
“Turunkan aku di jalan depan!” pinta Sarah pada Bram.
“Kau tidak ingin meneruskannya sampai ke rumahku?” lagi-lagi Bram tidak tahan untuk menggoda Sarah.
“Tidak, dan terima kasih! Aku tidak mau di cakar oleh istri-istrimu. Aku juga punya tempat tinggal yang lebih nyaman dari pada rumahmu. Walaupun aku tinggal sendiri di apartemenku yang kecil, tapi aku merasa lebih bahagia dari pada harus tinggal di istanamu yang penuh dengan para dayangmu itu.”
“Kau sedang mengundangku ya?”
“N*jis! Mengundang apa?” sungut Sarah.
“Barusan kau mengatakan, kalau kau tinggal sendiri. Dan aku akan menganggap itu adalah sebuah undangan. Undangan untuk mampir ke tempatmu dan melakukan sesuatu yang menyenangkan, karena tidak akan ada yang menganggu kita berdua.”
“Jangan mimpi!”
Begitu sampai di tempat yang diinginkan, Sarah segera keluar dari mobil Bram dan lagi-lagi membanting pintunya.
Bram menurunkan kaca mobil dan berkata. “Kalau kau bersikap seperti itu terus, kau bisa merusak pintu mobilku. Aku tidak akan segan-segan meminta ganti rugi padamu,” ancam Bram.
“Apa kau kekurangan uang, sampai harus meminta ganti rugi padaku?”
“Aku pasti akan meminta ganti rugi, tapi tidak dalam bentuk uang.”
“Oh ya ampun, kau sangat perhitungan!”
Sarah meninggalkan Bram begitu saja. Dia begitu muak menghadapi laki-laki yang pembicaraanya selalu menjurus pada kegiatan ranjang. Walaupun dia sendiri bukanlah orang bersih, tapi dia tidak melakukannya dengan sembarang orang. Apalagi dia juga tidak memiliki perasaan apapun dengan Bram.
“Cepat atau lambat, kau harus bisa membuatku mencicipi tubuhnya,” bisik makhluk halus di sampingnya Bram.
“Kenapa kau tak masuk saja ke dalam mimpinya?” ketus Bram.
“Apa kau tidak melihat tubuhnya yang tinggi semampai itu? Tidak akan mengasyikkan kalau aku hanya menikmatinya dalam keadaan tertidur. Aku lebih suka membuatnya menjerit dengan kesadaran penuh, kecuali kepepet ha.. haa….”
--------------------------------------------
“Kenapa apartemenmu sepi sekali, apa kau tinggal sendiri?” tanya Sherly pada Farrel. Dia tidak melihat siapapun yang berada di dalam apartemen milik Farrel selain mereka berdua yang baru saja datang bersama.
“Iya. Tapi mungkin mulai hari ini aku akan tinggal berdua,” jawab Farrel tanpa menatap Sherly.
“Dengan siapa? Ah tidak! Pertanyaan tadi, tidak usah dijawab.” Sherly buru-buru mengganti pertanyaan. “Apa aku menganggu?”
“Kalau aku merasa kau sebagai pengganggu, aku tidak akan membawamu pulang kesini.”
“Lalu dimana orang yang akan tinggal denganmu? Apa dia belum pulang dari bekerja? Atau hanya salah satu dari temanmu?” tanya Sherly sambil mengedarkan pandangan untuk mencari orang dimaksud oleh Farrel.
“Kenapa aku jadi banyak bertanya?” batin Sherly.
Farrel tersenyum. Dia menghampiri Sherly yang menatapnya dengan bingung. Farrel memegang pundak Sherly dan memutar tubuh wanita itu untuk menghadap ke cermin besar yang terpasang di tembok, tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Itu orangnya,” ucap Farrel menunjuk ke cermin.
Sherly masih tidak mengerti. Dia menatap cermin yang memantulkan gambar dirinya. Untuk beberapa saat, Sherly terus menatap dirinya sendiri tanpa mengeluarkan suara. Dan keningnya mulai berkerut, ketika otaknya bisa menangkap apa maksud ucapan Farrel.
“Aku?!” pekik Sherly.
“He ehm,” jawab Farrel. Dia mengangguk mantap dengan menaik turunkan alisnya.
“Kenapa aku? Dan sejak kapan aku setuju tinggal denganmu?!” cecar Sherly menahan geram.
“Aku tidak perlu bertanya apalagi meminta persetujuanmu. Aku hanya ingin melindungimu dari kegilaan Sarah. Aku tidak mau kau kenapa-napa, apalagi harus terluka. Sekarang apartemenmu sudah tidak aman. Aku yakin, kalau Sarah pasti sudah tahu dimana letak apartemenmu, dan pasti sudah pernah ke sana juga. Benarkan?”
Semua yang diucapkan oleh Farrel benar. Sherly tidak bisa membantah.
“Tapi baju-bajuku…”
“Aku sudah menyuruh seseorang untuk mengambil sebagian kebutuhanmu, lalu sisanya… nanti kau bisa membelinya bersamaku.”
“Kenapa kau bersikap seperti ini padaku? Apa dimatamu, aku tampak begitu menyedihkan? Apa kau tidak takut, kalau nanti aku akan menyalah artikan perlakuanmu menjadi perhatian?” tanya Sherly menyandarkan punggungnya di sofa.
“Kalau kau terlalu baik, mungkin aku akan tambah merepotkanmu. Apa kau tidak keberatan?” tambahnya.
“Itu memang bentuk perhatian dariku. Apa aku tidak boleh melakukannya? Padahal aku sangat senang kalau kau mau merepotkanku.” Farrel pun ikut duduk. Meskipun sofa mahal miliknya cukup panjang, tapi dia ia memilih untuk duduk dekat dengan Sherly, tepat di sampingnya.
“Farrel, kau adalah laki-laki beristri. Kau dan Sarah masih terikat hubungan resmi yang sakral. Akan sangat salah, kalau sekarang kau menarikku masuk dan berdiri diantara kalian. Walaupun aku bukan orang yang baik, tapi entah kenapa aku tidak mau menjadi penghancur rumah tanggamu,” ucap Sherly.
“Kenapa kau harus merasa bersalah? Ada atau tidaknya dirimu, rumah tanggaku memang sudah hancur dari awal. Aku tidak pernah mencintai Sarah, tidak sedikitpun. Waktu itu, aku harus menikahinya sebagai syarat untuk memajukan perusahaanku. Aku sampai harus menghianati Serena, hanya karena ambisiku. Aku…”
“Lalu sekarang, apa kau masih mencintai Serena?” tanya Sherly. Dia dengan cepat memotong penjelasan Farrel. Sherly merasa kalau ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya, berhubung pria itu sedang membicarakan Serena. Melihat bagaimana Farrel tetap bersikap baik pada Serena walaupun wanita itu sudah menikah, Sherly jadi penasaran. Sebenarnya seperti apa hubungan mereka berdua saat ini.
“Ya. Aku masih mencintai Serena,” jawab Farrel. Pengakuan yang membuat hati Sherly seperti tertusuk duri.
“Hari ini dan sampai kapanpun, aku akan tetap menyayanginya. Tapi… sekarang aku sudah tidak berharap untuk bisa memilikinya lagi,” lanjutnya.
“Kenapa?”
Farrel sedikit menyunggingkan senyum, “aku bisa melihat dengan jelas, kalau saat ini Serena sudah hidup bahagia. Ck! Aku benci untuk mengakui kehebatan si supir itu. Tapi… Joni ternyata bisa membuatnya lebih banyak tersenyum dan tertawa dari pada saat menjalin hubungan denganku. Dan sejak pernikahan mereka, aku telah berjanji pada Serena, kalau aku hanya akan menyayanginya sebagai teman.”
“Lalu... apa kau bisa melakukannya?” tanya Sherly ragu-ragu.
“Sampai hari ini, aku bisa. Dan semua ini membuatku semakin sadar, kalau Joni adalah laki-laki yang tepat untuk Serena. Mereka berdua diciptakan untuk bersama. Lagi pula…” Farrel menggantung ucapannya. Dia memalingkan wajah agar menghadap pada Sherly. Membuat jarak diantara mereka semakin terkikis, bahkan kurang dari satu jengkal.
“Lagi pula?” Sherly ikut memiringkan wajahnya agar lebih mudah untuk membalas tatapan Farrel yang duduk persis di sampingnya.
“Aku ingin mulai menata hidupku, menata masa depanku. Dan aku ingin melakukannya denganmu,” ucap Farrel menatap lurus ke mata Sherly.
Mata Sherly mengerjap pelan. Dia masih diam terpaku dengan tatapan kosong. Kemudian tangannya bergerak meraba bibir, mencoba mengingat pencurian yang baru saja dilakukan oleh Farrel.
“Apa barusan kau menciumku?” tanya Sherly polos.
Farrel menggeram. Dia tidak menyangka kalau Sherly bisa memberinya tatapan polos seperti seorang gadis yang baru pertama kali merasakan ciuman pertama. Segitu besar dampak ciuman darinya sampai membuat Sherly kehilangan daya pikir.
“Ck! Sepertinya, aku harus melakukan reka adegan.”
“Reka adegan apa?”
Tangan kekar Farrel menangkup pipi Sherly dikedua sisi, menarik perlahan agar wajah Sherly semakin dekat dengannya. Sejenak melakukan kontak mata dan akhirnya menempelkan bibirnya pada bibir Sherly.
Mendapat perlakuan hangat dan lembut dari Farrel, Sherly sampai lupa untuk bernafas. Matanya terus saja mengerjap dengan kedua tangan yang mengepal.
Farrel segera melepas pertautan bibirnya dengan Sherly, ketika mengetahui kalau wanita itu begitu tegang. “Bernafaslah Sherly….”
“Huh?” tanya Sherly yang bingung dengan perintah Farrel.
“Bernafas!”
“Oh, iya.”
Farrel membiarkan Sherly menghirup udara sebanyak yang wanita itu mampu. Lalu jarinya hanya membantu mengusap bibir Sherly yang basah akibat ulahnya.
“Sudah?” tanya Farrel yang melihat Sherly kembali bernafas normal. Kedua tangannya masih tidak berpindah dan tetap menangkup pipi Sherly.
“Apanya?”
Farrel tidak menjawab. Dia kembali menyatukan bibirnya kembali pada bibir Sherly. Kali ini, ciuman mereka menjadi lebih dalam, karena Sherly mulai membalas. Farrel yang tidak mendapati penolakan pun, terus melanjutkannya dengan senang hati.
Drrrt drrrt
Handphone milik Sherly bergetar. Merusak momen indah yang sedang berlangsung dan menginterupsi sang pemilik untuk menghentikan aktifitas yang sedang dilakukannya.
Sherly segera tersadar dan langsung mendorong Farrel. Pria itu terlihat kecewa, tapi tidak marah.
Sherly mengambil handphone yang berada di dalam tas. Membuka pesan terkirim tanpa membaca siapa pengirimnya lebih dulu, karena matanya mengawasi perubahan wajah Farrel.
“*Dimana lo?!”
“Sekarang gue ada di depan apartemen lo.”
“Cepet buka pintu*!!”
Itulah isi pesan yang tertulis di layar handphone. Tangan Sherly gemetar setelah membaca nama sang pengirim pesan.
“Siapa?” tanya Farrel. Dengan santainya dia mengintip layar handphone milik Sherly yang ada di sampingnya.
Tanpa pikir panjang, Farrel menyaut handphone Sherly. Mematikan dan menyimpan handphone itu ke dalam saku celananya lalu menggenggam tangan Sherly.
“Tidak perlu dipikirkan, sebaiknya sekarang kau istirahat.”
Farrel membimbing Sherly menuju kamar, memaksanya untuk naik ke ranjang dan menyelimutinya sampai batas leher.
“Tidurlah! Aku akan disini, menemanimu.”
Farrel mengusap puncak kepala Sherly perlahan. Melemparkan senyuman untuk membuat wanita yang berada di atas kasurnya lebih tenang dan bisa memejamkan mata tanpa perasaan takut.
Sherly memejamkan mata dan tertidur dengan nyenyak. Belaian lembut dari tangan Farrel ternyata sangat ampuh mengantarkannya ke alam mimpi. Pria itu bahkan bisa mendengar dengkuran halus dengan tarikan nafas yang teratur dari Sherly, menandakan kalau wanita itu merasa sangat nyaman dengan tempatnya saat ini.
“Selamat tidur,” ucap Farrel sebelum mendaratkan sebuah kecupan di kening Sherly.
Sejenak menatap wajah tenang Sherly, untuk kemudian keluar kamar dengan hati-hati.
“Apa kau melakukan perintahku?” tanyanya pada orang yang berada di ujung telepon.
“Baiklah, terus awasi dia dan kabari aku.”
Sambungan telepon terputus. Farrel sudah mendengar berita terbaru dan juga memberikan perintah selanjutnya.
“Aku harus segera mengakhiri ini semua, sebelum wanita gila itu melakukan sesuatu yang bisa melukai Sherly. Cukup aku saja… cukup aku saja dan jangan sampai Sherly mengalami penderitaan karena dia. Aku tidak akan membiarkannya bertindak sesuka hati lagi,” gumam Farrel.
Farrel kembali ke dalam kamar. Setelah membersihkan diri, dia pun ikut berbaring sambil memeluk tubuh Sherly. Berbagi kehangatan selimut sampai matahari menyapa.
.
.
.
***
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.