
“Hallo…ada mobil yang ngikutin gue dari tadi. Urus itu” ucapnya pada seseorang di ujung telepon.
Serena memasuki kawasan apartemennya dengan sedikit menyunggingkan senyum. Dia baru saja melihat mobil yang terus mengikutinya, telah mendapat tipuan dari anak buah Juan. Sekarang tidak ada lagi penguntit yang berada di belakang mobil Serena. Belum di ketahui siapa yang ada di balik pengemudi mobil itu, tapi Serena tahu kalau itu akan berakibat buruk, sehingga dia meminta tolong pada Juan untuk membereskannya.
Baru saja Serena menutup pintu apartemennya dan meletakkan perlengkapan sesaji untuk nanti malam, handphonenya bergetar dan menampilkan nomor tidak di kenal. Satu kali panggilan dia abaikan karena merasa tidak mengenal nomor yang baru saja menghubunginya.
Handphonenya kembali bergetar dengan nomor yang sama seperti tadi, ingin rasanya Serena tidak peduli, tapi tak urung dia menekan tombol berwarna hijau dan mengangkat panggilan dengan suara malas.
“Hallo…”
“Apa kau baik baik saja?”
Serena bingung dengan pertanyaan yang barusaja di dengarnya. Suara milik laki laki diujung telpon itu mengkhawatirkannya.
“Serena! Apa kau baik baik saja? Jawab pertanyaanku”
“I…iya, aku baik baik saja. Tapi….kau siapa?” Tanya Serena
“Syukurlah” terdengar suara tarikan nafas lega “ Aku Farrel sayang. Apa kau lupa dengan suaraku?. Aku pikir, aku tidak akan bisa mendengar suaramu lagi. Aku sangat takut, saat Sarah mengatakan akan memberimu peringatan”
“Peringatan?” Serena masih tidak tahu arah pembicaraan yang sedang melibatkannya itu
“Tadi Sherly tiba tiba datang kemari, dia bilang…dia melihatmu mengunjungiku di rumah sakit. Sarah sangat marah mendengarnya”
“Oh itu” Serena mengangguk anggukan kepalanya sambil berjalan menuju kulkas dan mengambil minuman dingin
“Apa itu benar Serena?” Tanya Farrel
“Apanya?”
“Kau datang ke rumah sakit untuk mengunjungiku?”
“Ti…”
Serena menghentikan jawabannya. Tiba tiba terlintas ide untuk membuat Farrel makin tergila gila padanya dan akhirnya akan memperburuk hubungannya dengan Sarah. Inilah saatnya dia membalas perbuatan sarah padanya.
“I...iya. Tadi aku memang bermaksud mengunjungimu, tapi tidak jadi. Apa sekarang kau sudah baikan?”
“Aku sudah agak baikan. Kenapa kau tidak jadi mengunjungiku? Padahal aku sangat merindukanmu. Aku ingin melihatmu sayang”
Serena menggunakan telapak tangannya untuk menahan sekuat tenaga, supaya suara tertawanya tidak terdengar oleh Farrel. Dia sangat geli mendengar Farrel yang mengeluh karena merindukannya.
Cukup lama keduanya bertukar canda dan tawa, seolah sepasang kekasih yang sedang melepas rindu karena terpaut jarak seperti menjalani hubungan jarak jauh.
“Aku akan mendapatkanmu Serena” gumam Farrel pada saat dia menggakhiri panggilan telponnya dengan Serena
“Aku tahu apa isi otak jahatmu Farrel. Aku tidak akan membiarkan kau memanfaatkanku dan mengambil keuntungan sedikitpun. Aku bukan Serena yang dulu lagi”
Serena mulai membuka bungkusan plastik yang berisi perlengkapan malam panjangnya. Dia menata meja dan juga memasang seprai kasur yang nanti malam akan dia gunakan untuk melayani suaminya.
“Gue ngga tahu akan sampai kapan melakukan semua ini”
Serena duduk di tepian ranjang. Memandang semua bagian dari kamar khusus itu dengan tatapan sendu. Tatapan yang sulit diartikan, bahkan oleh dirinya sendiri.
“Bagaimana kalau ibu dan Zahra tahu semua ini?”
Satu pertanyaan yang terus mengganjal hati Serena. Satu pertanyaan yang membuatnya tidak pernah tidur nyenyak sejak pernikahannya dengan makhluk astral yang kini menghuni tubuh Juan. Dan satu pertanyaan yang benar benar membuatnya takut, jika harus melihat kekecewaan orang orang tersayangnya.
“Haruskah gue akhiri sekarang?”
“Apakah bisa?”
Begitu banyak pertanyaan yang muncul dan merusak suasana hati. Resiko yang di dapatkannya pasti akan lebih buruk dari apa yang dia nikmati saat ini. Ketenaran dan kelancaran pekerjaan yang dia jalani sekarang, tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan hidup tenangnya bersama ibu dan juga adiknya.
Walau dengan resiko kehilangan pekerjaan sebagai model yang begitu dia sukai, tapi kelangsungan hidupnya pasti akan lebih bahagia dengan hidup sederhana.
Egonya mengalahkan akal sehat. Rasa sakit hati telah menumbuhkan dendam membara yang ingin melahap setiap orang yang telah menorehkan luka pada dirinya. Sampai akhirnya menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan keinginan dan mempertaruhkan kebahagiaan sesaat.
***
Sepertinya besok adalah percakapan malam jum’at antara suami istri