
Juan mengendarai mobil Serena dengan kecepatan sedang. Memasuki wilayah yang sepi penduduk dan minim penerangan. Joni yang duduk di kursi penumpang depan sesekali melirik pada Serena yang duduk di kursi tengah. Gadis itu terlihat tidak nyaman dengan lingkungan yang mereka lewati. Hanya ada pepohonan rimbun dan semak belukar menjalar tak teratur, yang seolah menyambut kedatangan mereka.
Matahari mulai kembali bersembungi di ufuk barat, menyisakan gelap yang merayap perlahan. Bunyi binatang malam menambah kengerian berada di tempat asing yang menjadi tujuan.
“Serena, kau bisa pindah tempat duduk kalau kau takut sendirian di belakang,” tawar Joni pada Serena yang malah sedikit terkejut. Sepertinya gadis itu sedang melamun, sampai-sampai dia tidak mendengar panggilan Juan maupun Joni.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Juan yang ikut mengkhawatirkan Serena, karena gadis itu masih tidak menjawab panggilannya yang entah keberapa kali.
“Aku memikirkan ibu. Tadi kita tidak sempat berpamitan,” ucap Serena pelan. Dia terlihat tidak bersemangat sama sekali. Padahal, tadi dialah yang paling cerewet menyuruh Juan dan Joni agar segera pergi ke rumah Ni Maryam untuk menolong Zahra adiknya.
“Setelah ini selesai, kau akan bisa menemuinya sepuasmu.” Juan mencoba membuat Serena kembali ceria.
“Entah kenapa aku merasa kalau kita akan menemui rintangan besar di depan sana. Dan aku jadi tidak yakin kalau kita akan bisa pulang dan bertemu ibu lagi,” Serena mengungkapkan kegelisahan yang menghantuinya sejak tadi.
Juan dan Joni sama-sama terdiam. Keduanya bisa merasakan apa yang menjadi sumber ketakutan Serena. Tidak ada satupun yang bisa menebak dengan pasti apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi apapun itu, Juan dan Joni akan melakukan segala cara untuk membantu Serena menyembuhkan Zahra.
“Aku sudah memindah tangankan kepemilikan club milikku atas namamu,” ucap Juan kembali membuka percakapan untuk memecah kebisuan.
“Namaku? Kenapa? Memang kau mau kemana?” tanya Joni yang tiba-tiba panik.
“Tubuh yang ku pakai ini, tidak bisa bertahan terus menerus, dan aku juga tidak bisa membuat Serena yang menjadi pemiliknya. Jadi aku menggunakan namamu untuk menjadi bos yang menggantikan pemilik aslinya.”
“Aku tidak mau!” tolak Joni.
“Kenapa?”
“Itu bukan milikku ataupun milikmu. Kalau aku menerimanya, bukankah sama saja kalau aku mencurinya dari orang yang kau rasuki itu?”
“Kau tidak mungkin jadi sopir untuk selamanya kan? Kau perlu pekerjaan yang mampu memberi pemasukan lebih untuk menghidupi keluargamu nanti.”
“Tapi bukan begini caranya,” Joni tetap menolak.
“Terserah kau mau setuju atau tidak, yang pasti aku sudah melakukan apa yang harus aku lakukan untuk membantu masa depanmu. Aku tidak mau karir Serena merosot karena dirimu. Kau adalah orang yang paling tahu seperti perjuangannya untuk bisa sampai di posisinya sekarang. Dan kau perlu sesuatu yang kuat untuk bisa terus menjadi pendukungnya, yaitu uang yang banyak.”
Serena hanya bisa mendengarkan perdebatan antara Juan dan juga Joni. Dia tidak menyangka akan melihat dua laki-laki yang sangat memperdulikannya, sedang adu pendapat agar bisa memberi yang terbaik untuknya.
Dulu Serena merasa kalau hidupnya penuh dengan ketidakadilan. Dia sangat iri melihat keluarga teman-temannya yang harmonis dengan anggota keluarga yang lengkap. Ayah dan ibu yang menjadi pondasi terkuat sebuah keluarga, bersedia selalu ada untuk anak-anaknya.
Kehidupan Serena memang sangat sempurna. Ayah dan ibu yang saling mencintai, memberikan cinta dan kasih sayang tulus padanya juga Zahra. Tapi sayangnya itu hanya terjadi dulu. Dulu sekali. Sebelum ayahnya tiba-tiba berubah menjadi sangat kejam, bahkan pada istri dan anak-anaknya sendiri.
Setelah perubahan sikap sang ayah, lalu giliran perubahan sikap teman-temannya. Teman yang biasanya ada disampingnya, satu per satu mulai pergi meninggalkannya dan menyisakan permusuhan tanpa Serena tahu alasannya.
Seakan itu belum cukup. Ibunya pun mulai sakit-sakitan. Membuat Serena semakin terpuruk. Keadaan memaksanya menjadi tulang punggung keluarga setelah kepergian ayahnya yang tidak lagi peduli dengan nasib rumah tangganya.
“Serena…” panggil Juan.
“Serena…” panggil Joni.
“Serena!” Juan dan Joni kompak meninggikan suara untuk membuat Serena sadar dari lamuanannya.
“Eh!” Serena terperanjat kaget. “Apa?” tanyanya bingung.
“Kenapa kau melamun terus dari tadi? Kami sedang membicarakanmu!” protes Juan yang sedang sibuk mengemudi di tengah jalan yang gelap.
“Kali ini, apa lagi yang kau pikirkan hem?” Joni bertanya dengan suara yang lembut.
“Tidak ada Bang Jon.”
“Kalau tidak ada yang kau pikirkan, kenapa kau tidak menjawab panggilan kami berdua dari tadi?” tanya Juan tidak percaya.
“Oh itu… aku sedang merasa beruntung karena bisa mengenal kalian berdua. Meskipun ini tidak akan berlangsung selamanya, setidaknya aku diberikan kesempatan untuk merasa di pedulikan. Aku tidak akan menceritakan bagaimana kehidupanku dulu sebelum ada kalian, tapi aku sangat bersyukur pada sang pemilik kehidupan karena telah mengirim kalian untukku.”
Yah. Serena pasti merasa sangat beruntung sekarang. Dalam situasi yang tidak tepat seperti saat ini, ternyata ada yang membuatnya tetap bisa tersenyum. Membangun harapan besar untuk menjalani kehidupan yang lebih baik nantinya. Hanya saja, dia juga punya masalah yang harus diselesaikan segera.
“Juan… Bang Jon… apa perjalanan kita masih lama?” tanya Serena kemudian untuk mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau mendapat tatapan penuh pertanyaan dari dua pria yang ada di depannya.
“Sebentar lagi,” jawab Juan. “Bukankah kau pernah kesini sebelumnya bersama Joni?” Juan balik bertanya.
“Iya, pernah. Tapi aku tidak begitu hafal dengan jalanannya. Bang Jon yang tahu tempat ini tanpa harus aku pandu.”
“Kita hanya butuh waktu lima menit setelah belokan yang ada di depan itu,” tunjuk Joni.
-
“Kenapa kau kesini lagi?” tanya gadis kecil yang tinggal bersama Ni Maryam pada Serena.
“Aku butuh bantuan,” jawab Serena sambil menurunkan tinggi badannya, agar sejajar dengan gadis kecil yang menurutnya sangat manis.
“Apa tentang adikmu?” tanya gadis kecil itu, lagi.
“Iya. Darimana kau tahu?”
“Kau harus berkorban untuk bisa mengembalikan adikmu dengan selamat.”
Gadis kecil itu meraba pipi Serena secara tiba-tiba. Usapan lembut di pipinya, membuat Serena dapat melihat bayangan-bayangan acak menyerupai potongan puzzel yang berantakan.
Mata Serena membulat sempurna. Perasaan takutnya semakin bertambah karena sekelebat penglihatan yang diberikan oleh sang gadis kecil padanya. Hampir mulut Serena terbuka untuk bertanya, tapi sebuah suara sudah terdengar untuk mendahului.
“Jangan mengganggu tamuku, Sekar!” itu suara Ni Maryam.
Serena dan gadis kecil itu sama-sama mendongak ke arah Ni Maryam yang sudah berdiri di ambang pintu. Seolah sedang mempersilahkan para tamunya untuk segera masuk.
“Jadi namamu Sekar?” tanya Serena pada sang gadis kecil.
Tidak ada jawaban yang terdengar. Gadis kecil itu menggantinya dengan anggukan ringan dengan senyuman tipis.
Serena melangkahkan kakinya mengikuti Juan dan Joni yang sudah masuk ke dalam rumah Ni Maryam terlebih dahulu. Namun sebelum itu dia berhenti, karena ada tangan kecil yang menahannya. Kepalanya kembali menoleh pada pemilik tangan yang sedang menghalangi berjalan.
“Bisakah kau membawaku pergi dari tempat ini?’ tanya Sekar pada Serena dengan tatapan penuh permohonan.
Serena bingung harus menjawab apa. Dia terkejut mendengar permintaan yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
“Kenapa kau ingin pergi dari sini?” tanya Serena lembut. Sekar adalah anak yang sangat menarik untuk ukuran seorang anak yang tinggal di tempat terpencil bahkan menyeramkan. Tapi Serena perlu tahu apa yang membuat gadis kecil itu ingin meninggalkan Ni maryam yang sudah hidup bersamanya selama ini.
“Apa Ni Maryam akan mengizinkanku untuk membawamu?” tanya Serena ragu. Dia sebenarnya tidak keberatan jika harus membawa Sekar pulang ke rumahnya. Tapi dia juga memerlukan izin dari Ni Maryam sebagai wali yang telah mengurus Sekar selama ini.
“Kau tidak perlu izinnya untuk membawaku. Jadi… apa kau mau membawaku pulang?”
Pulang berarti rumah. Rumah yang berisi anggota keluarga. Rumah hangat yang dipenuhi oleh kasih sayang. Itukah keinginan Sekar?
-------------------------------------------
“Sebenarnya kita mau kemana Ki?” tanya Yuli yang merasa asing dengan jalan yang sedang dilaluinya.
“Sudah kubilang kalau aku ingin menemui seseorang. Kenapa kau sangat cerewet?!” jawab Ki Jarot ketus. Dia merasa jengah dengan sikap Yuli yang tidak berhenti bertanya sejak tadi.
“Aku kan hanya bertanya! Kalau kau bisa, kenapa kau tidak pergi saja sendiri!” bentak Yuli yang sudah terpancing emosi. Pikirannya terus tertuju pada sang putra yang dalam keadaan tidak sadar saat ia tinggalkan. Perjalanan panjang nan melelahkan menambah kemarahannya semakin memuncak.
“Di depan belok kanan,” balasnya. Laki-laki tua itu mengacuhkan istrinya yang sedang menahan jengkel.
Tidak ada lagi percakapan yang terjadi di dalam mobil selama perjalanan selanjutnya. Hanya ada suara Ki Jarot yang sesekali menunjukkan arah kemana mobil harus bergerak.
Yuli mengikuti arahan Ki Jarot sambil terus menggerutu dalam hati. Dia bisa merasakan kalau ada makhluk lain yang menumpangi mobil yang dikendarainya. Mungkin Ki Jarot menggunakan makhluk itu sebagai petunjuk arah, karena Yuli yakin kalau Ki jarot juga belum pernah ke tempat yang akan mereka tuju.
Sebelumnya dia bisa melihat semua jenis makhluk astral peliharaan Ki Jarot, tapi sejak iblis wanita miliknya lenyap, maka lenyap juga semua kemampuannya. Sekarang dia hanya manusia biasa tanpa kekuatan apapun. Dan itu membuatnya semakin tidak berdaya untuk menolak perintah Ki jarot dan terpaksa menuruti semua kemauannya yang semakin menyebalkan.
-------------------------------------------
“Tolong bawa aku pergi dari sini,” pinta Sekar sekali lagi pada Serena.
“Sekar… aku bisa saja membawamu pergi bersamaku. Tapi aku tidak yakin bisa kembali ke rumah setelah ini.”
Sekar tertunduk lesu. Tapi tidak lama kemudian, dia sedikit mendongakkan kepalanya ke arah belakang tubuh Serena. Kepalanya mengangguk pelan, seolah sedang melakukan obrolan dengan sesuatu yang tak terlihat.
Serena mengikuti arah penglihatan Sekar, tapi dia tidak bisa melihat apapun.
“Apa yang kau lihat?” tanyanya dengan perasaan resah. Bulu kuduknya mulai meremang setelah menyadari kalau ada yang aneh dengan tatapan Sekar.
Sekar tersenyum. “Ibuku,” jawabnya.
“Ibumu? Dimana?” tanya Serena semakin takut, karena dia tidak melihat sosok yang dimaksud oleh Sekar.
“Itu! Dibelakangmu,” tunjuk Sekar.
“Tapi aku tidak bisa melihat apa-apa, Sekar.”
“Apa kau ingin melihatnya? Aku bisa membantumu kalau kau mau,” tawar Sekar.
Serena menggeleng cepat, tangannya digoyang-goyangkan sebagai tanda penolakan.
“Tidak! Tidak perlu,” Serena menolak keras. Tapi dia juga tidak bisa menutupi rasa penasarannya tentang sosok ibu Sekar yang tidak terlihat oleh matanya.
“Apa ibumu cantik, Sekar?”
“Tentu saja. Ibuku wanita paling cantik di dunia. Dan dia sudah mengizinkanku untuk ikut denganmu,” jelas Sekar. “Tapi sayangnya, kau menolakku.” tambahnya.
“Aku bukan menolakmu sayang… aku hanya tidak yakin bisa kembali ke rumah dengan selamat. Eehm.. begini saja,” sejenak Serena berpikir.
“Kalau aku bisa menyelamatkan Zahra, aku janji akan membawamu pergi dari sini. Bagaimana?” tanya Serena.
Sekar yang tadinya tertunduk lesu, kini berbinar ceria penuh kebahagiaan. Kepalanya mengangguk penuh semangat berhias senyuman lebar.
“Rena… Ni Maryam mencarimu,” suara Joni menginterupsi kegembiraan Sekar yang sedang bermekaran. Gadis kecil itu kemudian menggandenng lengan Serena dan mengikutinya masuk ke dalam rumah tua.
--------------------------------------------
“Apa yang harus saya lakukan untuk menolong Zahra Ni?”
Serena tidak perlu menceritakan permasalahannya secara terperinci pada Ni Maryam. Nenek tua itu langsung mengerti hanya dengan saling bertatap muka dengan Juan.
“Harus ada korban untuk bisa menolong adikmu. Apa kau bersedia melakukan apapun untuknya?” tanya Ni Maryam.
“Iya. Aku bersedia.” Serena menjawab tanpa ragu.
“Apa tidak ada jalan lain Ni?” kali ini Juan yang mengeluarkan suaranya.
“Kenapa?” tanya balik Ni Maryam. “Apa kau mau menggantikannya?”
“.……”
“Kau sepertinya sangat menyukai majikanmu kali ini. Tapi perlu aku ingatkan Braja, kau hanya terikat pernikahan dengan gadis ini. Perjanjian yang ada diantara kalian akan hilang bersama hancurnya segel yang ada di tubuhnya,” tunjuk Ni Maryam pada Serena.
“Dan orang yang menginginkan gadis itu sangat mampu untuk melakukannya. Laki-laki tua itu bisa menghancurkan segel yang mengikat pernikahan kalian dengan ilmu yang dikuasainya dengan mudah. Dan setelah itu, kau tidak punya kewajiban apapun lagi untuk menjadi pelindung Serena.” tambahnya.
Juan terdiam. Dia tahu siapa orang yang dimaksud oleh Ni Maryam. Hanya tinggal Joni dan Serena saja yang masih terlihat bingung tanpa berani bertanya.
“Baiklah… kita harus segera menyambut tamu yang sebentar lagi akan datang. Persiapkan diri kalian. Walaupun tidak bisa membantu, setidaknya jangan menyulitkanku.”
Ni Maryam bangkit dari duduknya yang bersila di hadapan Serena dan Joni. Sementara Juan dan Sekar memilih duduk di samping meja yang penuh dengan sesaji dan juga tungku pembakaran dengan asap yang mengepul dengan aroma menyengat. Bahkan Serena dan Joni berkali-kali harus terbatuk karena tidak terbiasa dengan bau yang menganggu pernafasan mereka.
.
.
.
***
Pasti pada teriak nih…kabur ah 😊
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.