
"Awas gue duluan!" seru Kean.
"Enak aja, gue duluan yang ngambil!"jawab Sean tidak terima.
Tetapi nasibnya sama seperti Arkan di awal. Mereka bukannya membaik malah bertambah pedas.
"Hahaha, enak kan! Gue juga tadi begitu. Si anjir muka lo?!"
Arkan tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan kedua sahabatnya itu.
"Temen lo lagi kepedesan itu Ar masa iya lo ketawain!" kata Kamila.
"Ya abis lucu makan segitu aja kepedesan,"
"Alah, kayak lo nggak aja," timpal Kamila.
Arkan pun hanya meringis kemudian ia mengulurkan sekotak susu kepada Kean dan Sean. Barulah setelah meminum susu dari Arkan rasa pedas di mulut mereka mereda.
"Aduh, racun bener-bener nih gila pedesnya," kata Kean kepada Kamila.
"Ya udah berhubung kalian semua nggak ada yang kuat sama pedesnya. Nah, ini mienya gue yang ngabisin. Nanti kalian yang cuci piring, oke?" kata Kamila.
"Enggak! Ini pedes banget, gak ada yang boleh lanjutin makan mie. Kasian lambung lo Mil!" Arkan mengambil mie dari hadapan Kamila.
"Tapi Arkan itu masih banyak!" kata Kamila.
"Gak ada Kamila! Kalo lo sakit gimana? Besok-besok gak ada yang makan mie gini lag, kalo mau bikin tambahin kecap. Ini mah mau buat lambung lo sakit!" tegas Arkan serius.
Arkan membuang mienya, Kean Sean dan Kamila pun pasrah, mereka menganggukkan kepalanya saja.
"Mie gue," lirih Kamila.
"Gak ada mie gue-mie gue, kalo mau makan ya makan nasi aja, Bunda udah masak kan!"
Kamila menganggukan kepalanya dia pasrah saja, Arkan sedang mode serius.
"Mau minum!" pinta Kamila kepada Arkan.
Arkan memberikan minumnya. Di mengusap keringat di dahi Kamila.
"Gue bukan gak ngebolehin lo makan mie Mil! Tapi itu pedesnya udah di luar nalar, gue gak mau lo sakit!"
Kamila menganggukan kepalanya, " lyah deh, tapi sekarang mau makan nasi goreng," kata Kamila.
"Ayo masak, nanti Sean sama Kean yang cuci piring," ujar Arkan.
"Kok kita?" seru keduanya bersamaan.
"Lo gak mau ikut makan?"
"Mau lah," jawab Sean.
"Cuci piring!" kata Arkan.
Nasib.. Nasib...
"Mil, tuh si Arkan udah nungguin lo. Busyet dah, tuh anakrajin banget," kata Naya saat melihat Arkan sudah menunggu Kamila di depan pintu kelas.
Kamila yang masih mencatat hanya tertawa kecil.
"Enak ya jadi Lo, belum nikah udah boleh tinggal bareng. Nyokapnya Arkan baik, gak?" tanya Naya Kepo.
"Baik banget, malah gue berasa kayak tinggal di rumah sendiri. Nyokapnya itu lembut banget, tau dah anaknya kenapa tengil begitu," jawab Kamila sambil terkekeh.
Naya langsung mencibir sebal. " Tengil juga Lo cinta, Mila!"
"Ya gimana, ganteng sih," jawab Kamila asal membuat Naya tertawa geli. Setelah menyelesaikan catatannya, Kamila pun segera memasukkan buku-buku ke dalam tasnya.
Kemudian ia menghampiri Arkan yang sedang berdiri bersama Daren dan Kean juga Sean.
"Kalian ngapain?" tanya Kamila.
Kamila langsung memicingkan matanya.
"Lo gak lagi ngerencanain tawuran kan?" tanya Kamila.
Arkan langsung tertawa terbahak-bahak.
"Enggak Sayang, gue mau ke kantor Papahnya Daren," kata Arkan sedikit berdusta.
Hanya dengan begitu ia bisa pergi tanpa dicurigai Kamila.
"Beneran?"
"Ish, gak percayaan banget," kata Arkan.
Kamila memang sempat diberitahu oleh Arkan jika Daren adalah IT di kantor milik orang tua angkatnya. Jadi, terkadang memang Daren selalu ke sana jika ada pekerjaan.
Daren yang awalnya tidak mengerti hanya melongo tapi setelahnya dia menganggukan kepalanya.
"lya, Mil. Kalo gue ajak Kean atau Bastian, mereka mana ngerti urusan saham dan yang lain. Jadi, gue ajak si dodol ini, "'kata Daren.
Kamila menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. la percaya kepada Arkan dan menganggukkan kepalanya.
"Tapi, jangan lama-lama, ya. Nanti Bunda nanyain,"'kata Kamila.
"lya, gue gak akan lama kok," jawab Arkan Arkan mengacak rambut Kamila.
Setelah melihat Kamila pulang bersama dengan Kean dan Sean serta Bastian, Arkan pun langsung menepuk bahu Daren.
"Si anjir gue diumpanin. Emang mau ke mana sih?" Tanya Daren.
"Kita ke penjara," jawab Arkan.
"Si monyong, lain kali ngomong dulu. Untung gue ngeh trus nyambung, kalo gak bahaya. Lo lagi, bohong sama si Kamila. Giliran Lo yang dibohongi marah," kata Daren.
"Bohongnya Kamila itu ngebahayain dirinya sendiri, gue sekarang bohong demi kebaikannya juga," jawab Arkan.
"Ngeles aja Lo kek bajaj," sahut Daren jengkel.
Tapi, dia tidak bisa menolak ajakan Arkan. Lagipula dia tau alasan mengapa Arkan mengajaknya dan bukan Bastian atau yang lain.
Arkan datang ke penjara tempat Reynald dan Laras di penjara. Arkan melihat mereka sinis. Dalam hati Arkan sejujurnya belum puas dengan semua ini dia ingin sekali melihat jasad Reynald dimakamkan, sangat jahat memang tapi Arkan masih punya dendam pada Reynald.
Sementara Reynald sendiri tidak menyangka jika Arkan akan datang mendatanginya di penjara.
"Ngapain ke sini, anak kurang ajar?!" kata Reynald.
"Gue ke sini cuma mau mastiin Lo sama istri Lo bisa dihukum berat."
"Tunggu saya keluar dari sini. Saya pastikan kamu dan Kamila bakalan bayar semua yang saya alami di sini!" Kata Reynald.
"Lo bakalan lama di sini, dan bakal gue pastin waktu lo keluar dari sini gue sama Kamila udah nikah dan Lo gak akan bisa nyentuh Kamila seujung rambut pun," kata Arkan dengan santainya.
"Lagipula Lo punya apa? Ga ada. Lo sekarang cuman narapidana. Yang ga bisa ke mana-mana. Ga bisa berbuat apa-apa. Seandainya Lo keluar dari sini, Lo gak akan punya harta semua aset udah di alihin ke Kamila," lanjut Arkan dengan angkuhnya.
Reynald berdecih sinis, "Saya tidak perlu harta buat membunuh kamu dan anak durhaka itu. Saya akan terus menjadi mimpi buruk untuk kalian. Saya akan menghancurkan hidup kalian. Kalo perlu perusahaan kalian akan saya hancurkan!" kata Reynald dengan nada penuh ancaman.
"Kalo lo mimpi buruk buat gue sama Kamila, gue malaikat pencabut nyawanya yang bisa bunuh lo kapan aja, walaupun lo masih ada di jeruji besi!" jawab Arkan dengan santainya. Tidak ada rasa takut dalam diri Arkan.
"Kamu gila Arkan memberikan semuanya kepada wanita sakit jiwa seperti Kamila?!"
"Jaga mulut lo sialan!" kata Arkan emosi. Jika saja lelaki ini bukan Ayah kandung Kamila, ingin rasanya ia memukulinya hingga mati sekalian.
Tapi, ini di penjara dan juga Arkan sudah berjanji kepada Kamila untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh.
"Seharusnya lo tobat, pikirin semua kesalahan lo, gak akan ada asap kalo gak ada api. Begitu juga yang sekarang lagi lo jalanin. Coba kalo lo jadi Ayah yang baik buat Kamila semua gak akan terjadi. Serakah! Harusnya lo sadar kalo Kamila itu sayang banget sama lo!"
"'Saya ga peduli. Sudah saya bilang, saya tidak pernah menganggap dia anak saya. Kamu tidak mengerti artinya tidak punya apa-apa. Dulu, saya menikahi ibunya Kamila hanya untuk harta. Bukan untuk anak!" seru Reynald.