KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 109


Setelah dokter menyatakan kalau Serena sudah kembali sehat, maka hari ini dia diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit. Joni mengemasi semua barang-barang milik istri dan juga dirinya sendiri ke dalam tas. Menggandeng tangan Serena dan membawanya menuju parkiran.


Begitu mobil memasuki halaman rumah, Serena langsung turun dari mobil dan segera berjongkok untuk menyambut pelukan dari Sekar. Putri yang sangat dia rindukan karena hampir satu minggu tidak bertemu.


“Mama… Sekar kangen,” ucap Sekar dalam pelukan Serena.


“Mama juga. Mama kangen berat sama Sekar.”


Joni tersenyum melihat pemandangan yang membuat hatinya menghangat. Dalam hati dia sangat bersyukur karena Sekar mampu mengobati rasa kehilangan Serena pada janinnya. Dia tidak akan sanggup kalau harus menyaksikan Serena terus murung dan bersedih.


“Jadi cuma mama aja nih yang dipeluk?” protes Joni.


Serena melepas pelukan, dan membiarkan anaknya memeluk Joni.


“Papa…”


Joni mengayun tubuh Sekar di udara sejenak lalu memeluk erat tubuh mungil sang putri. “Apa Sekar kangen sama papa juga?” tanyanya pada Sekar.


“Iya,” jawab Sekar.


“Ayo masuk! Kita makan dulu.” perintah Maya.


Joni menggendong Sekar masuk ke dalam rumah dengan menggandengan tangan Serena. Sementara di dalam rumah, Maya, Bi Sari dan juga Zahra sedang menyiapkan makanan dan menata meja makan.


Tok tok tok


Semua orang memalingkan wajah ke arah pintu utama. Zahra tersenyum dan segera berlari untuk membuka pintu. “Biar Zahra aja yang buka!” teriaknya.


“Semangat banget tuh anak, emang siapa sih tamunya?” tanya Serena pada Bi Sari.


“Palingan juga Adit,” seru Joni yang sudah duduk di kursi sambil memangku Sekar.


“Ooh….”


Makan bersama berlangsung lancar. Mereka bersyukur karena Serena sudah kembali ke rumah dan dalam keadaan sehat. Selama di rawat di rumah sakit, Yudi juga pernah datang untuk menjenguk Serena dengan membawa beberapa parcel. Sepertinya pria tua itu tahu kalau ada bahaya yang mengancam keselamatan sang putri sulung dan berjanji untuk ikut melindunginya.


-


“Jon, pindahin Sekar ke kamar ibu!” perintah Maya. Setelah makan malam selesai, mereka berpindah ke ruang tengah. Menikmati teh hangat dengan diselingi canda tawa, sampai Sekar tertidur pulas di pangkuan Serena selama menonton tv.


“Kenapa ngga ke kamar Rena aja, bu?” protes Serena.


“Kamu baru pulang dari rumah sakit, masih harus banyak istirahat. Sekar tidur di kamar ibu aja, biar ngga ganggu kamu.”


Serena mengikuti langkah Joni yang membopong tubuh Sekar ke kamar Maya. Sebenarnya dia sangat ingin tidur bersama dengan Sekar, tapi mendengar alasan yang dikatakan sang ibu, dia pun menurut.


“Ayo! Kau juga harus tidur,” ucap Joni pada Serena.


Saat Serena membersihkan diri dan berganti pakaian dengan baju tidur, Joni berbisik pada dirinya sendiri.


“Cepat pergi! Sebentar lagi aku akan tidur bersama istriku,” perintah Joni pada Braja yang menumpang tempat di dalam tubuhnya. Baik Joni maupun Serena, mereka sama-sama bisa berkomunikasi dengan Braja dengan leluasa. Jin itu hanya bersuara jika salah satu dari Serena atau Joni mengajaknya bicara, dan pembicaraan mereka tidak akan bisa di dengar oleh orang lain.


“Cih! Tenang saja, aku tidak akan mengganggumu.”


“Baguslah kalau kau mengerti,” ucap Joni lega.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan tubuh Serena yang sudah memakai baju tidur. Joni yang tidak suka dengan tatapan Braja pada istrinya, segera berjalan dan menutupi tubuh Serena agar tak terlihat dari sudut Jin itu. Walaupun Braja berbentuk asap yang bisa melayang kemana saja, tapi dia cukup tahu diri untuk tidak mencuri kesempatan, apalagi pada Serena.


“Kalian sedang membicarakan apa?” tanya Serena.


“Tidak ada,” jawab Joni cepat.


“Suamimu mengusirku,” adu Braja.


“Heh! Bukankah kau sendiri yang telah berjanji untuk tidak menganggu waktu kami saat berduaan?” Joni segera membela diri.


“Iya iya, aku pergi.”


“Tunggu!” cegah Serena. “Kau mau kemana?” tanyanya.


“Aku akan berjaga di depan rumah setelah berkeliling sebentar. Siapa tahu aku bisa bertemu teman, atau malah makhluk lain yang bisa aku ajak begadang. He..hee….”


“Tidak ada yang lebih baik dari Serena,” ucap Braja sebelum menghilang di balik tembok.


“Ck! Dia masih sangat menyukaimu,” keluh Joni sambil memeluk erat tubuh Serena.


“Tapi aku hanya istrimu, milikmu.”


Joni mengangkat dan merebahkan Serena di kasur. Dia mungkin harus berpuasa untuk beberapa minggu, tapi tidak ada yang melarang untuk mencium dan mencumbu, bukan?


“Tidurlah…” ucap lembut Joni.


“Apa yang bisa aku bantu untukmu?” tanya Serena. Dia tahu benar kalau saat ini Joni begitu menginginkan dirinya. Berkali-kali pria itu menghembuskan nafas frustasi yang bercampur dengan suara gemeretak dari gigi.


“Kau mau membantuku?” tanya Joni memastikan.


“Mungkin aku tidak bisa memuaskanmu, tapi setidaknya untuk mengurangi deritamu.”


Joni manatap mata Serena. Dia sangat senang mendengar tawaran yang keluar dari mulut sang istri. Tawaran yang begitu menggiurkan dan juga sulit untuk ditolak. Mendapat pelepasan di saat hasrat sudah memuncak.


Tapi…


Joni bukanlah seorang bajing*n yang hanya mementingkan kebutuhannya sendiri. Dia bukan laki-laki egois yang akan menuntut pelayanan dari seorang istri tanpa perasaan.


“Kau harus istirahat,” perintahnya pada Serena dengan menarik selimut untuk membungkus tubuh keduanya.


“Tapi….”


“Aku akan balas dendam kalau kau sudah sehat, nanti.”


Joni memutus perbincangan dengan membungkam mulut istrinya dengan bibirnya sendiri. “Tidurlah, ini sudah malam.”


Serena tidak membantah. Dia menyusupkan kepalanya ke dada Joni yang memberinya kehangatan. Tapi wanita itu langsung mendongak saat dia mengingat sesuatu yang penting.


“Apa lagi?” tanya Joni.


“Kita belum pernah bulan madu.”


Kening Joni berkerut, lalu melonggarkan pelukan.


“Bulan madu?” tanyanya.


“Iya,” Serena mengangguk.


“Bersamamu setiap hari, itu adalah bulan madu yang sesungguhnya untukku.”


“Ck, pelit!”


Joni menyatukan keningnya dengan kening Serena. “Kau ingin pergi kemana?”


“Tidak perlu jauh-jauh, cukup di dalam negeri saja.”


“Iya, kemana?”


Saat Serena membuka selimut dan akan mengambil handphone miliknya yang berada di nakas, Joni segera mencekal tangannya dan menariknya kembali ke dalam selimut.


“Kalau sekarang kau mau bertanya sama mbah google, sebaiknya besok saja. Sekarang kau harus tidur.”


Tidak ada lagi percakapan. Dengan telaten, Joni mengelus kepala Serena sampai istrinya tertidur nyanyak. Setelah itu, barulah dia ikut memejamkan mata.


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.