
Dengan alasan membantu asistennya mendandani pengantin wanita, Miki berhasil masuk ke dalam kamar yang berisi Serena. Tentu bisa ditebak seperti apa reaksi Serena melihat Miki di sana.
“Mik…”
Ucapan Serena terhenti saat Miki memberinya kode untuk diam. Serena terlihat sangat lega melihat kedatangan sahabatnya itu dan air matanya tidak bisa lagi dibendung.
“Sshhtt… jangan melakukan apapun yang bisa membuat para penjaga itu curiga,” bisik Miki.
Serena menganggukkan kepalanya. Gadis itu menggenggam erat tangan Miki.
“Tolong gue Miki… gue mau dipaksa nikah hiks… hiks,” lirih Serena.
“Eike tahu,” ucap Miki dengan wajah serius.
Miki meneruskan pekerjaan asistennya yang tadi bertugas mendandani Serena.
“Lo tahu dari mana gue di sini?”
“Adit. Dia yang nyuruh eike ke sini”
“Adit?! Pasti dia sedang sangat senang karena bisa nyulik gue,” cibir Serena.
“Yey salah. Justru Adit nyuruh eike ke sini untuk menyelamatkan yey.
“Kok bisa?” tanya Serena curiga.
“Eike ngga tahu ada masalah apa antara kalian berdua, yang jelas tadi Adit nyuruh eike untuk membantu yey keluar dari sini dengan selamat. Dan tadi eike lihat dengan mata kepala sendiri, kalau Adit menolak untuk menikahi yey . Bahkan dia harus dapat perlakuan kasar dari para bodyguard karena melawan perintah dari nyonya rumah ini. Oh iya, kalau eike ngga salah inget, Adit menyebutnya dengan panggilan mama.”
“Tante Yuli…” gumam Serena. “Jadi apa rencana lo Miki?”
“Eike belum nemu caranya cin. Eike masih bingung, bodyguardnya serem serem banget nek” jawab Miki sambil memegangi kepalanya sambil bergidig ngeri.
Pundak Serena luruh. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk bisa melepaskan diri dari sekapan Yuli dan pergi dari pernikahan konyol ini. Ujung jari telunjuk tangan Serena sudah menjadi korban. Gigitan demi gigitan mulai melukai kuku cantiknya. Setiap gadis itu merasa panik, dia akan melakukan kebiasaan yang sulit dihilangkannya itu.
“Lo bawa handphone ngga?” Serena teringat pada Joni.
Miki mengangguk dan menyerahkan handphonennya pada Serena, tentu dengan cara sembunyi sembunyi. Tidak lupa mengecilkan volume handphone terlebih dahulu sebelum menggunakannya.
Hanya dalam hitungan detik. Handphone itu berbunyi, layarnya menampilkan pesan baru sebagai balasan dari pesan pertama yang dikirim Serena.
“Saya udah di depan Mbak Rena,” isi pesan dari Joni.
Serena tersenyum senang. Dia tidak menyangka kalau Joni ternyata sudah bergerak lebih cepat dari dugaannnya. Laki laki yang diharapkan kedatangannya itu telah datang untuknya.
“Kok bisa udah di depan? Kan gue ngga ngasih tahu alamatnya, bahkan gue sendiri ngga tahu ini ada dimana,” batin Serena.
Rasa senang bercampur dengan bingung. Yang bisa dilakukan Serena saat ini hanyalah menunggu.
Tak berselang lama, terdengar suara ribut ribut yang berasal dari luar rumah. Dari jendela atas, Serena bisa melihat Joni yang sedang berkelahi melawan para bodyguard penjaga rumah.
Joni mendapat pukulan di wajah, ujung bibirnya mengeluarkan darah, dan itu tak luput dari pandangan Serena yang berdiri dari balkon kamar. Serena mulai menangis kembali. Pria yang disayanginya itu lerluka demi untuk menyelamatkan dirinya.
Walaupun kalah dalam jumlah, tapi Joni bisa mengalahkan pria pria tinggi besar dengan tubuh kekar itu. Joni mengusai ilmu bela diri taekwondo dan juga silat, itu dia pelajari sebelum menjadi sopir Serena.
Hidup menjadi seorang yatim piatu yang sering mendapat perlakuan bullying di sekolah maupun di tempatnya tinggal waktu kecil, ternyata mendapat perhatian dari guru ngajinya di pesantren dulu. Guru ngaji itulah yang memberi latihan latihan keras, agar Joni bisa melindungi diri sendiri di masa depan.
Joni masuk ke dalam rumah besar milik Yuli setelah mengalahkan bodyguard yang berjaga di gerbang dan pintu depan rumah.
“SERENAAAAA…” teriak Joni.
.
.
.
***
1
Triple up