
“Cih… dasar manusia lemah,” keluh Joni.
“Apa kau bilang?!” Serena mulai tersulut emosi menghadapi sikap Juan yang mencibir sopirnya.
“Dia tertembak karena aku! Dia terluka sampai seperti ini, hanya demi untuk menyelamatkanku! Dia bahkan datang lebih dulu darimu, dan sekarang kau bilang kalau dia itu lemah?!” lanjutnya dengan nada berapi-api.
Serena benar-benar tidak terima dengan ucapan Juan yang menghina Joni, laki laki kesayangannya. Biarpun Juan mengatakan itu dengan menggunakan tubuh Joni, tapi Serena tetap tidak suka dengan kata-kata yang berasal dari Juan itu.
“Kalau kau tidak mau membawa kami ke rumah sakit, biar aku saja yang membawanya. Kau tinggalkan saja tubuhnya di dalam mobil dan aku yang akan meninggalkanmu di sini. Terserah dengan apa yang akan kau lakukan, aku tidak peduli.”
Serena sudah mulai melangkahkan kaki menuju mobil miliknya, tidak peduli dengan tatapan syok yang di tampilkan oleh tubuh Joni. Gadis itu telah di kuasai oleh kemarahan.
Juan masih terpaku dengan posisi berdiri. Dia tidak menyangka kalau Serena akan begitu marah dengan ucapan darinya. “Ada apa dengannya? Kenapa jadi dia yang marah?” gumamnya.
Saat sang istri membalikkan tubuh dan berjalan menjauh, memalingkan wajah tanpa menoleh, ternyata mampu menciptakan sebuah bayangan perpisahan di mata Juan. Perpisahan yang sama sekali tidak diinginkan olehnya sampai kapan pun. Perpisahan yang akan dia usahakan untuk tidak pernah terjadi.
“Apa kau mau terus berdiri di situ?!” teriak Serena dari samping mobil.
Kepala Juan mendongak saat mendengar suara sang istri memanggilnya. Dia tidak menyangka kalau Serena masih belum pergi meninggalkannya begitu saja. Padahal tadi, gadis itu bilang tidak akan peduli dengan apa yang akan di lakukannya.
Dengan wajah penuh senyuman, Juan berlari kecil untuk segera mencapai keberadaan Serena yang sedang bersedekap dengan tatapan tajam mengarah padanya.
“Aku tahu kau tidak akan meninggalkanku?” ucap Juan sumringah.
“Jangan kepedean, aku cuma mau minta kunci mobil.”
Pundak Juan langsung luruh, begitu mendengar alasan Serena yang masih berdiri dan berpaling muka tanpa ingin menatap dirinya.
“Tapi aku ngga pegang kuncinya,” jawab malas Juan.
“Cari di semua saku baju dan celana yang kau pakai itu!” perintah Serena.
“Kenapa tidak kau cari saja sendiri?”
“Kau yakin, aku boleh melakukannya? Kau pasti tahu apa akibatnya, jika aku yang harus mencarinya sendiri.”
Juan mengerti dengan apa yang di maksud oleh Serena. Itu semua mengacu pada reaksi yang pasti akan timbul dari tubuh Joni. Karena joni adalah manusia normal, jadi bisa saja, dia akan tiba tiba jadi menginginkan hal lebih, saat Serena menyentuh tubuhnya ketika mencari kunci mobil. Meskipun itu tidak sengaja, tetap saja itu adalah sesuatu yang sangat di hindari oleh Juan.
“Ck, biar aku yang cari!” Juan akhirnya menyerah.
Tanpa sepengetahuan Juan, Serena sedang berusaha menahan senyumnya sekuat tenaga. Dia tahu benar, kalau Juan tidak akan pernah mengizinkannya untuk melakukan itu.
“Bisa menggodanya, ternyata sangat menyenangkan.” Ucap Serena dalam hati. Menggigit pelan bibir bawahnya, agar suara tertawanya tidak di dengar oleh Juan.
Walaupun di kerjakan dengan wajah cemberut, tapi laki laki itu menuruti semua perkataannya.
“Aku tahu kau sedang menertawakanku,” tebak Juan. Dia sudah menemukan kunci yang diinginkan Serena, mengacungkannya ke atas agar sang istri bisa melihatnya dengan baik dan menghentikan kekehannya.
“Aku tidak menertawakanmu,” elak Serena yang sudah mengubah raut wajahnya ke mode datar kembali.
“Sayang… kita baru saja bertemu, kenapa kita malah terus-terusan bertengkar?”
“Kau yang mulai duluan!”
“Iya iya baiklah, aku yang mulai duluan. Apa sekarang kau sudah tidak marah?” tanya Juan yang mencoba melakukan kontak mata.
“Aku tidak sedang marah,” Serena menarik handle pintu dan berniat duduk di kursi pengemudi. Tapi sayangnya dia kalah cepat dengan tubuh Joni yang sedang di kuasai oleh Juan.
“Aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit.”
Juan menarik lembut tangan Serena dan membimbingnya untuk duduk di kursi penumpang depan yang itu berarti, istrinya itu akan berada tepat di sampingnya saat menyetir.
“Apa kau sudah gila?! tubuh Joni terkena luka tembak, bagaimana bisa dia menyetir mobil? Apa yang akan orang katakan, kalau sampai mereka melihatnya?” tolak keras Serena.
“Hanya sampai parkiran, sayang. Setelah itu aku akan pergi untuk mengambil dan memakai tubuh Juan kembali. Tapi kau tenang saja, Joni tidak akan mati. Luka tembaknya tidak mengenai bagian yang berbahaya,” tutur Juan menenangkan Serena.
“Tapi tetap saja, dia mengeluarkan banyak darah.”
“Kalau begitu, cepat kau pakai sabuk pengamanmu, karena aku akan mengendarai mobilmu lebih cepat dari biasanya. Kalau kita terus berada di sini, maka kita hanya akan terus berdebat, dan Joni benar-benar akan mati karena kehabisan darah seperti yang kau khawatirkan.”
Serena menuruti perintah Juan, menarik dan memasang sabuk pengaman yng melingkari bagian depan tubuhnya.
Begitu juga dengan Juan, dia langsung menjalankan mobil Serena untuk meninggalkan rumah Yuli dan menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, tidak ada ada perbincangan yang terjadi, mereka sama-sama memilih untuk membisu.
Ketika Juan sedang fokus pada lalu lintas di depannya, Serena membuka laci penyimpanan yang ada di depan kursi yang dia duduki. Mencari-cari sesuatu yang mungkin Joni simpan di sana. Matanya berbinar ceria, saat benda yang diinginkannya itu ada di sana.
“Apa kau sedang bertugas?”
Pesan pertama sudah terkirim dari handpone Serena yang baru dia temukan.
Perlu menunggu beberapa menit untuk bisa mendapatkan balasan.
“Iya. Kenapa?” jawaban dari pertanyaannya yang terlihat di layar handphone.
“Sekarang gue bawa Bang Jon kesana.”
“Dia tertembak.”
Serena mengandalkan kecepatan jari-jarinya untuk mengetik pesan beruntun dan mengirimkannya pada orang yang sama.
Seolah masih ada yang tertinggal, tangan Serena kembali mengetik cepat sebuah pesan susulan.
“Jangan banyak tanya dulu, nanti gue jelasin di sana. Cepat siap-siap!!!!”
Serena sengaja membubuhkan beberapa tanda seru di bagian akhir kalimat yang dia kirim. Dia tidak mau jika nantinya terjadi tanya jawab melalui pesan seluler yang pasti akan menyita waktu dan juga kesabarannya.
Beruntunglah lalu lintas hari ini tidak begitu padat. Jarak tempuh yang di perlukan Juan untuk bisa mencapai rumah sakit tidak selama biasanya. Di tambah dengan lampu hijau yang berada di setiap perempatan atau pertigaan seakan ikut bekerja sama, membuat perjalanan kali ini sangat lancar.
Serena berkali kali melirik pada Juan yang tengah berkonsentrasi dengan pandangannya, dia terus memperhatikan raut wajah tubuh Joni yang semakin memucat.
“Ini kedua kalinya dia harus tertembak karena diriku,” batin Serena sedih.
--------------------------------------------
“Cepat cari mereka !!”
Miki beserta rombongan yang di bawanya, pergi meninggalkan rumah Yuli dengan langkah tergesa-gesa. Tanpa perlu meminta sisa pembayaran yang belum di lunasi oleh sang konsumen besar yang menyewa jasanya hari ini, Miki memilih menyelamatkan diri dan membawa serta semua bawahannya.
Terdengar teriakan-teriakan Yuli yang memerintah para penjaga untuk mencari sang calon menantu yang lenyap tanpa jejak. Tidak meninggalkan sedikit pun bekas. Hilang begitu saja dengan menyisakan tanda tanya besar.
Sebenarnya Miki juga merasa penasaran dengan keberadaan Serena yang seolah di telan bumi, tapi dia lebih takut kehilangan nyawanya sendiri. Dia tidak mau jika harus kembali menyaksikan kekejaman Yuli, yang tidak segan-segan menggunakan kekerasan bahkan senjata api untuk mengancam lawan.
-
Yuli duduk di kursi empuk yang biasa menjadi singgasananya. Dia berada di ruang pribadi setelah tidak menemukan wujud Serena saat dia sadar tadi. Entah ilmu apa yang di gunakan, yang jelas Yuli dan semua orang yang berada di ruang bawah tadi, tidak ada satu pun yang melihat kepergian Serena.
Semua rencana yang di susun dengan sangat sempurna oleh Yuli, kini harus mengalami kegagalan. Dalam hal ini, dia tidak bisa menyalahkan siapapun. Karena kejadian dimana menghilangnya Serena, juga terjadi di depan matanya sendiri.
“Siapa sebenarnya sopir itu? Bagaimana dia masih bisa hidup setelah aku menembaknya? Apa tadi tembakanku meleset?”
Jari-jari Yuli mengetuk meja dengan gerakan teratur, menandakan kalau dia belum mendapatkan jawaban dari pertanyaan pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya.
Salah satu anak buahnya masuk ke dalam ruangan, setelah meminta izin dan mengetuk pintu terlebih dahulu.
Kepala Yuli mendongak dan mengarahkan pandangannya pada orang yang dia tunjuk sebagai pimpinan dari para penjaga rumahnya itu.
“Apa hasilnya?” tanya Yuli sambil menyenderkan punggungnya di kursi.
“Maaf bos…” jawab kepala panjaga. Dia sedikit takut dengan reaksi yang akan di berikan oleh majikannya.
“Kami tidak menemukan apa pun bos,” lanjutnya.
“Bagaimana dengan CCTV?” tanya Yuli.
“Tadi kami sudah mengecek semua CCTV yang ada di rumah ini, tapi tidak ada satu pun jejak yang tertinggal.”
“Apa ada penghianat di rumah ini? Bagaimana bisa mereka tidak terdeteksi sama sekali?” batin Yuli.
Setelah mendengar jawaban yang dia dengar langsung dari sang anak buah, tangan Yuli terulur untuk memijit pelipisnya. Makin banyak saja pertanyaan yang timbul sejak raibnya Serena.
“Ada apa lagi?” tanya Yuli saat melihat gelagat yang di tunjukkan orang yang masih setia berdiri di depannya.
“Itu bos, ehm…”
“Apa?!”
“Tuan Yudi memaksa ingin bicara dengan anda bos.”
“Cih! Laki laki tidak tahu diri itu masih punya muka rupanya. Di mana dia sekarang?”
“Masih di tempat yang tadi bos.”
“Lalu di mana Tuan Adit?”
“Ada di bawah bersama dengan Tuan Yudi.”
Yuli menarik nafas dalam. Terlihat sekali kalau dia sedang menanggung beban berat yang sengaja dia sembunyikan. Kekecewaan dan keputus asaan, seolah telah menjadi bagian dari hidup Yuli sejak lama.
.
.
.
***
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf kalau ada kata-kata yang menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan votenya juga ya.