
“Apa kau melihat wanitaku?” Tanya Bram.
“Belum Bos,” Tyo menjawab sambil menunduk.
“Apa mungkin dia belum datang?”
“Saya akan memeriksanya sekali lagi.”
“Tidak perlu! Lihatlah!” Bram menunjuk jauh ke depan. Di sana dia melihat Sekar berlarian dengan Joni yang setia mengekor.
“Kalau anak kecil itu sudah ada disini, berarti wanitaku juga sudah datang. Tapi dimana dia?” gumam Bram.
-
Sherly menghela nafas lega, begitu melihat wajah Serena muncul dari balik pintu kamar. Dia senang, karena sang sahabat akhirnya bersedia datang di salah satu hari paling bersejarah dalam hidupnya, yaitu pernikahan. Meski demikian, dia sudah terlanjur kesal karena menunggu lama.
“Kenapa kau tidak menjawab panggilan telpon dariku? Bahkan beberapa pesanku juga kau abaikan!” omelan mulai menyembur dari mulut calon istri Farrel.
MUA yang sedang membantu memoleskan make up di wajah Sherly, sempat berhenti sejenak. Interaksi antara Sherly dan Serena, mau tidak mau menarik perhatiannya. Dia tahu jelas, siapa kedua model papan atas yang ada di hadapannnya, sekarang. Dan tidak menyangka kalau mereka ternyata berteman baik, tidak seperti gosip yang terdengar di luar sana, selama ini.
“Kenapa juga harus menungguku? Kau kan tidak kekurangan orang untuk membantumu, di sini!” cibir Serena.
Sherly mendengus. Dan Serena hanya mengangkat kedua bahu, acuh tak acuh dengan tatapan tajam yang ditujukan padanya.
Serena segera menghampiri MUA dan seorang penata rambut. Sesuai kesanggupannya seminggu yang lalu, Serena diharuskan untuk memberikan saran terbaik, agar Sherly bisa tampil lebih cantik dibanding dengan acara fashion show yang biasa dia lakoni sebagai model.
“Serena… gue pengen tampil beda, tapi ngga berlebihan. Lo ngerti maksudnya, kan?” ujar Sherly.
“Iya, gue ngerti. Sekarang lo diem aja, biar mereka yang bekerja.”
Sherly memperhatikan Serena dari kaca besar yang ada di hadapannya. Tiba-tiba ada penyesalan yang dia rasakan, karena pernah memusuhi Serena. Dia tidak menyangka, kalau orang yang ada di hari tersulit sampai hari terbahagia untuknya, justru adalah Serena. Orang yang pernah dia sakiti di masa lalu.
“Lo jangan kemana-mana ya! Temenin gue di sini, sampai acaranya selesai. Gue ngga punya siapa-siapa selain lo,” pinta Sherly dengan tatapan memohon.
“Iya, calon Nyonya Farrel.”
“Tapi lo juga jangan terlalu capek, nanti calon keponakan gue kenapa-napa lagi. Bisa abis gue dimaki sama laki lo!”
“Ish bawel bener nih orang ya! Bisa diem dulu ngga sih? Kalau lo ngajakin gue ngobrol terus, bisa ngga selesai-selesai nih dandan. Lo ngga tahu apa, kalau Farrel udah urung-uringan dari tadi?” omel Serena, sambil berkacak pinggang.
“Biarin aja! Kalau dia beneran pengen nikah sama gue, dia harus bersedia menunggu calon pengantinnya dengan sabar. Bener, kan?” Tanya Sherly.
“Terserah lo lah! Yang penting, lo ngga ganggu kerjaan gue. Kasian Sekar, kalau harus ditinggal terlalu lama.”
“Sekar-nya lo bawa kesini aja, gue kangen sama dia.”
Saat Serena hampir membuka mulut untuk menjawab, terdengar suara ketukan pada pintu kamar.
Joni berdiri di ambang pintu, dengan menggendong Sekar yang masih sesegukan. Mengejutkan semua orang, tak terkecuali Serena dan Sherly.
Serena langsung menghampiri suaminya, dan meraih Sekar. Dipeluknya bocah kecil itu dengan sayang, serta mengusap punggungnya. Perlahan, tubuh mungil yang gemetar itu mulai tenang.
“Sekar kenapa, Mas?” Tanya Serena. Dia berhasil menyembunyikan kepanikan yang melanda, karena tidak ingin membuat Sekar ketakutan.
“Dia terlalu antusias liat dekorasi di aula. Lari-larian, dan ngga sengaja kesenggol orang lewat, terus jatuh. Kakinya sedikit lecet, dan dia nyariin kamu. Makanya aku bawa kesini,” jelas Joni, secara terperinci.
“Udah diobati?”
“Udah. Tapi dia tetep pengen ketemu sama kamu,” Joni menggaruk tengkuk. Dia terlihat malu, karena tidak berhasil menenangkan sang putri. Jika dibandingkan dengan Serena, disinilah dia harus mengaku kalah. Ketelatenan istrinya menghadapi Sekar, tidak akan bisa dia tandingi.
“Ya udah, Sekar biar sama aku aja. Mas bantu yang lain,” usul Serena.
Joni nampak enggan beranjak. Dia tidak tahu harus melakukan apa, tanpa Serena atau Sekar di sampingnya.
“Sekar ikut sama papa aja yuk? Mama kan lagi sibuk, bantuin tante Sherly dandan. Mau ya?” Joni berusaha membujuk Sekar dengan lembut.
Sekar melepas pertautan tangannya di leher Serena. Menatap kedua orang tuanya secara bergantian, seolah sedang menimbang keputusan. Sekilas, Sekar juga melihat Sherly dengan riasannya yang belum selesai. Dan itu berarti, kalau Serena belum bisa menemaninya bermain.
Joni tersenyum puas, sebelum menerima uluran tangan Sekar. Anak gadisnya selalu mengerti kesibukan yang harus diselesaikan oleh Serena.
“Sekar beneran mau ikut papa? Ngga mau di sini aja, sama mama?” Tanya Serena, meyakinkan.
Sekar mengangguk. Walau belum ada senyuman, tapi setidaknya air matanya sudah berhenti mengalir. Serena menghembuskan nafas perlahan. Ada keraguan untuk membiarkan Joni membawa Sekar, tapi tugasnya masih menunggu untuk diselesaikan.
“Ya sudah, ngga apa-apa. Tapi ngga boleh lari-larian lagi ya?”
-
Acara pernikahan Farrel dan Sherly berjalan lancar. Ada banyak tamu undangan yang menghadiri pesta pada malam harinya. Selain rekan bisnis Farrel, banyak juga model-model terkenal yang menjadi teman Sherly.
“Selamat ya…,” Serena memeluk Sherly. Ucapan tulus yang baru saja dia ucapkan, benar-benar berasal dari hatinya. Dia turut berbahagia melihat senyuman yang selalu terukir di bibir sahabatnya.
“Makasih,” Sherly menitikkan air mata. Dia terlalu bahagia dengan status yang sekarang disandangnya. Cita-cita untuk membina rumah tangga yang dulu hanya sebuah mimpi, kini telah menjadi kenyataan. Dengan latar belakang masa lalu yang tidak jauh berbeda, Sherly dan Farrel sama-sama berjanji untuk berubah. Berubah untuk menjadi lebih baik.
“Selamat ya tante,” ucap Sekar. Bocah itu berjinjit untuk bisa mencium pipi Sherly yang sedikit menunduk.
“Makasih sayang,” Sherly tersenyum sambil menghapus noda lipstik di pipi Sekar, akibat ulahnya.
tiba-tiba terjadi sesuatu yang membuat Farrel dan Sherly terkejut.
“Anak lo ngapain?” Tanya Farrel pada Joni. Dia tidak tahu apa yang dilakukan oleh bocah kecil seumuran Sekar pada istrinya.
Joni tidak menjawab. Dia malah mengacungkan jari telunjuk di depan bibirnya sendiri. Sebuah perintah, agar Farrel diam sementara, saat Sekar mengusap perut Sherly dengan mata terpejam.
Serena ikut berjongkok di samping Sekar. Dia menunggu untuk bisa mendengar ucapan Sekar begitu membuka mata, nanti.
Beruntung semua acara sudah selesai. Hanya tinggal beberapa orang-orang bagian WO yang sedang sibuk membersihkan ruangan. Jadi tidak ada yang memperhatikan apa yang dilakukan oleh lima manusia di atas panggung.
Sekar membuka mata dan mundur satu langkah. Joni menyambut uluran tangan Sekar yang meminta digendong.
“Apa ada masalah dengan perut tante, sayang?” Tanya Serena.
Sekar menggeleng, sambil tersenyum. Matanya tertuju pada Sherly, yang menatapnya bingung. “Nanti anak tante buat adek Sekar ya?”
Sherly dan Farrel sama-sama terkejut. Sungguh tidak mengerti dengan yang dilakukan atau yang dikatakan oleh Sekar, barusan.
Joni dan Serena hanya bisa menahan senyum. Keduanya tahu apa arti ucapan Sekar.
“Anak lo ngomong apa sih?” Tanya Farrel.
“Kayaknya kita bakal besanan nih,” ujar Serena.
Farrel dan Sherly bertukar tatap.
Joni tersenyum misterius. “Kalian berdua ga ada niat buat nunda punya momongan, kan?”
“Nggalah! Begitu turun dari panggung ini, gue bakal langsung ngurung Sherly di kamar hotel sampe hpppmh..” mulut Farrel dikebap oleh tangan lentik sang istri.
“Jangan ngomong sembarangan di depan anak kecil!” Sherly mendesis dengan mata yang melirik ke arah Sekar.
Farrel mengangkat kedua tangan, tanda menyerah.
-
8 bulan kemudian…
Adit tetap mengendarai mobil dengan kecepatan rata-rata. Menolak untuk hilang kendali apalagi mengabaikan keselamatan. Meski telinganya sudah beberapa kali mendengar protes dari Zahra untuk bergerak lebih cepat. Sementara Bi Sari dan Maya hanya diam dan duduk dengan gelisah, di kursi bagian tengah.
“Zahra… apa kamu sudah mengabari ayahmu?” Tanya Maya.
“Sudah dari tadi bu. Dan mungkin sekarang, ayah sudah sampai. Rumah Ayah kan lebih dekat ke rumah sakit,” jawab Zahra.
Mobil yang dikendarai Adit akhirnya sampai di tujuan. Begitu mobil berhenti di area parkir, Sekar langsung turun dari pangkuan Zahra. Dia berjalan cepat, sembari menarik jemari Zahra untuk mengikuti langkahnya.
“Cepetan tante, adek Sekar kesakitan!” ucap Sekar berteriak dengan air mata yang sudah mengalir deras.
Mendengar hal itu, Adit mengambil alih. Dengan cepat, Adit meraih tubuh mungil Sekar dan berlari sekencang yang dia bisa mengarah ke ruang bersalin. Dan Zahra yang ditinggalkan, memilih membimbing langkah Maya yang sedikit tertatih. Usia memang tidak bisa berbohong, dia tidak mungkin berjalan sekuat yang lain.
Awalnya, semua setuju menunggu di rumah sesuai permintaan Serena. Tapi dua jam kemudian, Joni memberi kabar kalau ada masalah dengan kandungan istrinya. Seluruh keluarga menjadi panik, dan akhirnya memutuskan untuk menyusul ke rumah sakit.
Dari kejauhan, Yudi bisa melihat kedatangan Sekar yang berada dalam gendongan Adit. Dia memang sudah lebih dulu sampai di depan ruang bersalin, sebelum rombongan Maya datang. Dia begitu bersemangat menanti kehadiran anak dari putri sulungnya. Cucu kedua setelah Sekar.
-
Baju Joni basah mandi berkeringat dingin, menyaksikan wajah penuh kesakitan yang ditampilkan oleh Serena. Sudah terlalu lama, sang istri dalam keadaan yang sama. Joni sudah menyarankan untuk melakukan prosedur oprasi cesar, tapi Serena menolak dengan keras.
“Apa Sekar sudah sampai, mas?” desis Serena. Dia menggadu gigi, berusaha untuk tidak berteriak.
“Mas liat dulu ke depan. Kamu ngga papa kan, kalau mas tinggal sebentar?”
Serena hanya memberi jawaban melalui matanya yang terpejam sesaat. Tubuhnya sudah terlalu lemah, walau hanya sekedar untuk mengangguk. Saat tangan Joni hampir menyentuh pegangan pintu, tiba-tiba Adit menerobos masuk tanpa permisi.
Perawat langsung memberi peringatan pada Adit untuk segera meninggalkan ruangan bersalin. Namun membiarkan Sekar tetap berada di sana.
Butuh waktu cukup lama bagi Joni untuk meminta izin. Dia harus beradu arguman dengan dokter dan juga perawat yang mengurus istrinya, agar membiarkan Sekar bisa menemani sang mama.
Sekar mendekati bangkar yang berisi Serena di atasnya. Air matanya terus mengalir tanpa bisa dihentikan.
“Mama..,” gumam Sekar. Tangan mungilnya terulur menyentuh Serena. “Cepet keluar dek.. kasian mama,” ucap Sekar sembari mengelus lembut perut Serena. “Kakak udah ada di sini dek, hiks hiks….”
Serena kembali merasakan mulas yang luar biasa, begitu Sekar berhenti bicara. Tubuhnya gemetar menahan sakit dengan giginya yang ikut gemeretak, dan juga nafas yang semakin tidak teratur.
Dokter telah siap di posisi, ketika kepala bayi tiba-tiba terlihat. Memberikan aba-aba ada Serena untuk mengejan, dan perawat yang membantu mendorong.
Mulut Joni tidak henti-hentinya merapalkan do’a untuk keselamatan Serena dan bayinya. Sementara Sekar terus membelai perut Serena, dan bermonolog. Seolah sedang merayu sang calon adik untuk cepat hadir di bumi dan mengakhiri penderitaan Serena.
Oek oek oek
Tangisan nyaring dari seorang bayi tampan nan mungil, mengantarkan rasa lega untuk semua orang. Baik yang ada dalam ruang bersalin, maupun keluarga Serena yang menunggu di luar.
Senyum bahagia dan ucapan syukur keluar dari mulut secara bersamaan, tanpa perlu dikomando. Terlebih lagi bagi seorang Sekar.
Tanpa malu berlinang air mata, Joni terus menciumi wajah Serena. Tidak lupa membisikkan ucapan terima kasih berulang kali.
TAMAT
.
.
.
***
Hallo reader….
Lama kita ga ketemu, dan Si_Ro minta maaf untuk itu.
Oh iya, kalau boleh Si_Ro mau minta saran nih sama semua pembaca setia.
Nama apa yang cocok untuk adiknya Sekar?Mungkin bisa dari gabungan nama Serena dan Joni? Atau yang lainnya, terserah. Ditunggu sampai tanggal 30 Agustus.
Sebenarnya sih Si_Ro punya beberapa nama, tapi ga begitu pede. Dan memutuskan untuk memberi kesempatan pada semua pembacaku, biar bisa ikut andil dalam karyaku selanjutnya.
Nanti dari semua saran, Si_Ro akan ambil salah satu. Dan tentunya nama itu akan di pakai terus untuk cerita Sekar.
Dan.. ada juga tambahan hadiah spesial dari Si_Ro. Nanti ada 2 pilihan, antara pulsa atau T-shirt.
Untuk cerita khusus Sekar, akan resmi Si_Ro up di awal bulan depan.
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.