
Sarah memegangi lehernya. Ada rasa panas yang menjalar bebas ke dalam tenggorokan, dan membuatnya tersiksa. Nafasnya juga ikut tersendat. Dia melempar tatapan penuh tuduhan pada lawan bicara, yang duduk acuh tak acuh.
“Apa… apa yang kau lakukan padaku?”
Seringai muncul untuk mengawali jawaban. “Aku? Aku tidak melakukan apa-apa,” elaknya.
Sarah meraih gelas kaca, dan menenggak habis isinya dengan tergesa-gesa. Berharap bisa mengurangi rasa perih yang semakin menyedot suaranya.
“Aku hanya ingin memberimu hadiah kecil, sebelum kita pulang ke Indo.”
“A-apa?” Sarah berbata, lirih. Suaranya hampir pergi begitu saja, bersama kesadaran yang semakin melayang.
“Kau akan jadi tumbalku selanjutnya, Sarah. Aku akan memberikanmu pada…,” hanya itu yang bisa ditangkap oleh pendengaran Sarah, sebelum gelap menguasai.
-
Joni memeluk tubuh Serena yang terlelap nyaman di dalam pelukannya. Brangkar yang lumayan sempit, sama sekali tidak menjadi penghalang. Rasa syukur sudah ratusan kali terucap, setiap dia mengingat kejadian yang baru saja mereka alami.
Dengan penuh kehati-hatian, Joni memindahkan kepala Serena dari lengannya ke bantal rumah sakit. Dia tidak mau menganggu tidur sang istri, yang begitu pulas.
“Apa aku harus menunda kepulangan besok?” gumamnya.
Joni meraih gawai yang berada di nakas. Mencari nama Zahra, dan melakukan panggilan. Tidak perlu menunggu terlalu lama, sampai terdengar nada panggilan tersambung.
“Hallo…,”
“Cie yang lagi bulan madu, tumben telpon malem-malem. Ada apa?”
“Apa saat ini, Sekar sedang bersamamu?” Joni mengabaikan ledekan Zahra.
“Iya, aku bersama Sekar. Kenapa Bang Jon?”
“Boleh bicara dengan Sekar, sebentar?”
“Tentu saja, dia kan anakmu. Tapi tolong bantu Zahra untuk membujuknya. Dia menolak semua makanan, sejak tadi siang. Tolong ya, Bang!”
“Sekar, ini papa. Katanya mau ngomong,” Joni bisa mendengar ucapan Zahra di ujung telpon.
“Hallo papa hiks… mama… mama… hiks,” Sekar menyambut Joni dengan tangisan.
“Mama baik-baik saja, sayang. Maafin papa ya? Papa ngga bisa menjaga mama dengan baik.”
Joni menunduk lemah. Dugaanya benar-benar terjadi. Sekar sudah mengetahui apa yang terjadi dengan Serena, tanpa harus menunggu kabar. Putri cantiknya pasti sedang mogok makan, karena merasa sedih.
“Papah…,” panggil Sekar.
“Iya, sayang.”
“Mama mana?”
“Mama lagi bobo. Sekar mau ngomong sama mama? Papa akan bangunin mama dulu, ya?”
“Jangan Pah! Mama biarin bobo aja.”
Joni tersenyum mendengar penolakan anaknya. Anak kecil itu bersedia menahan rasa rindunya pada Serena, karena tidak mau menganggu tidur sang ibu.
“Sekar…,” panggil Joni, pelan. Dia tahu, kalau pertanyaan yang akan keluar dari mulutnya bisa mengecewakan hati bocah kesayangannya.
“Sekar marah ngga, kalau besok mama sama papa belum bisa pulang? Soalnya mama masih di rumah sakit, sayang.”
“Ngga pah, Sekar ngga marah kok. Papa jagain mama aja. Sekar bisa main sama tante Zahra dan dua nenek,” seru Sekar.
Perasaan lega, menyelimuti Joni. Sekar sungguh memiliki pengertian yang sangat baik, di usianya yang masih kecil. Jalan pikirannya juga sulit di tebak, tidak seperti bocah seumurannya yang biasa merengek manja.
“Kalau gitu, papa tutup telponnya dulu, ya? Papa mau temenin mama tidur. Oh iya, sekarang Sekar harus makan! Kalau Sekar sakit, mama pasti sedih. Sekar ngga mau liat mama sedih, kan?”
“Iya, Pah. Sekar mau makan. Da dah Papah…”
Perlahan, Joni menaiki ranjang. Serena masih setia bermain dengan mimpi, apalagi dibantu pengaruh dari obat. Kemudian Joni menatap luka yang mulai mengering, di sudut bibir Serena. Jantungnya serasa diremas tangan tak kasat mata, sakit.
“Apa sekarang, mereka masih mengincar Serena?” Tanya Joni pada Jin Braja.
“Maksudmu?” Tanya Joni, bingung.
“Mereka sedang dalam perjalanan kembali ke negara kita. Dan sepertinya, perempuan itu akan berakhir menjadi tumbal.”
“Jadi maksudmu… Tuan Bram akan menumbalkan Sarah, dan dia akan menjadi santapan makhluk sepertimu?”
“Heh! Tidak semua makluk sepertiku memakan manusia, bodoh. Semua tergantung perjanjian!” Jin Braja kesal, mendengar tuduhan Joni.
“Hehehee maaf maaf, aku keceplosan.”
“Cih! Bahkan manusia seperti Bram lebih menakutkan daripada makhluk sepertiku,” protes Jin Braja. Dia masih tidak terima dengan penilaian Joni padanya.
“Iya iya, kau memang berbeda. Kau tidak sama dengan mereka. Itulah sebabnya, kau masih setia menjaga Serena, istriku.”
“Dia juga mantan istriku,” seru Jin Braja.
“Iya iya, aku mengakui itu. Tapi kau juga harus mengakui, kalau sekarang Serena sudah menjadi istriku yang sah.”
“Brisikkk…” suara Serena menginterupsi perdebatan Jin Braja dan Joni.
“Maaf kalau aku mengganggu tidurmu, sayang. Kami hanya sedikit mendiskusikan sesuatu,” bisik Joni, sembari memeluk Serena.
Tidak ada jawaban. Joni tersenyum geli dan memperhatikan wajah damai sang istri. Ternyata Serena lebih tergoda untuk kembali menyelami mimpi, daripada menegur Joni dan Jin Braja yang telah mengusik tidurnya.
-
Semetara itu, di kamar perawatan lain.
“Sayang…,” Farrel menyapa Sherly yang baru membuka mata.
“Aku dimana Farrel?”
“Kau ada di rumah sakit, sayang. Keadaanmu sudah lebih baik, jadi tenanglah. Aku ada disini, untuk menjagamu. Sekarang istirahatlah!” Farrel membelai rambut Sherly dengan lembut.
“Farrel… aku haus,” lirih Sherly. Dia meringis menahan rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya.
Tangan Farrel bergerak gesit. Mengisi gelas dengan air mineral, tanpa lupa mengambil sedotan untuk mempermudah Sherly meminumnya.
“Bagaimana dengan Serena?”
Sherly langsung bertanya, begitu dia bisa mengingat semua kejadian yang beberapa jam lalu dia alami.
“Dia ada di kamar sebelah. Keadaanya juga sudah lebih baik. Joni selalu bersamanya, kau tidak perlu khawatir.”
“Baiklah. Aku mengantuk, dan ingin tidur lagi. Bisakah kau memelukku?” pinta Sherly.
Farrel tidak mau menjawab. Pria itu serentak naik ke atas ranjang, dan memeluk Sherly.
“Tidurlah! Aku tidak akan kemana-mana,” bisik Farrel.
Jarum pendek pada jam dinding, menunjuk pada angka 3 dini hari. Farrel pun ikut larut dalam mimpi, begitu menghirup aroma tubuh kekasih hatinya.
.
.
.
***
Yey akhirnya cerita kutumbalkan tubuhku, tamat. Tapi tenang, Si_Ro bakal kasih extra part kok, jadi tungguin ya…
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu mungkin sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.