KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 96


“Kapan kalian akan mulai menyekolahkan Sekar?” tanya Maya.


“Sebelum mencari sekolah buat Sekar, kami akan mencari guru les lebih dulu bu. Karena Sekar perlu mendapat bekal dasar untuk memasuki dunia sekolah,” jawab Joni.


“Baguslah kalau kalian sudah memikirkan itu.”


Saat semua orang menyantap sarapan terdengar suara klakson mobil yang berhenti di depan rumah.


Tin tin


Bi Sari berjalan menuju meja makan bersama dengan seseorang yang langsung membuat pipi Zahra bersemu.


“Selamat pagi semuanya,” sapa Adit pada penghuni rumah. Mencium punggung Maya, dan sejenak mengusap puncak kepala Sekar.


“Gercep juga lo ya,” ledek Serena.


“Harus dong, nanti keburu disamber orang.”


“Kamu mau mengantar Zahra berangkat kerja?” tanya Maya.


“Iya bu, itupun kalau ibu memberi izin.”


“Iya boleh. Tapi ingat! kamu harus jaga anak ibu dengan baik.” perintah Maya disambut Adit dengan menempelkan tangan kanannya di pelipis mata kanan, layaknya hormat pada bendera saat upacara.


“Mama, Sekar harus panggil apa?” tunjuk Sekar pada Adit.


“Om! Mulai sekarang, Sekar harus belajar panggil dia dengan sebutan om. Karena dia adalah calon suaminya tante Zahra, sayang. Tapi…itupun kalau jadi,” ucap Serena dengan senyum penuh tantangan pada Adit.


“Ck ga seneng lo, liat gue bahagia,” protes Adit yang sudah mendudukkan diri tepat disamping Zahra.


“Ya memang! Gue belum liat seperti apa usaha lo buat ngedapetin Zahra. Gue harus yakin dulu sebelum menyerahkan adik gue satu-satunya itu ke lo. Dan selain ibu, lo juga harus minta restu dari gue buat bisa bawa Zahra.”


“Iya iya, Mbak Ree naa…”


Adit harus mulai membiasakan diri memanggil Serena dengan panggilan “Mbak”. Karena wanita yang dulu sangat dicintainya itu sekarang adalah bakal calon kakak iparnya. Agak aneh pada awalnya, tapi dia akan berusaha untuk kembali menata masa depan dengan membuka hati selebar-lebarnya bersama wanita yang kini duduk disampingnya.


Zahra berangkat kerja dengan diantar oleh Adit. Rutinitas baru yang dilakukan oleh pria itu dengan penuh senyuman. Kali ini dia berjanji untuk tidak akan melepaskan gadis yang dicintainya. Walau mungkin rasa cintanya belum sebesar cintanya pada Serena, tapi dia sudah mengikhlaskannya semuanya sebagai bagian dari cerita hidup. Dia akan melakukan yang terbaik untuk calon pendamping hidupnya kelak.


-----------------------------------------


“Apa kabar cinnnnn….” Miki menyambut kedatangan Serena dengan pelukan. Pria gemulai itu terlihat begitu senang dan juga heboh sendiri dengan kedataangan Serena di salon miliknya. Tapi Miki juga menunjukkan wajah kesal karena dirinya tidak diundang pada hari spesial sang sahabat.


“Gimana-gimana… apa laki yey cukup hebat di ranjang?” dengan alis yang digerakkan naik turun, Miki bertanya penuh dengan rasa ingin tahu.


“Saaangat hebat! Gue sampe kewalahan dan hampir susah jalan.”


“Yuhuuu… ternyata oh ternyata yah. Saking hebatnya, berondong pendiam itu bisa bikin yey lupa sama eyke,” puji Miki. “Apa eyke boleh nyolek dan nyicipin sedikit, nek?”


“Boleh. Itupun kalo lo udah bosen hidup,” ancam Serena dengan memasang wajah galaknya.


“Eh busyet kenapa yey berubah jadi serem gini sih nek, eyke kan cuma bercanda he hee..”


Miki meneruskan pekerjaannya. Dia melakukan semua perawatan yang diminta oleh Serena. Obrolan dan candaan terus mengalir dari keduanya. Tidak peduli kalau suara keras dari mereka terdengar oleh orang lain.


Joni setia menunggu istrinya di dalam mobil. Dia sengaja tidak ikut masuk salon karena Serena melarangnya. Dari tadi tangan Joni tidak berhenti menggeser-geser layar handphone untuk melakukan pencarian sekolah yang bagus untuk Sekar.


Tok tok tok


Seseorang mengetuk kaca mobil yang ditumpangi Joni.


“Eh… Sherly. Ada apa?”


“Bang Joni, Apa kita bisa ngobrol sebentar?”


Joni terlihat ragu. Dia enggan pergi karena istrinya masih ada di dalam salon.


.


-------------------------------------------


Serena terbangun di pagi buta dalam pelukan sang suami. Bibirnya menyunggingkan senyum saat teringat kejadian sebelumnya. Tadi malam mereka melampiaskan hasrat untuk menghapus sisa-sisa kesalahpahaman. Pertengkaran kecil yang terjadi diantara keduanya kemarin, menguap bersama dengan pelepasan yang beberapa kali terjadi.


Flasback on


Setelah menyelesaikan semua rangkaian perawatan, Serena kembali ke tempat dimana sang suami sedang menunggunya. Tapi saat di parkiran, Serena tidak menemukan keberadaan Joni di dalam mobil. Dia berusaha menghubungi Joni dan betapa kesalnya dia, ketika mendapati suaminya sedang asyik mengobrol dengan Sherly di dalam kafe yang berada tepat di depan salon milik Miki.


Pertengkaran pertama itu ternyata telah memperlihatkan kalau Serena adalah orang yang sangat pencemburu. Dia tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Bahkan saat Serena masih berhubungan dengan Farrel pun, dia tidak pernah semarah ini melihat prianya mengobrol bahkan bercipika-cipiki dengan teman-temannya.


“Maafkan mas ya…” rayu Joni pada Serena. Selama perjalanan pulang, Serena tidak mengeluarkan sepatah kata apapun di dalam mobil. Dia juga memilih menatap ke luar, untuk menghindari kontak mata dengan suaminya.


Semua anggota keluarga bisa melihat wajah murung Serena yang baru pulang dari salon. Wanita itu melangkah terburu-buru ke dalam kamar dan bahkan mengabaikan sapaan dari Sekar. Anak itu hanya menatap sedih pada Serena yang mengacuhkannya.


Flasback off


Serena turun perlahan dari atas ranjang. Dia tidak mau mengusik tidur Joni yang pasti akan langsung menerkamnya lagi kalau sampai laki-laki itu terbangun. Dia masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri sebentar sebelum keluar kamar untuk membuat saparan.


“Sayang… ngapain kamu disini?”


Serena mendapati Sekar yang duduk di depan pintu kamar. Menekuk kedua lutut sebagai penyangga, dengan kedua tangan yang disilang diatasnya sebagai tumpuan kepala. Gadis kecil itu seolah sengaja menunggu penghuni kamar untuk keluar tanpa berani mengetuk pintu.


Serena menggoyang-goyangkan bahu Sekar perlahan, dan berhasil. Tubuh Sekar mulai bergerak, dan matanya ikut mengerjap pelan.


“Mama… jangan marah ya. Maafin Sekar ya, mah.”


Tiba-tiba Sekar menubrukkan tubuhnya pada Serena. Tangan mungilnya mencoba melingkari pinggang sang mama bersama dengan suara isakan.


“Kamu kenapa sayang?”


“Hiks hiks apa… apa mama udah ngga sayang sama Sekar?”


“Apa?” Serena bingung.


“Mama udah ngga sayang lagi ya sama Sekar?”


“Kenapa kamu ngomong begitu sayang?”


“Kemarin mama ngga mau ngomong sama Sekar. Semalam juga Sekar ngga dapet ciuman selamat malam dari mama. Sekar minta maaf kalau Sekar salah. Apa sekarang, mama mau buang Sekar?”


Sekarang Serena tahu apa penyebab tangisan anaknya di pagi hari. Sikap kekanakan yang dia tunjukkan kemarin, ternyata melukai hati sang putri. Tidak seharusnya dia mengacuhkan anak karena pertengkarannya dengan Joni.


Dengan gerakan yang lembut, Serena mengangkat tubuh Sekar. Menggendong dan membawanya menuju meja makan di dapur. Serena menurunkan Sekar dari dalam gendongan dan mendudukannya di kursi setelah dirasa anak kecil itu lebih tenang.


“Benarkah? Mama ngga mau buang Sekar?”


“Kamu ngomong apa sih? Mana mungkin mama buang kamu!”


“Kata Ni Maryam, Sekar itu anak yang dibuang sama ibu dan ayah Sekar. Sekar tinggal sama Ni Maryam karena orang tua Sekar udah ngga sayang lagi. Dan Ni Maryam juga pernah bilang kalau Sekar akan dibuang lagi, kalau Sekar bikin Ni Maryam marah.”


“Mama dan papa tidak akan pernah meninggalkan atau membuang Sekar!” Joni yang baru saja muncul langsung memeluk tubuh Sekar. Membelai punggung sang putri dengan penuh kasih sayang.


“Kemarin mama sama papa punya sedikit masalah, sampai lupa sama Sekar. Maafin mama sama papa ya, sayang…”


Kepala Sekar mengangguk. Tangisnya sudah berhenti dan berganti dengan senyum. Joni juga sudah membersihkan pipi anak gadisnya dari sisa-sisa air mata dan ingus.


“Sekarang… apa Sekar mau membantu mama buat sarapan?” tanya Serena.


“Iya mau!”


-------------------------------------------


Mobil Serena berhenti di depan sebuah sekolah swasta yang lumayan populer. Joni menemukan sekolah itu atas rekomendasi dari tetangganya yang juga menyekolahkan anaknya di sekolah tersebut. Berdasarkan informasi dari mbah google yang menyebutkan kalau sekolah itu bagus, Joni dan Serena sepakat untuk meninjau sekolah itu terlebih dahulu sebelum mendaftarkan Sekar untuk bersekolah disana.


“Ayo sayang, kita lihat dulu sekolah kamu.”


Serena mengulurkan tangannya pada Sekar setelah membuka pintu penumpang belakang. Dengan gerakan malas Sekar menyambut tangan Serena dan keluar dari dalam mobil.


Baru beberapa menit mereka meninggalkan parkiran, Sekar menghentikan langkahnya.


“Ada apa sayang?” tanya Joni.


“Sekar ngga mau sekolah disini papa! Sekar mau pulang!”


“Tapi kenapa? Kamu kan belum lihat ke dalam sayang,” tanya Serena.


“Kata ibu, di sekolah ini ada orang jahatnya. Sekar tidak boleh sekolah disini ,mama…”


“Ibu?”


Joni dan Serena yang tidak mengerti ucapan Sekar pun hanya saling bertukar pandang. Mereka sepakat mengikuti keinginan Sekar dan tidak akan memaksa. Saat mereka berbalik untuk kembali ke parkiran, tiba-tiba…


“Selamat pagi, Tuan dan Nyonya…”


Seorang laki-laki berperawakan tinggi besar menyapa mereka bertiga. Sekar yang mendengar suara orang itu, langsung bersembunyi di belakang kaki Joni dengan tubuh yang gemetar.


“Selamat datang di sekolah kami. Apa Tuan dan Nyonya mau mendaftarkan putrinya untuk bersekolah di tempat kami?”


“Emm… tadinya niat kami seperti itu pak, tapi sepertinya tidak jadi.”


Joni menjabat tangan laki-laki itu dan menjawab pertanyaannya.


“Oh sayang sekali ya. Padahal tempat kami termasuk sekolah unggulan, dan tidak semua orang bisa masuk kesini.”


“Iya pak.”


“Bolehkah saya melihat putri bapak? Mungkin setelah itu dia kan berubah pikiran.”


“Iya boleh.”


Laki-laki yang menyapa Joni itu pun melangkah maju. Mendekat dan memiringkan wajahnya untuk bisa melihat Sekar yang bersembunyi di belakang tubuh Joni. Tapi sayangnya, itu sama sekali tidak terjadi.


Sekar secara tiba-tiba melepas genggamannya pada tangan Joni dan berlari ke parkiran. Serena pun ikut berlari untuk menyusul anaknya. Sementara Joni jadi merasa tidak enak dan terpaksa meminta maaf atas prilaku Sekar.


Sesampainya di parkiran, Serena langsung membuka pintu belakang mendudukkan diri di samping Sekar. Menatap lekat pada putrinya yang mulai menaikkan kakinya ke atas kursi. Menekuk lututnya dan menahannya dengan kedua tangan. Terlihat sekali kalau anak itu sedang ketakutan.


Joni dan Serena masih beradu pandang. Mereka tidak tahu apa alasan yang membuat Sekar bersikap aneh hari ini. Dan acara meninjau sekolah untuk Sekar pun akhirnya dibatalkan. Mereka harus mencari sekolah lain untuk nantinya Sekar menimba ilmu tanpa rasa takut.


Joni dan Serena sepakat untuk tidak banyak bertanya. Mereka akan memberikan waktu pada Sekar untuk menenangkan diri dan menunggu dia bercerita tanpa perlu ditanya. Sebelum pulang ke rumah, mereka membawa Sekar untuk jalan-jalan dan makan makanan kesukaaannya. Senyuman yang tadinya hilang, kini sudah kembali. Membuat dua orang yang belum lama jadi suami istri itu pun ikut tertular kebahagiaan.


Puas dengan jalan-jalan yng tidak direncanakan hari ini, mereka pun memilih untuk kembali ke rumah. Tapi Joni menghentikan laju mobil yang dikendarainya, saat melihat ada bendera kuning terpasang di salah satu tiang listrik.


“Siapa yang meninggal pak?” tanya Joni pada salah seorang pelayat yang kebetulan lewat di depannya.


“Eh Mas Joni. Yang meninggal anaknya Bu Mira, mas.”


“Anaknya Bu Mira?”


“Iya yang sekolah di sekolah XMX itu.”


“Meninggal kenapa pak?”


“Kecelakaan mas, di depan sekolahnya. Tapi…”


“Tapi apa ya pak?”


“Di depan sekolah itu emang udah terkenal sering terjadi kecelakaan mas. Dan hampir semua korbannya itu pasti meninggal.”


“Ooh benarkah?”


“Iya mas.”


“Kalau begitu, terima kasih ya Informasinya.”


“Sama-sama mas.”


Inikah alasan yang membuat Sekar takut sekolah di tempat itu?


.


.


.


***


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.