KUTUMBALKAN TUBUHKU

KUTUMBALKAN TUBUHKU
KT 107


Begitu keluar dari rumah sakit, Sarah masuk ke dalam mobil Bram yang menunggunya di lobby. Dengan wajah cemberut, dia melampiaskan kekesalan dengan sedikit membanting pintu mobil saat menutupnya. Bram memulai percakapan setelah memberi jeda beberapa saat untuk wanita yang duduk di sampingnya menetralkan diri.


“Apa kau sudah menemui suamimu?” tanya Bram.


Sarah mengangguk lesu.


“Huft… aku pikir kedatanganku bisa mengejutkan mereka. Tapi ternyata… merekalah yang berhasil membuatku tidak percaya dengan semua perubahan yang ada saat ini.”


“Kau terlalu berharap. Apa sikap mereka membuatmu kecewa?”


“Sedikit. Aku tidak menyangka kalau teman-temanku akan berkhianat di belakangku. Sepertinya sekarang, suamiku sendiri telah berpaling hati. Bahkan tadi dia terlihat lebih bahagia saat aku tidak ada.”


“Apa itu tidak terbalik?” sinis Bram.


“Maksudmu?”


“Kau mengatakan kalau teman-temanmu berkhianat di belakangmu, padahal kau sendiri yang lebih dulu mengkhianati mereka. Kalau untuk suamimu, aku pikir… dari awal kau memang tidak pernah benar-benar memilikinya. Baik itu hati ataupun tubuhnya. Benarkan?”


“Cih! Tahu apa kau tentang hubunganku dengan Farrel?!”


“Sebelum menjadi suamimu, bukankah dia adalah pacar dari sahabatmu sendiri? Kau mencurinya dengan cara yang licik. Bukankah semuanya jadi impas. Kau pernah merebut seseorang, dan seseorang telah merebut milikmu. Lalu sekarang… saat kau melihat dia lebih bahagia tanpa dirimu di sampingnya, kau tidak terima dan semakin membenci teman-temanmu. Apa kau tidak pernah berpikir, kalau semua ini adalah sebuah karma? Karma yang harus kau jalani karena telah menyakiti wanitaku?”


“Wanitamu? Ck ck ck ck Bram Bram. Buka matamu lebar-lebar. Jangan hanya karena satu orang wanita, lalu kau menutup mata melupakan kenyataan yang sebenarnya. Serena adalah wanita bersuami, bagaimana bisa kau mengakuinya sebagai wanitamu? Sedangkan kau sama sekali tidak kekurangan perempuan di rumahmu. Setahuku, sudah ada empat wanita yang mengisi kamar-kamarmu di rumah dan dengan bodohnya berebut perhatian darimu,” tutur Sarah.


“Apa kau mau menjadi salah satunya?” tanya Bram menggoda.


“Kau gila!”


“He.. hee sama sepertimu.”


“Ck lalu apa rencanamu selanjutnya?” tanya Sarah. Dia tidak ingin meneruskan pembicaraan tentang Farrel, karena itu akan membuatnya semakin kesal.


“Aku akan tetap pada rencana awal. Merebut dan membuatnya menjadi milikku.”


“Ha… haa”


“Kenapa kau tertawa?” tanya Bram yang bingung melihat Sarah tertawa bahagia.


“Kalau kau bisa mendapatkan Serena, berarti aku punya kesempatan untuk memiliki Joni.”


“Kau menginginkan laki-laki itu?”


Sarah menggidikkan bahu. “Aku rasa Joni lebih baik daripada Farrel. Tapi sebelum itu, ada hal penting yang harus aku lakukan lebih dulu. Setelah aku berhasil mengambil semua kekayaan milik Farrel, aku akan membawa Joni pergi jauh dari kota ini dan hidup bahagia. Bukankah itu rencana yang bagus?”


“Kalau begitu… ayo kita bekerja sama!” tawar Bram sambil mengulurkan tangan.


---------------------------------------------


“Kenapa kau masih cemberut?” tanya Joni.


Setelah Farrel dan Sherly pergi, Joni mendekati Serena dan memberinya beberapa kecupan di pelipis. Berharap bisa menghapus jejak kekesalan di wajah sang istri.


“Apa yang Sarah katakan padamu, tadi? Kenapa kau diam saja, saat dia mendekatimu? Cih! Kau bahkan tersenyum padanya,” ketus Serena.


“Wah… istriku sedang cemburu rupanya.”


Joni naik ke atas ranjang dan memaksa Serena untuk berbaring dengan menggunakan lengannya sebagai alas kepala.


Tapi Serena menolak. Hatinya masih sangat kesal dan tidak bersedia melakukan apa yang Joni inginkan.


Joni pun mengalah. Dia akhirnya hanya bisa memeluk sang istri dari belakang, karena sedari tadi Serena selalu duduk membelakanginya. Joni mulai menciumi tengkuk, leher dan pundak istrinya. Cara seperti itu biasanya sangat efektif untuk merayu Serena dan membuatnya luluh.


“Hentikan!” ucap Serena dengan mengepalkan tangan. Dia menahan diri untuk tidak mendesah dan larut dalam buaian Joni.


“Aku akan berhenti, kalau kau juga berhenti marah dan cemberut.”


“Ah!” lolos sudah suara Serena saat Joni menggigit lembut daun telinganya.


“Aku tidak pernah tertarik dengan wanita manapun, selain dirimu. Aku juga tidak pernah merasa tergoda, selain karena melihatmu. Bahkan adikku hanya bereaksi saat berdekatan denganmu,” bisik Joni.


“Gombal!” Serena memukul lengan Joni. Pipinya bersemu karena bahagia. Joni bukanlah laki-laki perayu seperti playboy kelaparan wanita. Dia akan berkata dan bersikap manis hanya pada Serena saja.


“Kau masih mau melanjutkannya?” tanya Joni. Bibir dan lidahnya kembali menjelajahi leher dan tengkuk sang istri, sampai membuatnya kegelian. Namun semua itu harus segera Joni hentikan. Karena kalau tidak, mungkin mereka akan memporak porandakan ranjang rumah sakit. Untuk melampiaskan seluruh hasratnya, Joni harus bisa menahan diri sampai Serena sembuh total.


“Apa yang Sarah katakan padamu?”


Serena begitu penasaran dengan perkataan Sarah, sampai dia mengulangi pertanyaan karena Joni belum memberinya jawaban.


“Bohong! Aku melihat dengan mata dan kepalaku sendiri, kalau dia membisikkan sesuatu padamu. Apa kau mau menipuku? Dia pasti mengatakan sesuatu yang penting. Apa setelah ini, kau berencana untuk menemuinya di belakangku?”


Joni mencubit sedikit keras pipi Serena. Dia merasa begitu gemas, saat melihat kecemburuan yang membara dari mata istrinya.


“Jangan berpikir macam-macam,” jari telunjuk Joni menempel di dahi Serena. “Tidurlah, sudah saatnya kau beristirahat. Aku tidak akan kemana-mana. Kau bisa mengikatku kalau tidak percaya. Cepatlah sembuh, karena aku hampir tidak bisa menahannya.”


Joni menarik lembut tubuh Serena ke dalam pelukannya. Dia bergerak perlahan agar tidak mengganggu selang infus yang terpasang di punggung tangan istrinya.


“Menahan apa?” cicit Serena dari dalam pelukan Joni.


“Ya ampuuunnn… apa aku harus mempraktekkannya?” greget Joni.


Serena menggigit bibir bawahnya sendiri, agar suara tawanya tidak pecah. Dengan jarak yang begitu dekat seperti saat ini, dia bisa merasakan ketegangan dari bagian bawah tubuh suaminya.


Serena merasa kasihan, tapi juga ingin menertawakannya. Sekarang dia berusaha untuk tertidur, agar tubuh mereka tidak terus bergesekan. Karena jika itu terus terjadi, maka sia-sialah usaha Joni yang sedang menurunkan gelora dalam dirinya.


--------------------------------------------


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Farrel pada Sherly.


“Aku? Memang aku kenapa?”


“Kau pasti kaget melihat Sarah telah kembali.”


Farrel mengendarai mobilnya menuju apartemen Sherly. Setelah menjenguk Serena dan tanpa sengaja bertemu dengan Sarah, wanita itu tiba-tiba menjadi sangat pendiam.


“Apa kau ingin memakan sesuatu sebelum kembali ke apartemen? Kau belum makan sejak tadi,” tanya Farrel. Dia berusaha menarik perhatian Sherly yang terus menatap jalanan.


“Tidak! Aku mau pulang saja.”


Penolakan Sherly membuat Farrel semakin tidak enak hati. Selama menikah dengan Sarah, dia bahkan tidak pernah peduli dan tidak ingin tahu apapun persoalan yang dihadapi oleh istrinya. Tapi melihat Sherly yang terus mendiamkannya, entah kenapa dia menjadi khawatir. Padahal sebelumnya, dia tidak pernah merasakan hal seperti ini selain pada Serena.


“Kau mau membawaku kemana?” tanya Sherly. Walaupun dari tadi perhatiannya teralihkan karena memikirkan Sarah, tapi dia sadar kalau jalan yang dia lalui bukanlah jalan menuju apartemennya.


“Diamlah, aku cuma ingin membawamu ke apartemenku.”


“Apa kau gila?!”


“Kenapa? Aku hanya ingin memamerkan tempat tinggalku padamu. Dan aku jamin, disana kau tidak akan bertemu dengan Sarah, jika itu yang kau takutkan.”


Sherly membulatkan mata, dia tidak menyangka kalau Farrel bisa menebak dengan benar. Bagaimana laki-laki itu bisa tahu, apa yang menjadi beban pikirannya sedari tadi?


“Saat ini, apartemenku adalah tempat yang paling tepat untuk bersembunyi. Sarah tidak akan bisa menemukanmu, jika kau bersedia ikut denganku. Kau akan aman disana. Kau bebas makan dan tidur sesukamu. Dan aku akan menyuruh salah satu anak buahku untuk melindungimu, kalau kau harus keluar rumah atau bekerja. Tapi akan lebih baik, jika kau berhenti sementara dari dunia model seperti Serena,” tawar Farrel.


“Tapi….”


“Kau bisa bekerja sebagai asisten pribadiku, itupun kalau kau mau.”


“Ini berlebihan,” tolak Sherly.


“Dulu kalian adalah sahabat dekat. Harusnya kau adalah orang yang paling tahu, bagaimana kelakuannya pada orang yang tidak dia sukai. Kau pasti paham, bagaimana tabiat temanmu itu?”


Sherly diam. Benar ucapan Farrel, kalau dia adalah orang yang paling mengerti tentang Sarah. Wanita itu akan berubah menjadi sangat gila untuk bisa menyingkirkan orang-orang yang dia nilai akan menghalangi jalannya. Sarah tipe orang yang akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan semua yang dia inginkan, bahkan menghabisi nyawa orang pun dia bisa.


.


.


.


***


Maaf telat up.


Kemarin Si_Ro sibuk membuat outline cerita untuk novel baru. Tapi baru dalam bentuk rancangan, dan belum dikembangkan.


Novel baru ini akan bercerita tentang kedua orang tua Sekar. Masih bau-bau mistis juga sih.


Semoga ada yang mau menantikannya.


Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.


Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.


Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.