KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 74


"Aku datang…”


“Aku tahu…” jawab Serena.


Sama sekali tidak ada jarak di antara keduanya. Pelukan erat tanpa celah yang seolah memisahkan dua tubuh manusia itu dari dunia di sekitar.


”Aku tahu kau akan kembali Juan,” lanjut Serena.


“Ck, aku punya nama.” Juan menyerukan protes saat Serena memanggilnya dengan nama laki laki lain.


“Kau punya nama?”


“Tentu saja.”


“Siapa nama aslimu?” cicit Serena dalam pelukan tubuh Joni.


Joni sedikit melonggarkan pelukan, memberi jarak untuk dirinya sendiri supaya bisa menatap wajah sang istri.


“Kalau kuberi tahu, mungkin kau akan merasa, kalau kau menikahi seorang kakek-kakek.”


“Kalau aku memanggilmu dengan nama Juan, apa kau akan marah? Aku sudah terbiasa dengan nama itu,” tanya Serena.


Kepala Joni menggeleng.”Sebaiknya kau memang tidak perlu tahu siapa namaku, apalagi berapa jumlah umurku. Karena aku yakin, Itu hanya akan membuatmu terbebani.”


“Kau tidak keberatan? Kau tidak akan menghukumku?” tanya Serena lagi.


“Tidak sama sekali. Apapun sebutanmu untukku, itu sama saja. Kau istriku dan aku suamimu. Pernikahan kita adalah sebuah perjanjian. Selama tidak ada yang mengingkari perjanjian itu, maka tidak akan ada yang namanya hukuman.”


“Bagaimana kalau kau yang mengkhianatiku lebih dulu? Apa itu berarti, aku juga boleh menghukummu?”


“Tentu saja, tapi itu tidak akan pernah terjadi.” Joni mendaratkan sebuah kecupan di dahi Serena.”Tapi perlu kau ingat, ini pertama kalinya aku memberikan hak istimewa pada manusia. Biasanya aku tidak pernah melonggarkan syaratku pada siapapun, dan akan berakhir dengan hukuman berat jika terjadi pengkhianatan.”


“Apa yang terjadi pada semua manusia yang mengkhianatimu?” Serena begitu penasaran dengan hukuman yang mungkin saja akan menimpa dirinya suatu hari nanti. Karena biar bagaimana pun, Serena tidak bisa percaya sepenuhnya pada makhluk yang saat ini berada di dalam tubuh Joni.


“Hhmm… hukuman paling ringan, aku akan membuat mereka kembali ke keadaan semula, sama saat belum ada perjanjian. Hukuman tahap kedua, aku akan menghancurkan hidup manusia itu, ditambah dengan penyakit yang bertahan bertahun tahun dan tentu akan susah diobati. Untuk hukuman terberat adalah… kematian.”


“Kematian?” Serena bergidig.


“Iya.”


“Di antara semua manusia yang punya perjanjian denganmu, apa ada yang dapat hukuman mati?”


“Ada, tapi bukan aku yang melakukannya.”


Joni mengerti dengan ketakutan Serena.


“Siapa?”


“Saat ada manusia yang mengkhianatiku, itu berarti perlindunganku pada manusia itu juga akan otomatis lepas. Dan saat tidak ada perlindungan, maka akan ada banyak makhluk halus lain yang mengincar manusia itu.”


“Lalu kenapa ada tingkatan untuk hukumannya?”


“Semua tergantung dari sebesar apa mereka mengambil keuntungan dariku?”


Serena semakin tidak mengerti dengan ucapan suaminya, dan Joni malah tersenyum melihat kebingungan di raut wajah sang istri.


“Semakin banyak yang mereka minta, maka hukumannya juga akan semakin berat.”


“Apa ada jalan yang bisa membuat manusia terhindar dari hukuman makhluk sepertimu?”


“Tentu saja ada.”


“Apa itu?”


“Hhmm… mungkin kaum kalian menyebutnya dengan taubat. Itu adalah satu satunya jalan yang hampir tidak bisa kami tembus. Tapi bukan berarti tidak ada hukuman. Karena hukuman yang sebenarnya adalah hukuman dari penguasa yang menciptakan semua makhluk.”


“Ck, kenapa makhluk sepertimu malah menasehatiku?”


“Karena aku juga salah satu makhluk ciptaan-Nya, walaupun aku bukan manusia. Bukankah begitu?”


“Iya sih,” Serena menundukkan kepalanya.


“Aku sudah hidup cukup lama. Ini juga bukan pertama kalinya aku melakukan perjanjian dengan manusia. Biasanya mereka menginginkan kekayaan berlimpah, kedudukan terpandang, karier yang sukses dan masih banyak lagi.”


Joni menatap mata jernih Serena, ada rasa sayang tanpa syarat disana.


“Kau… aku manusia pertama?”


“He em.” jawab Joni diiringi anggukan. “Ini pertama kalinya, aku merasa takut ditinggalkan. Mungkin karena aku sudah semakin tua. Dan demi untuk mempertahankanmu, aku memberimu hak istimewa itu, hak untuk memberiku hukuman. Dan aku berharap, kau akan mau untuk tetap disampingku sampai kapanpun.” sejenak Joni memberikan jeda pada semua penjelasannya.


“Apa kau tahu kenapa aku menghilang selama ini?” tanyanya.


“Ah benar!” Serena tersentak. “Kau kemana saja hah?! kau hilang begitu saja, bahkan tidak memberiku kabar sama sekali.” Serena mengerucutkan bibir.


“Karena aku harus memulihkan kekuatanku setelah pertarungan malam itu. Aku terluka cukup parah. Lawanku ternyata lebih hebat dari dugaannku. Satu lagi yang perlu kau tahu, makhluk sepertiku juga bisa dimusnahkan. Entah itu oleh manusia atau oleh makhluk sesama kami sendiri.”


Tiba tiba Serena merasakan sesak di dadanya. Semua penjelasan yang keluar dari mulut Joni menyentak hati nuraninya yang paling dalam. Matanya mulai berembun, berkumpul sedikit demi sedikit dan meluap menjadi butiran yang menetes ke pipi.


“Apa sekarang kau menyesal?” tanya Joni.


Tanpa perlu di komando, kepala Serena menunduk dan mengangguk.


“Tapi bukankah ini sudah terlambat?”


Anggukan lagi-lagi di berikan oleh Serena.


“Lalu apa yang akan kau lakukan?”


Kali ini hanya sebuah gelengan yang menggerakkan kepala Serena.


Joni kembali memeluk tubuh Serena yang mulai terisak, pundak gadis itu berguncang dengan lelehan air mata yang membasahi dada Joni.


“Ayo pergi ke neraka bersama,” ucap Joni.


“...”


Ingin rasanya Serena menolak keras ajakan Joni. Tapi mengingat semua dosa yang sudah dilakukannya, apakah masih mungkin dia tidak akan pergi ke tempat yang tadi di sebutkan? Bahkan saat dia tidak menginginkannya pun, tempat itu pasti akan menghisapnya.


Mengambil jalan untuk bersekutu dengan makhluk astral ternyata tidak memberikan dampak permanen, semuanya terasa sia sia sekarang. Bayangan hukuman yang akan di terimanya dari perjanjian laknat itu, tidak bisa mengalahkan bayangan hukuman berat yang harus di rasakannya nanti, dari sang pemilik hidup.


“Apa setelah ini, kau akan meninggalkanku?”


Serena tidak mampu memberikan jawaban apapun. Dia masih ragu dengan keputusan yang akan diambil untuk menentukan masa depan apa yang akan dijalani bersama orang-orang yang disayanginya.


Dengan kekuatannya, Joni membuat obrolan yang terjadi antara dirinya dan Serena tidak bisa terdengar oleh orang orang yang ada di sekeliling mereka. Waktu yang berputar di antara keduanya pun berbeda dari waktu normal lainnya.


“Bisakah kau membawaku pergi dari sini? Aku ingin pulang.” Serena menghentikan obrolan dengan sebuah permintaan yang tidak bisa ditolak oleh Joni.


“Perintahmu akan kulaksanakan, sayang…”


Joni membawa tubuh Serena pergi dari rumah besar milik Yuli tanpa di sadari oleh semua orang yang ada di sana.


.


.


.


***


Hallo reader…


Mulai sekarang, Si_Ro akan up tanpa gambar lagi ya.


Kenapa?


Karena kalau up tanpa gambar, katanya itu akan mempercepat proses review.


Setuju atau tidak setuju?


Harus komen!!


---


Cerita ini hanya fiktif belaka, kalau ada kemiripan tokoh, cerita dan tempat, itu hanyalah sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf kalau ada kata-kata yang menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan votenya ya.