KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 115


Sementara itu di dalam rumah, Joni segera bangkit dari duduk. Penyusup kecil yang memasuki rumah Maya sudah berdiri di depan matanya. Anak itu sudah terlihat ketakutan karena Joni dan Braja menatap tajam padanya.


“Harus kita apakan dia, Braja?”


“Tangkap dan kembalikan ke habitatnya.”


“Lalu pemiliknya?”


“Aku punya hadiah kecil untuknya, sebagai ganti dari makhluk ini.”


“Apa itu?”


“Kau akan melihatnya besok.”


“Ck, kau membuatku penasaran!”


“Itulah aku ha… haaa….”


Mendengar percakapan yang terjadi diantara Braja dan Joni, ternyata mampu menciutkan nyali bocah kecil yang baru saja ingin melakukan pekerjaan rutinnya. Dia segera berbalik dan berusaha berlari menjauh untuk menyelamatkan diri.


Tapi sayangnya, itu berakhir sia-sia. Tidak ada jalan baginya untuk bisa meloloskan diri semudah saat dia masuk. Semua jalan telah tertutup, bahkan tembok pun tidak bisa lagi dia tembus.


Semua itu, karena sebelumnya Braja telah memasang jaring ghoib yang menutup dan mengelilingi seluruh rumah. Jaring sakti yang mampu menjerat semua makhluk yang telah masuk ke dalam, tapi tidak bisa keluar tanpa izin dari pemilik jaring.


“Kau mau kemana, pencuri kecil?” tanya Braja. “Menyerahlah, sebelum aku menggunakan kekerasan padamu. Aku akan mengembalikanmu ke tempat yang seharusnya.”


“Tidak mau! Aku tidak mau pulang ke pohon di hutan itu lagi! Manusia itu telah memberiku tempat tinggal yang baik. Disini aku juga bisa makan dan bermain dengan bebas.”


“Tapi kehadiranmu hanya merugikan banyak orang. Kau bahkan telah berani datang ke rumah ini untuk mengambil yang bukan milikmu!” bentak Braja.


“Aku hanya di suruh!”


“Apapun alasanmu, aku tetap akan membawamu ke tempat tinggalmu yang sesungguhnya.”


“Sudah kubilang, aku tidak mau!”


Setelah mengucapkan kata itu, sang bocah berlari kembali. Kali ini dia menaiki tangga menuju lantai atas. Joni yang dari tadi hanya diam dan mengawasi pun ingin ikut berlari menyusul. Istri dan anaknya dalam bahaya, begitu pikirnya. Namun gerakannya segera dicegah oleh Braja.


“Biarkan saja Joni!”


“Apa kau gila! Disana ada Serena dan Sekar, bagaimana kalau bocah itu mencelakai anak dan istriku?”


“Tidak perlu tergesa-gesa. Bocah itu tidak akan mampu mendekat atau mencelakai Serena, apalagi dengan adanya anakmu di atas. Dia akan hancur sebelum bisa menyentuhkan tangannya pada kulit Sekar.”


“Maksudmu?” tanya Joni bingung.


“Akan lebih mudah saat kau bisa melihatnya secara langsung, dari pada aku harus menceritakannya dengan kata-kata. Karena itu butuh waktu, dan aku malas untuk menjelaskannya.”


“Cih! Kau selalu saja seperti itu. Aku harus punya alasan dari semua ini, karena Serena pasti akan banyak bertanya.”


“Itu urusanmu, kau kan suaminya.” ucap Braja. “Sudahlah! Sekarang ayo pergi ke atas, dan lihat bagaimana keadaan Serena serta anakmu!”


Joni berjalan cepat menaiki tangga. Hatinya tidak berhenti merapalkan doa-doa untuk keselamatan anak dan istrinya. Dan betapa terkejutnya Joni, saat melihat Sekar yang sudah duduk di pinggir kasur bersama sang bocah pencuri. Mereka berdua sedang mengobrol dan tampak sangat akrab.


Mata Joni melebar kembali tanpa diminta, ketika dia bisa melihat sosok wanita yang berdiri di sudut ruang dan menatap Sekar dengan penuh kasih sayang. Wanita yang berpakaian serba putih itu lalu tersenyum samar pada Joni yang masih berdiri kaku.


“Itu Ibunya Sekar,” jelas Braja.


“Ibu?”


“Ya. Dan dialah orang yang telah mengorbankan diri untuk Sekar, sehingga anakmu memiliki keistimewaannya sendiri.”


“Apa Sekar bisa melihatnya?” tanya Joni.


“Tentu saja bisa.”


Menyadari kehadiran Joni, Sekar segera menoleh dan memberikan senyuman ke arah laki-laki yang memasang wajah cemas padanya. Tangan kecilnya mengayun dan memberi isyarat agar Joni mendekat.


Sementara si bocah pencuri malah beringsut ke balik tubuh Sekar, saat Joni mulai melangkahkan kaki. Dia takut dengan tatapan tajam yang diberikan Braja padanya.


“Kemarilah!” perintah Braja pada bocah kecil.


“Tidak mau!”


“Bantu aku untuk menangkapnya, Sekar!” pinta Braja.


Bocah pencuri menatap penuh permohonan pada Sekar. Dia tidak mau dikembalikan ke tempat asalnya seperti ancaman yang diberikan oleh Braja. Dia tetap ingin tinggal bersama dengan orang yang telah memeliharanya serta hidup dengan aturannya sendiri.


“Pergilah bersamanya!” ujar Sekar.


“Tidak mau!”


“Kau akan baik-baik saja.”


“Tidak mau!”


“Aku akan marah, kalau kau tidak menurut!”


“Aku tidak mau pulang ke pohon itu lagi. Walaupun di sana aku punya banyak teman, tapi aku tidak punya ibu. Bukankah kau kemari juga karena ingin memiliki ibu?” tanya bocah pencuri pada Sekar.


“Kalau begitu berikan ibumu padaku! Baru aku akan pergi.”


Sekar sangat tidak suka mendengar permintaan teman barunya itu. Tidak ada lagi senyuman hangat di wajahnya seperti tadi. Saat Sekar mulai mengepalkan tangan kecilnya, pencuri itu merasakan aura yang luar biasa menakutkan. Bahkan Joni dan Braja juga merasakan hal yang sama. Sosok wanita berbaju putih yang berdiri di sudut kamar pun mulai panik, wajahnya yang putih menjadi semakin putih.


“Mama Rena hanya milik Sekar, jangan pernah bermimpi untuk merebutnya dariku!” bentaknya penuh amarah.


Mendengar suara teriakan keras dari Sekar, sontak membuat Serena langsung terjaga.


“Ada apa sayang?” tanya Serena. Dia sedikit takut melihat putrinya yang tiba-tiba terselimuti hawa amarah yang begitu kuat. Serena tidak pernah melihat Sekar sampai semarah ini, bahkan saat anaknya meminta sesuatu dan tidak mendapatkan apa yang diinginkan, putrinya itu tidak pernah ngambek berlebihan.


Dengan gerakan yang lembut, Serena mendekat dan membawa ke dalam dekapannya. Mengusap punggung Sekar serta menciumi puncak kepalanya berulang-ulang. Dia terus berusaha membuat anaknya untuk tenang dari kemarahan yang tidak dia tahu alasannnya.


“Mama di sini sayang, tenanglah…” ucap Serena.


Serena melonggarkan pelukan, setelah melihat kepalan tangan anaknya mulai terbuka. Menatap mata dan tersenyum tanpa berusaha untuk mengintrogasi.


“Mamaaaa…. hiks hiks… Mama jangan pergi, Mama jangan tinggalin Sekar!” cicitnya dengan sesenggukan.


“Iya. Mama tidak akan pergi kemana-mana. Mama sayang Sekar, jadi tenanglah….”


Sekar kembali masuk ke dalam pelukan Serena. Dan disaat yang bersamaan, Serena melihat Joni berdiri tidak jauh darinya bersama dengan Braja. Dia bertanya menggunakan tatapan mata, tentang penyebab teriakan Sekar yang baru saja terjadi.


Joni mengangguk penuh arti. Dan Serena pun mengerti kalau Joni akan menjelaskan semuanya, nanti. Joni bersama Braja keluar kamar. Serena yang tidak bisa melihat bocah pencuri dan juga sosok ibu Sekar, mulai merebahkan diri tanpa melepaskan pelukan. Dia bisa merasakan kalau Sekar mulai tertidur, walau masih sesekali bergumam agar Serena tidak pergi.


“Ada apa denganmu, nak? Kenapa kau seperti ini?” lirih Serena khawatir.


Serena mulai mengingat-ingat kejadian sebelumnya, ketika mereka mulai tidur bertiga dengan tenang, lalu tiba-tiba dia terjaga karena mendengar suara teriakan Sekar. Sampai dengan ingatan terakhir, Serena tetap tidak menemukan alasan dari semua yang terjadi.


Sekar sudah tertidur pulas dalam pelukan Serena. Wajah cantik yang tenang dengan sisa air mata di pipi. Meski begitu, tangan mungilnya akan langsung mengeratkan pegangan pada lengan Serena, ketika dia menyadari gerakan dari sang mama, walaupun hanya sedikit.


Tidak mau membangunkan tidur anaknya, Serena akhirnya ikut tertidur. Dia menunda meminta penjelasan dari Joni. Biarlah itu diurus besok, batinnya.


Sementara di luar kamar, tepatnya di lantai bawah. Braja sudah memegangi bocah pencuri yang terlihat pasrah tanpa meronta. Sepertinya anak itu sudah tidak peduli lagi, kalaupun harus dipulangkan ke tempat asalnya oleh Braja.


“Bolehkah aku tetap disini? Aku janji, tidak akan mengambil uang siapapun lagi.”


Tatapan penuh permohonan tertera jelas di wajah yang berdiri di hadapan Joni. Dia juga menatap Joni untuk meminta pertolongan.


“Kalau kau tetap disini, apa keuntungannya untuk keluarga ini?” tanya Braja.


“Aku akan menjadi teman Sekar dan juga ibunya. Aku akan menjaganya, seperti yang kau lakukan. ” jawabnya takut-takut.


“Apa?! Kau ingin menjadi teman istriku?” tanya Joni tidak setuju.


“Bukan yang itu, tapi ibu Sekar yang asli.”


Joni dan Braja masih terdiam. Mereka terlihat sedang menimbang hal baik dan buruk apa yang akan terjadi, jika Sekar terus berteman dengan bocah pencuri yang terkenal licik itu.


“Bagaimana Joni?” tanya Braja. Dia tidak bisa memutuskan langkah selanjutnya sendiri.


“Sebaiknya besok kita tanya Sekar dulu. Kalau ternyata dia setuju, maka mau tidak mau, kita pun harus mengikuti keinginan anakku. Bagaimana?” ucap Joni.


“Baiklah.”


Braja memasukkan bocah itu ke dalam botol transparan yang dia minta dari Joni, lalu menyimpannya di atap rumah yang jauh dari jangkauan penghuni rumah.


“Tunggu disini, dan jangan banyak tingkah! Aku akan mengeluarkanmu atau malah memulangkanmu setelah bertanya pada Sekar. Jadi diam dan menurutlah!”


“Lalu kapan aku bisa keluar?” tanyanya pada Braja.


“Kau masih berani bertanya?!” sinis Braja. “Kau lihat sendiri kan, seperti apa kemarahan Sekar, tadi? Kalau aku jadi kau, aku akan menutup mulutku rapat-rapat. Dan kalau kau tidak ingin dihancurkan, maka bersikap baiklah pada Sekar.”


“Baiklah,” katanya pasrah.


“Bagus!”


.


.


.


***


Info perubahan jadwal up.


Selama ramadhan, Si_Ro akan up 2 hari sekali. Kalau ternyata muncul notif up tanpa libur, berarti Si_Ro lagi baik. Tapi kalau 2 hari ngga up juga, berarti Si_ro lagi bete. (jelek banget kalau yg ini)


Mohon dimengerti, karena Si_Ro juga pengen punya tabungan akherat.


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.