
Rasanya ingin sekali ia membalas perlakuan Laras dan Livia kepada Kamila.
Tetapi, Arkan tidak mau bertindak gegabah dia langsung mengeluarkan ponselnya dan
merekam itu semua.
"Tante... Sakit! Ampun!" kata Kamila.
Terlihat gadis itu berusaha melepaskan rambutnya dari tarikan Livia.
Pantas saja Arkan tidak menemukan luka di tangan Kamila, karena mereka memukul punggung dan pundak Kamila. Itulah sebabnya waku itu Arkan berkata Kamila
bohong karena Arkan tau pundak Kamila terluka dan mata Arkan juga menangkap ada bayangan Livia dari kaca seperti mengancam Kamila.
Arkan bukan manusia bodoh, dia tinggal di lingkungan persaingan bisnis sedari kecil dia di didik seperti itu.
"Mamah! Hiks... Tante, ak-aku gak akan ngadu ke Papah tapi tolong lepas, badan aku sakit semua!"
"Saya gak peduli!" jawab Laras masih terus memukuli Kamila.
Tangisan menyakitkan Kamila membuat Arkan tidak tega. Dia harus mengakhiri ini semua. Arkan pun mengedarkan pandangan. Dan ia melihat ada sebuah guci. Ia pun langsung menendang guci itu hingga pecah sehingga perhatian Laras dan Livia teralibkan.
PRANG..
"Apa itu, Liv?" tanya Laras.
"Gak tau Mah, kayaknya ada yang pecah di lantai atas," jawab Livia.
"Ayo kita liat, Mamah takut ada orang jahat," kata Laras lagi.
Mereka pun segera berjalan menuju ke lantai atas meninggalkan Kamila yang
terisak.
Arkan yang melihat itu langsung bergegas masuk ke dalam kamar Kamila. Kemudian, dia pergi lewat balkon tapi sebelum itu dia menutup pintu dan jendela supaya tidak ada yang curiga.
Arkan melihat Livia dan Sarah yang datang.
"Gue janji Mil, gue bakalan bales apa yang gue liat hari ini, dan rasa sakit yang udah mereka kasih! Gue janji balkalan buat mereka sujud di kaki lo berharap bisa dapet
maaf dari lo!" gumam Arkan sambil
mengepalkan tangannya penuh amarah.
***
Kamila berlari tergesa-gesa dia takut telat karena upacara. Gara-gara Laras menyuruhnya menyikat kamar mandi dan beres-beres ia hampir saja terlambat dan tidak sempat sarapan.
Untung saja asisten rumah tangganya baik hati. la memasukkan roti panggang dan kotak berisi nasi goreng serta susu ke dalam tas Kamila.
Sehingga ketika di bis kota tadi, Kamila sempat makan. Dan untungnya lagi, tadi dia kebagian tempat duduk sehingga
tidak perlu makan sambil berdiri. Tapi, saat masuk ke dalam sekolah dan hendak berbaris di lapangan Kamila baru ingat jika ia lupa membawa topinya.
Dia memegang kepalanya benar saja tidak
ada. Tetapi, tiba-tiba seseorang
memakaikan topi ke kepala Kamila. Kamila terkejut dia menoleh dan ternyata orang itu adalah Arkan.
"Pake aja, gue udah biasa dihukum," kata Arkan sambil mengedipkan mata menggoda Kamila.
Kemudian pemuda itu pun mengambil barisan di mana siswa yang tidak mengenakan atribut lengkap berbaris.
Kamila hanya menghela napas panjang dan menatap punggung pemuda itu dengan penuh terima kasih. Selama upacara Arkan terus memperhatikan Kamila membuat gadis itu sesekali menunduk dengan wajah yang memerah.
Saat upacara selesai, Kamilahendak kembali ke kelas tapi Arkan menarik tangan Kamila.
"Kamila, ikut gue bentar yu ke rooftop," ajaknya.
"Ih, mau ngapain? Kalian pasti mau ngerokok kan di sana," kata Kamila.
"Ikut dulu aja, Mil. Kita lagi gak becanda juga, gak lagi mau iseng. Ini serius, lagian cuman lo sama Arkan aja," kata Bastian.
Melihat wajah Bastian dan Arkan yang serius, Kamila pun mengikuti langkah Arkan ke rooftop. Sampai di sana, Arkan
mengeluarkan ponselnya dia menunjukan video itu kepada Kamila.
Kamila terkejut jadi tadi Arkan tidak
pulang.
Kamila membelakan matanya.
"Lo yang ngerekam ini?" tanya Kamila.
"Ya masa setan bisa ngerekam terus kasih ke gue?" jawab Arkan.
"Tapi semalam lo mabuk, terus-"
"Enggak! Gue gak mabuk, gue cuman minum sedikit biar lo pikir gue mabuk!"
Kamila lagi-lagi membelakan matanya terkejut mendengar penuturan Arkan.
"Jadi semalem lo tau gue bilang apa aja?" tanya Kamila sedikit malu.
"Mau bilang enggak tapi gue denger Mil! Tapi sekarang gue serius, gak lagi mau bahas itu!" kata Arkan.
Seketika itu juga pipi Kamila memerah karena malu tertangkap basah.
"Lo ya-"
"Gue cuman mau mastiin pacar gue baik-baik aja, gue gak percaya kalo lo udah baikan sama nyokap tiri lo, dan ya Kamila! Lo bohong sama gue! Kenapa Kamila?!"
Nada bicara Arkan sudah mulai meninggi tapi tidak membentak Kamila.
"Udah gue bilang berulang kali Kamila! Bilang sama gue, gue gak suka lo bohong sama gue Kamila?!"
Arkan meremas pundak Kamila sedikit kencang nada bicaranya tegas seakan siapa saja harus menurutinya. Kamila terdiam, ia menatap Arkan dengan tajam.
Dia melepas tangan Arkan dari pundaknya, lalu ia menunjuk Arkan dengan kesal.
"Gue mau bohong atau enggak itu bukan urusan lo, emangnya lo Siapa sampe gue gak boleh bohong sama lo?" tanya Kamila sedikit membentak Arkan.
Mendengar nada bicara Kamila yang meninggi, Arkan pun langsungmerasa sedikit emosi. la menatap Kamila dalam-dalam.
"Lo cewe gue Kamila! Gue berhak tau apa pun tentang lo, termasuk kehidupan lo?!" seru Arkan.
"Gue gak mau jadi pacar lo! Sejak kapan juga kita jadian?"
"Gue gak minta persetujuan lo buat jadi cewe gue! Lo milik gue Kamila?!" kata Arkan tegas.
Kamila menatap Arkan .
"Gak waras lo?!" kata Kamila.
Kamila pun membalikkan tubuhnya, ia hendak pergi meninggalkan rooftop. Arkan yang melihat Kamila hendak pergi
tersenyum dengan smirknya.
"Gue bakalan kasih ini ke bokap lo," kata Arkan sambil menunjukan ponselnya.
Mendengar perkataan Arkan, Kamila langsung berbalik dan berusaha merebut ponsel Arkan.
"Jangan! Hapus videonya, Arkan. Gue nggak mau Papah kenapa-kenapa, Laras itu perempuan jahat dia pasti bakal berusaha buat bunuh Papah gimana pun caranya," kata Kamila berusaha merebut ponsel Arkan.
Arkan memasukan ponselnya ke saku dia mencengkram bahu Kamila dengan kuat.
"Nurut sama gue Kamila! Lo cewe gue! Gue gak suka lo bohong!" seru Arkan penuh penekanan.
"Lo tinggal jujur sama gue semuanya selesai, susah buat lo jujur ?" tanya Arkan dengan ketus.
"Turunin ego sama gengsi lo Kamila! Gak semua hal harus lo simpen sendirian?!"
Mata kamila berkaca-kaca saat melihat Arkan yang emosi.
"Arkan! Hiks... Jangan marahin gue lagi!"
Kamila menangis, dia memeluk Arkan. Melihat tangis Kamila, Arkan yang tadi seperti orang kesetanan memarahi gadis itu sekarang menjadi lembut lagi.
Perlahan dia menciumi kepala Kamila dan menenangkannya.
"Gue gak suka lo bohong Kamila!"
"Tapi Ar-"
Arkan semakin erat memeluk Kamila, seakan mengatakan, Arkan tidak suka dibantah.
"Oke, Maaf Arkan!" lirih Kamila dalam pelukan Arkan.
Arkan menghela nafasnya dia menutup matanya sambil memeluk Kamila dia tidak mau marah kepada Kamila apalagi sampai bermain tangan. Jadi sebisa mungkin Arkan lebih meredam emosinya.