
Zahra sedikit merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Serena, dia melihat dengan mata dan kepalanya sendiri saat Serena memakan makanan yang di bawa oleh Adit. Baik Serena dan juga Zahra sama sekali tidak memiliki prasangka buruk pada Adit yang tiba tiba datang menjenguknya.
“Zahra titip Mbak Rena dan ibu ya Bang Jon” ucapnya lemah.
“Iya…istirahatlah, besok kamu juga udah bisa pulang ” Joni mengerti dengan perasaan Zahra.
Joni membawa Serena dan ibunya keluar dari kamar perawatan Zahra, berbarengan dengan petugas yang sedang memeriksa setiap kamar di jam besuk yang sudah habis, rumah sakit hanya membolehkan satu orang pendamping untuk setiap satu pasien.
Mereka bertiga sudah berada di area parkir rumah sakit, membuka pintu penumpang belakang untuk ibu Serena dan membantunya untuk duduk dengan nyaman. Tangan Joni membuka pintu penumpang depan untuk Serena, dia sengaja melakukan itu agar mudah untuk mengawasinya, takut kalau terjadi hal hal yang tidak diinginkan.
“Sayang….”
Farrel mencekal tangan Serena sebelum gadis itu sempat masuk ke dalam mobil. Entah darimana datangnya, yang jelas laki laki itu sudah berada di depan mata Serena yang malah menatapnya dengan penuh permusuhan.
“Ngapain lo kesini?” sinis Serena.
“Sayang….kamu kenapa?” Farrel terkejut dengan sikap gadis yang dicintainya itu.
“Jangan panggil panggil sayang, gue bukan pacar lo!”
“Ok ok, tapi kamu mau kemana?”
“Mau ketemu pacar dong” Serena tersenyum lalu mengalihkan pandangannya pada sang sopir “Ya kan Bang Jon?”
Joni mengangguk tipis, tidak tega dengan raut bahagia di wajah Serena yang pasti akan berubah muram jika dia menjawab tidak.
“Pacar? Siapa? Pacar kamu kan aku sayang….” Farrel begitu penasaran dan juga tidak terima melihat Serena tersenyum yang bukan untuknya.
“Jangan panggil panggil sayang!” Serena membentak Farrel “Denger baik baik ya, pacar gue tuh namanya Adit, dan sekarang gue mau ketemu sama dia” Serena tidak menghiraukan kemarahan yang sudah nampak dari mata Farrel, pria itu terlihat sangat terpukul mendengar jawaban yang meluncur mulus dan penuh keyakinan.
Kini tatapan Farrel beralih pada Joni, dia menolak mentah mentah semua ucapan Serena dan dengan pasti tidak akan mempercayainya. Tangan Farrel masih memegangi lengan Serena yang sudah berkali kali berontak, memalingkan wajah seolah jijik jika terus menerus beradu pandang dengannya.
Beberapa kali Farrel menggelengkan kepalanya, merasa perlu mendapat penjelasan berbeda, penjelasan yang lebih masuk akal, karena Farrel melihat ada sesuatu yang tidak biasa dari Serena dan penjelasan yang diinginkannya hanya dimiliki oleh sopir gadis itu.
“Nanti gue jelasin, tapi lepasin dulu tangan Serena” Joni yang bisa melihat kebingungan Farrel, akhirnya bersuara.
Dengan berat hati, Farrel melepaskan lengan Serena sesuai dengan yang diperintahkan oleh Joni. Kebencian yang terpancar dari mata Serena, sangat melukai hati Farrel, dia kembali melihat tatapan itu, tatapan yang sama seperti saat dia meninggalkannya demi menikahi Sarah.
Serena tidak mau sedetikpun mengalihkan pandangannya untuk Farrel, dia lebih memilih menatap sembarang tempat, kemana pun itu asalkan bukan laki laki yang pernah meninggalkannya demi wanita lain.
Joni mulai berjalan ke pintu pengemudi, memutari setengah mobil bagian depan dan Farrel mengekorinya di belakang.
“Serena kenapa hah? Kenapa dia bersikap seperti itu?” Tanyanya sedikit berbisik, dia merasa tidak enak setelah melihat tatapan tidak suka dari ibu Serena yang sedang duduk di kursi penumpang belakang.
“Gue juga ngga tahu, tadi gue tinggal pulang kerumah sebentar, dan pas balik lagi dia udah berubah jadi begitu”
“Terus siapa itu Adit?” Farrel menekan kembali pintu mobil yang hampir terbuka.
“Temen Mbak Rena waktu SMA”
“Kenapa Serena menyebut dia sebagai pacarnya?”
“Gue ngga tahu”
“Kenapa lo ngga tahu, lo kan sopirnya”
“Kan gue udah bilang, tadi gue pulang ke rumah, dan pas balik sikap Mbak Rena udah berubah jadi gitu. Gue juga bingung, kenapa Mbak Rena jadi kangen sama Adit dan maksa maksa gue buat nganterin ke rumahnya” Joni menjawab penuh dengan rasa frustasi.
“Terus sekarang lo mau nganterin Serena ke rumahnya si Adit itu?!” suara Farrel bergetar menahan emosi.
“Ya nggaklah! Gue mau bawa Mbak Rena pulang ke apartemennya” Joni berhasil menyingkirkan tangan Farrel, dia langsung menekan tombol yang bertuliskan start stop engine begitu duduk di kursi pengemudi, meninggalkan Farrel seorang diri.
Joni melajukan mobil milik Serena dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota di malam hari yang masih di jejali bermacam kendaraan. Dia berkali kali melirik pada Serena, gadis itu terlalu sibuk dengan dirinya sendiri, menatap ke arah luar sambil bersenandung kecil.
“Ayo Bang Jon, cepetan dikit kenapa sih.” Serena memprotes cara mengemudi sopirnya.
“Jalanan masih rame mbak”
“Sabar sayang…” Ibu Serena ikut menenangkan.
“Handphone Rena di kemanain sih Bang Jon?”
“Ngga tahu mbak, emang mbak mau ngapain?” diam diam Joni meraba pahanya, mencari keberadaan benda yang dia simpan di saku celana sebelah kanan, benda yang sekarang sedang di cari cari oleh Serena.
“Mau nelpon Adit”
“Ngapain? Kan bentar lagi kita mau ke rumahnya”
Senejak Serena terlihat menimbang nimbang ucapan Joni “Iya ya, ilang juga ngga papa, besok Rena mau beli yang baru, yang sama persis sama kayak punya Adit, biar kembaran” senyuman kembali terukir di wajah Serena setiap membicarakan tentang pria itu.
Joni juga tersenyum ke arah ibu Serena yang menatapnya lewat kaca spion, dia tahu kalau wanita tua itu mengkhawatirkan anak sulungnya.
Begitu sampai di apartemen, Serena langsung menghambur keluar mobil dan berjalan cepat, meninggalkan Joni yang sedang membantu ibu Serena turun dari mobil di area parkir.
“Ini apartemennya Rena, Jon?” Tanya ibu Serena pada Joni, pasalnya ini adalah kali pertama dia datang ke tempat yang di beli anaknya dari hasil kerja kerasnya sendiri.
“Iya bu. Ayo masuk, Joni akan siapkan kamar Mbak Rena buat tidur ibu” Joni membimbing jalan.
“Terus Rena gimana?”
“Ibu masuk kamar aja dan tidur, biar Joni yang akan urus Mbak Rena.”
Joni dan ibunya Serena terkejut dengan pemandangan isi kamar Serena, gadis itu membuat kamarnya sendiri jadi seperti kapal pecah dengan baju yang bertebaran di atas kasur.
“Ini kenapa jadi acak acakan mbak?” Joni menyingkirkan baju dan membantu mencari tempat duduk untuk ibu Serena.
“Bagusnya pake baju yang mana ya bu?” Tanya Serena bingung.
“Yang mana aja bagus kok sayang” jawabnya pasrah.
Serena terus mengaduk aduk isi lemari pakaiannya, terlihat kecewa saat tidak menemukan satu pun baju yang pas untuk dipakai olehnya malam ini.
“Boleh saya bantu cari mbak?” Joni memberi penawaran.
“Boleh Bang Jon, bantuin Rena ya. Cari yang paling cocok buat Rena, Rena ngga mau kelihatan jelek di mata Adit”
“Kayaknya di kamar sebelah ada baju yang pas buat Mbak Rena deh”
“Kamar sebelah?”
“Iya”
Tanpa banyak omong, Joni meraih tangan Serena dan menariknya keluar dari kamar itu. Joni menutup dan mengunci kamar Serena setelah memberikan kode pada ibu Serena agar tenang dan memberinya waktu mengatasi keanehan Serena.
Serena tidak menolak ajakan Joni, dia hanya menurut tanpa mengeluarkan sedikitpun protes dari mulutnya. Joni membuka pintu kamar khusus yang jarang terbuka, kamar yang hanya terisi dengan ranjang dan satu meja dengan nuasa sepi.
Joni mendudukkan Serena di tepian ranjang “Tunggu disini” perintahnya pada Serena dan di jawab dengan anggukan.
Joni melangkah keluar dari kamar itu, menutup pintu dan menguncinya dari luar. Menyandarkan tubuhnya pada daun pintu dan langsung merosot ke lantai yang dingin, disertai dua tetes cairan bening yang tiba tiba mengalir dari matanya walau tanpa isakan. Dia merasa begitu tidak berguna, begitu bersedih untuk gadis yang ada di dalam sana.
.
.
.
***
Crazy up 2
Likenya jangan cuma di chapter terakhir ya