
Untung saja apa yang dialami oleh Kamila dan Arkan belum sampai ke tahap yang begitu serius sehingga mereka hanya butuh support dari orang-orang terdekat dan periksa kepada psikolog untuk berdiskusi.
"'Dari yang aku liat selama Arkan jalanin pemgobatan aku dia kayaknya emang serius pengen nikahin Kamila dia juga jarang emosi kan. Siapa tau kali mereka beneran di nikahin Arkan bisa lebih baik, aku liat-liat mereka itu saling melengkapi, lagian mereka udah kelas 3 SMA gak masalah nikah muda, kalian juga nikah muda kan," kata Rara.
"Aku mau coba omongin dulu sama Marvin, kalo aku sebenernya gak masalah. Tapi Marvin keliatan masih ragu dia takut salah ambil keputusan!"
Tanpa mereka sadari, Arkan sedang menguping pembicaraan mereka. Pemuda itu pun tersenyum senang. Tantenya itu benar-benar merayu Bundanya. Arkan berharap Ayahnya juga akan mendukungnya, Arkan hanya ingin Kamila, gadis itu setiap hari selalu berputar di kepalanya
"Arkan!" Seseorang menepuk pundak Arkan membuat pemuda itu terkejut.
"Kenapa Mil?" tanya Arkan masih dengan senyum mengembang.
Kamila yang melihat Arkan tersenyum sendiri langsung mengerutkan dahinya.
"Lo kenapa?"
"Gak papa kok emang kenapa?"
Bukannya menjawab pertanyaan Kamila, Arkan malah balik bertanya.
"Lo senyum-senyum sendiri kesambet lo?" tanya Arkan.
"Sembarangan, gue mau main ps lo ikutan yu!" ajak Arkan.
"Ayo siapa takut?"
"Yang kalo harus cium pokoknya kita tanding!"
"ldih mesum, itu sih maunya Lo!" kata Kamila dengan sebal.
"Alah, bilang aja takut!"
"Nggak! Gue ga takut! Hayo main!" kata Kamila merasa tertantang.
Kamila dan Arkan berjalan beriringan menuju kamar Arkam, Arkan mulai menyalakan ps nya.
"Nih!" Arkan memberikan salah satu stik ps kepada Kamila.
"Gue gak bisa mainnya Arkan, udah pasti deh lo menang," kata gadis itu.
"Dicoba dulu Yang!" ujar Arkan sambil terkekeh.
Mereka pun akhirnya bermain game, sesekali Arkan menjahili Kamila. Dia menyenggol gadis itu membuat stiknya jatuh.
"Arkan jangan begitu!" seru Kamila sebal.
"Gak sengaja Yang!"
Tapi lagi-lagi Arkan menyenggolnya.
"ARKAN?! IH?!"
Kamila yang kesal bangkit dia menutup mata Arkan membuat Arkan tertawa.
"Mil gak keliatan, curang nih curang," pekik Arkan.
"Biarin, Lo juga dari tadi curang!"
Saat asik bermain tiba-tiba saja Alisha membuka pintu kamar Arkan dan memanggil anaknya itu keluar.
"Arkan, Bunda mau ngomong sam kamu!"
Arkan menoleh kepada Kamila gadis itu nampak bingung.
"Bunda pinjem Arkan dulu sebentar ya, Mil. Ada yang mau Bunda omongin sama anak bandel ini," kata Alisha.
Kamila menganggukan kepalanya, " lya Bunda," jawab Kamila.
Arkan pun langsung mengikuti langkah sang bunda menuju ke kamar pribadi Alisha.
"Ada apa sih, Bund? Tumben mau ngomong berdua aja?" tanya Arkan.
"Bunda hanya mau mastiin aja. Kamu bener-bener sayang dan cinta sama Kamila? Udah yakin kalo dia perempuan yang kamu mau buat selamanya?"
Arkan mengerinyitkan dahinya heran, "Kenapa Bund kok tumben nanyain tentang ini?"
"Jawab aja Arkan!" kata Alisha dengan serius.
"lyah Bunda, Arkan sayang sama Kamila, Kamila itu satu-satunya perempuan untuk aku selamanya!"
Alisha menghela nafasnya panjang, "Kamu yakin mau nikah muda sama Kamila?"
Arkan terdiam sekarang dia paham ke mana arah pembicaraan Alisha.
"Arkan yakin Bund,"jawab Arkan dengan tegas tanpa ada keraguan.
Lagi-lagi Alisha menghela nafasnya dia menganggukan kepalanya, "Nanti Bunda coba bicara sama Ayah yah, tapi inget kamu harus sembuh dulu, jangan selalu pake emosi kasian Kamila!"
"Kalo sampe ketauan sama Bunda kamu main-main sama emosi kamu, Bunda batalin biarin aja nanti Bunda nikahin Kamila sama cowo lain!"
...----------------...
"Kayaknya kalian udah lama deh nggak ke mana-mana? Tumben banget betah di rumah. Nggak kepengen gitu ke mall atau belanja atau ngapain gitu, kayaknya Bunda bosen deh lihat Kalian ada di rumah terus," kata Alisha kepada Kamila dan Arkan malam itu.
Mereka tengah berkumpul di ruang keluarga seperti biasanya. Mendengar perkataan bundanya Arkan hanya mengerutkan dahinya.
Biasanya sang Bunda selalu mengoceh, jika ia pergi keluar rumah. Tetapi, tumben malam ini Alisa mengatakan jika ia bosan melihat Kamila dan Arkan terus-menerus berada di rumah.
"Bunda gak salah nih nyuruh aku sama Kamila jalan-jalan? Biasanya Bunda itu kesel kalo aku keluar rumah. Baru juga bentar udah di tanya di mana terus di omelin suruh pulang, kayak perawan aja," kata Arkan.
Kean dan Sean yang mendengar perkataan Arkan hanya menahan tawa. Mereka tau betul jika Alisha sering sekali mengomel jika Arkan tidak ada di rumah.
Kebiasaan Arkan selama ini memang tidak pernah betah di rumah. Dia lebih sering berada di basecamp dan berkumpul dengan teman-temannya ketimbang ada di rumah sehingga membuat Alisha sebal.
"Itu kan dulu, kamu dulu kalo keluar kalo gak bolos ya tawuran, kalo gak gitu berantem-berantem gak jelas, kalo sekarang kan kamu lebih sering di rumah, Kean, Sean juga di rumah jadi Bunda juga tenang. Kamu sekarang jadi anak rumahan. Sekolah gak pernah bolos tapi Bunda jadi aneh aja Bang kayaknya sepet aja gitu liat kamu di rumah terus," kata Alisha lagi.
Marvin yang mendengar perkataan sang istri ikut menahan tawa. Sebetulnya la senang dengan perubahan Arkan. Tetapi memang terasa aneh jika dua puluh empat jam Arkan ada di rumah terus-menerus.
Marvin merasa seperti tidak melihat anaknya keluar rumah selain sekolah. Arkan menjadi lebih teratur, bangun pagi ke sekolah pulang sekolah pun tepat waktu.
Setelah itu dia tidak akan kemana-mana lagi. Malah teman-temannya yang selalu ada di rumah sampai malam bahkan tidur di rumah mereka.
Alisa dan Marvin tidak keberatan dengan hal itu, tetapi mereka juga khawatir jika Arkan dan Kamila merasa bosan.
Bukankah anak muda itu juga sebaiknya bergaul dan berada di luar rumah sesekali.
"Jadi ini Bunda mau aku sama Kamila ke mana? Aku gak tau mau ke mana!" kata Arkan.
"Ya besok kalian ke mana kek, ke mall, nonton atau belanja. Yang jelas Bunda sepet lihat kalian di rumah," kata Alisha.
Tawa Arkan pun meledak seketika. Tetapi, ia pun menganggukkan "Hahah Aduh Bunda, iya deh besok aku ajak Kamila keluar main, jalan-jalan! Ngabisin duit Ayah!" jawab Arkan.
"Kok duit Ayah, duit kamu lah. Tiap bulan udah Ayah kasih, kamu juga dapet laba saham dari perusahaan Ayah. Masih kurang?" saut Marvin.
Arkan terkekeh, "Kamila kan anak Ayah juga, jadi aku minta bagian Kamila. Uang aku buat modal nikah!" kata Arkan.
"Nikah-nikah, so iye kamu! Nanti Ayah nikahin beneran gak ada yah drama ribut kayak psycopath!" ujar Marvin penuh penekanan.
"Enggak dong Ayah, gak akan ada begitu lagi. Ayah tenang aja!" jawab Arkan dengan bangganya.
"Prettt..." kata Marvin membuat Arkan tertawa.