
Farrel harus mengalah dan akhirnya terusir, karena dia tidak punya sanak saudara yang ingin dikunjungi. Walaupun ada sang istri diantara para pasien di rumah sakit ini, tapi Farrel sama sekali tidak ingin mengakui statusnya itu pada siapapun.
Zahra menyambut bahagia kedatangan Serena dan Joni, dia bersusah payah untuk bangkit dan duduk di ranjang brangkar karena ingin memeluk tubuh sang kakak. Dia begitu lega melihat keadaan sang kakak yang ternyata baik baik saja.
“Mbak Rena baik baik aja kan?” derasnya aliran air mata sedikit menyulitkan Zahra melontarkan pertanyaan.
Serena tersenyum, tapi tetap diselingi dengan tetesan air mata, mengelus punggung Zahra yang masih memeluknya erat “Iya….mbak baik baik aja Zahra. Mbak minta maaf ya, gara gara mbak, kamu jadi begini”
Walaupun adiknya tidak mengeluarkan suara untuk menjawab, yang dikarenakan sulit berbicara akibat dari tangisannya sendiri, tapi Serena tetap bisa merasakan gelengan kepala Zahra di pundaknya yang telah basah. Serena terus mengelus punggung Zahra dengan penuh kelembutan, karena takut itu akan membuat adiknya kesakitan dengan luka memar yang dimilikinya.
Joni hanya bisa diam, menyaksikan adegan haru yang sedang berlangsung di depan matanya. Dia tidak mengeluarkan sepatah kata pun, dia juga tidak berniat untuk menganggu kedua kakak beradik yang sedang berada di dunianya sendiri. Hanya diam dan menunggu orang orang terkasihnya melakukan keinginannya.
-
Saat sudah memastikan Joni tidak berada di kamar perawatan Zahra, Adit melangkahkan kakinya menghampiri Serena yang sedang menemani sang adik makan malam. Adit membawa sebungkus makanan yang sengaja dia bawa untuk diberikan pada gadis pujaannya.
“Hai Zahra, gimana? Udah baikan?” tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Adit langsung masuk dan menyunggingkan senyum terbaiknya pada Serena yang menatap aneh padanya.
“Eh Kak Adit, iya kak udah baikan. Kak Adit kok tahu Zahra di rawat disini?” Zahra menyambut gembira kedatangan orang yang dia ketahui sebagai teman semasa sma kakaknya, Serena.
“Itu…ehm… tadi pagi pas kak Adit mau jenguk temen yang sakit, ngga sengaja ketemu kakak kamu di depan UGD, dan kakak jadi tahu kalau kamu di rawat disini juga”
Adit menyerahkan bungkusan berisi buah buahan pada Zahra yang duduk di atas ranjang sambil memakan makan malamnya, lalu Adit mendekati Serena yang duduk tidak jauh dari ranjang dan menyerahkan bungkusan yang sengaja sudah disiapkan.
“Nih, makan malam buat kamu. Kamu belum makan kan?” Serena mengulurkan tangannya untuk menerima pemberian dari Adit, senyum kikuk dia berikan untuk membalas pertanyaan pria itu.
“Ini mama yang masak. Tadi mama langsung pulang, terus masak makanan kesukaan kamu dan nyuruh aku buat nganterin kesini. Dimakan ya…” Serena tidak tega menolak pemberian yang Adit bawa, perutnya yang memang terasa lapar, menuntutnya untuk segera memakan serta menghabiskannya.
Adit tersenyum bahagia melihat Serena dengan lahap memakan pemberiannya, matanya tidak pernah lepas mengawasi gadis itu dengan perasaan yang begitu membuncah, seolah semua jalan telah terbuka lebar untuk membuatnya lebih dekat dengan wanita yang selama ini menghantui mimpi mimpinya di malam hari.
“Serena….aku pergi dulu ya, masih ada pekerjaan yang harus segera diurus” Adit berpamitan pada Serena dengan berat hati, ingin rasanya dia bisa terus duduk berdua dengan gadis itu.
Serena membalasnya dengan menganggukkan kepala dan tersenyum “jam segini kamu masih kerja?”
Tubuh Adit menegang mendengar pertanyaan Serena, dia tidak mungkin menjawab jujur yang mungkin akan kembali membuatnya jauh dari gadis itu serta menyia nyiakan kesempatannya kali ini.
“Iya. Soalnya tadi siang aku ninggalin banyak kerjaan, jadi sekarang harus lembur” hanya itu yang mampu Adit katakan pada Serena.
“Cepet sembuh ya Zahra, besok kakak kesini lagi” saat Adit mulai berjalan menuju pintu, Zahra berteriak untuk mengucapkan terima kasih padanya, dan Adit hanya memberikan senyuman kecil, karena matanya malah sibuk menatap Serena ynag sedang sibuk dengan handphone miliknya.
-
Tidak lama setelah kepergian Adit, Joni sudah datang kembali dengan membawa makanan yang di bawa dari rumah, semua itu adalah masakan Bi sari. Joni membawa Bi Sari dan juga ibu Serena ikut serta, dua wanita tua itu sangat bersedih melihat keadaan Zahra yang tiba tiba harus di rawat di rumah sakit, tapi juga sangat bersyukur karena Zahra hanya mengalami luka ringan dan sekarang sudah baik baik saja.
Saat ibunya dan Bi sari berbincang dengan Zahra, Serena hanya diam membisu di sofa yang tersedia di kamar itu, dia sama sekali tidak menghiraukan sekelilingnya dan sibuk dengan lamunannya sendiri.
Joni mencekal tangan Serena yang telah berdiri dan hendak melangkah pergi “Mau kemana?”
Semua yang ada di ruangan itu menatap heran. Serena yang terlihat aneh jelas terlihat oleh Joni yang sedari tadi memperhatikan gadis itu, seolah ada yang menganggu pikirannya. Serena terus meronta dan mengibas ngibaskan tangannya, tapi sayangnya Joni tidak mau melepaskan dan malah semakin mengencangkan pegangannya.
“Lepas Bang Jon! Jangan kurang ajar kamu ya!” akhirnya Serena membentak Joni di depan ibu, Bi sari juga Zahra. Jelas semuanya menjadi kaget, pasalnya ini adalah pertama kalinya mereka melihat Serena membentak Joni dengan tatapan kebencian.
“Mbak mau kemana?” Tanya Joni khawatir
“Bukan urusan lo! Lepasin tangan gue ! Lo tuh cuma sopir ya, lo ngga usah ikut campur urusan gue! Lepasin Joni!”
“Saya ngga akan nglepasin tangan mbak Rena, kalau mbak ngga bilang mau pergi kemana” Joni begitu berhat hati menjawab ucapan Serena yang sedang dilanda amarah tanpa Joni tahu sebabnya.
“Bukan urusan lo!” sekali lagi Serena membentak Joni
“Kalau mbak mau pergi, saya bisa anter mbak kemana aja mbak mau” Joni memberikan penawaran yang dirasa terbaik untuk sedikit meredakan amarah Serena.
“Gue pengen ketemu pacar gue!”
Semua yang ada di ruangan itu tersentak mendengar ucapan Serena, mereka semua jelas tahu kalau Serena tidak punya pacar, lalu siapa orang dimaksud Serena sebagai pacarnya?.
“Pacar? Siapa mbak? Dimana rumahnya? Biar saya yang antar kesana” Joni merendahkan ucapannya, tidak mau menambah kemarahan gadis yang mulai menitikkan air matanya.
“Hiks hiks hiks…gue kangen Adit, anterin gue kerumahnya hiks hiks huwaaa…..hiks”
Ibu serena bangun dari kursi dan akan berjalan ke arah Serena yang kini terduduk di lantai sambil menangis, tapi Joni langsung memberikan isyarat untuk tidak mendekat, bi Sari berusaha menenangkan ibu Serena agar memberikan waktu pada Joni untuk mengatasi kemarahan gadis itu.
“Gue mau ke rumah Adit hiks hiks anterin gue kesana sekarang Jon, gue kangen banget sama dia hiks hiks” Serena memohon pada Joni yang masih memegangi tangannya tanpa ada niat untuk melepaskan.
.
.
.
***
He…hee
Auto ngamuk nih readernya