yang diakhiri dengan omelan dari sang kekasih, tidak membuat Farrel mundur.


“Masih ada waktu lain,” Farrel menjawab enteng. Dia terus sibuk menjelajahi tengkuk Sherly, menuju pundak mulus yang masih berbau sabun mandi.


Sherly sudah kehabisan akal. Prianya memang keras kepala. Selalu saja ada jawaban dan alasan untuk mengulur waktu. Padahal pria itulah yang telah membuat janji untuk double date.


“Kamu mau bersiap sekarang, atau malam ini kita pisah ranjang?!” ancam Sherly.


Seketika tubuh Farrel menegang, dan pelukannya pun otomatis terlepas. Dia terpaksa menjauhkan bibirnya dari kulit mulus Sherly yang menggiurkan. Farrel hanya mampu mendengus kesal, dan menuruti perintah calon istrinya. Segera membalikkan badan, sembari meraih handuk yang telah disiapkan oleh Sherly, sedari tadi.


Saat baru keluar dari kamar mandi, Farrel disuguhi pemandangan yang sulit untuk dia tolak. Gaun elegan yang di pakai oleh Sherly, membuatnya berdecak kesal. Gaun yang tertutup dari bagian depan, tapi terbuka di bagian belakang. Dia mengumpat dengan mulut yang tertutup. Dan Sherly bisa melihat rasa tidak suka dari wajah Farrel, melalui pantulan cermin.


“Kenapa? Apa gaun ini tidak cocok untukku?” Tanya Sherly.


“Apa kamu harus berdandan secantik ini, hanya untuk makan malam bersama mereka? Dan juga…,” Farrel menghembuskan nafas frustasi. “Apa hanya ini, gaun yang kamu bawa?” protes Farrel.


“Memangnya kenapa dengan gaun ini?”


“Lain kali, jangan memakai baju seperti ini untuk keluar. Kamu hanya boleh tampil seksi saat bersamaku!”


Sherly mengulum senyum. Pria yang ada di hadapannya, adalah orang dengan level kecemburuan yang sangat tinggi. Belum lagi, ditambah dengan sikap posesifnya yang melebihi batas.


Selama hidup, Sherly belum pernah di perlakukan seperti ini oleh laki-laki manapun. Biasanya dia hanya akan dibuang begitu saja, setelah kesepakaan yang setujui, berakhir. Baik untuk yang one night stand, ataupun kontrak menjadi simpanan.


Tapi berbeda dengan Farrel. Pria itu mau memberikan perlindungan tanpa ada timbal balik yang merugikannya. Menyentuhnya dengan lembut, dan penuh kasih. Menatapnya dengan cinta, dan akan mundur jika Sherly sedang tidak ingin diganggu.


Farrel membuat Sherly merasa sangat dihargai, dengan keadaanya yang kotor. Pria itu juga menghujaninya dengan kasih sayang yang berlimpah. Kini, tidak ada lagi alasan untuk Sherly menolak kehadirannya yang sangat berarti.


“Farrel…,” rayu Sherly, lembut. “Aku bisa apa, kalau ternyata aku sudah seksi dari sananya? Kalaupun aku memakai baju tertutup, aku tetap tidak bisa menyembunyikan keseksianku. Benar, kan?” Sherly meminta pendapat Farrel.


“Ck! Iya. Kamu memang benar, sayang. Tapi…,” muncul seringai yang mencurigakan dari bibir Farrel.


“Tapi apa?” Sherly penasaran dengan ucapan Farrel yang menggantung.


“Akan lebih seksi lagi, kalau kamu tidak memakai apapun. Aku jadi penasa… awwhh!”


Farrel meringis akibat cubitan tangan Sherly yang menyasar perutnya. Menahan senyum, karena Sherly memberinya tatapan tajam. Seolah ingin menelannya hidup-hidup.


“Aku akan lebih suka, kalau kamu mau sedikit menurun cubitanmu lebih ke bawah.”


Sheila beradu pandang dengan mata Farrel. Dengan cepat, dia menarik tangan karena mengerti arah pembicaraan pria di depannya. Wajahnya menunduk saat Farrel hampir mendaratkan ciuman.


“Tapi sepertinya, kita harus menunda hal itu. Tamu undangan kita, mungkin sudah menunggu dengan wajah kesal. Ayo cepat pergi! Karena kalau tidak, aku tidak menjamin bisa membuka pintu. Sebentar lagi adikku akan benar-benar bangun, lalu memberontak.”


Sheila berjalan tergesa-gesa. Meninggalkan Farrel begitu saja, tanpa ingin menoleh. Rasa panas telah menjalari pipi, dan mungkin telah mengalahkan warna blush on yang di pakainya malam ini.


-


“Kami hampir memutuskan untuk naik kembali dan mendobrak pintu kamar, jika kalian tidak datang dalam waktu lima menit.”


Serena menyambut kedatangan Farrel dan Sherly dengan tatapan jengah. Merasa kalau undangan dari Farrel, hanya omong kosong belaka. Malam ini, wanita itu nampak cantik dengan balutan gaun berwarna dark grey berpotongan V neck. Rambutnya di urai, dengan sedikit kepang di pinggir.


“Maaf telah membuat kalian menunggu. Salahkan saja pria yang berdiri di sampingku ini. Dia benar-benar membuatku pusing!” Sherly menyantuh pelipisnya.


“Sudahlah, sebaiknya kita mulai saja acaranya!” Saran Joni.


Farrel sudah melakukan reservasi sejak mereka datang. Restoran tempat mereka duduk saat ini, masih berada di gedung yang sama dengan hotel tempat mereka menginap. Jadi tidak perlu berkendara untuk bisa mencapainya.


Masing-masih telah menyebutkan menu pada satu orang waitress yang mencatat dengan teliti. Menunggu sambil berbincang ringan, tanpa ada rasa canggung. Bahkan Serena dan Farrel yang notabene sebagai mantan kekasih pun, terlihat tidak kaku sama sekali.


-


“Jangan melihatku dengan tatapan kasihan seperti itu, Serena!” protes Farrel, membuat semua yang duduk di sana tertawa terbahak.


“Kalian bisa menahannya?” Tanya Serena lagi.


“Itu permintaan kekasihku. Jadi aku hanya membantu untuk mewujudkan keinginannya,” ucap Farrel penuh rasa bangga yang tidak ditutup-tutupi.


“Kau hebat Sherly. Aku benar-benar salut padamu. Kau bisa mengendalikan manusia satu ini dengan baik,” Sherly bertepuk tangan. Mengacungkan dua jempol ke arah Sherly yang menanggapinya dengan senyum.


“Jadi kapan, kalian akan resmi menikah?” Joni bertanya pada Farrel.


“Secepatnya. Aku tidak mau menunggu lebih lama lagi. Aku ingin segera menjadikan dia sebagai milikku satu-satunya dan mengikatnya untukku sendiri.”


Sherly tersipu. Farrel telah secara terang-terangan menunjukkan minat pada dirinya di hadapan Serena dan Joni. Lalu kapan, dia bisa melakukan hal yang sama?


“Lalu bagaimana urusanmu dengan Sarah?” Tanya Serena. Tiba-tiba dia merasa tidak enak dengan Sherly, karena telah menyebut nama mantan sahabat yang pernah menyakitinya, dulu.


“Itulah alasanku membawa Sherly ke negara ini. Aku takut perempuan itu akan menyakiti wanitaku. Kalian tahu, seberapa gilanya dia, kan? Dan aku tidak mau mengambil resiko.”


“Kau butuh bantuan?” Tanya Serena dan Joni bersamaan.


“Untuk sekarang, tidak. Tapi entahlah, kalau nanti. Perempuan itu memiliki seseorang di belakangnya. Seseorang yang mampu melakukan hal jahat, secara nyata dan tidak nyata.”


“Apa maksudmu dengan tidak nyata?” Serena tidak mengerti.


“Aku tidak bisa menjelaskannya. Kalian akan tahu sendiri, nanti. Yang penting buatku sekarang adalah, memastikan kalau calon istriku baik-baik saja.”


-Di tempat lain


Sarah merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku dan remuk. Bram seperti orang yang sedang kesetanan. Menjamahnya tanpa henti, dengan nafsu yang selalu sama besar.


“Aku sudah memesan tiket untukmu. Kau akan berangkat jam 8, dan akan ada orang yang menjemputmu di sana.”


“Terima kasih, Bram. Bantuan darimu sangat aku butuhkan.”


“Sebenarnya, apa tujuanmu ke sana?”


“Aku akan membuat wanita itu tidak bisa kembali lagi, ke negara ini!” Sherly menggeram. Matanya di selimuti kekecewaan yang dalam. “Kalau Farrel membawanya pergi untuk melindunginya dari tanganku, maka akan kupastikan kalau dia salah!”


“Tindakan apa yang akan kau ambil?”


“Kenapa? Apa kau takut akan terseret, kalau aku berbuat nekat?” Tanya Sherly, sinis.


Bram tidak menjawab. Dia hanya takut, kalau Serena mungkin akan terkena imbasnya. Dia harus memastikan, kalau wanita yang dia incar,baik-baik saja.


“Aku pergi denganmu!” putus Bram.


“Kau ikut? Untuk apa?”


“Untuk memastikan, kau tidak melewati batas bantuanku.”


“Cih! Tidak akan. Aku hanya akan membawa Farrel kembali dan meninggalkan mantan sahabatku di sana.”


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.