
Saat Arkan melihat ke bawah dan
"VOILA!"
Arkan melihat ada kecoa di bawah. Dengan seringai licik, Arkan pun mengambil kecoa itu. Dia melempar nya ke dalam kamar mandi yang terdapat Livia melalui lubang angin.
"Arkan!"
Arkan terkejut saat ada yang memegang pundak nya.
"Heh, lo ngap-"
"Stttt...!"
Melihat Kamila yang datang, Arkan dengan cepat menarik tangan Kamila supaya ikut dengan nya bersembunyi. Arkan menutup mulut Kamila agar diam.
"Lo ngapain?" bisik Kamila sepelan mungkin.
"Sttt... lo denger aja. Bentar lagi pasti ada yang teriak. Satu ... dua .. tị-"
"Arrrrrrgh! Toloooong!"
Belum sampai ke hitungan tiga, terdengar teriakan Livia dari kamar mandi.
Arkan mengintip dari balik tembok dan tampak Livia berlari terbirit-birit dari kamar mandi.
"Eh, lo apain itu si nenek sihir?" tanya Kamila.
"Gue masukin kecoa," jawab Arkan dengan santai.
Kamila langsung tertawa membuat Arkan ikut tertawa.
"Sebentar," kata Arkan.
Kemudian ia melangkah dan mengambil kecoa yang sempat ia lemparkan tadi lalu dia buang ke selokan. Kemudian ia pun langsung menarik tangan Kamila menjauh dari sana.
la tidak mau nanti ada yang melihat Kamila dan melaporkannya kepada Livia. la membawa Kamila ke bawah tangga sambil tertawa kecil.
"Duh, ini pertama kali nya gue liat dia ketakutan kayak tadi. Emang kalo urusan jail lo jagonya," kata Kamila sambil terkekeh.
"Iyahlah, pacarnya Kamila nih!"
Kamila tertawa saja, ia merasa sangat senang saat melihat Livia ketakutan seperti tadi. Jahat memang, tapi bukan kah selama ini ia juga sering berbuat jahat kepada nya.
"Lo ngapain keluar kelas?" tanya Arkan.
"Lo ngapain kabur? Dipikir gue gak liat ya?" kata Kamila alih-alih menjawab pertanyaan Arkan.
"Cie merhatiin padahal beda kelas," ujar Arkan sambil mencolek dagu Kamila.
"Serius Arkan, lo mau bolos kan?"
"Gue males belajar biologi. Lagian ada yang harus gue kerjain sebentar di luar sekolah," kata Arkan sambil terkekeh.
Kamila langsung memelototi Arkan dengan sebal. Dia lalu bersidekap dada.
"Lo mau bolos? Gue bilangin Bunda ya!" kata Kamila dengan bibir mengerucut mengancam Arkan.
"Eh.. jangan dong Sayangku. Bisa kena amuk sama Bunda. Nanti si ucup disita lagi gimana? Gak kasian lo kalo gue kudu naik taksi saban hari gara-gara gak boleh bawa si ucup?"
"Ya biarin aja biar si ucup dijual aja sekalian, bolos terus kerjaannya," saut Kamila dengan kesal.
"Jangan dong, Kamila cantik," Rayu Arkan.
"Gak mempan, rayuan lo!"
Arkan tersenyum menatap wajah cantik Kamila. Dengan sengaja ia mendekatkan wajah mereka hingga Kamila mau tidak mau memundurkan wajahnya.
"Lo mau ngapain?"
"Kalo lo bilang Bunda, gue cium. Udah, sana lo balik ke kelas. Gue mau lakuin misi khusus dulu."
"Misi apa?" tanya Kamila penasaran.
"Udah, lo gak usah tau, nyonya duduk santai semua masalah selesai. Nanti pulang sekolah gue jemput deh, ya," katanya.
"Baik-baik di sekolah yah! Kalo ada apa-apa ke kelas aja ada Daren, Kean sama Bastian."
Arkan mengacak rambut dan mencubit pelan pipi Kamila gemas lalu memberikan
ciuman jarak jauh. Dia pergi meninggalkan Kamila sendirian. Sementara Kamila memegangi kepalanya sendiri. Kamila menatap kepergian Arkan.
"Kayaknya gue emang beneran jatuh cinta deh sama si Arkan, jadi gini rasanya suka sama orang! Mana orangnya si sontoloyo itu," gumam Kamila.
Kamila mengembangkan senyumnya. la pun berjalan kembali ke kelasnya.
Brukh..
"Ya ampun, Kamila! Kamu itu dari mana? Ngapain jalan sambil ngelamun. Kamu gak liat apa saya lagi jalan?"
Kamila langsung meringis saat melihat Pak Yusuf melotot kepadanya.
"Maaf, Pak. Saya tadi dari perpus mau balik ke kelas. Maaf saya gak liat Bapak," jawab Kamila.
Kamila membantu Pak Yusuf merpaikan
bukunya. Pak Yusuf hanya geleng kepala
melihat kelakuan muridnya itu.
"Kamu bantu saya dulu deh, bawakan buku ini sebagian ke kelas sebelah. Habis ini jam pelajaran saya," kata Pak Yusuf.
"Iya, Pak."
Kamila pun segera membantu Pak Yusuf menyusun buku-buku dan membawanya sebagian menuju ke kelas.
Tok... Tok..
Kamila mengetuk pintu kelas Arkan, di dalam ada Pak Rahman.
"Permisi Pak," ujar Kamila sopan.
Dia masuk ke dalam kelas Arkan lalu menyalami tangan Pak Rahman.
"Maaf Pak, saya mau naro buku punya Pak Yusuf!" kata Kamila.
"Oh boleh silahkan-silahkan!"
Kamila meletakan buku Pak Yusuf di meja guru.
"Baik semua nya, karena mata pelajaran saya sudah selesai, silahkan kerjakan di dalam buku halaman lima belas, di kumpulkan minggu depan, saya permisi!"
"Mari Nak Kamila"
"Oh iyah mari Pak" Pak Rahman pun berlalu keluar ruangan.
"Sttt ... oy, Kamila!" seru Kean saat pak Rahman sudah menjauh.
"Apa?" jawab Kamila.
Kamila melihat ke arah meja Kean, karena Kamila berada di depan.
"Ayang bebeb lo ke mana? Lo tadi keluar pasti bukan bawa buku tapi nyusul si Arkan kan? Gue liat lo keluar dari kelas," kata Kean.
"Sok tau," kata Kamila.
"Ngaku aja," sahut Bastian.
"Kalo iya kenapa?" tantang Kamila.
"Cieeee ... yang udah jadian," goda Kean.
"Apa sih, berisik lo!" ujar Kamila melangkah keluar dari kelas Arkan untuk menuju kelas nya.
"Ihiww peletnya si Arkan manjur!" kata Kean.
"Lagian siapa sih yang bisa nolak pesonanya Arkan!" celetuk Daren.
"Iyah juga!"
***
Laras sedang memasak di rumahnya, dia merasa kesal pada Kamila. Semenjak sang suami ada di rumah Laras tidak bisa menyiksa Kamila.
la juga tidak bisa dengan leluasa jika hendak pergi shopping bersama Livia. Bahkan jika suami nya ada di rumah, ia juga terpaksa memasak sendiri karena Reynald tau beda nya jika diri nya atau asisten rumah tangga yang memasak.
"Sial! Kenapa laki-laki tua itu harus bekerja di rumah sih? Seharusnya dia pergi dan bekerja di luar kota saja seperti yang selama ini dia lakukan. Sial!" maki Laras.
Laras memang paling tidak betah jika harus mengerjakarn pekerjaan rumah seperti sekarang.
TOK! TOK! TOK!
Tiba-tiba saja Laras mendengar Suara pintu di ketuk.
"Bi! Bibi Sutinah! Bi, buka pintu itu di luar ada tamu!" teriak Laras.
"Aarghh punya babu gak guna!"
"BIBI!" serunya makin kencang.
Karena tidak ada yang menyahuti teriakan nya. Laras pun bergegas menuju ke pintu dan membuka nya.