KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 68



Joni mengernyitkan dahinya ketika mobil yang dikendarai oleh Adit berhenti di tempat yang sangat dia kenal. Bangunan itu berada di lingkungan yang sama dengan tempat tinggal ibu Serena. Iya, itu adalah rumah Adit sendiri.


“Kenapa kesini?”


“Jangan banyak tanya dulu, sekarang bantu gue nyari Serena,” perintah Adit pada Joni.


Rumah itu terlihat sepi, tidak ada satu pun tanda tanda keberadaan seseorang di dalamnya. Adit mulai memasuki tempatnya tumbuh dari kecil, tempatnya menghabiskan masa sekolahnya dari tingkat terbawah. Ada rasa sedih yang tiba tiba datang menyelimuti hatinya. Sebuah rahasia yang sudah lama diketahuinya tapi tidak mampu dia katakan pada siapapun termasuk pada Yuli, mamanya.


Membawa perasaan campur aduk, serta tangan gemetar yang berpadu dengan lelehan keringat dingin, Adit membuka semua pintu ruangan dan tidak melewatkannya satupun.


Begitupun pula Joni, dia tidak mau tinggal diam, ikut menggeledah tempat yang bisa menjadi tempat bersembunyi, tidak peduli kalau akan dinilai tidak sopan nantinya.


BRAKK…


PRANG….


Joni berlari ke tempat sumber suara. Ketika mendengar suara keributan dari arah ruangan lain, dia serta merta bergerak cepat untuk mengetahui penyebabnya. Berharap kalau pencariannya akan segera berakhir, dan bisa secepatnya mengetahui keberadaan Serena, diiringi doa yang meminta bahwa gadis itu dalam keadaan baik baik saja.


Apa yang dilihat Joni malah membuatnya semakin terkejut. Tidak menyangka kalau akan menemukan ruang tersembunyi di dalam rumah itu. Ruangan kecil sedikit gelap dan juga sedikit fentilasi itu penuh dengan barang barang yang kental dengan dunia perdukunan.


“Apa ini?” tanya Joni


Tidak ada jawaban. Orang yang sedang ditanya oleh Joni sepertinya malah tidak menyadari kehadirannya, terus membabi buta dengan merusak dan memporak porandakan isi kamar itu.


Saat pertama kali Joni muncul diambang pintu, bau menyengat yang sangat mengganggu indra penciuman langsung menyapanya, seolah sedang mengucapkan selamat datang pada siapapun yang ingin memasukinya.


Ruangan yang akan sulit ditemukan, jika tidak benar benar tahu seluk beluk tempat ini. Berada di sudut rumah, tersembunyi dari semua yang bisa membuatnya terlihat dengan mata biasa. Perlu kejelian khusus bagi orang luar yang ingin mengetahui keberadaannya.


PRANGGG….


Adit terus saja membanting semua benda yang dilihatnya masih utuh, tidak ingin menyisakan satupun dengan bentuk asli. Walau pun itu tetap tidak bisa memberinya rasa puas, tapi cukup menjadi pelampiasan rasa sesak di dadanya saat ini.


Setelah menatap layar handphone yang telah diputus sepihak saat masih berbicara, mampu membuat gejolak emosinya naik seketika. Meninju daun pintu yang terletak paling dekat dengannya, ternyata mengakibatkan tangannya sendiri terluka dengan lelehan darah segar.


“Inilah rahasia hidup gue,” ucap Adit, ketika menyadari adanya Joni di belakang tubuhnya. Tubuh Adit sudah merosot lemah dan terduduk di lantai kotor yang penuh dengan debu juga pecahan barang barang.


Joni menggaruk daun telinga dan memiringkan kepalanya, dia sedikit meringis dan berdecak, tidak tahu harus menampilkan wajah seperti apa pada Adit.


“Sebenarnya gue ngga mau tahu apa rahasia lo dan keluarga lo, apapun itu gue ngga peduli. Tapi kalau itu sudah menyangkut Mbak Rena, apalagi membahayakan hidupnya, tentu akan lain cerita”


Ucapan dari Joni penuh dengan nada peringatan dan juga ancaman. Walau sebenarnya sekarang dia begitu menyalahkan dirinya sendiri, yang telah mengendorkan pengawasan pada Serena, sampai gadis itu kini menghilang tanpa jejak.


Berpikir kalau tidak akan ada bahaya yang mengincar Serena, jika gadis itu berada di lingkungan kerja dan banyak terdapat orang lain disana. Nyatanya kejahatan tetap tidak memandang tempat, Serena tiba tiba hilang begitu saja, hilang dari pandangan dan tempat yang bisa dijangkau oleh pemuda itu.


Penyesalan tentu tidak akan berarti untuk saat ini, yang perlu dilakukan adalah mencari dan terus mencari sampai ketemu. Peristiwa ini menyebabkan jiwanya ikut terluka, karena dulu Joni pernah bersumpah akan melindungi Serena beserta semua keluarganya.


Ddrrrt….ddrrrtt


Handphone milik Joni bergetar, layarnya menampilkan nomor yang tidak dikenal. Sayangnya laki laki itu tidak punya waktu untuk memperdulikannya, tapi handphone itu terus berbunyi berkali kali, seolah olah sedang memaksa Joni untuk memberikan perhatiannya.


Ting


“Aku tahu dimana Serena”


Mata Joni membulat sepenuhnya ketika pesan yang terkirim ke handphonennya itu dia buka. Pesan yang tidak diketahui siapa pengirimnya ini, mampu menarik rasa penasaran Joni sampai ke titik tertinggi.


Dengan tidak sabaran, Joni langsung menekan layar untuk menelpon sang pengirim pesan.


Tut tut tut


Sumpah demi apapun, siapapun yang sedang berada diujung saluran telepon tidaklah menarik untuk Joni. Tidak ada yang lebih penting dari menemukan Serena secepatnya, walah harus mengemis, pasti akan dilakukan oleh Joni. Dan orang diujung telponnya saat ini, menyebut dirinya mengetahui keberadaan majikannya.


“Lo bilang tahu keberadaan Serena, dimana dia sekarang?” tanpa basa basi Joni menyebutkan kepentingannya.


“Iya Bang Joni”


Guratan di kening Joni langsung terbentuk, begitu sang penerima telpon menyebutkan namanya. Hatinya mulai bertanya tanya, siapakah dia?


---------------------------------------------


Sebelumnya, ditempat lain.


Seorang wanita paruh baya sedang duduk bersantai dengan kaki yang diangkat ke atas meja kaca dengan vas bunga cantik di sampingnya. Dia tersenyum penuh kemenangan, merasa bangga karena telah mendekati titik akhir dari semua rencana yang sudah di susun dengan begitu baik.


Ddrrrt ddrrtt…


Benda tipis keluaran terbaru yang berada di samping wanita itu bergetar, menampilkan nama orang yang sudah dia duga, tapi sama sekali tidak dia tunggu.


“Dimana mama menyembunyikan Serena!” suara lantang dengan penuh emosi langsung menyapa pendengarannya. Suara seorang pria yang tidak setuju dengan keputusannya dan hampir saja menggagalkan semua pengorbanannya selama ini.


“Kembalikan Serena sekarang mah!” suara bentakan itu kembali terdengar saat si penerima tidak mengeluarkan suaranya.


Dua sisi yang sangat berlawanan, satu bernafas teratur dan tenang, sementara yang lainnya bernafas memburu dengan cepat.


Sejenak hanya tidak ada percakapan yang terjadi, keduanya masih diam untuk menunggu lawannya berbicara.


“Mah…” akhirnya yang lebih muda mengalah.


“Kembalikan Serena mah,” pinta Adit.


“Jangan seperti ini mah, Adit mohon… ini sudah melewati batas mah.”


Pembicaraa ini tidak bisa disebut dengan sebuah obrolan, karena tidak adanya timbal balik dari lawan bicara.


Wanita itu tahu benar, kalau orang yang ada di seberang saluran telepon sedang sangat bersedih, besar kemungkinan malah sedang meneteskan air matanya karena frustasi.


“Mah… kembalikan Serena.”


Tentu sudah banyak canda dan tawa di lalui Adit bersama wanita yang membesarkannya itu, kasih sayang dan cinta yang tak mungkin bisa dia balas dengan apapun. Rasa hormatnya pada wanita itu, membuat Adit mau melakukan apapun.


“Mah… jangan melukai Serena sedikit pun, sekalipun mama yang melakukannya, Adit tidak akan terima. Jangan membuat ini semakin rumit mah, kembalikan Serena secepatnya mah.”


Adit menahan suaranya, tidak ingin terdengar lemah dengan mengeluarkan suara isakan.


“Adit… kamu tahu benar apa alasan mama melakukan ini, dan mama tidak akan berhenti sebelum semua yang mama cita citakan tercapai sepenuhnya. Walaupun kamu tidak mau membantu mama lagi, mama akan tetap melakukannya. SENDIRI”


Tut tut tut


Sambungan telepon terputus sepihak.


.


.


.


***