KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 81


“Kalau kau tetap di sini, itu akan sangat berbahaya Rena. Dalam keadaanku sekarang, akan sulit untuk melindungimu. Pulanglah…”


“Bahaya! Bahaya apa lagi?” tanya Serena penuh kekhawatiran.


“Sepertinya sudah terlambat Joni,” ucap Juan. “Dia sudah di sini,” sambungnya.


Mata Serena membulat sempurna, dia mulai mengerti arah pembicaraan Juan dan Joni yang seolah tidak mau melibatkannya. Bukan sekali atau dua kali gadis itu mengalami hal-hal di luar nalar, jadi dia tahu alasan kenapa Joni ngotot menyuruhnya pulang.


Tapi kenapa Joni malah menyuruhnya pulang? Bukankah kalau dia pulang, itu berarti dia akan sendirian, dan itu malah akan semakin berbahaya?


Tubuh Serena mulai bergetar takut, pertanyaan demi pertanyaan berkeliaran di kepalanya tanpa jawaban yang bisa membuat hatinya tenang.


Siapa musuhnya kali ini? Siapa yang ingin menyerangnya dengan ilmu hitam? Siapa lagi yang menginginkan nyawanya? Apakah masih orang yang sama? Atau ada yang lain?


Saat Serena di serang oleh banyak pertanyaan, Juan mendekatinya dan menuntunnya untuk duduk di sofa. Tapi mata gadis itu tidak pernah lepas menatap Joni yang terlihat mulai bersiap dari atas ranjangnya.


“Ada yang ingin bermain-main rupanya,” ucap Juan yang kembali berbicara pada Joni.


“Jaga Serena, dan aku akan menjaga diriku sendiri,” ucap Joni.


“Santai saja…” balas Juan.


“Jangan pernah menyepelekan lawan Juan, kita tidak akan tahu sebesar apa kekuatan musuh sampai pertarungan itu selesai. Jadi tetaplah bersikap hati-hati, apalagi ini sama sekali belum di mulai.”


Juan tidak menjawab ucapan Joni. Laki-laki itu memilih duduk di samping Serena sambil menunggu musuh yang dia rasa semakin dekat. Juan terus memperhatikan perubahan sikap istrinya yang diam saja dari tadi. Gadis itu tidak bertanya sedikit pun tentang situasi yang terasa semakin mencekam untuk ukuran manusia seperti istrinya. Juan berpikir kalau Serena sudah tahu semua, jadi dia tak perlu repot untuk menjelaskan.


Juan menggenggam jemari Serena yang saling bertaut, membuat sang istri memalingkan wajah untuk balas menatapnya. Sejenak pandangan Serena pun beralih, tapi itu tidaklah berlangsung lama.


“Tenanglah… kali ini bukan kau targetnya, tapi laki laki itu,” Juan menunjuk Joni.


Bukannya menjadi tenang, Serena malah menjadi semakin tidak terkendali. Gadis itu hampir bangkit dari duduk dan menghambur ke brangkar tempat Joni berada, kalau saja Juan tidak cepat meraih lengannya.


“Kau mau kemana?” tanya Juan pada Serena yang tidak melepaskan pandangannya dari Joni.


“Serena…”


“Serena!” akhirnya Juan meninggikan suara untuk mendapatkan perhatian sang istri.


“Tenanglah… ada aku di sini,” ucap Juan yang mencoba menenangkan.


“Kenapa dengan Joni? Kenapa sekarang malah dia yang diincar? Kenapa bukan aku?” Serena memuntahkan pertanyaan yang mengusik hatinya.


“Tenanglah Rena…” ucap Joni dari ranjangnya.


“Jadi ini alasan, kenapa kau menyuruhku untuk pulang?” tanya Serena dengan mata yang mulai menggenang.


“Rena… aku mohon tenanglah,” bujuk Joni.


“Bagaimana aku bisa tenang Joni?”


“Berhenti di situ! Jangan mendekat, ini berbahaya!” bentak Joni pada Serena yang mulai melangkahkan kakinya menuju brangkar.


Tubuh Serena berjingkat karena kaget. Dia tidak menyangka Joni akan memberinya tatapan tajam dan bicara dengan suara keras, padahal biasanya laki-laki itu selalu bersikap lembut padanya. Serena tertunduk sedih, dia tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu Joni, bahkan mendekatinya pun tidak boleh. Tapi jika Joni sampai membentaknya, berarti situasinya benar-benar tidak baik.


Serena memutuskan untuk menuruti perintah Joni, mungkin dengan begini dia tidak semakin menyulitkan dua pria yang selalu melindunginya.


KRETAK… KRETAK… PRAKK


Kaca jendela kamar rumah sakit tempat Joni dirawat, retak. Sedikit demi sedikit, muncul embun dari retakan yang akhirnya mulai menyebar ke seluruh kaca jendela. Serena mulai mengkerut takut, kakinya yang tadi masih menginjak lantai, mulai dia naikkan ke atas sofa.


Serangan malam ini hampir sama dengan serangan yang terjadi di apartemen milik Serena. Dulu kaca jendela yang ada di ruang tamu apartemen Serena hancur dengan pecahan kaca yang remuk berhamburan, dan Serena harus menggantinya dengan yang baru dan kualitas lebih bagus. Lalu malam ini, dia harus mengalami dan menyaksikan hal serupa, sekali lagi.


Joni bisa mendengar suara Serena yang bergetar. Dengan penuh kewaspadaan, laki-laki itu menyempatkan diri untuk mengirim sebuah senyuman pada Serena, berharap bisa mengurangi ketegangan gadis itu.


Ingin sekali rasanya Serena berlari mendekati Joni dan memeluknya, memberi perlindungan pada pria itu walau pun hanya sekali. Serena sudah berkali-kali merasakan kenyaman dan ketenangan berada dalam pelukan Joni, dan kali ini dia ingin melakukan hal sama untuk membalasnya.


“Tetap di belakangku Serena…” perintah Juan yang sudah berpindah posisi untuk membelakanginya.


Embun yang ada di retakan kaca jendela sudah menyebar dan memburamkan pandangan. Kaca yang tadinya terlihat bening dan bisa menampilkan pemandangan yang ada di luar, kini terlihat gelap bagai tertutupi tirai.


Keringat dingin sudah membasahi dahi Serena. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain diam dan menuruti perintah Juan atau Joni padanya. Dan ketakutan semakin menguasai tubuh Serena, saat gadis itu mulai melihat bayangan berwarna putih berbentuk seorang wanita muncul dari pintu kamar.


“Ju… Ju… Juan…” bisik Serena. Tangannya secara otomatis membekap mulutnya sendiri, ketika makhluk yang baru masuk ke ruangan itu berhenti dan menatapnya dalam kebisuan.


Jantung Serena berdetak semakin tak terkendali saat makhluk berwana putih itu melayang ke arah dirinya. Tangan yang ramping dengan kuku-kuku panjang telah terulur mengarah ke leher Serena, membuat Joni hampir turun dari ranjang dan mencabut jarum infus yang masih menancap di punggung tangannya.


“Dia milikku! Kau tidak akan bisa menyentuhnya!” Juan menggeram marah.


Joni kembali duduk di atas brangkar, setelah melihat Juan memberi perlindungan pada Serena. Dia bersiap untuk menghadapi musuh yang sudah berbalik arah dan menatapnya kembali, sama seperti saat makhluk itu masuk ke kamar.


Hawa dingin mendekati Joni bersama dengan mendekatnya roh wanita yang sudah pasti jahat itu. Bau busuk ikut menyeruak dan mengganggu indra penciuman siapa saja yang ada di dalam ruangan itu.


“Siapa yang mengirimmu?” tanya Joni pada iblis wanita yang ada di depannya.


Iblis wanita itu hanya menyeringai. Terbang ringan ke sana kemari mengelilingi tubuh Joni yang masih berusaha tenang.


Dari balik punggung Juan, Serena terus memperhatikan interaksi Joni dan iblis wanita yang seolah sedang bermain-main.


“Juan… kenapa kau tidak membantu Joni?” bisik Serena.


“Bukan tugasku,” jawab Juan.


“Walaupun tidak sehebat diriku, tapi sopirmu itu bisa menghadapinya. Kita lihat saja dari sini, aku hanya akan bertindak jika iblis itu menganggumu.”


“Apa kau tidak bisa mengusirnya saja? Kenapa kita harus menunggu?” Serena terdengar tidak sabar.


“Dimana serunya kalau makhluk itu langsung diusir? Kita perlu tahu siapa yang mengutus iblis wanita itu kemari. Setelah kita tahu siapa bosnya, baru kita ambil tindakan. Ok istriku?”


“Tapi sampai kapan kita harus menunggu?”


“Tunggulah sebentar lagi,” kata Juan.


PRANGGG…


Kaca jendela benar-benar pecah berantakan, mengagetkan semua yang ada di kamar rawat inap. Juan, Joni dan Serena serentak menatap ke arah jendela yang sudah hancur tanpa penutup lagi.


Kali ini yang datang adalah dua benda berbentuk bulat menyerupai sepasang bola mata yang terbakar api. Sangat mengerikan bisa melihat makhluk astral dalam berbagai bentuknya. Tamu yang tak diundang melayang masuk tanpa rintangan.


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf kalau ada kata-kata yang menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.