
“Ikut denganku!”
“Kenapa aku harus ikut?”
“Jangan banyak tanya!”
“Aku tidak mau!”
“Kau tidak memberikanmu izin untuk menolak!”
“Mulai sekarang, aku tidak mau menuruti perintahmu lagi! Kau selalu saja menipuku, aku sudah sangat lelah. Pergilah kemana pun kau mau, dan aku akan sangat berbahagia untuk hari kebebasanku.”
“Hari pembebasanmu hanyalah saat kau mati! Dan kematianmu ada di tanganku Yuli! Sekarang cepat ikuti aku!”
“Sudah kubilang aku tidak mau! Aku lebih baik mati, dari pada terus-terusn menjadi budakmu!”
“Jangan memaksaku Yuli!”
“Bukankah cepat atau lambat, aku akan tetap mati? Aku bahkan sudah bosan dengan semua ancaman-ancamanmu! Aku akan melupakan mimpi-mimpiku. Mimpi untuk menjadi cantik selamanya, juga mimpi untuk mendapatkan Yudi. Karena aku tahu seperti apa pun kerasnya usahaku, Yudi akan tetap mencintai wanita itu. Aku tidak bisa mendapatkan cintanya yang kuharap hanya untukku. Hiks”
“Sekarang kau berani melawanku ya!? Aku akan membunuh Adit putramu, kalau kau tidak melakukan perintahku kali ini!”
“Kenapa kau begitu jahat padaku? Kenapa kau tidak pernah memperlakukanku seperti seorang istri?! Pernahkah sekali saja kau menganggapku sebagai wanita dan bukan budakmu?! Sekarang kau malah ingin membunuh putraku hiks hiks…”
Sejenak Ki Jarot terdiam. Dia tidak mempunyai jawaban apapun untuk pertanyaan Yuli. Dalam hatinya juga bertanya dengan pertanyaan yang sama. Sejak awal menikahi Yuli, dia sudah tahu kalau pernikahan ini tidak akan berjalan seperti rumah tangga pada umumnya. Yuli datang padanya dengan niat ingin berguru, dan dia meminta pernikahan sebagai syarat.
Pernikahan terjadi untuk saling memanfaatkan. Ki Jarot ingin punya keturunan yang bisa menjadi pewaris semua ilmu-ilmunya, sedangkan Yuli ingin berguru agar bisa menjadi kaya raya. Tapi seiring berjalannya waktu, niat Yuli berubah. Dia ingin menggunakan ilmu yang dia dapat dari Ki Jarot untuk membalas dendam pada laki-laki yang menyakitinya, yaitu Yudi.
Saat keduanya sama-sama terdiam, tiba-tiba pintu kamar di ketuk oleh seseorang.
Tok tok tok
“Mah… apa mama ada di dalam?” itu suara Adit.
Dibandingkan dengan Yuli, Ki Jarot lebih terkejut dengan suara orang yang berada di depan pintu. Terakhir dia bertatap muka dengan putranya, adalah saat Adit berumur 17 tahun. Dan sejak saat itu, tidak ada lagi hubungan baik diantara keduanya. Yuli bahkan harus berbohong pada sang putranya, kalau Ki Jarot sedang pergi jauh untuk meningkatkan ilmu hitamnya. Adit tidak pernah lupa mengiriminya uang, tapi hanya sebatas itu.
Selama ini Ki Jarot sudah menyembunyikan dirinya dengan baik dari Adit. Karena setiap kali ayah dan anak ini bertemu, maka hanya akan ada pertengkaran yang terjadi. Adit sudah mengikrarkan diri untuk menolak menjadi pewaris ilmu-ilmu Ki Jarot. Dan itu tidak bisa dibantah oleh Ki Jarot sendiri, karena di dalam tubuh Adit terdapat sebuah pancang kuat yang tertanam sejak dia lahir.
Walaupun Ki Jarot sendiri yang telah menanamnya, tapi dia tidak akan bisa memaksa menurunkan ilmunya pada Adit. Karena jika itu dilakukan dengan paksaan, maka Ki Jarot akan terkena serangan dari ilmunya sendiri yang bisa membuatnya kehilangan semua kekuatannya bahkan mati dengan cara yang paling mengenaskan.
Tok tok tok
“Mah… Adit boleh masuk ya?” tanya Adit.
Gagang pintu mulai bergerak ke bawah, membuat Yuli buru-buru menghapus air matanya dan bangkit dari duduk. Sementara itu, Ki Jarot memilih menyembunyikan dirinya di belakang pintu.
Ceklek
Adit berdiri di ambang pintu. Matanya memindai kamar mamanya dengan sangat teliti. Belum sempat dia melangkahkan kakinya untuk masuk, Yuli muncul dan langsung menghadang dirinya.
“Ada apa sayang?” dengan suara yang sedikit serak.
Mendengar suara bergetar Yuli, Adit langsung mendekati sang mama. Dia bisa melihat bengkak di mata wanita tua yang telah melahirkannya.
“Mama kenapa?” tanyanya penuh kekhawatiran.
“Mama ngga apa-apa kok, tapi mama lapar. Ayo keluar temani mama makan,” ucap Yuli beralasan agar Adit mmepercayainya.
Yuli segera membalikkan tubuh Adit dan menggandengan lengannya keluar dari kamar. Yuli tidak ingin terjadi pertengkaran antara Adit dan juga Ki Jarot, suaminya. Dia juga tidak ingin Adit mengetahui kebohongannya selama ini. Meskipun pernikahannya tidak pernah membuatnya bahagia, tapi dia selalu bisa bertahan karena kehadiran sang putra di sampingnya.
“Mama beneran ngga papa? Mama kayaknya habis nangis kan? Kenapa mah?”
Yuli kembali menitikkan air mata. Kali ini tangisannya bukan disebabkan oleh kekecewaan, tapi karena rasa haru melihat Adit begitu peduli padanya. Yuli mengajak anaknya untuk duduk di kursi yang ada di dekat dapur.
“Maafkan mama ya Dit, mama bukan mama yang baik buat kamu. Mama selalu memaksakan kehendak tanpa memikirkan perasaanmu. Mama telah meracuni otakmu dengan dendam pribadi mama. Mama juga minta maaf, karena menyekap Serena dan menyakitinya. Hiks hiks… jaga dirimu baik-baik ya nak. Tetaplah menjadi anak baik kebanggan mama. Dan carilah gadis yang mencintaimu apa adanya. Lindungi dan perlakukan dengan baik, seperti kamu memperlakukan mama. Apa kau mengerti?”
“Mah… mama ngomong apa sih? Jangan bikin Adit takut dong mah. Apa mama mau pergi ke suatu tempat? Mama mau berlibur? Kemana? Berapa lama?” pertanyaan beruntun keluar lancar dari mulut Adit disertai kepanikan.
Yuli menggelengkan kepala, linangan air mata masih terus membanjiri pipinya. Entah kenapa dia merasa kalau waktunya bersama sang putra sudah tidak lama lagi. Hatinya begitu sedih karena harus meninggalkan anaknya seorang diri tanpa ada yang menjadi teman hidupnya.
“Dit… sepertinya kali ini mama akan pergi lama, atau mungkin malah tidak akan kembali lagi kesini. Mama punya satu hal yang harus dilakukan.”
Tangan Yuli mengusap puncak kepala Adit penuh kasih sayang. Satu-satunya laki-laki yang mampu memberinya kasih sayang dan kebahagiaan hidup. Satu-satunya laki-laki yang tidak pernah menyakitinya seperti Yudi dan juga suaminya sendiri, Ki Jarot.
“Tapi kali mama mau kemana hem? Apa sangat jauh? Beritahu Adit dimana tempatnya? Adit janji akan sering mengunjungi mama di sana.” ucap Adit sambil menggenggam tangan Yuli yang sudah banyak terdapat kerutan.
Yuli memilih tidak menjawab, dia hanya membalas genggaman tangan sang putra. Dia ingin sepuas-puasnya menatap wajah Adit, seolah ini adalah hari terakhir mereka bertemu.
“Kemana mah?” tanya Adit lagi.
“Nanti kamu akan tahu sendiri. Tolong sampaikan permintaan maaf mama pada Serena dan ibunya. Berikan botol kecil yang ada di laci lemari mama pada ibunya Serena.”
“Memang itu botol apa mah?” tanya Adit.
“Berikan saja padanya, dan jangan banyak bertanya.”
Adit mengerutkan kening ketika dia merasakan sebuah kejanggalan dari semua pembicaraanya dengan Yuli.
“Ada apa sebenarnya mah? Kenapa Adit merasa kalau mama seperti sedang mengucap salam perpisahan. Apa mama sakit parah? Bilang sama Adit mah, mama kenapa?”
Yuli melihat Ki Jarot sudah berdiri di belakang Adit sambil bersedekap. Matanya memancarkan kemarahan dengan rahang yang mengeras.
“TIDAK!! JANGAAAAAN…” teriak Yuli memohon.
BRUKK…
Tiba-tiba tubuh Adit terkapar di lantai walau tanpa luka sedikit pun. Yuli segera bergerak menghampiri sang putra yang tidak sadarkan diri.
“Apa yang kau lakukan pada putraku?!” bentak Yuli penuh amarah.
“Kalian terlalu lama basa basi, dan itu membuatku kehilangan banyak waktu,” jawabnya Ki Jarot ketus.
“Dit… Adit hiks hiks bangun sayang… bangunlah” Yuli mencoba membangunkan anak kesayangannya itu.
“Cih… dia masih hidup, kau tidak perlu menangisinya!” bentak Ki Jarot.
“Sebenarnya apa lagi yang kau inginkan dariku hah! Kenapa kau membuat anakku yang menerima hukumanmu?!” Yuli sudah tidak bisa lagi menahan emosi. Rasa takut yang biasa dia rasakan pada sang suami, sirna tanpa bekas. Tangannya mengepal kuat dan ingin menghajar laki-laki tua yang ada di hadapannya.
“Ayo pergi denganku, antarkan aku ke suatu tempat. Aku akan mengunjungi seseorang yang bisa membuatku lebih sakti dari sekarang. Ha… haaa… aku sudah tidak sabar untuk melihat tampangnya saat ini. Apa dia masih sama seperti saat aku tinggalkan dulu?” ucap Ki Jarot bersemangat.
“Siapa? Apa dia mantan pacarmu? Apa dia seorang wanita yang pernah menolakmu, sampai kau begitu ingin menemuinya?” ucap Yuli disertai sedikit ejekan.
“Jangan memancing kemarahanku Yuli! Aku akan benar-benar menghabisi putramu kalau kau terus melawan,” ancam Ki Jarot.
“Apa kau gila?! Dia itu juga anakmu!”
“Tapi dia tidak berguna untukku. Dia malah menjadi ancaman untuk kelangsungan hidup dan ilmuku. Jadi sebelum dia menghancurkanku, akulah yang akan melenyapkannya lebih dulu.”
Ki Jarot menarik paksa Yuli yang masih memeluk tubuh Adit dengan derai air mata. Tidak memberikan waktu untuk ucapan salam perpisahan.
“Tidak! Aku tidak mau ikut denganmu!” Yuli terus memberontak.
“Kau harus ikut denganku kalau ingin dia tetap hidup,” jari Ki Jarot menunjuk Adit. Jika tadi Yuli menopang kepala Adit di atas pangkuan, kali ini tubuh itu terpaksa harus terlentang dilantai karena Yuli telah diseret menjauh oleh Ki Jarot.
“Adit! Adit bangun nak!” teriakan Yuli begitu memekakkan telinga. Dia terus memanggil-manggil nama anaknya, tidak peduli dengan rasa sakit di tubuhnya sendiri akibat pukulan Ki Jarot.
“Maafin mama ya nak…. jaga dirimu dengan baik.”
Itulah kata-kata terakhir yang mampu Yuli ucapkan setelah tubuh sang putra tidak lagi terlihat. Rasa pedih dihatinya begitu menyiksa. Dia terpaksa menuruti perintah Ki Jarot yang memaksanya untuk duduk di kursi pengemudi. Demi nyawa Adit, Yuli akan melakukan apapun sambil mencari cara untuk melepaskan diri dari jeratan ilmu hitam Ki Jarot.
.
.
.
***
Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kemiripan tokoh, jalan cerita, dan juga tempat, itu hanya sebuah kebetulan semata.
Mohon maaf untuk typo dan kata-kata yang sekiranya menyinggung atau tidak sesuai dengan kenyataan, karena semua ini murni hanya karangan penulis.
Terima kasih untuk semua like, komen, dan vote poin maupun koin. Untuk yang sudah memberi bintang lima dan tanda love juga, terima kasih banyak.